
Drrt drrt drrt.. Ponsel Anton bergetar, pria yang sedari tadi sedang fokus di depan laptopnya yang ada di atas pangkuannya akhirnya meletakkan laptopnya itu di atas meja dan mengambil ponsel miliknya yang bergetar yang berada tepat di atas meja. Sedangkan Paul yang masih saja tenang dan fokus dengan laptopnya yang ada di depannya di atas meja.
Anton tersentum saat ID penelpon adalah My Sunsine, dengan cepat Anton menggeser layar berwarna hijau yang berada diponselnya. Paul yang menduga akan siapa yang menelpon malam-malam seperti ini dan dengan wajah tersenyum cerah, Paul mengerti dan memberikan Anton waktu sendiri.
"Tuan saya permisi.." Izin Paul sambil berbisik saat Tuannya sedang menerima panggilan.
📞 "Sayang belum tidur?" Tanya Anton saat panggilan teleponnya sudah tersambung. Dan Anton mengangguk tanda mengerti dan membiarkan pria itu keluar dari ruang kerjanya.
📞 "Belum.. Sejak tadi aku menanti kau memberikan kabar pada ku, tapi aku tidak mendapatkan kabar apapun dari mu.. Apakah kalian sudah sampai?" Tanya Alice cemas dari ujung telepon.
📞 "Maaf sayang aku lupa mengabari mu.. Setelan sampai kota X aku segera menyelesaikan beberapa tugas dan malah menjadi lupa untuk mengabari mu." Jawabnya cepat karena merasa bersalah mengabaikan istrinya karena pekerjaan.
📞 "Apakah situasinya sangat kacau?" Tanya Alice lagi yang khawatir karena Anton benar-bebar tidak menghubunginya sebelumnya, "Apakah pekerjaannya begitu susah sehingga dia tidak sempat sama sekali untuk mengabari?" Tanya Alice lagi.
📞 "Tidak sayang.. Semua masih dalam kendali, aku masih bisa mengendalikan semuanya.. Kali ini murni kesalahan ku yang terlalu hanyut dalam pekerjaan.. Bisakah istri ku ini memaafkan ku?" Anton mencoba untuk berbicara manis untuk membuat Alice tidak marah lagi kepadnya.
📞 "Haishh ya sudahlah aku maafkan.. Lain kali kalau bisa beritahu dahulu aku keadaan kalian.. Aku di sini sedikit khawatir kau maupun kak Juna sama-sama tidak memberikan kabar mengenai kalian sudah mendarat atau belum.." Ujar Alice sedikit marah.
📞 "Baik sayang.. Tidak akan pernah terjadi lagi.." Jawab Anton bahagia mengetahui bahwa istrinya sangat mencemaskannya.
Setelah berbicara beberapa waktu untuk menanyakan keadaan dan situasi yang sedang terjadi di kota X mengenai misi mereka, mereka saling melepas rindu di telepon, padahal mereka baru saja berpisah belum lama ini, namun keduanya sudah saling merindukan.
📞 "Ini sudah larut malam sayang.. Kau sebaiknya istirahat.." Ucap Anton mengingatkan gadis itu bahwa kini jam sudah pukul 11.30 PM.
📞 "Baiklah kalau begitu.. Aku akan istirahat.. Kau juga istirahatlah.." Jawab Alice akhirnya menyetujui panggilan telepon itu.
📞 "Selamat malam sayang.. Istirahatlah.. Mimpikan aku.. Aku merindukan mu.." Ucap Anton manis.
__ADS_1
📞 "Hmm.. Aku juga merindukan mu.." Jawab Alice yang sudah sedikit mengantuk dan kemudian mematikan panggilan telepon itu.
Entah mengapa perasaan Alice sedikit tidak tenang.
"Kak Laristha.. Bisakah kau bantu pesankan tiket menuju kota X besok penerbangan pertama?" Tanya Alice dengan wajah khawatir.
"Kau terlalu khawatir Alice.. Bukankah Anton sudah bilang semua baik-baik saja? Tenanglah sedikit dan beristirahatlah sekarang.. Lebih cepat kau pulih lebih celat kau bisa selalu menemaninya bukan." Ucap Laristha yang masih setia bersandar di ranjang yang di siapkan untuk menunggui pasien.
"Entahlah aku merasa sangat tidak tenang.." Jawab Alice yang masih setia memandangi layar ponselnya yang gelap.
"Baiklah-baiklah.. Jika besok pagi dokter kontrol memberitahu bahwa kau sudah boleh pulang, kita akan pergi ke kota X. Bagaimana?" Tawar Laristha yang mengerti kekhawatiran Alice mengenai suaminya itu.
"Hemm.. Oke kak.. Terima kasih.." Jawab Alice yang sudah sedikit kembali bersemangat.
"Sudah-sudah.. Sekarang waktunya istirahat." Ucap Maya yang kini sudah merebahkan tubuhnya di kasur dan menutupi tubuhnya dengan selimut.
"Hmm.." Ucap Alice yang juga mengubah posisi duduknya menjadi merebahkan tubuhnya di ranjang pasien.
Sedangkan disisi lain..
Anton yang baru saja menutup panggilan telepon dari istrinya tersenyum bahagia. Dia benar-benar lupa untuk mengabari Alice bahwa dia sudah tiba tadi, dan malah memilih mengerjakan pekerjaannya.
Tidak berapa lama panggilan telepon masuk, ID sang peneloon adalah Paul, Anton mengernyitkan dahinya, "Mengapa Paul menghubunginya?" Gumam Anton yang dengan cepat segera menggeser layar hijau.
📞 "Tuan.. Billy sudah memberitahu bahwa Jhon kemungkinan berada di kota F di mana kota itu merupakan tempat masa kecil Maria sebelum bertemu dengan Jhon. Dan bahkan Billy memberitahukan sebuah alamat yang kemungkinan di tinggali mereka." Jelas Paul.
📞 "Apa benarkah? Coba kau lacak CCTV daerah sekitar apakah terlihat ada aktifitas di rumah itu." Tanya Anton lagi.
__ADS_1
📞 "Baik Tuan.." Jawab Paul.
📞 "Oh ya Paul, kirimkan lokasinya pada ku." Ucap Anton lagi sebelum memutuskan panggilan itu.
📞 "Baik Tuan.." Jawab Paul dan kemudian panggilan telepon itupun terputus.
Tidak menunggu waktu lama, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel Anton. Itu adalah sebuah alamat yang di kirimkan oleh Paul dan beberapa hasil CCTV yang terekam di sekitar lokasi itu.
Tampak seorang pria dengan tubuh yang di tutupi topi pet yang memiliki bentuk tubuh seperti Jhon yang tinggi besar. Dan ada sebuah foto lagi yang memeperlihatkan wajah pria itu dengan jelas.
"Bagus.. Kita sudah tahu di mana lokasi dia berada.. Aku harus segera memberitahu Juna." Ujar Anton monoton dan segera mengirimkan pesan yang baru saja dia dapat ke ponsel Juna.
"Baiklah.. Aku akan menyuruh beberapa anak buah ku untuk memantau situasi di sana." Ucap Anton dan segera mengetikkan sesuatu di ponselnya untuk Paul.
✉ Kirim beberapa orang langsung kesana untuk mengawasi gerak-gerik mereka. Jangan sampai mereka mencoba kabur lagi sebelum pihak kepolisian datang.
Setelah mengirim pesan itu, Anton mencoba menyandarkan punggungnya di sandaran sofa dan mulai memejamkan matanya lelah. Lambat laun kesadarannyapun hilang dan tertidur bersandar di kursi sofa dengan posisi duduk.
Sedangkan disisi lain..
Juna yang masih berkutat dengan layar besar di depannya masih saja mencari di mana jejak kemungkinan Jhon berada. Pria itu sedikit memijat pelipisnya yang sedikit pening.
Drrt drrt.. Sebuah notifikasi pesan masuk kedalam ponselnya.
"Anton.. Ada apa dia mengirim pesan?" Tanyanya heran. Juna segera membuka pesan itu dan memebelalakan matanya saat melihat beberapa foto dan potongan video yang ada di sana beserta sebuah lokasi yang di dapatkan.
"Bagus.. Ini memudahkan ku menemukan pria itu. Aku akan mengabarinya ke bagian pusat dan meminta bagian cabang di kota F untuk mengamankan kota itu." Ucapnya dan segera menghubungi bagian-bagian yang terkait. Tidak lupa dia juga mengirimkan informasi itu untuk Galih agar pria itu bisa memantau dari satelit dan CCTV daerah sekitar.
__ADS_1
"Baiklah.. Besok merupakan penjemputan yang paling meriah untuk Jhon dan juga keluarganya.." Ucap Juna senang dan kemudian melanjutkan pekerjaannya dengan beberapa berkas yang belum di selesaikannya.
Bersambung....