
“Diana penyebab semua kekacawan ini.” Ucap Anton.
“Apa maksudmu Nak?” Tanya Lidia dengan wajah emosi dan langsung berdiri dari duduknya.
“Gadis itu menyewa seseorang untuk melukai Alice dan aku. Bahkan wanita itu yang menembakkan timah panas itu kepada ku.” Ucap Anton.
“Apa? Tidak mungkin itu.. Bagaimana mungkin wanita seperti Diana melakukan hal kejam seperti itu.” bantah Lidia keras.
“Tapi itu adalah kenyataannya Bu.. bahkan wanita itu datang malam-malam ke kamar hotel ku untuk menggoda ku dan ingin menghancurkan hubungan ku dengan Alice. Dia gagal dengan rencananya dan malah datang ke kamar ku untuk mencoba menikam Alice. Dan sekarang dia menyuruh orang bayaran untuk melenyapkan Alice menggunakan pistol. Asataga wanita itu memang benar-benar psyco.” Ucap Anton.
“Itu tidak mugkin Anton, jangan sembarangan bicara. Diana anak yang baik dan terpelajar. Jika kau tidak menyukainya setidaknya jangan menjelek jelekkannya.” Lidia tetap tidak mempercayai ucapan anaknya itu.
“Itu kenyataanny bu.. jika ibu tidak percaya, ibu bisa melihat rekaman cctv yang berada di hotel itu dan ibu bisa melihatnya sendiri dengan mata kepala ibu sendiri, bahwa wanita yang ibu anggap baik adalah seorang psychopath. Wajah dan tangan Alice terluka karenanya.” Ucap Anton dan mencoba memberikan bukti kepada ibunya.
Lidia yang mendengar itu memundurkan langkahnya dan terduduk di sofa itu lagi. Lidia syok dengan kenyataan bahwa dirinyalah yang membuat semua kekacawan ini dan hampir saja mencelakai kedua orang yang berharga baginya.
“Sudah kita bisa bahas ini lain kali lagi. Kita juga bisa melihat bukti-buktinya nanti. Saat ini biarkan Alice dan Anton istirahat, mereka pasti lelah. Ibu dan ayah juga baru saja sampai. Biarkan kita semua istirahat sejenak kemudian baru menyelesaikan urusan ini lagi.” Ucap Bram menengahi pembicaraan ini.
“Nak Alice kau istirahatlah ini sudah malam. Apkah kau sudah makan malam nak?” Tanya Bram. Alice hanya diam saja.
“Sayang kau belum makan?” Tanya Anton khawatir, Alice masih diam saja.
“Baiklah itu tandanya kau belum makan sama sekali bukan sejak Anton terluka. Baiklah ayah akan memesankan makanan untuk kalian.” Ucap Bram dan menuju telpon yang ada di dekat sofa itu.
“Pesan beberapa makanan yang menjadi andalan kalian bawa ke kamar presidential suit 1?” Ucap Bram di telpon itu.
“Apakah kau sudh boleh makan Nak? Tanya Bram kepada Anton saat makanan sudah datang.
“Anton masih belum boleh makan sampai dia bisa buang gas Yah.” Ucap Alice.
“Haha sepertinya kau tidak akan bisa buang gas jika ada kekasihmu di sisimu bukan.” Goda Bram kepada anak bungsunya itu.
“Astaga ayah.. bisakah berpura-pura tidak perlu membahasnya.” Ucap Anton sedikit malu.
__ADS_1
“Hahahaha.. baiklah Nak Alice, abaikan saja dia.. dia tidak akan kelaparan karena dia masih di pasangi infus. Lebih baik kita makan saja. Buu ayo kita juga makan menemani Alice.” Perintah suaminya dan Lidia beranjak dari sofa dan duduk di meja makan.
“Maaf jika saya merepotkan kalian semua. ini semua karena saya.” Ucap Alice saat sudah duduk di kursi meja makan itu.
“Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri Nak.. bisa kita mulai makan? Kita akan membahas hal ini esok pagi.. sekarang kita makan untuk memulihkan kembali energy yang sudah habis terkuras. Ayoo silahkan di makan.” Ucap Bram dan memulai makan malam di sudut lain ruang perawatan Anton itu.
“Baik Ayah..” Alice dan Lidia pun mulai makan, meski makanannya terlihat lezat, mereka berdua makan dengan tenang dan perlahan. Bahkan terlihat bahwa mereka makan hanya untuk mengisi perutnya yang kosong, tidak perduli makanan itu enak atau tidaknya.
Setelah makan malam itu Bram dan Lidia pamit dari ruang perawatan itu. Alice yang akan menunggui Anton seperti kemauan kedua anak muda itu. Sehingga Bram dan Lidia kembali ke hotel tempat mereka akan menginap tak jauh dari rumah sakit itu.
“Kau terlalu pendiam sayang.” Ucap Anton memecah keheningan malam itu.
“Tidak apa-apa.. aku hanya lelah.” Ucap Alice.
“Anton bolehkah aku pinjam ponselmu?” Tanya Alice.
“Hemm boleh.” Ucap Anton dan Alice mengambil ponsel Anton yang ada di laci meja samping ranjang Anton.
“Emhh passwordnya.” Tanya Alice.
“Aku lebih menyukai wajah tersenyum mu dari pada wajah diam mu Al. Apapun itu jangan kau pikirkan sendiri, kita akan melalui semuanya bersama.” Ucap Anton dan mengelus lembut rambut gadis itu.
“Iya baiklah.” Ucap Alice dan kembali tersenyum.
“Aku akan menelpon dahulu.” Ucap Alice dan beranjak pergi dari ruangan itu.
Alice menghubungi nomer ponsel Galih yang sudah dia ingat sehingga tidak perlu lagi untuk melihat kontaknya.
“Halo Gal ini aku Alice.” Ucap Alice.
“Astaga Alice, kami semua khawatir kepada mu. Bagaimana keadaan mu? Kenapa kau meninggalkan tempat kejadian begitu saja.” Tanya Galih.
“Maafkan aku aku sedang terburu-buru. Ada warga sipil yang terkena tembakkan dan aku membawanya ke rumah sakit terdekat.” Ucap Alice cepat.
__ADS_1
“Bagaimana keadaan di sana?” Tanya Alice lagi.
“Sedikit kacau, aku tidak bisa menjelaskannya di telepon. Besok kau datanglah ke hotel tempat aku menginap.” Ucap Gaih.
“Apa yang sebenarnya terjadi?” Tanya Alice lagi.
“Bukankah misi telah selesai” Lanjut Alice.
“Nanti saat kau di sini, akan aku jelaskan.” Ucap Galih.
“Baiklah kalau begitu, besok pagi aku akan kesana.” Ucap Alice khawatir beserta bingung harus meninggalkan Anton.
Alice langsung masuk kembali ke ruang perawatan Anton. Gadis itu masih belum menyadari wallpaper dan lockscreennya adalah gambarnya. Gadis itu masih saja sibuk dengan berbagai pikirian di dalam kepalanya.
“Ada apa? Apakah ada kabar buruk?” Tanya Anton khawatir saat melihat kekasihnya datang dengan wajah sedikit kusut.
“Sepertinya ada sedikit masalah. Aku harus pergi besok pagi, apakah itu tidak masalah?” Ucap Alice sedikit ragu.
“Iya kau pergilah.. aku tak apa, lagian ada ayah dan ibu yang akan menemani ku. Kau pergi saja menyelesaikan keperluan mu. Aku tahu kau pergi ke sini untuk tugasmu bukan.” Ucap Anton memberikan izin kepada kekasihnya itu.
“Tapi aku tidak bisa menemanimu..” Ucap Alice tidak enak.
“Aku tidak apa-apa. Kau bisa kembali lagi kesini saat kau sudah selesai. Jangan terlalu di pikirkan.” Ucap Anton menenangkan kekasihnya itu.
“Baiklah, besok pagi setelah ayah dan ibu datang aku akan pergi.. maafkan aku, aku tidak bisa menemanimu.” Ucap Alice sendu.
“Ayolah kenapa kau sedih, aku tidak apa-apa, kau akan kembali saat kau sudah selesai dengan pekerjaan mu. Dan kita bisa berkencan kembali. Tidak ada yang perlu kau sedihkan. Ayolah berikan aku senyumanmu bukan wajah murungmu itu.” Ucap Anton lembut.
“Hemm baiklah.. aku mencintaimu Anton…” Ucap Alice dan memeluk samping tubuh kekasihnya itu.
“Aku sungguh jauh jauh sangat mencintaimu Alice..” Ucap pria itu dan mencium puncak kepala gadis itu.
“Ini sudah larut kau tidurlah..” Ucap Anton menyuruh kekasihnya untuk berisitirahat di ranjang yang tak jauh di sebelah ranjangnya .
__ADS_1
Bersambung....