
-Author POV-
Naira segera pergi meninggalkan meja di mana abang dan kedua rekan kerjanya duduk dan memilih bergabung dengan meja Viki pria yang baru di kenalnya itu.
Entah mengapa itu terlihat jauh lebih aman dari pada pria itu nantinya akan memberitahukan kebenarannya kepada Abang Juna, meski akibatnya dia akan di cap gadis tidak tahu malu oleh Viki. Namun itu adalah pilihannya yang lebih baik ketimbang ketahuan berada di dalam Bar saat hampir tengah malam.
"Haish.. Semua ini akibat Laila yang mengajak ku bertemu di Bar karena ingin merayakan pesta ulang tahunnya dengan mentraktir ku di sana. Namun di saat-saat terakhir wanita itu malah tidak jadi datang karena hal lain. Dan sialnya aku malah bertemu dengan teman Abang Juna. Sungguh sial sekali.. Jika aku ketahuan olehnya pasti aku tidak akan di izinkan keluar sampai malam lagi." Gumam Naira sambil berjalan menuju meja perjamuan Viki.
"Ehem.. Boleh aku bergabung Viki?" Naira sedikit berdehem untuk menetralkan suaranya yang terdengar sedikit gugup.
Viki yang mendongakkan kepala dan melihat Naira berdiri di depannya langsung tersenyum, "Duduklah.. Itu kosong." Ujar Viki sambil memamerkan senyumnya.
Seirang wnaita tua dan pria tua yang duduk di meja itu saling berpandangan kemudian melihat kearah Viki untuk meminta penjelasaan. Meski tanoa bicara, Viki tahu dari tatapan menunggu kedua orang tuanya itu.
"Ibu.. Ayah.. Kenalkan ini Naira teman ku." Katanya memperkenalkan Naira kepada kedua orang tuanya.
"Emhh Tadi kami tidak sengaja bertemu." Ucap Viki lagi.
"Selamat malam Tante, Om saya Naira, maaf saya jadi mengganggu waktu kalian." Naira tampak sedikit tidak nyaman namum gadis itu berusaha menebalkan kulit wajahnya.
'Ini demi kebebasan ku.. Aku harus bertebal muka.' Batin Naira menguatkan dirinya.
"Tidak apa-apa Nak, Saya Asih ibu Viki dan Ini Anwar ayah Viki.. Lagi pula kursi itu kosong.. Kami jadi bisa berbicara dengan gadis cantik seperti mu pasti akan sangat menyenangkan." Asih memperkenalkan diri dan juga suaminya kepada gadis di depannya itu.
"Senang bisa bertemu dengan Om dan Tante." Ujar Naira sopan kepada kedua orang tua Viki.
"Tentu Nak.. Silahkan duduk Nak." Ucap Asih dan mempersilahkan Naira untuk duduk.
Naira duduk di samping kanan Viki. Meja bundar itu berisi lima kursi namun saat ini sudah terisi empat kursi.
Kemudian terjadilah percakapan hangat di antara mereka berempat sampai sesekali Naira tersenyum karena pertanyaan atau jawaban dari Viki. Anak muda itu ternyata bisa membawa diri dan terbilang jauh lebih dewasa di banding anak lelaki seumurannya.
Viki terlihat tenang, sopan dan bahkan suka bercanda namun tidak melewati batas. Bahkan Viki membuat suasana menghangat agar Naira tidak tampak canggung dan sulit berbicara dengan kedua orang tuanya. Viki adalah teman yang baik.
Hingga tiba tiba seseorang muncul dari arah belakang Naira.
"Selamat malam Bu Asih, Pak Anwar." Sapa suara baritone di belakang Naira.
Naira refleks menoleh ke belakang tubuhnya dan membelalakan matanya saat melihat sosok yang di depan matanya adalah Galih. Pria yang sedang dia coba hindari agar pria itu menjauh darinya.
'Mengapa dia kesini?' Batin Naira heran dengan mata yang masih membulat tidak menyangka pria itu akan datang ke meja mereka.
__ADS_1
"Nak Galih.. Kamu masih mengenali kami.. Duduklah Nak." Ujar Pak Anwar dan memepersilahkan Galih duduk di salah satu kursi yang kosong.
"Terima kasih pak Anwar. Tentu saja saya masih mengaingat bapak dan ibu serta Viki juga." Jawab Galih dan tanpa rasa malu duduk di kursi kosong tepat berada di tengah tengah antara Naira dan Pak Anwar.
'Mereka saling kenal? Ohh tidak..' Batin Naira khawatir dan itu sedikit tampak di wajah cantik Naira yang berubah sedikit pucat. Meski kecantikan gadis itu tetap terpancar di sana.
Galih sedikit memiringkan tubuhnya mendekat kearah tubuh Naira, "Kau tidak bisa menghindari ku.. Baru pertama bertemu? Ohh ayolah bukankah kita malah sudah dekat." Galih berbisik pelan dan kemudian kembali menarik diri menjauh dari tubuh Naira.
"Bagaimana kesehatan Pak Anwar dan Bu Asih?" Tanya Galih sopan dan ramah. Pria itu berbicara seperti dia tidak pernah mengatakan sesuatu kepada Naira.
Naira hanya bisa diam dan mematung sesaat, 'Pria ini benar-benar tidak bisa di hindari seperti virus saja.' Batin Naira.
"Kabar kami baik Nak.. Hanya seperti biasa.. Penyakit tua dan sedikit mudah lelah saja.. Namun selebihnya kami baik." Bu Asih menjawab pertanyaan Galih dan pak Anwar mengangguk setuju.
"Syukurlah jika kalian baik.. Oh ya bagaimana dengan mu Viki sudah mendapatkan pekerjaa. atau sedang mencari pekerjaan?" Tanya Galih lagi.
Galih berbicara dengan Asih, Anwar dan sesekali bertanya kepada Viki.
"Aku sedang mencari pekerjaan, kebetulan aku tertarik pada salah satu perusahaan dam mencoba bergabung dengan mereka.. Namun saat ini aku hanya bisa menunggu hingga mereka memutuskan. Tapi selain itu aku juga sudah mencari beberapa pekerjaan lainnya." Jawab Viki menceritakan semuanya.
"Ahh begitu baguslah jika begitu.. Jadi kalau boleh tau di perusahaan mana?" Tanya Galih penasaran.
"Emhh sebenarnya di negara tetangga.. Aku berencana masuk ke perusahaan Baskoro Grup. Namun sepertinya akan sedikit sulit." Jawab Viki sedikit tidak yakin.
"Jika aku terpilih mereka menyediakan asrama untuk karyawan. Dan jika aku bekerja di sana aku bisa menambah pengalaman dan gaji yang di tawarkan cukup menggiurkan. Dan untuk sementara waktu aku akan meninggalkan ayah dan ibu untuk beberapa waktu hingga aku memiliki tempat sendiri dan aku akan membawa mereka ke negara X dan akan tinggal bersama mereka di sana." Jelas Viki panjang lebar
Ya.. Semenjak pertemuan di rumah sakit dan pemakaman Galih dan keluarga mendiang Sinta menjadi dekat. Apalagi Viki yang jadi tidak memilik seorang penuntun sehingga Viki menjadi lebih dekat kepada Alice dan juga Galih pada waktu itu.
"Ohh begitu.. Tenang saja, jika kau benar bisa masuk ke dalam perusahaan itu, kau dan kedua orang tua mu bisa langsung tinggal di negara itu, tanpa perlu menunggu.." Ucap Galih santai.
"Maksud kak Galih?" Tanya Viki heran.
"Kau tidak perlu memusingkan masalah tempat tinggal.. Dan kau tahu perusahaan itu milik Alice. Dia pasti akan dengan senang hati menerima mu di sana. Dia jadi bisa lebih tenang jika dia meninggalkan perusahaannya bukan. Akan ada seseorang yang di kenalnya dan di percayainya." Jawab Galih menjelaskan.
"Apa? Tapi bukankah pemilik perusahaan keluarga Baskoro.. Adeliana F Baskoro.. Ehh tapi tunggu sebentar.. Bukankah tadi mempelai pengantin pria menyebutkan Baskoro? Tunggu!.." Viki sedikit terkejut dan batu menyadarinya sekarang.
"Berarti..." Ucapanya menggantung.
"Iya.. Itu milik Alice.. Kau tenang saja.. Jika kau bisa masuk karena kemampuam mu, Alice pasti dengan senang hati membantu kalian pindah kenegara itu segera." Jelas Galih lagi.
"Astaga! Terima kasih kak Galih." Ucap Viki terlihat lebih percaya diri.
__ADS_1
"Aku yakin aku akan di terima.. Hanya saja aku memang sedikit ragu untuk meninggalakan orang tua ku, mereka sudah tua dan aku jadi sedikit bingung untuk mengambil keputusannya. Untunglah ada kakak Galih.. Sekali lagi terima kasih kak." Viki tampak bersyukur.
"Mengapa berterima kasih kepada aku.. Aku tidak melakukan apapun." Ucap Galih dan membuat mereka jadi sedikit mencair.
"Dan kau nona cantik.. Bagaimana kondisi tangan mu?" Galih bertanya kepada Naira yang dari tadi hanya tampak mendengarkan dan menyimak pembicaraan itu.
Gadis itu baru tahu bahwa Viki ternyata baru saja lulus sekolah. Padahal dia pikir Viki sedang kuliah ataupun bekerja. Tubuh bongsor Viki ternyata malah membuatnya salah paham terhadap pria itu. Ternyata Viki jauh lebih muda.
Pertanyaan Galih membuat Naira tersadar dari lamuannnya, "Aku baik terima kasih." Jawab Naira singkat.
"Bagitukah? Boleh aku memeriksanya?" Tanya Galih dan mengulurkan tangannya, gadis itu hanya memandang wajah tampan Galih dan telapak tangan pria itu yang terbuka dengan pandangan bingung.
"Kau tahu, aku penyebab tangan mu sakit.. Aku memiliki hak untuk memeriksanya, takut takut jika kau tiba-tiba melaporkan ku atas tuduhan penyerangan." Bisik Galih pelan namun masih bisa di dengar oleh Naira.
"Aku tidak akan melakukan itu." Bisik Naira lagi.
Namun Gakih masih tetap dengan mengukurkan tangan yang memperlihatkan telapak tangannya dan menanti tangan Naira. Pria itu menggerakan tangannya sedikit keatas dan kebawah meminta Naira segera melakukan apa yang dia minta.
Dengan wajah terpaksa Naira memberikan tangan kirinya yang sebelumnya sakit di atas telapak kanan Galih dengan sedikit enggan. Galih melihat lergelangan tangan wanita itu sengan tekita bahkan sedikit menggerak-gerakannya untuk memastikan sendi tangan itu.
"Okey.. Sepetinya sudah membaik dan tidak ada masalah." Ucap Galih yakin saat melihat pergelangan tangan Naira yang memang tanpa bebat.
Galih melepas pegangan tangannya ditangan Naira, dan dengan cepat Naira menarik tangannya.
"Tunggu kalian sudah saling mengenal?" Tanya Anwar penasaran dengan interaksi Galih dan juga Naira yang terlihat jauh lebih dekat.
"Iya pak Anwar kebetulan Naira ini adalah adiknya Juna." Jawab Galih santai.
"Ohh begitu.. Astaga ini sungguh sangat kebetulan.." Ucap Anwar tidak percaya.
Pria paruh baya itu tampak sangat mengagumi ketiga pria dari tempat kerja mendiang putrinya itu. Ketiga pria dengan status tinggi namun sangat hangat dan baik dalam membantu keluarga mereka yang sedang di timpa musibah saat itu. Membuatnya menganggap ketiga pria itu sebagai keluarganya.
"Benar pak Anwar. Ternyata dunia ini tidak terlalu besar ya." Ujar Galih bercanda.
"Iya Nak Galih benar.." Bu Asih ikut menimpali.
"Lalu bagaimana Bapak dan Ibu bisa bertemu dengan Naira?" Tanya Galih lagi mulai penasaran dengan pertemuan keluarga Sinta.
"Ahh.. Viki bilang Naira adalah temannya.. Bagaimana kau bisa bertemu dengan Nak Naira, Viki?" Tanya Asih yang juga penasaran dimana anakanya berkenalan dengan adik Juna itu.
Naira yang mendengar itu membelalakan matanya takut akan Viki yang menjawab dengan jujur pertanyaan ibunya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya..." Ujar Viki menggantung.
Bersambung....