
-Anton POV-
'Akhirnya sampai juga di kota X. Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengannya.' Batin ku saat baru saja tiba di bandara kota X setelah menghabiskan dua jam perjalanan udara dan akan di lanjutkan satu jam perjalanan darat menuju pusat kota X.
"Tuan.." Kata Alex menyadarkan aku dari lamunan ku.
"Maaf apa kata mu? Aku sedang tidak fokus." Ucap ku memintanya mengulang kembali perkataannya.
"Kita akan langsung ke hotel?" Tanya Alex mengulang kembali pertanyaannya.
"Aku ingin melihat Alice, kita pergi ke hotel tempatnya menginap." Jawab ku cepat.
"Baik tuan." Ucap Alex hormat.
Meski aku tahu mungkin Alice saat ini tidak ingin menemui ku karena aku telah menyakiti hatinya saat terakhir kali pertemuan kita, namun aku masih ingin melihatnya meski hanya sebatas melihat gadis itu dari jauh.
"Tuan.. Kopernya sudah, mari kita keluar." Kata Alex sambil menggambil dan mendorong koper ku dan koper miliknya keluar dari penerbangan internasional.
Saat sudah keluar pintu, Paul dengan cekatan mendekati kearah ku. Pria itu membungkuk dalam hormat kepada ku.
"Kau melakukannya lagi. Tidak perlu terlalu kaku Paul. Kau membuatku tampak seperti bos tua saja." Keluh ku melihat perlakuannya yang terlalu kaku. Padahal aku hanya menyuruhnya menganggukkan kepala saja jika dia ingin menyapa ku atau memberi ku hormat.
"Maaf tuan saya sudah terbiasa." Ucapnya dan merasa bersalah.
"Sudah lupakan saja." Kata ku untuk mengakhiri ini semua.
Aku tahu Paul sudah terbiasa terlalu hormat dan kaku dalam melayani paman ku sebelumnya. Ya.. Usia Paul jauh lebih tua dari ku. Sebelum paman ku pensiun dari dunia mafia, Paul juga merupakan anak buah kepercayaan paman ku. Dan kini dia melayani ku sehingga dia sedikit tidak terbiasa dengan beberapa pengaturan ku yang memintanya untuk sedikit fleksible.
Kau tahu bukan jika melihat seseorang yang lebih tua dari mu membungkuk dalam hormat kepada mu rasanya sedikit tidak nyaman bukan, apalaginorang itu adalah orang yang sangat kau percayai. Untuk itulah aku memintanya agar dia sedikit lebih fleksible, meski kadang dia selalu lupa.
"Paul bagaimana keadaan di kantor BBC?" Tanya ku saat kita sudah masuk kedalam mobil.
Alex sudah duduk di belakang kemudinya dan mengemudikan mobil itu perlahan keluar dari area bandara.
"Semua dalam kendali tuan. Di hari pertama nona Alice bekerja sudah memecat dan memberikan hukuman kepada beberapa orang yang sudah banyak merugikan perusahaan. Bahkan sepertinya divisi bagian hukum sangat kewalahan untuk kali ini." Ucap Paul dan menjelaskan semua yang dia ketahui.
"Bagus kalau begitu. Dia memang gadis ku. Semakin banyak yang mendapatkan hukuman akan membuat Alice menjadi ditakuti dan disegani sehingga membuat bawahannya menjadi patuh dan bekerja dengan sungguh-sungguh. Namun kau tahu bukan Paul, dengan begitu akan lebih banyak juga orang yang menaruh dendam dan mencoba untuk menyakitinya." Ucap ku dingin.
"Tentu tuan, aku sudah menambahkan beberapa orang untuk menjaga nona Alice dari kejauhan." Jawab Paul cepat.
"Bagus. Aku ingin segera melihatnya antarkan akunke hotelnya."
"Emhh maaf tuan.." Ucapan Paul sedikit menggantung.
"Ada apa Paul?" Tanya ku bingung. Ada sedikit kekhawatiran dan perasaan tidak enak didalam hatiku.
"Sejak malam tadi sepulang dari kantor nona Alice tidak pulang ke hotelnya tuan. Dia dan ketiga bos besar RJP menemaninya pergi ke mansion utama Baskoro." Jelas Paul dan pria itu tampak berhati-hati saat berbicara dengan ku.
"Apa? Lalu bagaimana keadaan dia sekarang? Apakah dia masih belum pulang ke hotel?" Tanyaku lagi dan mulai panik.
"Belum tuan, sampai saat tengam malam ini, nona Alice masih di dalam mansion Baskoro bersama tiga orang itu. Maaf kami tidak bisa masuk ke dalam mansion itu sehingga tidak bisa memastikan bagaimana keadaan langsung nona Alice." Jawab Paul.
"Baiklah jika begitu, Paul kau pesan kamar hotel di tempat Alice mnginap. Dan kalian juga segera pindah kesana." Ucap ku akhirnya dan memilih pergi ke hotel tempat Alice menginap untuk memudahkan ku menjaganya dari kejauhan atau bahkan memudahkan ku yang hanya bisa melihatnya secara diam-diam.
__ADS_1
45menit kemudian kami sampai di Hotel Mitro dimana tempat Alice menginap selama beberapa hari ini di kota X ini. Aku memutuskan menempati kamar tepat di bawah lantai mereka.
Semenjak aku sadar dari koma aku bisa mengingat semua kejadian masalalu yang aku lupakan. Dan semenjak saat itu aku tahu penyebab dari phobia ku.
Aku mengalami claustrophobia karena rasa bersalah ku terhadap Alice dan kedua orang tuanya yang terjebak di dalam mobil kecil itu dan menewaskan ketiga orang yang ada di dalam mobil itu.
Alam bawah sadarku merasa sangat bersalah dan tanpa sadar menghapus memori buruk itu dan malah menggantinya dengan munculnya ketakutanku akan ruangan sempit atau tertutup.
Setelah kesadaran ku dari koma semua memori telah kembali dan dengan otomatis menghilangkan phobia ku, namun rasa bersalah itu masih menghinggapi ku.
Aku merebahkan tubuh ku di atas kasur mengambil ponsel yang aku letakkan di nakas di samping tempat tidur. Layar itu tampak hitam kelam dan tidak ada tanda kehidupan.
"Ah.. Aku lupa untuk menyalakannya." Gumam ku dan kemudian menekan tombol powernya untuk menghidupkan kembali ponselku.
Triring... Ponselku kembali menyala dan beberapa notifikasi langsung membanjiri ponsel ku.
Aku melihat beberapa panggilan tidak terjawab dari dokter Maria.
"Ada apa dengan wanita itu menghubungi ku sampai puluhan panggilan. Apa ada yang gawat dengan rumah sakit?" Gumam ku heran sambil melihat waktu terakhir dia mencoba menelpon ku adalah 20menit yang lalu.
Aku mencoba menghubungi nomor itu dan dalam deringan ketiga panggilan itu tersambung.
📞"Halo.." Ucap ku saat panggilan itu sudah tersambung.
📞"Astaga dokter Anton! Kau benar-benar ya! Bagaimana bisa kau tidak hadir untuk fisiotherapy mu." Cecar suara di sebarang sana panjang lebar.
📞"Ahh maaf dokter Maria aku ada urusan mendadak, lagi pula aku sudah baikan dan tidak memerlukan therapy itu lagi." Jawab ku sambil meminta maaf.
📞"Aish.. Kau ini, kau tahu sejak sore tadi aku berkeliling mencari mu dan bahkan aku sampai datang berulang kali keruangan mu memastikan kau sudah datang atau belum. Ishh kalau tidak datang kenapa tidak memberitahu therapisnya? Akukan jafi tidak perlu repot-repot berkeliling rumah sakit untuk mencari mu!" Gerutu Maria panjang lebar dari telepon.
📞"Aishh kan aku jadi lupa tentang tujuan ku mencari mu. Tadinya aku akan langsung berbicara kepada mu. Aishh ini semua karena kesalahan mu, aku jadi pelupa. Ohya beritahu Alice kalau bulan depan minggu ketiga aku memiliki jadwal cuti panjang sehingga jika dia ingin kontrol kandungan aku majukan saja jadi di minggu ke dua. Atau bisa di awal bulan berikutanya. Atau jika dia memang tidak bersedia dia bisa mencari dokter kandungan lain untuk jadwal periksanya saat itu." Jelas Maria panjang lebar yang malah membuat aku semakin bingung.
📞"Tunggu dokter Maria apa maksud mu?" Tanya ku bingung seperti orang bodoh.
📞"Ha? Maksud yang mana? Kau bicara apa sih? Apa yang kau pertanyakan? Aku hanya meminta mu memberitahu Alice mengenai jadwal ku dan memintanya memajukannya atau memundurkannya atau bisa mencari dokter kandungan yang lain." Ucap Maria kesal mengulang kembali perkataannya.
📞"Alice hamil?" Hanya cicitan itu yang keluar dari bibir ku.
📞"Aihh jangan bilang setelah koma kau jadi lemot dan tidak bisa menangkap perkataan ku!" Ucap dokter Maria kesal yang menganggap Anton tidak bisa menanggapi perkataannya mengenai perubahan jadwal miliknya.
📞"Haloo Antonnn kau masih disana?" Teriak Maria saat tidak ada respon dari ku yang masih syok dan bingung terhadap apa yang aku dengar darinya.
📞"Berikan padaku rekam medik milik Alice." Ucap ku kembali tersadar dan memintanya untuk mengirimkan hasil rekam medis milik Alice.
📞"Ahh.. Ohh.. Baiklah.. Aku akan mengirimkannya padamu.. Tunggu apakah Alice belum memberitahukan mu mengenai kehamilannya?" Tanya Maria menyelidik, sepertinya wanita itu mulai mengerti kenapa aku tadi menjadi bodoh sesaat.
📞"Ya.. Banyak hal yang harus aku lakukan mengenai pemulihan ku, sepertinya dia tidak sempat memberitahuku karena khawatir aku akan terganggu dan tidak fokus pada pemulihan ku." Ucap ku cepat mengelak bahwa kami memang memiliki beberapa masalah yang memang masih belum terselesaikan.
📞"Baiklah kalau begitu.. Aku akan lanjut shift malam ku, aku sudah mengirimkan hasil rekam medis milik Alice beserta videonya. Kebetulan aku menyimpannya. Ya sudah kalau begitu kau masih petlu istirahat bukan. Bye dokter Anton." Ucapnya dan kemudian panggilan itu terputus.
Dengan tangan gemetar aku melihat foto hasil dari rekam medis milik Alice. Aku meihat beberapa data mengenai kapan terakhir dia haid dan melihat berapa minggu usia kehamilannya.
Mataku membelalak bulat dan tiba-tiba mengingat kembali saat terakhir kali di pulau romantis itu.
__ADS_1
"Inikah hasil dari buah cinta kita. Maafkan aku yang terlalu larut pada penyesalan ku dan melupakan perasaan mu." Ucap ku monoton saat melihat hasil rekam medisnya.
Aku kembali melihat satu video yang di kirimkan oleh dokter Maria. Aku membuka video itu dan memainkan rekaman video itu.
Dug dug dug dug.. Dug dug dug dug.. Suara detak jantung yang sangat cepat masuk kedalam indra pendengaran ku membuat jatung ku ikut berdetak dengan cepat. Tanpa terasa air mata menetes di sudut mata ku.
Suara ini terdengar seperti suara yang menuntun ku untuk terbangun dari mimpi panjang ku saat itu. Suara itu bukan hanya mimpi, suara itu benar adalah suara degup jantung anak ku..
"Maafkan kebodohan ku.. Aku tidak akan pernah melakukan hal bodoh itu lagi.. Aku akan menjaga kalian dengan nyawaku sendiri." Sumpah ku dengan penuh keyakinan dan menghapus air mata bahagia itu.
Aku mencoba merebahkan tubuh ku dan akan mulai memejamkan mata ku. Namun suara ketukan keras memaksa ku kembali dalam kesadaran.
Aku paksakan tubuhku turun dari ranjang dan membuka pintu kamar ku dengan cepat. Kulihat tubuh Paul yang terlihat di balik pintu kamar ku, wajah pria itu tampak sedikit pucat seketika hati ku menjadi khawatir.
"Paul ada apa?"
"Tuan.. Nona Alice di culik.." Ucap Paul dan menunduk dalam.
Jantungku seketika terasa berhenti. Pikiran ku mulai kacau, aku khawatir dengan keadaan Alice saat ini.
"Jelaskan semuanya dengan jelas." Ucap ku dingin.
"Tuan.. Tadi para pengawal bayangan nona Alice melihat nona Alice dan ketiga sahabatnya keluar dari mansion dan pengawal bayangan mengikutinya. Namun saat mereka akan mulai memasuki daerah jembatan, tiba-tiba mobil para pengawal di hadang dan mendapatkan perlawanan dari banyak orang. Sepertinya mereka dari Mafia Gigi Naga tuan." Ucap Paul hati-hati.
"Beraninya mereka berbuat onar! Paul gunakan seluruh kemampuan Black Phanter untuk mencari dan mengepung semua anggota Mafia Gigi Naga. Sepertinya sudah waktunya kita membersihkan tikus-tikus pengganggu itu." Ucap ku kesal.
"Siapapun yang mengganggu dan menghalangi kita lenyapkan. Prioritaskan keselamatan Alice." Ucapku dingin dan penuh emosi.
"Baik tuan." Ucap Paul hormat dan hati-hati.
Saat paul akan keluar dari kamar ku, aku memanggilnya kembali.
"Paul.. Coba kau cek lokasi perhiasan-perhiasan Alice yang aku berikan. Aku berharap salah satu dari itu masih ada padanya dan akan memudahkan kita untuk mencari lokasinya." Perintahku padanya dan berharap besar pada GPS yang terpasang itu.
"Baik tuan." Ucap Paul dan segera pergi dari ruangan kamar ku.
Aku memilih membersihkan diri dengan air dingin untuk menghilangkan rasa khawatir dan emosi ku, selain untuk membuat ku segar karena lelah seharian ini dan untuk membuatku bisa berfikir jernih di saat seperti ini tentu saja.
15menit aku selesai mandi dan menggunakan baju serba hitam. Aku berharap Paul saat ini sudah mendapatkan informasi di mana Alice di sekap.
Tok tok tok pintu kamar ku kembali di ketuk. Aku dengan cepat membuka pintu kamar ku dan melihat Paul muncul di balik pintu membawa laptop di tangannya dan Alex di belakang tubuhnya.
"Tuan! Aku sudah menemukan titik lokasi salah satu GPS yang terpasang pada cincin lamaran yang tuan berikan." Ucap Paul cepat.
"Baiklah kita lergi sekarang." Ucap ku dan di ikuti oleh Paul dan juga Alex.
"Suruh seluruh anak buah pergi mengepung tempat itu. jangan biarkan siapapun terlewati bahkan hanya seekor lalatpun." Kataku dingin dan kejam.
"Tentu tuan." Jawab Paul tegas.
Paul sudah sibuk dengan laptop di tangannya dan mengetikan dengan satu tangan dan satu tangan lainnya memegang laptop itu. Padahal kita saat ini sedang memasuki lift menuju parkiran basement. Namun Paul memang sangat hebat mengenai pekerjaan ini, dimanapun dia berada dia bisa melakukan tugasnya bahkan saat berdiri atau berjalan. Itulah mengapa aku dan paman ku sangat bergantung dan sangat mempercayai pria di samping ku ini.
"Tuan semua anggota Black Phanter sudah sampai di lokasi. Mereka masih menunggu perintah tuan." Ucap Paul dan mendonggakkan kepalanya dari laptopnya saat semua sudah selesai.
__ADS_1
"Bagus.. Ayo kita juga segera pergi."
Bersambung....