
"Astaga.. Aku kenyang sekali.." Ucapnya saat masuk ke dalam rumah dan merangsek tiduran di atas sofa.
"Bagaimana tidak kau kenyang.. Kau sudah menghabiskan dua mangkuk bubur ayam dan enam es potong. Bagaimana tidak kau kenyang." Ucap Galih menimpali.
"Kau mengganggu kebahagiaan ku Gal." Alice menolehkan kepalanya kearah Galih dan memberikannya tatapan sengit.
"Baiklah-baiklah.. Ahh ya masih ada wedang ronde semalam kau mau ku hangatkan itu?" Tanya pria itu lagi.
"Mau!" Jawab Alice cepat dan mengangkat kepalanya saat Galih ternyata sudah berada di dapur.
"Baiklah tunggu dahulu ya nona.. Akan hamba buatkan." Ucapnya dan membuka lemari pendingin untuk mengambil sesuatu bungkusan dari dalam sana.
Galih dengan cepat mengambil panci mini teflon dan menaruh ketiga bungkus di sana. Kemudian menyalakan apinya dan menunggunya hingga mendidih. Setelah mendidih pria itu mengambil dua mangkuk dan membaginya ke dua wadah itu.
"Silahkan tuan putri." Ucapnya dan menyodorkan satu mangkuk di atas meja tepat di depan Alice dan mangkuk lainnya di meja tak jauh dari dirinya.
"Ahh.. Terima kasih." Alice bangkit dari tidurnya dan segera duduk.
"Emhh.. Harumnya.." Komentar gadis itu mencium uap yang mengepul di sana dan menyendoknya.
"Awh.." Ucapnya saat kuah panas itu mengenai lidahnya.
"Hati-hati itu panas." Galih memperingati gadis itu.
"Telat.. Udah kena panasnya!" Ucap Alice sambil memajukan bibirnya.
"Haish.. Masa gak terlihat itu masih mengepul dan langsung di makan.. Ya iya lidah ku terbakar. Tunggu sebentar." Galih berdiri dan berjalan menuju dapur. pria itu mengambil sesuatu dari dalam lemari pendingin itu.
"Ini.. Minum dahulu." Ucapnya dan menyodorkan air mineral dingin kepada Alice yang sebelumnya dia buka dahulu tutupnya. Alice dengan cepat langsung meminum air itu.
"Sudah mendingan?" Tanya Galih.
"Hemm.. Sudah jauh lebih baik." Ucap Alice dan kembali menyendok kembali wedang ronde itu. Namun berbeda kali ini, gadis itu meniup-niupnya dahulu kemudian baru memasukkannya kedalam mulutnya.
"Emhh enaknya.. Perutku jadi lebih hangat." Ucap Alice dan melakukan beberapa sendok lagi kedalam mulutnya.
"Pelan-pelan nanti tersedak." Ucap Galih memperingati gadis itu.
"Hentikan kutukan mu!" Ucap Alice sambil menyempitkan matanya.
__ADS_1
"Hei aku bukan mengutuk mu tapi mengingatkan mu. Aihh ya sudahlah aku akan diam saja.. Cepat lanjutkan saja minuman mu." Ucap Galih akhirnya mengalah.
'Haih.. Baru kali ini melihat kelakuan Alice yang benar-benar tidak biasa dari gadis itu. Biasanya gadis itu akan lebih dingin dan cuek. Namun sekarang dia lebih mudah kesal dan ngambek. Sepertinya dia sudah tidak menganggapku orang asing.' Batin Galih dan tanpa sadar pria itu mengukir senyuman di bibirnya.
"Apa yang kau pikirkan senyum-senyum sendiri? Kau berpikiran jorok ya?" Ucap Alice seenaknya.
"Hei! Aku tidak begitu ya.. Ishh bersihkan tuh isi kepala mu.!" Ucap Galih kesal.
"Hei isi kepala ku selalu bersih tidak seperti mu!" Balas Alice.
Dan pertengkaran mereka terus berlanjut dengan perdebatan-perdebatan hal yang tidak penting sampai akhirnya Galih pergi untuk bekerja.
***
"Sisil.. Apakah Alice dan Anton akan baik-baik saja?" Tanya Amanda saat dirinya dan Sisil duduk berdua saja di depan kolam renang.
"Entahlah.. Anton tampak terlihat tenang.. Terlalu tenang malah.. Aku lebih khawatir ketenangan sepertin ini." Ucap Sisil menimpali.
"Aku juga merasa begitu. Apa masalah mereka sampai harus membatalkan pernikahan? Bukankah mereka saling mencintai bahkan sebelum ini mereka melakukan perjalanan bersama." Ucap Amanda.
"Apa mungkin ada orang ketiga?" Tebak Sisil.
"Apa perlu kita datangi Alice dan lihat bagaimana kabarnya? Bagaimanapun beberapa waktu ini kita sudah sangat dekat dengannya. Masa karena pernikahannya di batalkan kita jadi menjauhinya." Saran Sisil.
"Aku juga ingin seprti itu, tapi maukah dia menerima ajakan kita? Masalahnya yang aku bingung, mengapa saat pembatalan pun gadis itu tidak datang sama sekali ke sini. Aku takut mereka sedang melalui masalah yang jauh lebih serius dari hanya sekedar orang ketiga." Pikir Amanda.
"Ayolah tidak apa, coba kau kirim saja pesan padanya dia mau tidak bertemu dengan kita. Jika dia mau kita jangan membahas masalah pernikahannya kita bahas masalah lain saja. Lagipula aku menyukainya dan aku sudah menganggap gadis itu seperti adik ku sendiri." Ucap Sisil dan Amanda setuju.
Amanda mengambil ponselnya yang berada di atas meja dan mulai mencari kontak Alice yang selama ini dia hubungi untuk acara pesta pernihakan itu.
💌"Alice.. Jika tidak keberatan, maukah bertemu dan makan siang di luar bersama?" Isi pesan yang Amanda kirimkan untuk Alice.
"Bagaimana?" Tanya Sisilia penasaran.
"Belum di baca.." Ucap Amanda dan beberapa saat kemudian, "Ah.. Sudah di baca.." Ucap wanita itu senang.
"Bagaimana ada balasannya?" Tanya Sisil yang semakin penasaran.
"Belum di balas." Ucap wanita iu sedikit kecewa.
__ADS_1
"Apakah dia benar-benar tidak mau berhubungan dengan kita lagi?" Tanya Sisil sendu. Meski wanita itu tampak kuat dan arogan, kenyataannya wanita itu sangat berhati lembut sama seperti Amanda.
"Mungkin dia masih sibuk, jadi belum bisa memberikan jawabannya. Kita tunggu saja dengan sabar." Ucap Amanda menenangkan Sisil.
"Baiklah kalau begitu, aku akan melihat bayi ku dahulu." Ucap Sisil akhirnya dan pergi menuju ruang televisi dimana bayinya sedang di asuh oleh baby sister dan ada Lidia di sana.
Sedangkan untuk anak pertamanya dan kedua anak Amanda, mereka semua sedang pergi bersekolah bersamaan dengan keberangkatan ayah mereka masing-masing.
***
Alice yang melihat notifikasi pesan dari Amanda sedikit tertegun dan bingung akan membalas apa. Bagaimanapun kedua wanita itu sangat baik dan perhatian kepadanya selama ini. Dia juga tidak tega sebenarnya namun dia bingung harus menjelaskan apa jika mereka berdua menanyakan mengenai hubungannya dengan Anton.
"Non ini mau di taruh di mana?" Tanya bu Ani saat bunga-bunga baru tiba dari kebun.
"Ahh yang ini di taruh di sebelah sana saja." Ucap alice menjelaskan dan menata beberapa bunga yang baru masuk itu sehingga melupakan pesan dari Amanda.
Setelah semua pekerjaannya selesai, gadis itu mendudukkan bokongnya di kursi di depan handphonenya dan kemudian teringat akan pesan Amanda yang belum dia balas.
Akhirnya Alice memutuskan untuk menerima ajakan makan siang itu bersama Amanda.
💌"Maaf baru balas kak. Boleh kak, jika tidak keberatan di mall AA saja." Isi pesan Alice yang kebetulan mall itu tidak berada jauh dari rumahnya.
💌"Tentu tidak masalah.. Terima kasih Alice." Isi pesan balasan dari Amanda.
Setelah mendapatkan pesan balasan dari Amanda, Akice segera menghubungi Galih untuk membatalkan makan siang mereka di rumah gadis itu. Alice mencari nomor pria itu dan segera menelponnya.
📞"Halo Gal.. Maaf makan siang nanti aku tidak bisa membuatnya. Aku ada perlu di luar." Ucap gadis itu.
📞"Ya sudah kita makan siang di luar saja." Ucap Galih.
📞"Aku ada janji makan siang." Ucap Alice lagi.
📞"Ahh.. Baiklah kalau begitu. Aku akan menjemput mu pulang dan makan malam bersama saja kalau begitu. Bagaimana?" Tawar Galih lagi.
📞"Tapi aku tidak tahu kapan selesainya." Ucap Alice.
📞"Tidak masalah.. Kau tinggal menghubungiku saja jika sudah selesai." Ucap Galih.
"Baiklah kalau begitu." Ucap Alice menyerah dan menyetujui keinginan pria itu dan kemudian mematikan ponselnya.
__ADS_1
Bersambung....