JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Luka hati


__ADS_3

Sedangkan di waktu yang lain Anton dengan tergesa-gesa kembali kedalam kamarnya, wajahnya tampak kalut dan kusut dengan luka sobek di pipinya yang masih mengeluarkan darah.


"Paul! Paul!" Teriak Anton ke segala arah di dalam ruang unit kamar miliknya.


"Anda baik-baik saja tuan? Anda tampak kacau." Ucap Paul yang keluar dari kamar mandi segera mendekati Anton setelah mendengar pria itu memanggil-manggil namanya beberapa kali.


"Panggil dokter." Ucapnya kepada Paul saat pria itu sudah di depannya.


"Baik saya akan memanggil dokter untuk memeriksa anda." Ucap Paul dan akan segera pergi dari sana.


"Tidak! Bukan untukku.. Panggilkan dokter untuk Alice. Dia terluka." Ucap Anton lagi. Paul mendengar ucapan tuannya hanya mengerutkan dahinya sesaat.


'Bukankah Tuan adalah dokter. Jika nona Alice yang membutuhkan pertolongan, seharusnya tuannya bisa membantu bukan.' Batin Paul.


"Haish.. Aku tahu apa yang sedang kau pikirkan. Semua tertulis jelas di wajahmu. Alice tidak mau aku yang menangani lukanya. Sepertinya lukanya cukup dalam. Cepat kau panggilkan dokter dan datang ke unit kamarnya." Perintah Anton lagi.


"Ah.. Ehem.. Baik tuan." Ucap Paul yang sedikit gelagapan karena tuannya tahu apa yang sedang dipikirkannya.


Paul berlari cepat mencari keberadaan dokter di dalam kapal pesiar itu. Setelah itu dia menemukan seorang dokter pria yang sedang bertugas. Paul segera mengajak sang dokter pergi menuju kamar Alice. Namun di sana sudah tidak ada siapapun selain petugas hotel yang sedang membereskan kamar itu. Bahkan barang-barang dan hal lainnya sudah tidak ada lagi di kamar itu.


"Permisi.. Pemilik kamar ini kemana?" Tanya Paul kepada petugas yang sedang mengganti seprei kamar itu.


"Ah.. Mereka sudah cek out beberapa waktu lalu seorang wanita yang merupakan manajernya membereskan semua barang dan pergi." Ucap petugas itu sopan.


"Pergi? Pergi kemana?" Tanya Paul lagi bingung.


"Saya kurang tahu tuan." Jawabnya.


"Ahh.. Kalau begitu terima kasih infonya." Ucap Paul.


"Bagaimana dimana pasiennya?" Tanya sang dokter bingung. Paul yang sedikit melamun tersadar dengan ucapan sang dokter.


"Ahh.. Maaf dok.. Mari ikut saya." Ucap Paul dan mengajak dokter itu pergi ke suatu tempat lagi. Dokter itu mengikutinya lagi tanpa banyak berbicara.


'Sungguh susah menjadi dokter untuk para pencetak uang ini.. Harus berlarian kesana kemari tidak tentu arah.' Batinnya.


Paul dan sang dokter masuk ke dalm unit kamar Anton. Di sana tampak Anton duduk di sofa dengan mata yang menerawang entah kemana.


"Tuan." Ucap Paul menyadarkan lamunan Anton.


"Ah.. Bagaimana? Ada luka apa lagi? Apakah luka perutnya dalam?" Tanya Anton bertubi-tubi saat melihat kedatangan Paul di depannya.

__ADS_1


"Maaf tuan nona Alice sudah tidak ada di unit kamarnya, bahkan seluruh barangnya sudah tidak ada." Ucap Paul menjelaskan situasi saat di kamar gadis itu.


"Apakah dia pergi menaiki kapal lain?" Tanya Anton lagi.


"Maaf tuan saya belum mendapatkan berita itu." Ucap Paul lagi.


"Baiklah.. Bukan salah mu. Ya sudah tidak apa-apa, saya akan menghubungi Maya." Ucap Anton lagi.


"Maaf tuan, saya sudah mencoba menghubungi Maya, namun ponselnya tidak aktif." Ucap Paul lagi.


"Baiklah aku akan menunggu kabar dari Maya saja." Ucap Anton frustasi.


"Baiklah kau bisa pergi." Ucap Anton kepada Paul.


"Tuan ini dokter yang akan membantu anda mengobati luka anda." Ucap Paul dan meminta dokter untuk membantu memberikan perawatan luka untuk tuannya.


"Tidak perlu. Ini hanya luka gores. Aku bisa mengobatinya sendiri." Ucap Anton menolak.


"Baiklah jika begitu, ini cairan desinfektan dan beberapa obat salep dan plaster. Semua yang anda butuhkan ada di sini. Kalau saya sudah tidak di butuhkan saya pamit permisi." Ucap dokter itu dan pergi dari ruang kamar unit Anton.


"Haish.. Sungguh hari pertama kerja merupakan hari yang berat." Ucap dokter itu setelah keluar menjauh dari kamar Anton.


"Tidak perlu kau bisa istirahat. Cari tahu keberadaan Alice dan bagaimana keadaan gadis itu." Ucap Anton.


"Baik tuan.. Saya permisi." Ucap Paul dan segera pergi dari sana.


Anton segera mengambil kotak yang di berikan dokter tadi dan membawanya ke dalam kamar mandi. Pria itu mencuci tangannya dan membersihkan lukanya di air yang mengalir.


"Aku tahu kau melakukan ini terpaksa. Luka di dalam hati mu pasti lebih sakit dari pada luka yang aku berikan bukan." Ucap Anton monoton kepada dirinya sendiri sambil melihat pantulan dirinya di cermin dengan luka sobek di wajahnya.


Pria itu mengeringkannya dengan kasa steril dan sedikit menekan untuk menghentikan darahnya dan kemudian memberikan salep diatas luka itu dan menutupinya dengan plaster.


"Aku harap kau baik-baik saja." Gumamnya dan kemudian keluar menuju kamar tidurnya dan memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas kasur.


Bayangan demi bayangan saat melihat wajah marah Alice sekaligus wajah tertekan gadis itu silih berganti muncul di depan wajahnya. Ada kerinduan di sana meski di liputi oleh besarnya dendam terlihat dari wajah gadis itu.


"Bisakah aku melihat mu tersenyum tulus untukku lagi? Akan adakah hari itu tiba." Ucapanya monoton sambil menutup matanya dengan siku tangannya.


"Aku merindukan mu."


Lambat laun Anton terlelap tertidur dengan sedikit buliran air mata yang merembes melalui celah matanya.

__ADS_1


***


Tok tok tok.


Suara ketukan terdengar dari luar pintu kamar yang di tempati Alice. Alice membuka matanya dan langsung duduk tegak di ranjangnya. Sepertinya gadis itu lupa bahwa dia memiliki luka di tangan dan perutnya sehingga membuatnya sedikit meringis saat tubuhnya tiba-tiba di gerakkan.


"Masuklah." Perintah Alice. Entah sudah berapa lama dia tidur disana.


Seorang pria masuk kedalam ruangan itu dan menunduk hormat.


"Maaf mengganggu istirahat anda Bu. Sebentar lagi kapal akan menepi." Ucap pria itu.


"Baiklah terima kasih." Ucap Alice dan pria itu segera keluar dari kamarnya.


Alice memilih bangun dan pergi menuju kamar Maya dan melihat kondisi gadis itu.


Tok tok Alice mengetuk pintu namun tidak ada jawaban dari dalam, Alice mencoba mengetuk sekali lagi.


Tok tok


"Masuk." Ucap suara pelan dari arah dalam.


Alice masuk dan melihat Juna sedang duduk di samping kasur dengan tangan dan tubuhnya yang di bungkukkan bersandar kekasur, dan tidur menelungkupkan wajahnya di tangannya. Sedangkan Maya sudah bersandar di ranjangnya setengah duduk.


"Kau baik-baik saja?" Tanya Alice saat melihat wanita itu sedikit pucat.


"Hemm.. Aku baik-baik saja, hanya sedikit luka ringan. Bagaimana dengan mu?" Tanya Maya.


"Aku baik juga hanya luka gores. Maaf tidak bisa langsung menolong mu." Ucap Alice menyesali.


"Bukan salah mu. Mereka memang cukup banyak dan sedikit menyusahkan. Kita tidak boleh melenyapkan mereka, jadi memang sedikit perlu waktu untuk membuat mereka tumbang tanpa mengalami cedera parah.


"Perlukah aku membangunkannya agar tidak mengganggu istirahat mu?" Tanya Alice yang melirik Juna dengan matanya.


"Tidak perlu, biarkan saja. Dia tampak lelah." Ucap Maya melarang Alice membangunkan pria itu.


"Baiklah.. Ohya sebentar lagi kita akan menepi." Ucap Maya mengingatkan.


"Okey." Ucap Maya dan Alice memilih keluar dari kamar itu dan menuju cabin.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2