JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Tertangkap juga


__ADS_3

Alice yang kini sudah berada di depan gedung di mana melihat beberapa anak buahnya sudah berdiri di posisinya masing-masing.


"Kalian ikuti aku.." Ucap Alice dan bersiap untuk masuk dengan posisi tangannya sudah siap dengan senjata di tangannya.


"Berpencar cari!" Bisik Alice pada ear peace miliknya.


"Clear!" Ucap salah satu anak buahnya saat mendapatkan informasi dari anak buahnya bahwa lantai satu sudah aman.


Laristha dan seorang petugas lain berdiri di belakang Alice untuk membuka jalan dan menaiki anak tangga menuju lantai 2.


"Berpencar!" Bisik Alice dan menggerakan jarinya agar orang-orang di belakangnya pergi mengecek semua ruangan di lantai itu.


"Lantai dua Clear!" Jawaban dari petugas yang memeriksa lantai itu.


Alice kembali menyusuri lantai tiga dan kembali meminta rekannya untuk memeriksa di lantai tiga dan hasilnya sama.


Kini tersisa lantai terakhir dan Alice kembali berjalan perlahan dengan masih tetap siaga dengan pistol di tangannya. Alice menyusuri lantai terakhir dan berjalan melihat beberapa ruangan di sana. Alice kembali menyuruh beberapa anak buahnya dengan jari tangannya yang di gerakkan menunjuk sebuah ruangan dan dirinya menuju ruangan lainnya.


Alice masuk dengan mencondongkan pistolnya lebih dahulu kemudian melihat situasi di sana yang mana membuat matanya membulat saat melihat Jhon hendak bangkit dari posisi tidurnya.


"Target di lantai 4!" Ucap Alice cepat kepada ear peace di telinganya.


"Tetap di tempat!" Perintah Alice kepada pria tua itu yang kini melonjak kaget karena ternyata ada orang lain di ruangan itu. Bahkan Alice menodongkan pistol kearah pria tua itu.


"Tunggu tunggu.." Ucap pria tua itu tergagap.


"Letakkan kedua tangan anda di belakang kepala!" Perintah Alice.


Beberapa anggota Alice yang sudah selesai memeriksa situasi di lantai yang lain segera naik ke lantai atas dan hendak membantu Alice mengamankan situasi.


"Semua lantai clear Bu!" Lapor pria salah satu anggota itu.


"Baiklah cepat amankan dia!" Perintah Alice lagi.

__ADS_1


Saat anggota Alice akan mendekati Jhon yang mengangkat kedua tangannya, tiba-tiba pria tua itu berlari dan mendekati jendela yang hanya menyisakan kusen yang sudah di makan oleh rayap dan di penuh dengan debu.


Pria tua itu tampak sedang melihat kearah luar jendela dengan pandangan yang sulit di artikan.


"Pak Jhon.. Apa yang akan anda lakukan? Diam di tempat dan kami tidak akan melakukan hal apapun yang akan membahayakan anda." Ucap Alice dengan nada memerintah.


Entah mengapa Alice memiliki firasat buruk tentang ini. Pria tua itu masih melirik kearah luar jendela.


"Tuan.. Ini lantai 4 jika anda terjun bebas dengan usia anda yang sekarang, saya yakin anda tidak akan mati dengan cepat namun anda akan patah tulang dan menderita selama sisa hidup anda di penjara." Ucap Alice lagi mengatakan fakta yang mungkin akan terjadi.


"Tapi aku bisa melakukannya! Aku pasti bisa melarikan diri dari sini!" Ucap pria tua itu dengan percaya diri dan dengan sigap menaiki kusen rapuh itu dan dengan cepat mencoba melompat dari sana.


"Wisnu tangkap dia!" Perintah Alice kepada salah seorang anak buahnya.


Seorang pria anggota RJP yang ada tidak jauh dari posisi Jhon saat ini berusaha meraih dan menangkap pria tua itu namun pria tua itu segera menepiskan genggaman tangannya dan memilih menerjunkan dirinya kebawah.


"Argghhh!" Teriakan Jhon terdengar di udara di luar gedung terbengkalai itu.


Brugh! Blam! Suara sesuatu yang jatuh ke tanah dengan suara kencang yang bedebum kencang.


"Sungguh merepotkan! Ayo kita lihat kebawah!" Ucap Alice kepada anak buahnya dan juga Laristha.


Alice dan juga Laristha sudah tiba di luar halaman yang tergeletak tubuh Jhon yang sedang meringis kesakitan akibat kebodohannya sendiri.


"Arghh! Sialan! Ini sangat sakit!" Rutuk Jhon sambil memegang kedua kakinya yang sepertinya patah tulang.


Alice dengan cepat berjongkok di depan Jhon dan memeriksa bagaimana kondisi luka kedua kaki pria tua itu. Bagaimanapun dia yang bertanggung jawab dalam tim ini.


Alice memeriksanya dengan seksama dan saat itu juga teriakan dari Jhon terdengar memekakkan telinganya.


"Argh.. Gadis bod0h mengapa kau menggerakkannya! itu sakit!" Bentak Jhon kepada Alice saat gadis itu memeriksa keadaan kondisi pria tua itu.


"Bukankah aku sudah memperingatkan mu pak tua. kau mengabaikan peringatan ku, maka saat ini silahkan menikmatinya." Ujar Alice santai.

__ADS_1


Panggil tim medis kesini, bilang kepada mereka kedua kaki pria tua ini mengalami patah tulang dan tangan kanannya terkilir." Ucap Alice kepada salah satu anak buahnya.


"Baik Bu.." Ucap pria itu cepat, dan dengan cepat pria itu segera menghubungi rekan kerja yang lainnya.


Alice dan Laristha berjalan santai menyusuri beberapa blok gedung-gedung yang terbengkalai itu.


Hingga seseorang tampak di depan netranya saat sosok itu semakin lama semakin terlihat jelas dan mendekati dirinya.


"Anton.." Ucap Alice sedikit terkejut dan tidak percaya bahwa di adakan bertemu dengan Anton di tempat seperti ini.


"Kenapa kau bisa ada di sini? Dan kau muncul dari sebrang sana?" Tanya Alice heran.


"Hmmn ya.. Aku harus menangkap dia dahulu yang mencoba lari dengan melompati dari satu gedung ke gedung lainnya." Jelas Anton dan kemudian memeluk istri tercintanya itu.


"Sepertinya dia masih muda?" Tanya Alice saat melihat pria muda yang berada dalam pengawasan Paul.


"Ya.. Dia bilang dia hanya supir panggilan yang sialnya dia malah terlibat dengan pria tua itu. Namun selebihnya kalian bisa cari tahu sendiri nanti di ruang interogasi bukan?" Ujar Anton sambil menggoda Alice.


"Tentu saja.." Ujar Alice dengan senyum kemenangan, "Kami pasti akan membongkar semua kebohongannya." Lanjut Alice.


"Terima kasih karena telah mendapatkannya. Setelah ini aku akan mencari keberadaan Kak Juna yang masih belum bisa di temukan samapi saat ini." Ujar Alice menatap pria yang ada di tangan Paul sambil meminta izin kepada suaminya.


"Aku akan ikut mencari juga." Ucap Anton yakin dan merangkul istrinya itu.


Laristha yang melihat kemesraan itu sedikit menerbitkan senyumannya. Wanita itu bahagia saat melihat Alice yang sudah dia anggap sebagai adiknya bisa bahagia.


Apalagi Laristha juga bisa melihat orang yang dahulu membantunya, orang yang selalu menjadi malaikat pelindungnya yaitu Anton yang kini sudah mendapatkan kebahagiannya, hal itu membuatnya lebih bahagia dan membuat senyuman hangatnya terbit.


"Ayo kita serahkan semua yang ada di sini kepada salah satu anak buah mu, dan kita akan pergi ke tempat dimana kejadian kecelakaan itu terjadi." Ucap Anton dan mendapatkan anggukan dari Alice.


"Bolehkan aku ikut juga?" Laristha dengan wajah bertanyanya kepada kedua orang yang berada di depannya itu.


"Tentu saja.. Ayo.." Jawab Alice cepat sambil tersenyum hangat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2