
Alice yang sudah selesai memberikan laporannya memilih untuk pulang kembali ke ruko miliknya.
"Kau mau kemana?" Tanya Galih saat berpapasan dengan Alice tepat di depan ruangan gadis itu. Alice membawa tas dan hendak pergi dari sana.
"Aku akan pulang.. Bukankah aku memiliki hari libur." Ucap gadis itu dan berjalan lagi.
"Aku akan mengantar mu." Ucap Galih dan Alice hanya diam dan terus berjalan. Galih juga hanya diam saja tidak banyak bicara seperti biasanya. Pria itu tidak tahu apa yang terjadi kepada gadis itu.
"Sesuatu terjadi?" Tanya Galih akhirnya memutuskan untuk menanyakannya langsung kepada Alice saat mereka sudah masuk ke dalam mobil miliknya.
"Ya.." Ucap Alice singkat.
"Sangat buruk kah?" Tanya Galih lagi saat dia hendak menyalakan mobilnya.
"Sangat buruk." Ucapnya dan memilih memandang keluar jendela. Galih yang memperhatikan itu hanya bisa melirik Alice sekilas dan membawa mobilnya membelah jalanan pagi buta yang sepi.
"Kau lapar? Mau makan apa?" Tanya Galih menghilangkan sepi di antara mereka.
"Carikan aku wedang ronde." Ucap Alice singkat.
"Ha? Ah.. Oh baiklah." Ucap Juna dan memilih melajukan mobilnya berputar arah menuju alun-alun kota A, sepertinya di jalanaan seperti itu akan ada orang yang berjualan di pinggir jalan bukan.
Meski kini sudah jam dua pagi, dia yakin pasti salah satu warung atau mungkin penjual pinggir jalan masih buka.
"Ahh.. Ketemu." Ucapnya saat melihat sebuah kios kecil dengan tulisan wedang ronde di samping pangkalan ojeg. Pria itu memarkirkan mobilnya tak jauh dari kios dan keluar dari mobilnya.
Beberapa pria sedang berkumpul meminum minuman yang menghangatkan itu sambil sesekali bersenda gurau sambil menanti penumpang atau mungkin hanya sekedar istirahat dan menghangatkan dirinya.
"Pak.. Wedang rondenya tiga di bungkus." Ucap Galih kepada pria tua penjual yang tampak sedikit mengantuk. Galih kemudian memilih untuk duduk di kursi kayu itu sambil menunggu.
__ADS_1
"Ini den.." Ucap sang pedagang setelah beberapa saat membuatkan pesanannya dan menyerahkan bungkusan plastik bening itu.
"Ini pak terima kasih." Ucapnya dan menyerahkan uang dan segera pergi dari sana.
"Den.. Kembaliannya." Ucap pria tua saat akan menyerahkan uang kembalian.
"Tidak perlu pak." Ucapnya sopan dan kembali berjalan menuju mobilnya.
"Ini pesanannya." Ucap Galih dan menyimpan bungkusan plastik itu di samping kursinya dan kembali mengendarai mobilnya membelah jalanan menuju rumah Alice.
"Terima kasih." Ucap Alice san kembali menatap jalanan.
"Hanya ini? Tidak mau makanan yang lain?" Tanya Galih lagi saat mereka sudah memasuki jalan raya.
"Tidak.. Bangunkan aku jika sudah sampai." Ucap Alice dan memejamkan matanya.
Galih mengangguk dan kembali fokus ke jalanan menuju rumah Alice, meski sekali-kali pria itu akan melirik Alice yang sudah tertidur nyenyak.
Tidak berapa lama mereka sudah tiba di depan ruko Alice. Pria itu ingin membangunkan Alice tetapi dia tidak tega.
"Al.." Ucapnya namun tidak ada sahutan dari sang empunya.
Galih berinisiatif mengambil kuci di tas Alice dan mengambil wedang ronde dan naik ke atas menuju rumah gadis itu. Galih membuka pintunya lebar dan kemudian menyimpan wedang ronde itu di atas meja kemudian membuka pintu kamar gadis itu lebar dan menyalakan lampunya serta mengganjal pintu itu agar tetep terbuka lebar begitu juga dengan pintu luar.
Galih kembali turun ke bawah dan membuka pintu mobilnya lebar. Pria itu membuka seat belt yang membelit tubuh Alice dan menggendong menuju lantai atas. Pria itu berjalan menaiki tangga dengan perlahan dan kemudian masuk ke dalam kamar Alice dan meletakkan gadis itu tepat di atas kasur.
Galih kembali turun ke bawah dan mengambil serta mengunci mobilnya dan kembali ke atas untuk menutup pintu rumah gadis itu. Galih kembali ke kamar Alice untuk membuka high heels gadis itu dan meletakkannya tepat di samping tempat tidur dan menyelimuti Alice serta menyalakan pendingin ruangannya.
"Kau benar-benar tidak bangun." Ucap pria itu dan menyalakan lampu tidur dan mematikan lampu utama kamar. Galih keluar dari kamar Alice dan memilih menyimpan minuman hangat itu di kulkas.
__ADS_1
Galih memutuskan untuk menginap di sana dan memilih mengunci pintu. Kemudian merebahkan tubuhnya di sofa dengan tangan yang menjadi bantalannya dan memposisikan tidur miring dengan meringkukkan tubuhnya.
***
Beberapa jam kemudian Anton tiba tepat di depan ruko Alice. Pria itu ingin melihat Alice dari kejauhan meski itu hanya rumah sang gadis saja. Namun dia sedikit tertegun saat melihat mobil sport kuning terparkir di depan rumah gadis itu.
"Aku bahkan tidak bisa melihat mu saat aku sudah tiba tepat di depan rumah mu." Ucapnya monoton sambil berdiri tepat di bawah tangga rumah gadis itu.
Beberapa menit hanya berdiam diri di bawah anak tangga sambil melihat ke arah pintu, kemudian Anton memutuskan akan kembali kedalam mobilnya untuk pulang ke rumah utama. Bagaimanapun pria itu harus berbicara kepada kedua orang tuanya dan memastikan semua acara pernikahannya sudah di batalkan oleh orang tuanya.
"Paul.. Kita ke rumah utama." Ucapnya dan kemudian melihat kearah jalanan yang mulai ramai meski ini masih pukul 04 pagi.
"Baik Tuan." Ucapnya dan kemudian mengemudikan mobilnya menuju rumah utama Hadi Jaya.
Pukul 5 lewat mereka sampai di rumah utama Hadi Jaya. Seorang pelayan membukakan pintu dengan cepat dan mempersilahkan tuan mudanya masuk.
"Siapkan kamar untuknya." Ucap Anton kepada pelayan itu untuk mempersiapkan Paul kamar dan beristirahat.
"Tidak perlu tuan, saya bisa pulang ke tempat saya." Ucapnya menolak sedikit tidak enak.
"Semalaman ini kau tidak istirahat, kau pasti lelah. Tidur dan istirahatlah sebentar." Ucap Anton dan kemudian pergi dari tempat itu.
Paul mau tidak mau menuruti perintah tuannya.
"Silahkan lewat sini Tuan." Ucap pelayan itu dan menunjukkan jalan menuju kamar untuk Paul.
Anton berjalan menuju ruang kamarnya dan kemudian merebahkan tubuhnya yang sudah lelah. Tubuh dan psikologisnya benar-benar lelah. Bagaimanapun pria itu masih sangat mencintai Alice dan sedikit banyak terganggu saat mengetahui orang yang di cintanya bersama dengan pria lain. Dan yang lebih menyakitkan dia tidak bisa melarang ataupun berkomentar tentang apapun itu karena saat ini dia bukanlah siapa-siapa selain musuh dari gadis itu.
"Aku tidak bisa memeluk mu bahkan menemani mu. Dan kini ada orang yang menggantikan ku untuk menemani mu." Ucapnya sambil menghembuskan nafasnya kasar.
__ADS_1
"Apakah aku terlalu egois jika menginginkan mu tidak bersama pria lain meskipun kau tidak bisa bersama ku?" Ucapnya monoton dan menutup matanya dengan siku tangannya. Anton lambat laun tidur dan menyambut mimpinya. Dia berharap di dalam mimpi dia bisa bertemu dan kembali bersama kekasih hatinya.
Bersambung....