
Sinar matahari pagi masuk dengan bebasnya menghangatkan separuh wajah dan tubuh sang pemilik tubuh kekar itu melalui kaca jendela yang terbuka tanpa di tutupi sebuah gorden yang membuat sang penghuninya terganggu dalam tidur nyenyaknya.
"Emhh.." Gumamnya saat berkerqk mengganti posisinya menjauh dari cahaya matahari yang menyinari wajahnya.
Bagaimanapun pria itu baru saja tidur sekitar dua jam dan dia masih enggan untuk tersadar saat ini. Mimpinya yang indah enggan dia tinggalkan.
Brak!! Pintu kamar terbuka dengan lebar suara dentuman kayu yang bersentuhan dengan tembok yang keras membuat sang pemilik kamar langsung terperanjat. Belum lagi suara teriakan yang membahana membuatnya mau tidak mau membuka matanya.
"Anton!!!!!!!!!" Ucapnya dan menerobos masuk dan mengguncang-guncang tubuh pria itu yang masih duduk dengan mata melotot karena kaget namun nyawanya yang belum terkumpul.
"Hei!! Apa-apaan kau! Kau ingin membatalkan pernikahan? Kau bercandakan? Cepat jelaskan kau hanya mau mengundurkan waktunya saja kan?" Ucap Sisilia dengan emosi.
"Pagi kak Sisil.." Ucapnya namun tidak menjawab pertanyaan wanita itu.
"Anton! Ini bukan saatnya untuk bercanda! Ini bukan waktunya untuk main-main. Tidakkah kau perduli dengan perasaan Alice? Mengapa kau tiba-tiba meminta pembatalan pernikahan? Apakah kalian bertengkar? Atau kau masih ingin bermain-main dan hanya menyakiti Alice?" Pertanyaan demi pertanyaan di lontarkan oleh kakak iparnya Sisilia.
"Hentikan Sil.. Biar ibu yang bicara dengan Anton." Ucap Lidia yang tiba-tiba masuk dan melihat interaksi itu.
"Tapi bu.. Dia tiba-tiba mengatakan ingin membatalkannya begitu saja. Tidakkah dia tahu, Alice mungkin akan sedih dan kecewa." Ucap Sisilia wanita itu sedikit murung.
"Ibu akan bicara dengan Anton. Kau bisa sarapan dahulu di bawah." Ucap Lidia menenangkan menantunya.
"Baiklah bu.." Ucap Sisil. Wanita itu kemudian keluar dari kamar Anton dan memilih untuk pergi ke ruang makan.
"Pagi nak.. Kau baik-baik saja?" Tanya Lidia melihat wajah anaknya yang sedikit kusut dengan plaster di wajahnya.
"Hemm.. Aku baik-baik saja." Ucap Anton berbohong dan mencoba memberikan senyumannya meski yang terlihat senyuman itu terpaksa.
"Inikah alasan ibu menentang kedekatan kami? Karena aku memang tidak pantas baginya dan aku adalah penghancur hidupnya?" Tanya Anton dengan sendu.
__ADS_1
"Sejujurnya ibu sudah mencoba memisahkan kalian karena ibu takut hari ini akan tiba. Kalian akan saling tersakiti terlebih cinta di antara kalian sangat kuat namun rasa bersalah mu dan rasa dendam serta luka gadis itu pasti tidak bisa di abaikan begitu saja. Namun ibu yakin kalian berdua pasti bisa menghadapi situasi ini." Ucap Lidia dan mengusap lembut rambut bangun tidur Anton yang berantakan.
"Katakan semua yang ibu ketahui bagaimanapun aku tidak banyak mengingat sebelum dan setelah kejadian itu. Aku hanya mengingat aku pernah kecelakaan dan terluka. Tapi untuk detailnya aku tidak mengingatnya." Ucap Anton meminta agar Lidia menceritakan semua kejadian pada hari kecelakaan itu.
"Baiklah.. Ibu akan menceritakan semuanya dengan jelas bagaimana bisa ibu bertemu dengan mu dan gadis itu. Serta dengan dokter misterius itu." Ucap Lidia akhirnya dan menceritakan tentang dia yang melarikan Anton di suruh oleh dokter misterius itu dan beberapa bulan kemudian melarikan Alice dari rumah sakit itu dengan bantuan dokter misterius itu.
"Jadi ada kemungkinan dokter itu mengetahui semuanya?" Tanya Anton yakin
"Ya sepertinya dia tahu lebih banyak hal di dalam keluarga itu dan apa yang terjadi saat itu dia yang menutupi semuanya.. Tapi dokter itu tidak pernah memberitahukan ibu siapa nama aslinya dan ibu tidak pernah bertemu dengannya lagi meski ibu sering bolak-balik kerumah sakit pusat kota X." Ucap Lidia lagi.
"Baiklah.. Aku akan menyelidiki pria itu." Ucap Anton yakin.
"Hemm.. Ibu hanya berharap apapun yang ada di balik kejadian itu, kebenarannya akan cepat terungkap dan Kalian berdua akan baik-baik saja. Ah ya.. Ini mungkin akan sedikit membantu mu.. Ini ponsel waktu itu yang ibu gunakan namun saat ini rusak. Di sana ada nomer dan foto dokter itu sebelumnya. Ibu mengambilnya secara sembunyi-sembunyi." Ucap Lidia sambil menyodorkan sebuah handphone model lama.
"Baik bu.. Terima kasih. Ini sangat membantu ku." Ucap Anton dan mengambil ponsel itu dan meletakkannya di laci nakas samping tempat tidurnya.
"Baik bu.." Ucapnya dan kemudian Lidia pergi meninggalkan kamar Anton dan menutup pintu kamar itu.
"Baiklah aku akan meminta Paul untuk menyelidiki apa yang di ketahui dokter itu. Dan siapa dia sebenarnya." Ucap Anton dan beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Beberapa saat kemudian dia masuk menggunakan kaus pendek beserta celana training menuju ruang makan.
"Pagi semua.." Ucap pria itu mencoba untuk tetap ceria.
"Pagi nak.. / Pagi.." Ucap Bram dan seluruh anggota keluarga yang ada di meja makan itu.
"Duduklah.. Kita sarapan bersama." Ucap Bram dan menyuruh putra bungsunya untuk duduk bersama mereka.
Anton menggeser kursinya dan kemudian duduk dan mulai mengambil sarapannya. Meski tampak pria itu tidak berselera makan, namun dia harus tetep memakannya agar tidak membuat kedua orang tua dan keluarga lainnya khawatir.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan mereka semua pergi ke ruang keluarga untuk membahas masalah pembatalan pernikahan.
"Anton.. Apakah kau serius akan membatalkan pernikahan yang akan di adakan beberapa hari kedepan? Kita sudah menyebarkan undangannya. Apakah Alice setuju dengan pembatalan ini?" Tanya Amanda khawatir.
"Iya kak.. Alice dan aku sepakat untuk membatalkan pernikahan. Kalian tidak perlu khawatir, ini kesepakatan kami berdua. Jadi tolong bantu aku untuk membatalkan semua yang sudah di siapkan." Ucap Anton menjelaskan.
"Emhh mungkinkah kalian hanya merasa tidak siap karena ini terlalu cepat? Jika begitu aku bisa mengatur untuk menundanya untuk beberapa bulan kedepan." Saran Amanda.
"Tidak kak.. Kamii.. Kami ingin membatalkannya kak." Ucap Anton meski ada keragu-raguan di dalam ucapannya.
Bagaimanapun pria itu menginginkan momen sakral itu hanya dengan gadis yang di cintanya. Namun meskipun pernikahan akan di tunda hingga jangka waktu yang tidak di tentukan, Anton yakin gadis itu pasti tidak akan pernah mau untuk bersanding kembali bersamanya.
'Bagaimana mungkin kau bisa menikah dan hidup bersama dengan pria yang telah membunuh ayah dan ibu mu serta menghancurkan seluruh mimpi keluarga kecil mu.' Batin Anton merasa teriris.
"Perlukah kakak berbicara dengan Alice. Mungkin karena gadis itu masih muda dan dia sekarang merasa sedikit khawatir." Ucap Amanda lagi.
"Tidak kak.. Kami benar-benar akan membatalkan ini dan ini sudah merupakan keputusan final dari kami berdua." Ucap Anton tegas.
"Baiklah jika begitu.. Kami akan membatalkan semuanya." Ucap Amanda dan di angguki oleh Sisilia.
"Maaf telah banyak merepotkan kak Sisil dan kak Manda." Ucap Anton merasa menyesal kepada kedua wanita itu. Bagaimanapun keduanya yang mempersiapkan pesta pernikahan yang hanya dalam waktu 1bulan, namun tiba-tiba di batalkan begitu saja hasil kerja keras mereka. Mau tidak mau mereka pasti akan sedikit kecewa.
"Tidak apa-apa. Apakah kau baik-baik saja?" Tanya Sisil dan Amanda.
"Ya aku baik-baik saja." Ucap Anton dengan senyum indahnya.
'Bagaimanapun ini adalah takdir ku.' Batin Anton.
Bersambung....
__ADS_1