JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kawan lama


__ADS_3

Laristha masih menatap punggung yang tegap dan bidang itu, tiba-tiba Juna mematikan ponselnya dan berbalik menatap kearahnya.


"Sebentar lagi polisi akan segera datang.. Kita akan memberitahukan dan mengurus beberapa hal di sini.. Aku yakin Morgan tidak akan pernah mengganggu mu lagi, setelah itu kita akan kembali ke kota A." Ucap Juna sambil mendekati Laristha dan menggenggam tangan wanita itu erat.


"Tidak.. Aku tidak mau ikut dengan mu.. Aku akan berada di sini selama beberapa waktu.. Lagi pula kerja ku sudah selesai dan aku sudah tidak bekerja di RJP maupun aku sudah mengundurkan diri sebagai pelindung Nona Alice lagi." Laristha melepaskan genggaman tangannya dari tangan Juna.


"Kita memiliki sedikit masalah di sana.. Alice hamil lalu dia mengalami keguguran.. Bos mu Anton meminta mu untuk kembali menemaninya agar dia terhindar dari PTSD (gangguan stres pasca trauma) akibat kegugurannya. Kau tau, kau satu-satunya teman wanita terdekatnya.. Kita semua yang dekat dengannya adalah lelaki, mungkin tidak bisa mengerti apa yang dia butuhkan dan rasakan saat ini." Jelas Juna dan sedikit memaksa Laristha agar mau kembali bersamanya.


"Apa? Alice keguguran? Berarti kecurigaan ku benar saat dia sedikit bersikap jauh berbeda dari dia biasanya.. Astaga bagaimana mungkin ini terjadi? Apakah tunangannya tidak menjaganya? Tunggu sebentar..." Laristha menjeda ucapannya.


"Kau bilang apa tadi.. Bos ku Anton? Tidak bukan.. Bos ku bukan Antonius Hadi Jaya.." Jelas Laristha menjelaskannya.


"Huft.. Seperti dugaan ku kau pasti tidak mengetahui ini.. Yaa aku sudah tau kau bekerja di Mafia The Black Phanter kan? Dan bos yang menyuruh mu melindungi Alice adalah 'The K'.. Dan pria itu adalah Antonius Hadi Jaya.." Jelas Juna yang membuat mata Laristha membelalak lebar.


"Sudah nanti aku akan menjelaskan.. Itu polisi sudah datang.." Ujar Juna lagi saat melihat beberapa mobil polisi datang dengan sirine dan lampu ratator atau strobo.


Laristha masih berdiam diri berdiri dan termenung di tempat semula sampai Juna mengajaknya masuk kedalam salah satu mobil petugas kepolisian untuk memberikan kesaksian dan tuntutan kepada para tersangka itu. Sedangkan para tersangka yang pingsan sudah di masukkan kedalam mobil petugas yang lainnya.


"Ada apa? Kenapa kau masih termenung? Bukankah semuanya sudah selesai? Kau sudah memberikan kesaksian dan tugas kita di sini sudah selesai.. Saatnya kita kembali ke kota A.. Galih sudah menyiapkan tiket penerbangan terakhir.. Ayo ada barang yang harus kau ambilkah? Atau kita langsung ke bandara saja?" Tanya Juna lagi menyadarkan Laristha dari lamunannya.


"Apa yang sebenarnya terjadi selama aku tidak ada di sana? Bagaimana kalian semua bisa tau siapa bos ku sedangkan aku saja yang bekerja dengannya selama beberapa tahun ini tidak mengetahuinya." Laristha akhirnya membuka mulutnya setelah sekian lama wanita itu terdiam dan termenung.


"Astaga.. Aku pikir apa yang sedang ada di dalam otak cantik mu itu, aishh ternyata kau malah sibuk memikirkan pria lain.." Gerutu Juna dan berjalan melewati Laristha di lorong kantor polisi itu.


"Hei.. Memang wajar bukan jika aku ingin mengetahui detailnya.. Bagaimana kau yang orang asing bisa tahu sedangkan aku yang anak buahnya tidak tahu hal ini sama sekali.." Gerutu Laristha yang berjalan menyusul Juna dan menarik tangan pria itu untuk menghentikan langkahnya.

__ADS_1


"Baik.. Nona yang cantik.. Aku akan menjelaskan semuanya.. Tapi bisakah kau memberikan ku jawaban atas pertanyaan ku sebelumnya?" Juna akhirnya mengalah dan menghembuskan nafasnya panjang.


"Kau mau mengambil barang-barang mu atau langsung ke bandara?" Ulang Juna terhadap pertanyaan yang belum sempat di jawab Laristha.


"Emhh aku harus mengambil barang-barang ku dan menyerahkan kunci ku.." Jawab Laristha akhirnya.


"Baiklah.. Ayoo cepat.. Kita tidak memiliki banyak waktu atau kita akan tertinggal pesawat malam ini.." Ujar Juna dan segera menarik tangan Laristha menuju pintu keluar kantor polisi itu.


"Kalian membutuhkan tumpangan?" Tanya seorang polisi yang berpapasan dengan Juna.


"Aihh.. Kau menawarkan tumpangan dengan mobil bertuliskan polisi? Jangan bercanda Arnold.." Keluh Juna dengan kesal.


"Haha bukankah itu menarik, biasanya kau suka seperti itu agar perjalanan mu tidak terhambat kau selalu suka membuat sedikit keributan.." Ujar pria berseragam polisi yang disebut Arnold.


"Hei bung.. Itu waktu kita masih muda, jangan di bicarakan lagi.. Membuat malu saja." Gerutu Juna.


"Laristha dan aku bukan kekasihnya.." Ucap Laristha tegas sambil melirik kearah Juna.


"Wow.. Kau belum di akui bung.. Sepertinya nona ini tau reputasi buruk mu yang mengencani hampir seluruh wanita di akademi dulu.." Ucapnya menggoda Juna.


"Sepertinya kau sangat puas melihat ku menderita Arnold.. Aku akan menceritakan kisah baik mu pada istri mu nanti.." Ancam Juna.


"Hei.. Jangan begitu.. Oke oke aku mengaku salah.. Aku tidak akan menggoda mu lagi.. Jangan katakan apapun kepada istri ku, jika tidak aku harus menyembunyikan pistol miliknya.." Ucap Arnold sambil tertawa.


"Baiklah aku akan serius sekarang.. Jika kau ingin pergi pakailah mobil ku.. Ini ambil." Arnold melemparkan sebuah kunci dihadapan Juna, dan dengan sigap Juna menangkap kunci itu dengan satu tangannya.

__ADS_1


"Kau pakai saja, jika sudah selesai kau simpan saja kunci mobilnya di dalam dashbord dan beritahu aku saja kau menyimpannya dimana.. Nanti aku akan mengambilnya dengan kunci cadangan lain." Ucap Arnold dan menepuk pundak Juna.


"Oke.. Thank's Arnold.. Salam kepada istri mu.. Jika aku berkunjung lagi ke kota ini aku pasti akan mengunjungi kalian.." Ujar Juna dan beranjak pergi dari tempat itu.


"Aku tahu.." Ujar Arnold dan bergegas masuk kedalam kantor polisi itu.


"Kau mengenal pria itu?" Tanya Laristha yang mulai penasaran.


Juna tersenyum, "Kau mulai tertarik dengan kehidupan pribadi ku nona?"


"Tidak aku hanya penasaran saja, jika kau tidak mau menjelaskan ya kau tinggal mengabaikan saja pertanyaan ku.." Ucap Laristha sedikit gugup.


"Hemm ya.. Dia kawan lama saat aku masih sekolah di akademi kepolisian, aku mengenali dia dan juga istrinya.." Ucap Juna jujur.


"Mungkin kah istrinya adalah mantan mu?" Laristha mulai tertarik membahas kisah masa lalu Juna.


"Uhuk.. Ehemm.. Ya seperti itulah.." Bisik Juna pelan.


"Sudah ku duga.." Ujar Laristha yang entah mengapa menjadi kesal dan malas untuk melanjutkan pertanyaannya lagi.


"Hah kau bilang apa?" Tanya Juna yang hanya mendengar cicitan pelan dari Laristha.


"...." Tidak ada balasan jawaban dari Laristha, wanita itu entah mengapa sudah malas dan enggan untuk menanyakan hal apapun juga saat ini. Dia lebih memilih melihat gelapnya malam dari sudut kaca jendela mobil di sampingnya.


Sedangkan Juna memilih fokus untuk mengemudikan mobilnya menuju tempat tinggal Laristha dengan bimbingan petunjuk arah dari wanita yang mendiamkannya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2