JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Petunjuk masa lalu


__ADS_3

Galih dan Alice tiba di apartemen Anton. Alice menggunakan pass card yang sebelumnya di tinggalkan oleh Anton untuknya agar bisa mengakses apartemen kekasihnya itu.


"Galih tunggulah di sini dahulu." Ucap Alice menyuruh Galih menunggu di ruang tamu. Alice berlari menaiki tangga dan masuk ke dalam kamarnya semalam. Gadis itu lalu membuka laci yang di maksud kekasihnya itu.


Disana terdapat sebuah kotak berwarna merah, Alice membuka kotak itu dan di dalamnya terdapat Pistol Desert Eagel miliknya dulu, Hanan Gun (Pulpen Bius), Kiss of death (Pistol Lipstik), dan satu set perhiasan yang sepertinya ini di tamam pelacak dan perekam untuk memudahkan Anton mencari gadis itu.


"Kau benar-benar totalitas ya." Ucap Alice monoton kepada dirinya sendiri. Gadis itu menutup kembali kotak itu dan kemudian membawanya turun menuju ke ruang tamu tempat Galih berada.


"Gal.. Yuk.. aku sudah selesai." Ucap Alice saat dia melihat Galih yang sedang fokus terhadap sesuatu.


"Ada apa?" Tanya Alice bingung.


"Al.. tidakkah kau lihat, gadis kecil ini sangat mirip dengan diri mu dulu." Ucap Galih masih memandangi foto itu dan kemudian mengambil bingkai itu dan memperhatikannya dengan seksama.


"Emhh masa sih?" Tanya gadis itu sedikit ragu. Pasalnya waktu pertama kali dia masuk rumah ini, dia juga merasa entah mengapa foto itu terasa mengganggunya.


"Aku yakin.. meski di foto ini jauh lebih segar dan gemuk, ini adalah orang yang mirip. Tunggu sebentar." Ucap Galih dan mengambil ponselnya. Pria itu mendekatkan foto Alice saat kecil di panti dahulu dan foto yang ada di bingkai milik Anton.


"Lihat!! sangat mirip kan!! meski tubuhnya yang di panti lebih besar, namun ini benar-benar mirip." Ucap Galih lagi.


"Yang kau katakan benar.. Jika memang itu aku lalu bagaimana bisa foto ini bisa ada di sini." Tanya Alice makin bingung.


"Aku akan memotret ini dahulu." Ucap Galih dan memotret isi di dalam bingkai foto itu. Kemudian pria itu meletakkannya lagi.


"Untuk hal itu kau bisa menanyakannya langsung pada Anton. Sekarang kita harus bergegas menuju bandara. atau kita akan ketinggalan pesawat." Ucap Galih mengingatkan. Dan kemudian Alice dan Galih segera pergi dari apartemen Anton menuju bandara di pusat kota A.


Alice mengambil ponselnya dan kemudian menuliskan sebuah pesan.

__ADS_1


💌"Aku menemukan foto ini. Bisakah kau menjelaskannya? Salah satu anak kecil di dalam foto ini mirip dengan ku." Isi pesan yang Alice kirimkan untuk kekasihnya.


Lama tidak ada jawaban dari Anton. Sepertinya pria itu memang tengah sibuk dengan pekerjaannya, karena pesannya masih belum di baca.


Alice sudah tiba di bandara dan memasukkan isi kotak itu ke dalam tas tangannya dan memasukkan kopernya ke dalam bagasi pesawat. Tidak lupa gadis itu juga menunjukkan kepemilikian atas senjata-senjata serta surat jalan atas benda-benda itu.


Alice melihat ponselnya saat sudah memasuki pesawat. Kekasihnya masih juga belum membaca pesan darinya. Alice mematikan ponselnya dan menyimpannya di dalam tas tangannya.


Anton yang sibuk menyelesaikan pekerjaannya agar dia bisa langsung pergi ke kota X pria itu juga menyiapkan beberapa pengawal bayangan untuk Alice di negara X itu. Saat dirinya telah menyelesaikan semua pekerjaannya, dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Alice. Namun dia tertegun dengan gambar yang di kirimkan Alice kepadanya dan pertanyaan yang membuat Anton bingung.


Anton mulai mengingat kejadian dari mana dia mendapatkan foto itu. Itu foto 11 tahun atau 12 tahun yang lalu, jika di lihat dari wajah Anton di foto itu yang masih tampak muda. Namun bagaimana dia lupa akan hal itu.


"Mengapa aku tidak mengingat mengambil foto ini." Gumamnya bingung.


"Paul.. bisakah kau mencari tahu mengenai foto ini, aku tidak mengingatnya. mungkin dengan menyelidiki ini, ini akan memudahkan kita mencari jati diri Alice." Ucap Anton kepada Paul yang ada di sampingnya yang membantunya membereskan berkas rumah sakit.


"Tentu Tuan." Ucap Paul singkat. "Tuan semua sudah di siapkan, penerbangan kita siang ini, dan Pak Aldo yang akan menjemput kita di bandara." Ucap Paul menjelaskan.


Alex sudah berada di bandara lebih dahulu. Pria itu sudah memasukkan barang-barang milik Anton ke dalam bagasi pesawat.


"Sudah siap semuanya?" Tanya Anton saat dia menghampiri Alex di kursi ruang tunggu.


"Semua sudah siap tuan." Ucap Alex cepat.


"Baiklah.. ayo masuk." Ucap Anton. Alex dan Paul mengikuti Anton dari belakang tubuh pria itu.


Mereka memasuki pesawat dan terbang menuju negara X. Tugas Anton ke negara X selain untuk melindungi Alice, dan mencaritahu kebenaran mengenai jati dirinya Anton juga ingin mencari tahu mengenai mengapa dia bisa melupakan beberapa hal yang malah membuatnya bingung.

__ADS_1


Selain itu Anton juga mengincar Bahar Angkasa yang di curigai menjadi kaki tangan Bos Besar itu. Dia tidak ingin gadis nya dalam bahaya dan di luar pengawasannya langsung. Untuk itu lebih baik mendekati musuh mu untuk memantau situasi bukan.


Anton tiba di bandara kota X di negara X. Pria itu keluar dari pintu kedatangan yang di apit oleh Paul dan Alex dan saat pria itu keluar, tiba-tiba sorang pria yang cukup berumur sebaya dengan ayahnya mendekati mereka.


"Antonius.." Ucap pria itu. Anton sedikit mengerutkan keningnya, dia melihat pria itu seperti tidak asing namun dia tidak dapat mengenalinya.


"Aku Aldo, sahabat sekaligus anak buah paman mu." Ucap pria tua itu yang ternyata adalah Aldo.


"Paman Aldo.. Maaf aku tidak mengenali mu." Ucap Anton baru menyadari siapa pria di depannya itu.


"Tentu tidak masalah. Kita sudah lama sekali tidak bertemu, jadi wajar saja jika kau tidak mengenali ku." Ucap Aldo sambil menepuk bahu kokoh Anton.


"Kalian sudah memesan tempat?" Tanya Aldo kepada ketiga orang itu.


"Sudah Pak Aldo, kami memesan hotel di pusat kota." Jawab Paul dan hormat kepada seniornya yang dahulu itu.


"Wahh kau Paul bukan? dan kau Alex? kalian sudah tumbuh besar ya. Aku bangga kepada kalian. Kalian memilih hotel? batalkan saja itu. Kalian tinggal di tempat ku saja. lebih mudah mengintai jika di rumah warga sekitar dari pada dari hotel." Gurau pria tua itu.


"Baik Paman Aldo.. maaf merepotkan mu." Ucap Anton sopan.


"Kau sangat sungkan.. dahulu kau selalu mengikuti kemanapun aku pergi. Sekarang kau sudah besar." Ucap Aldo mengenang masa lalu, namun Anton tidak mengingat hal itu. Anton hanya tersenyum hormat.


"Ayo.. itu mobilnya." Ucap Aldo menaiki sebuah mobil SUV berwarna putih.


"Mobil kalian akan tiba besok pagi." Jelas Aldo lagi saat mereka memasuki mobil itu dan mobil segera melaju dengan Alex yang berada di belakang kemudi dengan bantuan navigasi dalam mobil itu.


"Terima kasih paman." Ucap Anton lagi.

__ADS_1


Mereka bernacana menggunakan mobil Range Rover Vogue Anton untuk berjaga-jaga. Bagaimanapun ini adalah sarang musuh yang sedang bersembunyi. Lebih baik berhati-hati dan mempersiapkan diri bukan.


Bersambung....


__ADS_2