
"Aihhh untunglah sepertinya dia sudah terlelap." Ucap Maya dan mulai melepaskan pelan-pelan rangkulan tangan pria itu. Kemudian wanita itu mencoba bergerak tanpa harus menyenggol benda keramat yang ada di tubuh pria itu. Tentu saja dia tidak ingin benda keramat itu tiba-tiba bangun dan menyadarkan sang empunya dan mengacaukan harinya.
"Aihh.. Syukurlah.." Ucap Maya yang sudah terbebas dari tubuh Juna dan mulai berjalan perlahan-lahan agar tidak menimbulkan suara yang dapat membangunkan pria itu.
Tanpa gadis itu sadari Juna sudah terbangun sejak wanita itu melepaskan pelukannya dan membiarkan wanita itu pergi meninggalkan kamar hotelnya. Juna membiarkannya karena dia juga merasa tidak akan mampu untuk meredam nafsunya jika wanita itu berlama-lama berada di satu ruangan jika hanya berdua bersamanya.
"Aih.. mandi air dingin lagi deh.." Ucap pria itu bangkit dan masuk ke dalam kamar mandi untuk menuntaskan hal yang sebelumnya tertunda.
***
"Hanum.. mengapa wajah mu memerah? apakah kau sakit?" Tanya Alice saat melihat Maya baru saja pulang dan masuk ke dalam apartemen mereka.
"Uhuk.. ehemm.. tidak.. hanya saja udara di luar agak panas.. aku hanha kepanasan." Ucap Maya sambil sedikit terbata-bata.
"Ahh begitu.. ohya apakah kau sudah menyiapkan semuanya untuk nanti malam? ingat jangan sampai ada kesalahan sekecil apapun." Ucap Alice mengingatkan.
"Iya Zara.. aku mengerti." Ucap Maya dan kemudian wanita itu pamit menuju kamarnya.
"Maya sedikit aneh hari ini, apa dia sedang ada masalah? atau dia hanya gugup untuk misi nanti malam?" Tanya Alice monoton kepada dirinya sendiri.
"Huft.. baiklah.. lebih baik aku menyiapkan beberapa peralatan yang akan aku bawa nanti." Ucap Alice dan kembali ke dalam kamarnya untuk menyiapkan beberapa barang bawaannya.
Alice menyiapkan Hanan Gun(Pulpen Bius), Kiss of death (Pistol Listrik), dan mengambil anting dan kalung yang di berikan Anton untuknya.
"Emhh haruskah aku membawa ini?" Ucapnya bingung menimang-nimang haruskah dia membawa Desert Eagel pistol kesayangannya itu.
"Bukankah itu hanya sebuah pesta para artis dan para infestor dunia perfilman saja." Ucap Alice sedikit ragu.
"Hemm sepertinya lebih baik aku bawa untuk berjaga-jaga, aku terlalu santai akhir-akhir ini.. aku harus lebih waspada lagi." Ucap gadis itu dan memutuskan akan membawa pistolnya itu, dan tools mini yang berisi beberapa alat kecil seperti pisau mini dan hal lainnya, meskipun mini, jangan salah dengan ketajaman dan kemampuannya.
Setelah menyiapkan beberapa barang, gadis itu memutuskan untuk tidur sebentar mengistirahatkan tubuhnya dan fikirannya.
***
__ADS_1
Ting tong suara bel apartemen terdengar. Maya segera menghampiri pintu dan membukanya.
"Kalian sudah siap?" Tanya Rosa dan masuk ke dalam apartemen itu.
"Iya sudah.. tinggal menunggu Zara keluar." Ucap Maya.
"Ahh begitu.. baiklah.." Ucap Rosa dan Maya kemudian mereka duduk di sofa menunggu Alice keluar.
Alice mengenakan sarung penutup kaki, sejenis garter untuk menaruh pistolnya di bagian paha dalam agar tidak kentara dari luar dress hitam yang di kenakannya.
Alice juga menyembunyikan tool kid dan memasukkan hanan gun tersembunyi di dalam dressnya dan kiss of death di masukkan ke dalam clutch miliknya bersamaan ponsel miliknya.
Gadis itu juga tidak lupa membawa topeng yang serasi dengan kostum dressnya saat ini. Alice keluar dari kamarnya dan melihat Maya dan Rosa sudah siap di sana.
"Maaf aku sedikit lama." Ucap Alice dan setelah itu mereka langsung segera keluar dari apartement itu.
30menit kemudian mereka sudah sampai di Queen Hotel. Alice, Maya dan Rosa berjalan melalui karpet merah yang terbentang hingga ke dalam hotel. Kemudian Alice dan Maya di suruh berhenti dan sedikit berpose saat di depan sebuah bender yang terbentang untuk melakukan foto di sana. Setelah itu mereka melanjutkan jalan menuju ke dalam hotel di temani oleh Rosa.
"Sepertinya kalian sudah terbiasa dengan kamera ya." Ucap Rosa berbicara dengan sedikit menutupi atas mulutnya agar tidak kentara mengucapkan kata-kata itu.
"Ya.. kami lama-lama jadi terbiasa dengan blitz kamera dan senyum sana sini." Ucap Maya dan di angguki oleh Alice.
"Meski demikian, aku berharap ini segera berakhir." Ucap Alice pelan dan kemudian memberikan senyum menawannya kepada beberapa orang yang melihat ke arahnya.
Mereka terus menyusuri lorong itu hingga menuju ke arah ballroom. Saat mereka akan memasuki ruangan itu, seseorang yang berjaga di depan itu meminta undangan dan Alice menunjukkan undangan itu.
"Pakai topengnya dan silahkan masuk." Ucap pria penjaga itu.
Alice, Maya dan Rosa segera memakai topeng mereka dan masuk ke dalam ruangan itu. Banyak orang sudah berkumpul di dalam sana, tentu saja dengan berbagai busana dan topeng yang mewah menghiasa acara pesta itu.
"Mengapa mereka harus mengenakan topeng? meskipun mereka aktris atau aktor, lagi pula aku tidak mengenal mereka." Ucap Maya membisikkan ke telinga Alice.
__ADS_1
"Entahlah.. aku juga tidak paham." Ucap Alice dan kemudian mereka berdiri di dekat meja bundar yang menghidangkan minuman.
Acara itu sangat mewah dengan pencahayaan panggung bahkan dekorasi yang sangat mewah.. Bahkan ada champagne tower di tengah-tengah mereka.
Tanpa mereka ketahui, seseorang sedang memperhatikan mereka dan kemudian mendekati Alice dan tidak sengaja menabrak gadis itu.
"Ahh.. maaf.." Ucap Pria itu. Wajahnya tampan meski tertutup sebagian wajahnya mengenakan setengah wajah kiri dan kanan.
"An.." Belum selesai Alice mengucapkan kalimatnya, pria itu mengedipkan matanya.
"Zara.. siapa dia?" Tanya Rosa dan Maya bersamaan.
"Ehem.. tidak apa-apa, dia orang ku." Ucap Alice akhirnya dan kemudian Rosa dan Mayapun meninggalkan kedua orang itu.
"Apa yang kau lakukan?" Tanya Alice bingung.
"Merindukan mu." Ucal pria itu dan kemudian merangkul tubuh Alice dan mendekatkannya ke dalam pelukannya.
"Astaga.. kau tahu aku sedang apa di sini? lalu mengapa kau ke sini?" Tanya Alice bingung beserta khawatir.
"Aku di sini karena khawatir akan keselamatan mu, dan juga aku ingin memberitahu mu mengenai identitas mu." Ucap Anton sambil terus memeluk kekasihnya dan sedikit mengecup pipi gadis itu.
"Apa? benarkah? bagaimana bisa? ahh maksudku lalu?" Ucap Alice sedikit kacau, entah apa yang gadis itu ingin sampaikan.
"Aku akan memberitahu mu saat acara ini selesai." Ucap Anton dan kembali mencium cepat bibir kecil gadis itu.
"Baiklah.. aku akan menunggu hingga acara selesai." Ucap Alice dan tersenyum mesra kepada kekasihnya itu.
"Baiklah aku akan pergi dahulu." Ucap Anton, melepaskan topeng setengah wajahnya dan mencium serta ******* bibir gadis itu singkat dan kembali mengenakan topeng miliknya dan tersenyum jahil.
Tanpa mereka sadari beberapa pasang mata memperhatikan kemesraan mereka dari atas sana dengan tatapan membunuh yang mendarah daging. Bahkan seseorang sedang tersenyum sinis dengan apa yang di lakukan dua sejoli itu.
Bersambung....
__ADS_1