
Saat pagi hari Alice bangun dia segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi, saat ini masih menunjukkan pukul 07.30 pagi. Dia bergegas keluar kamarnya, dia tidak melihat Galih di sofanya atau di dapurnya, sepertinya pria itu telah pergi pagi tadi. Alice hanya melihat sandwich dan segelas orange jus di bar pantrynya. Gadis itu duduk dan memulai makan dan minumnya. Setelah selesai makan dia mencuci dan merapihkannya kembali perlengkapan makannnya ketempatnya.
Pagi tadi Alice mendapatkan pesan dari Anton bahwa Tasya sudah memiliki jadwal untuk oprasinya dan hari ini Al berencana akan ke rumah sakit untuk menjenguk Tasya, karena hari ini sepertinya dia malas untuk pergi ke kantor.
***
Saat Al ke ruang rawat Tasya, Al melihat Tasya sangat bahagia, dia di temani oleh seorang pria dan wanita yang tampak masih muda.
“Kak Araaa…” Ucap gadis kecil itu saat Al baru saja sampai di ujung kasur gadis kecil itu.
“Ayah, Ibu, ini Kak Ara yang sering aku ceritakan. Kak Ara juga yang memberikan sebuah amplop itu.” Ucap Tasya bersemangat.
“Mbak Ara bisa kita bicara sebentar.” Ucap pria di samping Tasya yang merupakan Ayah dari tasya. Al mengikuti pria di depannya itu sampai di luar ruang perawatan.
“Terima kasih Mbak Ara, saya bersama istri saya tidak bisa berbicara apapun selain terima kasih, saya dan istri akan lebih menemani Tasya bergantian, untuk biaya yang mbak Ara keluarkan akan saya berikan kepada Yayasan sesuai pesan mbak Ara. Terima kasih mbak Ara, terima kasih.” Ucap pria itu sambil menggenggam tangan ku dengan berlinangan air mata.
“Sama-sama Pak. Bagai mana pun biaya pemulihannya juga tidak sedikit, saran saya uangnya silakan bapak pergunakan terlibih dahulu untuk keperluan bapak dan istri dalam menjaga Tasya, selebihnya bapak pasti tau apa yang harus bapak lakukan.” Ucap Al kepada Ayah Tasya.
“Iya Mbak Ara, kami mengerti. Terima kasih mbak Ara.. Terima kasih..” Ucap pria itu lagi.
“Mari kita temani Tasya.” Ucap Al sambil mengajak ayahnya Tasya pergi ke ruangan perawatan lagi.
Ya Alice memberikan bukti kuitansi pembayaran biaya perawatan Tasya yang menunggak dan biaya yang akan dilakukan kedepannya selama perawatan penyembuhannya. Karena Al tau sepertinya keluarga itu tidak akan mau menerima dengan begitu saja pertolongan dari orang lain, Al memiliki ide agar biaya yang Al keluarkan nanti akan di ganti dengan cara membayarkan ke Yayasan Peduli Kanker atas nama Ara, dengan begitu keluarga ini tidak merasa terlalu terbebani di lain pihak juga anak-anak yang menderita sama seperti Tasya ini juga memeiliki kesempatan untuk mendapatkan perawatan dan pemulihan seperti Tasya.
Alice berbicara dan bercengkrama dengan Tasya dan Ibunya, sedangkan ayah Tasya sudah berangkat berkerja.
“Tok.. Tok..Tok..” Bunyi ketukan pintu, semua orang yang berada di dalam sana tertuju memandangi pintu itu, tampak seorang dokter tampan muncul di sana bersama seorang perawat di belakangnya.
__ADS_1
Al bersitatap dengan dokter itu kemudian memberikannya senyum dan sedikit menganggukkan kepalanya tanda saling memberi salam. Kemudian dokter itu melakukan tugasnya untuk memantau perkembangan kondisi pasiennya. Al memperhatikan dokter tampan itu dan akhirnya dia tersadar saat Tasya berdehem dan Al kembali berbicara dan bercengkrama bersama Tasya dan Ibunya meski dengan suara agak pelan agar tidak mengganggu pemeriksaan pada pasien lain.
Akhirnya tiba saat sang dokter akhirnya memeriksa Tasya.
“Pagi Tasya, bagai mana keadaannya?” Sapa sang dokter tampan itu.
“Baik Pak dokter.” Jawab gembira anak itu.
“Baik.. Pak dokter periksa dahulu ya.” Izinya dan melakukan pemeriksaan kepada Tasya. Kemudian berbicara kepada suster di belakangnya.
“Semua hasilnya baik, saya juga akan menginformasikan nanti yang akan melanjutkan menangani Tasya adalah dokter Mikail. Rencananya akan dilakukan lusa jika tidak ada halangan. Tasya tidak takut kan?” Ucap dokter itu.
“Tidak. Tasya anak kuat, kak Ara bilang Tasya hebat dan tidak perlu khawatir, dokter pasti akan melakukan yang terbaik agar Tasya sehat.” Ucap anak itu.
“Anak pintar. Nanti setelah makan siang dokter Mikail akan kesini berkenalan dengan Tasya. Tasya mau kan?” Tanya dokter Anton.
“Baik dok. Tasya senang punya banyak teman.” Jawab gadis kecil itu.
“Baik pak dokter terima kasih.” Ucap Ibu Tasya. Kemudian dokter itu izin pamit dari sana dan akan melanjutkan tugasnya.
“Tasya kak Ara izin pamit pulang ya, nanti kak Ara akan kesini lagi jika kakak ada waktu senggang.” Ucap Al izin pamit pada Tasya.
“Iya kak Ara.” Jawab gadis kecil itu.
“Mbak saya izin pamit juga ya.” Ucap Al pada Ibu Tasya.
“Terima kasih Mbak Ara, sunguh saya sangat berterimakasih sama mbak.” Ucap Ibu Tasya.
__ADS_1
“Iya Mbak sama-sama. Mari saya permisi dahulu.” Ucap Al sambil berlalu dari ruang perawatan. Saat Alice akan menunggu lift untuk turun ada sebuah tangan yang menariknya pelan.
“Bisa bicara sebentar.” Ucap pria itu.
“Oh.. Hai dok, emhh Anton. Tentu.” Jawab Alice cepat karena dia memang ingin berlama-lama dengan pria ini.
“Sambil makan siang boleh?” Tanya pria itu yang ternyata adalah Anton.
“Boleh, kebetulan aku juga sudah lapar.” Ucap Alice dan mengikuti lelaki itu menuruni tangga escalator di rumah sakit itu, sama seperti waktu itu dia juga mengikuti pria itu melalui escalator tidak melalui lift.
Mereka pergi ke sebuah cafe yang berada di lantai bawah rumah sakit.
“Di sini tidak masalahkan? Saya masih ada konsultasi siang ini.” Ucapnya.
“Tentu, tak masalah. Aku pemakan segalanya.” Ucap Alice sambil tersenyum.
“Ara, kau sungguh gadis yangsangat cerdas.” Ucap Anton di sela-sela makannya.
“Maksudnya?” Tanya Alice bingung.
“Aku membaca pesan yang kau berikan kepada kedua orang Tasya. Benar katamu kedua orang Tasya datang kepadaku sore harinya, mereka bilang mereka mau melanjutkan pengobatan Tasya beserta perawatannya. Padahal aku kira mereka akan menolak bantuanmu, namun setelah aku membaca pesan yang kau berikan di dalam amplop itu aku mengerti mengapa kedua orang tua Tasya menyetujuinya, jadi mereka tidak akan mengganggap ini hanya bantuan karena iba saja. Kau benar-benar cerdas.” Puji Anton.
Benar kata Anton, Alice menuliskan sebuah surat selain memberikan kuitansi biaya pengobatan dan perawatannya nanti. Alice menuliskan sebuah surat agar mereka mau menerima bantuannya untuk membiayai perawatan Tasya, dan sebagai gantinya mereka harus mencicil biaya itu dengan memberikan sumbangan ke sebuah Yayasan Peduli Kanker atas nama Ara, sehingga mereka tidak akan merasa terbebani, dia juga tidak memberikan batas waktu, sehingga Al berharap kedua orangtuanya Tasya masih bisa meluangkan waktu mereka bersama Tasya.
“Hanya kebetulan saja.” Ucap Alice.
“Ara.. Ahh tidak jadi. Ohya ini sudah pukul 1 siang, aku harus pergi sekarang, tidak apa-apakan aku tinggal?” Tanya Anton.
__ADS_1
“Tentu Anton, silakan. Semoga harimu menyenangkan.” Ucap Al. Alice tak berhenti menatap punggung dokter tampan itu hingga punggungnya benar-benar sudah tak terlihat lagi.
Bersambung....