
Juna PoV
"Terima kasih untuk kopinya. Aku akan pergi sekarang." Ucap ku saat satu jam telah berlalu menghabiskan waktu sore ku mengobrol dengannya di gazebo.
Aku izin pamit darinya dengan alasan aku akan bertemu dengan rekanku. Tentu saja itu hanyalah kebohongan yang aku buat hanya untuk sedikit menghabiskan waktu dengannya. Entah mengapa mengobrol dengannya asik, meski kadang dia akan bersikap dingin kepada ku.
"Ya terima kasih juga untuk bantuannya." Ucap Maya sambil mengantar kepergian ku menuju mobil yang ku parkirkan di depan kostannya.
"Tentu." Jawabku singkat.
Aku masuk kedalam mobil kesayangan ku dan segera pergi dari tempat itu. Di tengah jalan aku menghentikan mobil ku dan memutuskan untuk menelpon salah satu anak pelayan ku yang umurnya seumuran dengan ku.
📞"Halo Yoga.. kau di mana?" Tanya ku tanpa basa-basi.
📞"Iya Den.. saya ada di paviliun belakang rumah utama." Jawab Yoga.
📞" Bagus.. aku akan ke situ, bukakan pintu belakang ya, dan jangan beritahu siapapun aku pulang." Ucap ku dan kemudian langsung mematikan ponsel ku.
Aku langsung bergegas menuju paviliun belakang rumah utama yang merupakan 2 paviliun sederhana tempat tinggal untuk para pelayan. Satu paviliun di tempati oleh keluarga Yoyok yang merupakan ayah Yoga yang menjadi kepala pelayan di rumah utama. Dan satu paviliun lagi di tempati oleh para pelayan dan tukang kebun. Sedangkan rumah utama di tempati oleh Ayah dan ibu beserta adik perempuan ku. Sesungguhnya aku sudah jarang pulang ke rumah utama, aku lebih sering berada di RJP ketimbang pulang ke rumah utama atau bahkan pulang ke apartemen ku sendiri.
Mobil ku parkirkan tepat di belakang pintu masuk jalan belakang. Pintu ini biasanya di gunakan hanya untuk para pelayan keluar kepasar atau saat aku diam-diam kabur keluar rumah saat kecil. Aku melihat Yoga sudang berdiri menunggu ku dengan bingung.
"Den.. kenapa lewat pintu belakang? mengapa tidak masuk lewat pintu depan?" Tanyanya begitu aku tiba menghampirinya.
"Aku tidak bisa lama.. kau ikut aku sekarang." Ucap ku dan menarik pria itu. Yoga segera mengunci pintu belakang dan bergegas masuk ke dalam mobil mengikuti ku.
"Astaga den.. saya jadi merasa seperti pencuri diam-diam lari seperti ini." Ucap pria itu dengan nafas tersengal-sengal.
"Haha kau butuh olahraga jika begitu saja sudah ngos-ngosan." Ucap ku mengejek ketahanan fisiknya.
"Baikalah sesuka den saja.. tapi ada apa sebenarnya den? tuan dan nyonya merindukan anda karena anda tidak pulang-pulang ke rumah utama. Sekarang anda pulang hanya untuk menculik saya?" Tanya Yoga yang bingung dengan tuan sekaligus teman masa kecilnya dahulu.
__ADS_1
"Ishh amit-amit ngapain juga nyulik orang kayak kau.. lebih baik ku culik wanita cantik saja." Ketus ku merinding mendengarkan ucapan bodoh teman masa kecil ku ini.
"Terus ada apaan sih den?" Tanyanya penasaran.
"Aku butuh bantuan mu."
"Bantuan apa?" Tanyanya bingung.
"Aku ingin kamu berpura-pura sebagai pemilik apartemen ku yang di RedPine itu."
"Apartemen yang den tempati? kenapa?" Tanyanya bingung.
"Iya.. tapi bukan lantai yang aku tempati. Maksudku apartemen yang ada di bawah lantai apartemen yang sedang ku tempati."
"Lah untuk apa?"
"Sudah jangan banyak tanya. Aku ingin minta tolong kamu periksa apartemen lantai 8 itu semuanya masih bagus gak, terus nanti kau berpura-pura sebagai pemiliknya. Nanti akan ada orang yang menyewanya. Kau kasih harga yang murah saja, tidak apa-apa." Jelasku lagi.
"Ishh.. kau banyak tanya deh.. kalau dia tau aku pemiliknya, dia pasti tidak mau menyewanya." Ucap ku jujur juga akhirnya.
"Ohhh pasti dia perempuan.. gebetan den ya?" Tanya Yoga menebak.
"Bukan. teman kerja." Jawab ku cepat.
"Astaga bagaimana mungkin hanya teman kerja saja, aden sesibuk itu menjemput ku dan menyuruh wanita itu untuk menempati apartement aden. Ini tidak seperti aden yang biasanya tidak perduli dan cuek." Celetuk Yoga.
"Ishh banyak berpikir deh.. udah lakukan saja.. malam ini tinggal dulu di apartemen ku. Besok siang aku antar orangnya. Awas aja kalau keceplosan bilang itu apartemen milikku. Untuk harga, kau kasih nego yang baik yang penting dia tidak akan terlalu curiga ya."
"Baiklah.."
"Okey kalau begitu. Thanks Yoga."
__ADS_1
"Ya sama-sama Den."
Setelah sampai di apartemen lantai 8 milik ku yang akan aku sewakan, aku menyuruh Yoga memastikan semua fasilitasnya berfungsi dengan baik. Setelah itu aku menyuruhnya untuk memfoto semua sudut dari ruangan itu untuk ku kirimkan kepada Maya.
Setelah semuanya selesai, aku dan Yoga kembali ke apartement yang aku tinggali yang berada di lantai 12. Pria itu memberitahu orang tuanya bahwa dia ada keperluan mendadak sehingga menginap di luar, dan tidak memberitahukan mengenai aku yang meminta tolong kepadanya.
"Kau tidur di kamar itu Yoga." Ucap ku menunjuk sebuah kamar yang akan di tempati Yoga sementara.
"Terima kasih den." Ucapnya dan beranjak masuk ke dalam kamarnya.
Aku duduk di sofa ruang tamu dan memutuskan mengambil ponselku untuk mencoba mengirim pesan kepada wanita itu.
💌 " Aku sudah menanyakan mengenai apartemen yang di sewakan oleh teman ku. Dia bilang besok kau sudah bisa datang untuk melihatnya langsung. Dan ini beberapa foto yang aku dapatkan darinya." Isi pesan ku. Kemudian tidak berapa lama wanita itu membalas pesan ku.
💌 "Terima kasih. Kalau boleh tau di mana letakknya?" Isi pesan darinya.
"Astaga bodohnya aku, melupakan memberitahunya nama apartemen dan alamatnya." Gerutu ku sambil menepuk kening ku. Aku segera mengetikkan sesuatu lagi di ponsel ku.
💌 " The RedPine tepat berada di sebelah gedung RJP. Apartemen 801 di lantai 8." Jawab ku jelas.
💌 "Baiklah terima kasih sekali lagi atas bantuan mu." Isi balasan pesan darinya.
💌 "Okey sama-sama. Besok aku akan menemani mu."
💌 "Maaf merepotkan." Itu adalah percakapan terakhir darinya.
Baiklah aku tahu mungkin ini terdengar sedikit aneh bagi seseorang yang memang mengenal ku. Aku bukan tipe orang yang terlalu memperdulikan orang lain, apalagi orang yang tidak begitu dekat dengan ku. Namun entah apa yang membuat ku tidak bisa berpaling atau bahkan mengacuhkan saja masalah wanita itu.
"Sudahlah aku tidak perduli.. toh bukankah baik jika ada yang menyewa tempat ku. Apartemen ku jadi terawat, dan aku mendapatkan uang sewa." Ucap ku menenangkan diri sendiri tidak ingin berpikir terlalu banyak.
Aku beranjak dari sofa dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi yang berada di dalam kamar ku untuk membersihkan diri. Tak berapa lama kemudian aku selesai dan segera mengenakan piaya tidur ku. Aku memutuskan untuk tidur lebih awal, aku merebahkan diri ku di atas kasur dan mulai memejamkan mataku menyambut mimpi-mimpi ku.
__ADS_1
Bersambung....