
Alice membuat kembali laporan begitu juga dengan Anton yang merapihkan berkas-berkasnya.
"Bagaimana sudah selesai?" Tanya Anton yang sudah siap dengan berkas yang terkumpul dan laptop yang sudah kembali di dalam tasnya.
Ya.. sudah semua.. Ayo kita bergegas.." Ucap Alice dan pergi meninggalkan ruangan kerjanya.
"Aku sedikit khawatir dengan keadaan kak Juna, haruskah aku memindahkannya ke rumah sakit di pusat kota X saja ketimbang di rumah sakit kota F.. Dan mungkin akan lebih mudah baginya jika dia ingin memantau perkembangan pekerjaan ku." Ucap Alice dan meminta nasihat dari suaminya itu.
"Menurut ku biarkan saja dia di sana untuk lebih fokus pada penyembuhannya.. Dan memberikan kedua pasangan itu waktu untuk berduaan. Bukankah mereka baru saja menjalin hubungan? Biarkan Laristha saja yang menjaganya." Ucap Anton lagi.
"Ya.. Kau benar, jika dia di sini, dia pasti akan sepenuhnya membantu ku memantau pekerjaan ku dan menjadi tidak fokus pada pengobatannya. Emhh bagaimana jika aku menyiapkan rumah atau hotel di sana untuk mereka?" Tanya Alice lagi.
"Kau tidak perlu pusing, aku sudah meminta Paul untuk menyiapkan rumah kecil tidak jauh dari rumah sakit kota F sehingga dia bisa kontrol dan berobat tidak jauh dari sana, dan Laristha juga sudah tahu itu." Jawab Anton lagi dengan santai.
"Tunggu, sejak kapan kau sudah mengurus semuanya? Kapan kau melakukannya?" Tanya Alice lagi penasaran.
"Sejak Juna kecelakaan, bukankah aku harus memikirkan semuanya agar dia tidak kesulitan. Bagaimanapun ada Laristha juga di sana, jadi aku harus memikirkan mereka berdua bukan." Ucap Anton lagi dan mengusap lembut rambut istrinya.
"Ya.. Terima kasih.." Ucap Alice yang memeluk erat tubuh suaminya saat mereka sudah sampai di depan mobil yang di parkir di bawah gedung.
"Ayo masuklah.." Ucap Anton yang membukakan pintu mobil untuk Alice dan kemudian dia berlari menuju pintu mobil lain, pria itu duduk di belakang kemudi.
Anton dan Alice kembali pulang menuju Mansion keluarga Baskoro.
Alice menatap sendu bangunan megah dan mewah itu. Rumah yang indah namun kini rumah itu sepi tidak ada siapapun di sana selain para maid dan juga penjaga.
"Aku merasa ini bukanlah sebuah rumah lagi.." Gumam Alice saat melihat rumah itu dari depan teras.
"Mungkin sekarang, ini hanya sebuah bangunan yang menyimpan banyak kenangan manis mu saat kau masih kecil dan kini kau pasti merasa bangunan ini hanya seperti bangunan tanpa adanya jiwa di dalamnya sepi dan kosong. Namun lambat laun bangunan ini akan menjadi rumah lagi bagi mu dan anak-anak kita nantinya. Rumah nenek dan kakeknya. Rumah yang kembali memiliki jiwa dan kehangatan di dalamnya." Ucap Anton lagi sambil merangkul tubuh Alice lembut.
"He'em, aku mengerti.." Ucapnya dan menyusupkan kepalanya di dada Anton dan menenangkan dirinya di sana.
Pekerjaan yang menguras emosi karena berhubungan dengan keluarganya dan kembali membongkar luka lama sedikit membuatnya tidak bisa berfikir jernih, bahkan tidak jarang seperti bukan dirinya sendiri. Namun untunglah ada Anton yang selalu mengingatkannya dan menenangkannya. Semoga semua misinya segera selesai dan dia bisa kembali menemukan dirinya sendiri dan kembali bisa memaafkan dan merelakan semuanya.
Perkataan itu mudah untuk di lakukan namun sulit untuk lakukan, belum lagi karena dia kembali terlibat dengan orang-orang yang melukainya dan menghancurkan seluruh hidupnya selama bertahun-tahun.
'Aku harus bisa menjalani semua ini..' Batin Alice sambil menatap bangunan besar di depannya itu.
***
Sedangkan di sisi lain..
"Naira.. Bisakah kau mengunjungi kantor Roy Jaya Putra, ibu tidak bisa menghubungi kakak mu beberapa hari ini, ini sedikit membuat ibu khawatir dengan keadaannya." Ujar Nesrine kepada anak bungsunya itu.
"Tapi Bu.. Tidak bisa sembarangan orang kesana dan kemudian menanyakan kakak begitu saja bukan.. Nay pasti sudah di usir jika melakukan itu." Jawab Naira merasa ibunya terlalu khawatir.
"Ya, kau benar juga.. Jika kau melakukan itu, mereka pasti tidak akan memberitahukannya juga karena Juna sedang melakukan misinya." Ucap Nesrine yang kembali mengingat ucapan anak sulungnya itu yang mengatakan bahwa dia harus pergi bekerja beberapa waktu ke luar kota.
Nesrine menghembuskan nafasnya panjang dan kembali termenung, entah mengapa hatinya tidak tenang dan dia ingin tahu bagaimana kondisi putra sulungnya itu. Dan kemudian dia terpikir akan sesuatu.
"Ahh.. Aku tahu aku harus apa.." Ucap Nesrine dan kemudian wanita itu pergi ke dapur dan meminta pelayan untuk membantunya membuatkan sesuatu.
Naira yang melihat ibunya kembali bersemangat pun tidak mencurigai apapun itu dan memilih kembali menonton film animasi yang sedang diputarkan oleh salah satu stasiun televisi itu.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian Nesrine kembali ke ruang televisi sambil membawa sesuatu di tangannya.
"Nay.. Coba kamu bawa ini ke kantor RJP, kamu bisa bantu ibu tanya keadaan kakak mu dari Galih bukan.. Dia juga rekan kerja abang mu sekaligus sahabatnya. Dia pasti akan tahu sesuatu." Ucap Nesrine yang sudah memiliki ide dan bahkan sudah menyiapkan semuanya sehingga Naira pasti tidak akan bisa untuk menolaknya.
"Tapi bu.." Naira menggantung ucapannya, ingin menolak namun saat melihat raut wajah ibunya yang kembali sendu karena mengkhawatirkan putra sulungnya kembali menggelitik hati Naira. Bagaimanapun dia juga mengkhawatirkan kondisi abangnya yang tidak bisa di hubungi beberapa hari dan bahkan kini mungkin sudah seminggu.
Naira menghembuskan nafas panjangnya, "Baiklah Nay akan ke kantor abang untuk menemui Kak Galih dan menanyakan kondisi abang di sana." Ucap Naira akhirnya mengalah dan akan pergi menemui Galih di kantor abangnya.
"Terima kasih sayang.." Ucap Nesrine gembira dan segera menyerahkan sebuah tas yang sudah pasti berisi makanan.
"Tapi Nay tidak tahu ya Bu apakah Kak Galih mau memberitahukannya kepada Nay atau tidak.. Tapi Nay akan menanyakan keadaan abang kepadanya." Ucap Naira lagi agar ibunya bersiap dengan jawaban apapun itu jika Naira tidak memiliki jawaban yang jelas mengenai abangnya.
"Iya ibu mengerti.. Sudah sana pergi nanti keburu siang dan Nak Galih malah makan di luar." Usir Nesrine agar anak gadisnya segera pergi menuju kantor anak sulungnya itu.
Naira hendak berjalan menuju luar namun di hentikan oleh Nesrine.
"Nay mau kemana?" Tanya Nesrine heran.
"Loh bukannya ibu bilang Nay harus ke kantor Abang, kok malah tanya lagi?" Ucap Naira geran.
"Iya ibu tahu, tapi lihat pakaian mu, masa kamu mau pergi menemui pacar mu menggunakan pakaian kaus dan celana longgar begitu, pakai sedikit make up kek Nay." Ucap Nesrine menegur Naira.
"Bu.. Males ahh naik turun tangga.. Gak apa-apa lagian di dalam mobil ini tidak akan ada yang melihat, udah gitu bukan mau kencan kok.." Tolak Naira dan memilih tidak mengganti pakaiannya, dia terlalu malas untuk naik kembali ke dalam kamarnya.
"Ups.. Maksud Nay.. Nay kan udah pacaran sama kak Galih jadi Kak Galih pasti terima Nay apa adanya kok.." Ucapnya cepat agar ibunya tidak curiga. Nay hampir saja lupa bahwa keluarganya tahu bahwa dia dan Galih adalah sepasang kekasih.
"Sudah ya bu.. Ney pergi dulu ya.." Ucap Naira cepat agar tidak keceplosan hal lainnya lagi dan segera memilih mengecup pipi Nesrine dan melarikan diri dari sana.
"Haish.. Anak gadis ku udah kayak anak cowo, terlalu cuek.. Dan anak pemuda ku lebih cuek lagi sampai sampai gak ngasih kabar seminggu ini.. Hadehh.." Ucap Nesrine dan menggeleng-gelengkan kepalanya.
Galih terlalu cuek dan dingin belum lagi ucapan terakhir pria itu yang membuat hatinya terluka. Namun apalah daya, karena permintaan ibunya dia mencoba untuk melupakan ucapan Galih dan mencoba untuk membentuk tembok yang tinggi agar tidak kembali jatuh di tempat yang sama.
Naira harus berjuang mengobati luka hatinya dan mencoba mengabaikan pesona Galih yang menurutnya terlalu menggoda hati dan imannya.
"Huahh.. Huft... Huahhh.. Huftt.." Naira menghembuskan nafasnya panjang dan menarik nafasnya panjang begitulah Naira di dalam mobil itu yang sudah terparkir di depan gedung RJP sudah selama 10 menit sejak kedatangannya.
"Haish.. Ini makin siang.. Aku takut kalau dia nanti makan di luar, tapi aku masih belum siap.. Padahal sudah melakukan relaksasi pernafasan selama 10 menit.. Aihh ya sudahlah.. Ayoo pergi ya pergi saja Nay.. Apa lagi yang perlu di takutkan.." Ucap Naira mencoba menyemangati dirinya sendiri dan kemudian keluar dari goa persembunyiannya itu di parkiran mobil.
Naira melangkahkan kakinya keluar dari mobilnya dan kemudian mengunci pintu mobilnya. Kemudian gadis itu berjalan dengan percaya dirinya, baru beberapa langkah gadis itu kembali berlari menuju parkiran mobilnya dan membuka pintu mobilnya dan masuk kedalam mobilnya.
"Haish.. Nay bodoh, kamu mau kedalam tapi lupa bawa kotak makan siangnya.. Memangnya kamu mau datang ngajak ngobrol.. Haishh.. Ini semua karena orang itu aku jadi sebodoh ini.." Gerutu Naira dan mengambil kotak makan siangnya dan kembali menutup dan mengunci pintu mobilnya lagi.
Kini gadis itu berjalan dengan santai dengan memegang kotak makan siang di salah satu tangannya. Naira pergi mendekati salah satu resepsionis dan bertanya kepada wanita di depannya itu.
"Permisi, saya Naira bisa bertemu dengan pak Galih.. Saya membawakan makan siangnya." Ucap Naira mencoba santai tanpa gugup dan terkesan sudah biasa datang kesini.
"Ahh.. Ibu Naira yang sebelumnya ya.. Silahkan saja bu masuk.. Ini kartu untuk liftnya." Ucap sang resepsionis dan dengan baik hatinya langsung memberikan kartu akses untuk Naira. Karena sebelumnya gadis itu memang sudah pernah terdaftar sebagai tamu Galih dan bisa masuk ke dalam sana.
"Terima kasih." Ucap Naira sopan dan segera pergi menuju lift dimana ruangan Galih berada.
Naira menekan tombol lantai tempat pria itu bekerja kemudian berjalan hingga dia berdiri tepat di depan meja sekertaris Galih.
"Pak Galihnya ada?" Tanya Naira kepada sangvsekertaris pria itu.
__ADS_1
"Ada Bu.. Mohon di tunggu saya akan memberitahukan kedatangan Bu Naira." Ucap pria itu namun di hentikan oleh Naira.
"Tidak perlu.. Aku langsung masuk saja sendiri.. Terima kasih." Ucap Naira sopan dan dengan santainya melangkah mendekati dan mengetuk pintu ruang kerja Galih.
Tok tok tok Ketukan pintu yang di ketuk Naira beberapa kali dan menunggu respon dari orang yang berada di dalamnya.
"Ya.. Masuk.." Ucap suara baritone itu datar.
Naira yang sudah mendengar respon itupun segera membuka handle pintunya dan kemudian masuk kedalam ruangan. Tidak lupa gadis itu juga menutup kembali pintunya.
Gakih tampak terlihat serius dengan pekerjaannya di depan komputernya untuk mencari sesuatu. Posisinya menyamping sehingga pria itu pasti tidak tahu siapa yang masuk kedalam ruangannya.
"Ya.. Ada apa Iwan.. Bacakan saja laporannya.." Ucap Galih santai dan tidak melepaskan pandangan matanya dari layar besar di depannya itu.
Beberapa waktu tidak ada jawaban dari Iwan membuat Galih heran dan mencoba memalingkan wajahnya dari layar besar itu. Dan betapa terkejutnya pria itu saat melihat sosok di depannya bukanlah pria tinggi besar sekretarisnya, namun gadis kecil yang cantik dengan kaus longgar sesiku dan celana panjang panjang.
Meski tampak gaya berpakaian asal-asalan namun karena memiliki wajah yang cantik dan tubuh yang bagus membuatnya maslah terlihat imut dan menawan.
"Kau.. Naira.. Maaf aku mengira sekertaris ku.." Ucap Galih segera meminta maaf.
"Silahkan duduk ada perlu apa?" Lanjut Galih lagi sambil mempersilahkan gadis itu duduk di sofa dan dirinya juga berjalan hendak duduk di sofa di seberang Naira.
"Aku kesini membawa ini.. Ini permintaan ibu.." Ucap Naira sambil mengangkat sedikit tas bawaannya untuk memperlihatkan apa yang dibawanya.
"Ohh okey." Ucap Galih cepat.
Naira melangkah dan mendudukan dirinya di sofa begitu juga dengan Juna yang mengikuti Naira duduk.
"Aku kesini selain di suruh membawa ini ibu juga ingin tahu bagaimana keadaan abang Juna, hampir satu minggu ini dia tidak bisa di hubungi." Ucap Naira langsung kepada inti permasalahannya. Gadis itu tidak ingin di cap oleh Galih bahwa dia sedang mengejar-ngejar pria itu.
"Ahh.. Emhh.." Galih hanya bergumam kemudian menghembuskan nafasnya panjang. Dia tahu hal ini pasti akan terjadi.
"Kenapa? Ada apa?" Tanya Naira lagi yang curiga dengan respon Galih yang tampak seperti kesulitan.
"Juna baik-baik saja saat ini, namun memang dia tidak bisa di hubungi karena ponselnya rusak." Ucap Galih singkat.
"Tidak.. Pasti bukan hanya itu saja kan? Jelaskan kepada ku apa yang sebenarnya terjadi, aku memiliki hak untuk tahu bukan." Ucap Naira lagi dengan memaksa Galih.
"Haish.. Baiklah.. Juna mengalami sedikit cidera.. Dia tidak ingin kalian khawatir jadi dia akan melakukan pengobatan di sana untuk beberapa waktu.. Bilang pada ibu mu bahwa dia dalam keadaan baik dan akan segera menghubunginya jika dia sudah memiliki ponselnya kembali dan pekerjaannya selesai. Jangan buat kedua orang tua mu khawatir." Ucap Galih jujur akhirnya.
"Memang bagaimana keadaan abang ku?" Tanya Naira yang penasaran dengan kondisi abangnya.
"Dia mengalami patah tulang di bagian sikunya, namun dia sudah di tangani oleh tim medis yang profesional di sana. Mungkin membutuhkan beberapa minggu untuknya benar-benar pulih dan kembali ke negara X." Jelas Galih lagi.
"Jadi dia berada di luar negeri?" Tanya Naira lagi yang mendapatkan informasi tidak langsung dari Galih.
"Ya.." Ucap Galih singkat.
"Baiklah kalau begitu terima kasih untuk informasinya.. Maaf sudah mengganggu mu. Bilang pada abang ku, dia tidak perlu khawatir aku pasti akan menyembunyikan ini dari kedua orang tua kami.. Dia fokus saja kepada pengobatannya." Ucap Naira mencoba untuk tenang di hadapan Galih.
"Tentu.." Ucap Galih singkat.
"Kalau begitu aku permisi dahulu.. Sekali lagi terima kasih karena sudah berbicara jujur kepada ku.." Ucap Naira dan pergi meninggalkan ruangan Galih.
__ADS_1
Bersambung....