
"Anton!" Teriak Alice memanggil-manggil pria itu. Namun tidak ada balasan atau respon dari pria itu.
Mobil putih mendekati mereka dan berhenti tepat di samping Alice yang masih memeluk Anton dan memanggil-manggil nama pria itu. Riki segera keluar dari mobil itu.
"Riki cepat bantu aku masukkan Maya dan Anton." Ucap Alice dengan kalut namun dia mencoba untuk tetap tenang.
"Baik nona.." Ucap pria itu dan membantu mengangkat tubuh Anton dan meletakkannya di kursi belakang penumpang sedangkan di kursi bagian depan di buat turun dan Maya di letakkan di sana.
"Cepat kita harus segera ke rumah sakit terdekat." Ucap Alice saat dia dan Riki sudah masuk ke dalam mobil.
Riki dengan cepat mengendarai mobil dan selalu menyalakan lampu hazard dan dengan kecepatan tinggi membelah jalanan yang masih gelap itu. Bagaimanapun ini masih pukul 4 pagi.
"Anton kau harus selamat." Ucap Alice di sela-sela isakannya sambil terus menekan luka pria itu agar perdarahannya berhenti.
Mereka dengan cepat tiba di rumah sakit swasta Kasih Ibu. Dengan cepat Alice memberitahukan petugas medis untuk membawa brankar dan segera melakukan penanganan kepada Anton dan juga Maya.
"Dokter Anton." Ucap salah seorang petugas yang mengenali Anton.
"Segera cepat masukkan ke dalam ruang tidakkan oprasi!" Perintah orang itu lagi dan petugas yang lainnya segera bergerak dengan cepat.
Saat melihat satu pasien lagi, petugas itu juga memerintahkan hal yang sama untuk Maya. Di pagi buta itu semua bekerja dengan ricuh dan ramai. Anton sudah di bawa ke dalam ruang penanganan begitu juga dengan Maya. Alice yang masih tertegun diam menunggu di depan pintu ruang oprasi.
"Anda juga harus mendapatkan perawatan nona." Ucap salah seorang pria menggunakan jas snelinya.
"Bagaimana keadaan mereka dok?" Tanya Alice yang sudah kembali berlinangan air matanya.
"Sedang di tangani.. Mari kita bersihkan dirimu dan bersihkan luka mu. Anda juga terluka bukan nona." Ucap dokter itu namun Alice diam tidak bergeming.
"Mereka sudah di tangani dengan orang-orang terbaik nona.. Untunglah anda telah melakukan penanganan pertama segera saat di perjalanan. Sekarang biarkan para dokter melakukan pekerjaannya." Ucap dokter itu lagi menenagkan Alice.
Alice mengangguk lemah dan kemudian mengikuri dokter itu menuju ruang perawatan. Alice duduk di brankar dan dengan pandangan kosong masih menatap lantai rumah sakit yang berwarna putih.
Dia merasa seperti dejavu. Anton yang terluka untuknya dan kini hal itu terjadi lagi. Tanpa terasa air mata kini menetes lagi di kedua pipinya yang sudah berlumuran air mata dan darah.
"Apakah begitu sakit? Saya sudah memeberikan obat anti nyeri pada anda." Ucap dokter itu saat mencoba mengambil timah panas yang bersarang di bahu Alice dengan pinset dan membuang timah panas itu di nierbeken dan kemudian siap untuk menjahit lukanya. Dokter itu masih melihat Alice yang menangis tanpa suara.
__ADS_1
"Sakit.. Hiks.. Sakit.. Sakitnya di sini." Ucapnya memegang dada sambil di selingi tangisan yang menyayat hati.
"Tahanlah.. Ini akan selesai.. Untuk sakit di hati mu, tenangkan diri mu, semuanya pasti akan baik-baik saja." Ucap dokter itu dan melanjutkan menjahit lukanya. Alice masih menangis tanpa suara.
Setelah selesai membereskan luka Alice, seorang perawat mendekatinya, dengan membawa sebuah pakaian pasien.
"Nona.. Mari ganti dahulu bajunya, saya akan membantu anda." Ucap perawat itu sopan.
Perawat itu menunjukkan sebuah kamar mandi dan menunggui Alice untuk membersihkan dirinya. Alice mencuci tangannya yang berlumuran darah dan kemudian mencuci mukanya dengan air mengalir itu.
Setelah bersih dari darah, Alice keluar dan menghampiri perawat yang masih setia di depan pintu kamar mandi.
"Perlu saya bantu?" Tanya perawat itu saat Alice muncul keluar dari kamar mandi.
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri." Ucap Alice dan perawat itu menyerahkan baju pasiennya.
"Terima kasih." Ucap Alice dan mengambil baju itu.
"Sama-sama.. Kalau begitu saya permisi." Ucap perawat itu dan meninggalkan Alice sendirian.
"Mengapa aku harus mengalami hal seperti ini lagi? Apakah tuhan ingin menguji ku kembali?" Ucap gadis itu dan kembali terisak di dalam kamar mandi.
Alice kembali memebasahi wajahnya dengam air mengalir untuk membersihkan wajahnya dari leleham air matanya. Gadis itu berjalan gontai menuju ruang tunggu di depan ruang oprasi.
"Kau harus baik-baik saja seperti waktu itu! Aku tidak akan membiarkan mu meninggalkan aku seperti kedua orang tua ku yang meninggalkan aku! Kau harus bertanggung jawab melindungi ku dan menjaga ku seumur hidup mu!" Ucap Alice bergumam sambil mengeratkan kedua tangannya cemas.
Tiba-tiba dua orang pria menghampiri Alice.
"Nona anda tidak apa-apa?" Tanya pria itu dan Alice mendonggakkan kepalanya.
"Paul.." Ucap Alice pelan. Paul dan Riki tiba di depan Alice.
"Maaf saya terlambat.."
"Tuan.. Tuan di mana?" Tanya Paul bingung, pria itu hanya melihat Alice di sana dan tidak melihat Anton tuannya.
__ADS_1
Alice kembali berurai air mata dan melihat ke arah pintu besar yang di atasnya tertulis sedang oprasi. Pria yang mengerti maksud Alice hanya mengerutkan dahinya dan kemudian menunduk.
"Tuan akan baik-baik saja nona.. Nona tidak perlu cemas." Ucap pria itu menenangkan Alice.
"Kenapa dia mau mengorbankan nyawanya untuk orang yang akan menyakitinya?" Tanya Alice dan kembali berlinangan air matanya.
"Tuan tidak pernah berubah nona.. Dia selalu mendahulukan kepentingan dan keselamatan nona di atas segalanya." Ucap Paul dan masih menunduk.
"Aku tahu itu! Aku tahu! Itulah kenapa aku sangat membencinya!" Ucap Alice dan air mata kembali membasahi pipinya. Ucapan dan hatinya tidak berjalan bersamaan.
"Istirahatlah nona.. Jika ada perkembangan dari tuan saya akan memberitahu nona." Ucap Paul.
"Tidak aku akan di sini." Ucap Alice keras kepala.
Tiba-tiba beberapa pria masuk dan mendekati Alice.
"Alice! Kau tidak apa-apa? Bagaimana keadaan mu?" Tanya pria itu khawatir. Galih dan Juna beserta Roy datang menghampiri gadis itu.
Alice berdiri dari duduknya dan menghambur kearah ketiga pria itu dan memeluk mereka bertiga dengan tangan gemetar.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice.
"Astaga syukurlah kau tidak apa-apa." Ucap Juna, Galih dan Roy yang tampak lega sambil memeluk gadis itu.
"Maya.. Dimana Maya?" Tanya Juna yang tersadar wanita itu tidak ada di sana. Wanita yang selalu membayang-bayangi malamnya dan selalu saja mengganggu di pikirannya.
Alice yang mendengar itu menunjukkan jarinya ke arah pintu ruang oprasi dengan tangan yang gemetar. Juna mundur seketika dan terlihat pucat.
"Dia wanita yang kuat.. Dia akan baik-baik saja." Ucap Roy dan Galih menenangkan Juna. Pria itu hanya diam mengerutkan keningnya dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.
"Juna! Kau mau kemana?" Tanya Galih yang menyadari pria itu akan pergi entah kemana.
"Ini semua salah ku.. Jika mereka berdua tidak melindungi ku, mereka berdua pasti akan baik-baik saja." Ucap Alice menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
"Jangan konyol Alice.. Kita bekerja selalu dengn resiko.. Jangan menyalahkan diri mu sendiri! Aku akan melihat Juna.." Ucap Roy dan pergi dari sana. Sebelum pria itu pergi, dia memeluk erat tubuh Alice dan mengusap-usap lembut kepala gadis itu dan menyusul Juna pergi.
__ADS_1
Bersambung....