
"Sial!! Sepertinya kita terlambat!" Ucap pria itu lagi.
"Ada berapa orang di bawah?" Tanya Alice yang sudah mulai fokus.
"Kemungkinan rombongan penyusup itu ada 20 orang bersenjata. Saya dan rekan saya ada lima orang. Kita kalah jumlah, untuk itu kami akan membantu membuka jalan untuk nona untuk meninggalkan tempat ini. Di ujung jalan gang subur ada sebuah mobil Terios berwarna hitam. Nona bisa menggunakan itu untuk melarikan diri." Ucap Riki dan menyerahkan kunci mobil kepada Alice.
"Sekarang kita bergerak! Salah satu teman saya pasti sudah bergerak." Ucap Riki memerintah agar Alice bergerak mengikuti perintahnya.
"Alice ayo!" Ucap Maya dan menyuruh Alice segera bergerak pergi meninggalkan tempat itu.
Suara baku tembak di bawahpun tidak bisa di hindari. Suara jeritan kesakitan bahkan suara baja bertemu dengan baja pun tidak bisa terhindarkan.
"Aku akan melindungi nona.. Tetap di belakang ku." Ucap Riki dan membuka jalan ke bawah menuju toko Alice. Pria itu juga menyusup ke belakang ruko dan mereka sudah tiba di luar. Beberapa pria di samping ruko kaget dan melihat ke arah Riki dan Alice. Alice mengarahkan pistolnya ke arah pria itu.
"Tunggu nona! Itu teman ku!" Ucap Riki memperingati Alice bahwa pria itu adalah teman.
"Ahh.. Okey." Ucap Alice dan kembali mengarahkan pistolnya ke tempat lain.
"Bantu aku lindungi nona menuju ke jalan subur." Ucap Riki memerintah temannya itu.
"Baik.." Ucap pria itu dan membantu membuka jalan berdua dengan Riki.
"Berapa yang sudah di lumpuhkan? Bagaimana kondisi tim?" Tanya Riki saat baku tembak terjadi lagi.
"Delapan orang telah tertembak mati tinggal 12 orang lagi. Satu orang dalam tim terluka tembak di tangannya namun masih bisa melanjutkan menjadi backup." Ucap pria itu menjelaskan.
"Sial! Kita membutuhkan banyak waktu jika menunggu dari pusat.. Ayo lindungi nona dahulu baru kita selesaikan mereka!" Ucap Riki dan di angguki pria itu.
Saat mereka memasuki jalan subur, di sana tampak sepi. Ini merupakan ruko yang belum di tempati sehingga tidak ada seorangpun yang akan berlalu lalang di daerah ini. Namun saat kedua pria itu mulai sedikit lengah saat mereka akan tiba di depan mobil tujuan, tiba-tiba lima orang keluar dari sebuah mobil berwarna putih yang tidak terlalu jauh terparkir di sana.
"Hai cantik.. Kami sudah menunggu mu lama di sini." Ucap salah seorang pria yang sepertinya merupakan bos dari mereka. Keempat pria di belakangnya itu memegang pistol dan mengarahkannya kepada orang-orang Alice.
"Sial!" Rutuk Riki dan bersiaga dengan mengarahkan pistol kearah kelima pria itu.
__ADS_1
Seorang pria dan Riki beserta Maya melindungi Alice di belakang tubuh mereka. Mereka terus mundur hingga akan mendekati mobil Terios hitam tujuan mereka itu.
"Itu mobil mu bukan?" Tunjuk pria itu di belakang tubuh Alice.
"Entah mengapa itu terasa janggal ada sebuah mobil terparkir di sini.. Maka dari itu aku sedikit membetulkannya." Ucap pria itu lagi dan tersenyum mengejek sambil membuka tangannya dan menjatuhkan beberapa kabel kotak sekring yang sepertinya telah di ambil dari dalam kap mobil.
Sialnya jalan keluar untuk mereka meninggalkan tempat ini menggunakan mobil juga sudah musnah. Sekarang mau tidak mau mereka harus menyelesaikan pria di depan mereka ini dan mengambil mobil yang mereka gunakan.
Namun sepertinya ini akan sedikit sulit, bagaimanapun mereka kalah jumlah.
"Ikutlah dengan menurut kepada ku dan aku akan meninggalkan teman-teman kecil mu ini tanpa harus terluka. Atau jika kau menolakpun aku bisa menyingkirkan mereka dengan sangat mudah." Ucap pria itu sambil tersenyum mengejek.
"Nona jangan dengarkan dia! Kami akan melindungi mu dan membuat mu pergi dari sini!" Ucap Riki dengan tegas.
"Wah wah wah.. Sudah tahu kalian tidak bisa menang namun masih sok berkuasa.. Benar-benar menyebalkan." Ucap pria itu sudah mulai kesal.
"Baiklah aku akan ikut kalian." Ucap Alice akhirnya.
Bagaimanapun ini tidak akan berakhir baik. Hanya dua pria dan satu wanita yang melindungi Alice. Sedangkan Alice tidak ingin ketiga orang itu ikut celaka.
"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice dan berjalan untuk meninggalkan Maya.
"Tidak! Pria itu licik.. Meski kau sudah di tangan mereka, aku yakin dia akan tetap melenyapkan kami. Karena kita sudah melihat wajahnya." Jelas Maya dan menahan kepergian Alice.
"Tapi..." Belum selesai Alice mengatakan apa yang akan di ucapkannya.
Pria sombong itu tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha pintar juga kau wanita cantik.. Sudah hentikan omong kosong ini. Bunuh mereka semua jika kita tidak bisa mendapatkan gadis itu!" Perintah pria itu dengan tegas.
Alice dan ketiga orang itu segera bersembunyi di balik mobil dan para pria penjahat itu bersembunyi di balik tumpukan drum kosong. Baku tembakpun tidak dapat di hindarkan pria lain teman Riki bersembunyi di balik tiang tembok ruko dan mencoba menyelinap ke arah para penjahat itu.
Tembakan pun berbunyi lagi beberapa tembakan menembak tembok atau bodi mobil bahkan ada beberapa tembakan yang mengenai drum kosong.
__ADS_1
"Argh!!" Seseorang terkena tembakan dari arah musuh.
"Syukurlah.. tinggal 4 lagi.. Kita harus segera menyeleaaikan mereka!" Ucap Riki dan segera melakukan tembakan lagi.
"Sial! Amunisi ku habis." Keluh teman Riki di balik tembok melihat magazen tempat menyimpan pelurunya habis.
Tanpa di sadarinya seseorang mendekatinya dan langsung menembaknya.
"Awas!!" Teriak Riki.
Dor!
Terlambat.. Seorang teman Riki tergeletak di lantai dengan bercucuran darah.
"Sial! Kita tidak bisa seperti ini terus. Aku akan menghalangi jalan mereka! Kau lindungi nona Alice!" Perintahnya pada Maya.
Maya mengangguk mengerti.
Riki menerobos dan menembak tempat persembunyian penyusup itu dan kemudian bisa melumpuhkan seorang musuh lagi meski dia juga terkena tembakan di lengan kirinya.
Alice dan Maya pun mendapat serangan tembakan. Maya terkena tembakan di dadanya, untunglah wanita itu mengenakan rompi Anti peluru. Maya berjalan mundur melindungi tubuh Alice di belakangnya.
"Kena kau!!" Ucap seorang pria yang tiba-tiba muncul di depan Alice. Pria itu mengunci tubuh Alice dan mencondongkan pistolnya tepat di kepala gadis itu.
"Apa? Bagaimana mungkin kau ada di sini?" Ucap Alice dan Maya tidak percaya. Maya langsung membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Alice dan pria yang menyandera gadis itu.
"Hahaha sejak awal aku memang mengincar mu cantik! Untuk apa aku baku tembak dengan orang tidak penting itu. Ikut dengan ku sekarang!" Perintah pria itu dan menyeret Alice.
"Tidak! Lepaskan dia! Kau bisa membawa ku!" Ucap Maya berusaha bernegosiasi.
"Heh! Kau wanita pintar dan tidak kalah cantik! Tapi sayangnya bos ku menginginkan wanita ini bukannya kau!" Ucap pria itu dan dengan entengnya langsung menembaki tubuh Maya.
"Ahh.. Kau pakai rompi anti peluru.. Pintar juga.. Tapi tembakkan ini tidak bisa menyelamatkan mu!" Ucap pria itu tersenyum sinis dan menembaki tangan Maya yang memegang pistol dan kedua kaki wanita itu sehingga wanita itu terjatuh dan tersungkur.
__ADS_1
"Tidak!! Maya!!" Teriak Alice saat melihat Maya tergeletak bersimbah darah.
Bersambung....