JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Tertangkap3


__ADS_3

Alice memberikan kode kepada Maya untuk mendekatkan kepalanya kepada Alice. Mayapun mengerti dan mendekatkan kepalanya ke wajah Alice. Alice dengan giginya yang terhalang scarft membantu Maya membuka scarft yang mengikat mulut Maya. Akhirnya scarft itu terbuka dan membebaskan mulut Maya.


“Berbaiklah, aku akan membukakan milikmu.” Ucap Maya. Dan Maya menggunakan giginya membukakan scarft di mulut Alice.


“Terima kasih.” Ucap Alice saat scarft di mulutnya terlepas.


Kemudian Alice menggerakan bahu di kanannya mencoba membangunkan gadis yang berada di sisi kanannya.


“Bangunlah Nona.” Ucap Alice pelan.


“Mmmm..” Suara gadis itu tidak terdengar jelas. Sepertinya gadis itu sudah sadar.


“Sttt jangan berisik. Kau diam saja. Aku akan membantumu melepaskan ikatan mata dan mulutmu namun kau harus diam.” Ucap Alice di telinga gadis itu. Gadis itu menggangguk beberapa kali tanda mengerti.


Alice membuka ikatan pada mata gadis itu. Gadis itu terlihat menyesuaikan diri dengan cahaya yang masuk kepada matanya. Kemudian Alice membukakkan scarft yang ada di mulut gadis itu.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Aku dimana? Apa..” Ucap gadis itu pelan.


“Nanti saja aku jelaskan. Bisakah kau meraih tas di atas sana dengan kakimu Nona?” Tanya Alice memotong ucapan gadis itu dan menunjukkan tas dengan dagunya.


“Akan aku coba.” Ucap gadis itu dan merentangkan kakinya meraih ke atas nakas dan mencoba menggeser tas itu menggunakan jari kakinya, Tas itu terjatuh pelan ke lantai.


“Dekatkan ke tanganku.” Ucap Alice sambil menggeser posisi duduknya dan Maya menggeser duduknya sendiri untuk memberikan ruang untuk Alice, dan gadis itu juga menggeser tas itu lagi dengan kakinya hingga kakinya menekuk sempurna kesamping agar Alice bisa meraihnya.


“Dapat.” Ucap Alice saat mendapatkan tasnya di balik punggungnya. Gadis itu membuka tasnya dan mencoba membuka sedikit celah pada dalam tas itu. Terdapat toolkit seperti kapsul kecil, Alice membuka toolkit itu. Di dalam sana terdapat beberapa alat kecil lainnya salah satunya adalah pisau kecil layaknya pisau mini seukuran 3cm namun memiliki ketajaman yang sangat hebat. Ailce mengambil pisau mini itu dan mulai membuka ikatan pada tangannya. Setelah terlepas, Alice Kemudian membuka ikatan pada tangan Maya dan juga gadis di sebelah kanannya itu. Kemudian Alice merapihkan kembali alat-alatnya.

__ADS_1


"Kalau boleh tau siapa namamu Nona?” Tanya Alice pada gadis itu.


“Aku Siska. Aku baru beberapa bulan pindah kesini dan tinggal di kota M.” Jelas gadis itu.


“Ahh ternyata begitu.” Ucap Alice.


“Pegang ini. Bertingkahlah kalian masih di ikat.” Ucap Alice kepada Maya dan Siska. Menyerahkan cable tie yang tadi di potong olehnya.


“Baiklah.” Ucap mereka bersamaan.


Alice memperhatikan kalung yang berada di lehernya. Baguslah semuanya tadi telah terekam sempurna. Pasalnya sebelum Alice pingsan saat di bekap mulut dan hidungnya oleh Bintang, Alice sempat menyalakan perekam yang ada di kalungnya. Sehingga semua perbuatan orang-orang tadi pasti sudah terkirim kepada Galih. Selain itu Alice juga melihat ponselnya tadi ada pada Bintang, saat gadis itu ingin memotretnya maupun gadis yang lainnya. Ponsel itu memiliki GPS yang terpasang di dalamnya. Meskipun sudah menginstal ulang ataupun kartunya di ganti, ponsel itu akan teteap memberikan koordinatnya kepada tim utama yaitu Galih, Juna dan Roy. Karena handphone itu merupakan hasil modifikasi  Galih untuk Tim intinya.


“Apakah kita akan duduk manis saja?” Tanya Siska mulai bingung, mengapa mereka tidak kabur saja jika memang mereka bisa kabur saat itu juga.


“Tidak. Kita akan menunggu sampai saatnya tiba.” Ucap Alice Ambigu dan Maya mengangguki ucapan Alice.


Mereka duduk manis dengan sabar hingga terdengar suara langkah kaki yang mulai mendekati arah pintu dan akan mulai membuka kunci pintu itu. Alice memasangkan penutup mulut pada Siska dengan cepat dan memasangkan scraft pada mulutnya sendiri juga dengan cepat, sedangkan Maya sudah memasangkan scraft itu dengan cepat kemulutnya sendiri. Tak lama terlihat seorang gadis masuk. Ternyata Bintang masuk k ruangan itu sambil membawa nampan di tanggannya.


“Ahh ternyata pria-pria itu mulai cerdas. Mereka sudah membuka ikatan pada mata kalian tanpa akau suruh. Awas ingat jika kalian mencoba berteriak, aku akan menembak kalian dengan cepat.” Ucap gadis itu ketus dan membawa pistol di atas nampan.


“Aku akan menyuapi kalian makan. Kau dahulu. Ingat jangan bersuara, kau hanya boleh membuka mulut untuk makan dan menelannya.” Ucapnya ketus dan Siskapun menggangguk kemudian Bintang membuka scraft pada mulut Siska.


“Cepatlah, lama sekali kau makannya. Masih ada dua orang yang harus aku urus. Menyebalkan sekali.” Ucap Bintang mulai tidak sabar menyuapi Siska.


“Sudah. Ini minummu. Kau pikir ini hotel atau restoran, kau akan makan sampai kau kenyang, aku memberimu makan sedikit agar kau tidak mati saja.” Ucap gadis itu ketus kemudian memasangkan kembali scraft pada mulut Siska.

__ADS_1


“Sekarang giliranmu.” Ucap Bintang pada Alice. Bintang membuka scarft yang menutupi mulut Alice dan mulai menyuapinya.


“Ahh ternyata kau sangat cantik ya.” Ucap gadis itu iri.


“Sudah, kau jangan makan banyak-banyak nanti kau jadi jelek.” Ucap gadis itu setelah baru 3 suapan kemudian memberikan minum dan menutup kembali mulut Alice.


“Astaga tinggal satu lagi. Huft lain kali akau tidak mau menggambil sekaligus begini. Membuatku lelah saja.” Keluh gadis itu sambil membuka ikatan pada mulut Maya dan mulai menyuapinya.


“kau juga cantik. Aku akan dapat untung besar nih.” Ucapnya dan menyuapinya makan hingga piring itu kosong.


“Kalau kau jadi gendut masih tak apa, agar pelanggan makin suka yang agak berisi.” Ucap gadis itu dan memberikan Maya minum dan menutup mulut gadis itu lagi.


Setelah memberi makan ketiga gadis itu, Bintang memastikan semuanya terikat dengan benar namun membiarkan mata mereka bertiga tidak tertutup. Lalu gadis itu beranjak dari sana dan mengunci kembali pintu itu.


Tak terasa malampun telah tiba.


“Hai para gadis cantik. Sebetar lagi kita akan pergi dari sini. Kalian sabar saja ya.” ucap pria itu menyebalkan.


“Bintang sana kau berteriak-teriak. Dan kau Banyu minta izin satpam menggunkan lift barang di belakang. Bilang istriku kambuh dan akan membawanya ke dokter segera karena dia melukai dirinya sendiri.” Ucap Bima.


“Siap Boss.” Ucap Banyu.


“Tolong!! Siapapun tolong aku.. aku di sekap.. tidakk jangannnn lepaskan akuu biarkan aku pergii.” Teriak Bintang pura-pura meminta tolong sambil bersandar di daun pintu yang terbuka dan memainkan ponselnya di hadapan ketiga gadis itu.


Setelah beberapa kali dia berteriak kemudian gadis itu berbicara.

__ADS_1


“Ingat, disini kalian tidak akan ada yang menolong. Jadi jangan sia-siakan suara kalian. Lebih baik kalian diam dan ikuti apa mau kami.” Ucapnya Bintang menakuti ketiga gadis itu.


Bersambung....


__ADS_2