
Alice berjalan keluar dari perusahaan dan masuk ke dalam mobil bersama rombongan, tanpa mereka ketahui seseorang akan masuk ke dalam perusahaan berpapasan dengan rombongan itu.
"Arghh.. Sialan wanita itu juga pergi kesini? Berani sekali dia datang ke perusahaan dan ingin merebut milik ku!" Geram Belinda.
Wanita tua itu segera masuk ke dalam perusahaan menuju ruang kerja suaminya. Belinda naik lift khusus petinggi dan sampai di lantai dimana suaminya bekerja.
Wanita itu terbelalak saat melihat pintu ruangan suaminya terbuka dan melihat betapa berantakannya ruangan kerja suaminya dengan berbagai pecahan kaca ataupun barang-barang yang terbalik di sana.
"Sayang ada apa ini?" Tanya Belinda dengan berhati-hati masuk dan menginjak beberapa pecahan kaca di lantai.
Fiktor menatap langsung kepada wanita dengan pakaian serba minim yang datang berjalan mendekatinya dengan tatapan yang mematikan.
"Sayang kau kenapa?" Tanya Belinda lagi dan menyetuh lengan Fiktor saat wanita itu sudah di dekat suaminya.
Plak! Tamparan keras mendarat di pipi Belinda yang mengakibatkan sedikit berdarah di sudut bibirnya akibat pukulan yang keras.
"Fiktor! Ada apa dengan mu! Mengapa tiba-tiba kau memukulku!" Teriak Belinda emosi karena wajahnya di pukul oleh suaminya.
"Semua karena kebodohan mu!" Ucap Fiktor sinis dan menunjuk pelipis Belinda dengan jari telunjuknya dan mendorongnya keras.
"Apa maksud mu? Aku tidak berbuat apapun!" Ucap Belinda yang terpancing emosinya dan menepis tangan Fiktor yang menunjuk pelipisnya.
"Gara-gara kau menjual semua saham yang aku berikan atas nama mu, aku tidak memiliki dukungan pemegang saham lagi. Dan para investor tidak mempercayaiku lagi dan mereka mendepak ku sebagai Direktur Utama!" Ucap Fiktor emosi.
"Apa? Bagaimana mungkin!" Pekik Belinda yang tiba-tiba mundur dari berdirinya dan menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
"Huh dasar wanita bodoh! Bisa-bisanya kau menjual semua saham milik mu padahal aku sudah memeberikan banyak uang untuk mu! Dan lihat sekarang! Aku di campakkan dari perusahaan ini!" Fiktor kembali emosi dan menendang sebuah barang yang sudah tergeletak di lantai karena kesal.
"Maaf.." Cicit Belinda yang tersadar atas kebodohannya dan merutuku Fiktor dalam hatinya.
__ADS_1
'Jika kau bisa memuaskan aku, mana mungkin aku akan bermain dengan para pria muda itu! Salahkan ketidak mampuan mu pria tua!' Batin Belinda sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Maaf! Apa maaf mu bisa menyelesakam masalah ini! Dan kaubtahu siapa yang di tunjuk oleh para investor untuk menggantikan ku?" Ucap Fiktor dan meraih kedua bahu Belinda dan mengguncang wanita itu karena emosi.
"Argh.. Sakit Fiktor!" Ucap Belinda yang merasakan bahunya di cekal sedemikian rupa sehingga mengakibatkan sakit dan ngilu.
"Kau tahu! Bocah ingusan yang sudah berani mengambil posisi ku dengan telak dan dia sedang mencoba menghina ku! Semua ini karena kau pel@cur bodoh!" Ujar Fiktor emosi dan menampar kembali pipi Belinda.
"Ha! Apa?" Belinda tidak merasakan sakit pada pipinya lagi, namun wanita itu tidak mempercayai pendengarannya saat mendengar Adelianalah yang merebut posisi suaminya.
Fiktor mencengkram kedua pipi wanita itu dengan kasar, "Ya.. Semua karena kesalahan mu sehingga membuat ku tampak konyol dan bodoh di depan bocah kecil itu!" Ujar Fiktor dengan penuh penekanan.
"Dasar wanita pembawa sial!" Bentak Fiktor lagi dan kemudian menghempaskan wajah wanita itu kuat hingga Belinda tersungkur di atas pecahan kaca dan barang-barang lainnya.
"Argh.." Pekik Belinda saat tangannya tergores pecahan kaca dan terbentur pada sudut kursi.
"Bos.." Ucap Sekretarisnya hormat, meski dia tahu mungkin dia tidak akan menjabat menjadi sekretaris Direktur Utama lagi.
"Monic.. Aku bukan bos mu lagi, ayo kita pergi. Aku membutuhkan pelampiasan kekesalan ku." Ujar Fiktor terang-terangan di hadapan Belinda yang masih duduk di lantai dan tertegun.
"Baik sayang." Ucap Monic membalas ucapan Fiktor dan menggandeng lengan Fiktor mesra. Sebelumnya wanita itu sempat melirik kearah dalam ruangan yang memperlihatkan Belinda yang duduk terpuruk mendengar penghinaan itu.
"Dasar pria tua b@jingan! Berani sekali dia memperlakukan ku seperti ini! Semua ini karena Adeliana wanita iblis itu! Aku akan membuat mu benar-benar menderita!" Ucap Belinda geram dan melihat kepergian Fiktor bersama sekretarisnya.
Fiktor dan Monic berjalan bersisian saat mereka keluar dari pintu lift dan berjalan menuju depan lobby utama dan mendekati mobil yang terparkir tidak jauh dari sana.
Seorang supir yang berlari terbirit-birit saat bosnya mendekati mobil itu.
"Emhh maaf bos." Ucap supir itu terbata-bata karena dia telat menghampiri tuannya.
__ADS_1
"Serahkan kuncinya! Kau pergi saja!" Ucap Fiktor kesal dan menerima kunci dari sang supir.
Fiktor membuka pintu mobilnya dan duduk di belakang kemudi, sedangkan sekretarisnya duduk di sampingnya dengan anggun.
"Kita akan kemana sayang?" Tanya Monic berani.
"Kita akan bersenang-senang tentu saja." Ucap Fiktor dengan senyumannya dan segera mengendarai mobilnya menuju mansion rumah utama Baskoro.
Fiktor masuk ke dalam rumah dan berjalan menuju kamarnya saat memasuki kamar, pria tua itu segera memburu Monuc dengan kasar dan buas.
"Argh.. Sayang bagaimana kau membawa ku ke mansion utama? Bukankah ibu Belinda akan marah?" Ucap Monic mencoba menahan cumbuan dari Fiktor.
"Persetan dengan wanita j@lang itu! Kau harus membuatku puas sayang! Jangan pikirkan wanita sialan itu!" Ucap Fiktor dan kembali mencumbui leher dan d@da Monic.
"Baiklah jika itu mau mu sayang." Ucap Monic bangga akan pengakuan Fiktor yang membawanya ke mansion utama tempat tinggal Fiktor dan Belinda.
Wanita itu dengan senyum dan tubuh yang menggoda mendekati Fiktor dan membuat pria tua itu benar-benar lupa akan kekesalannya dan di gantikan dengan kebahagiaan dan manisnya madu dunia.
Beberapa saat kemudian terdengar suara mobil berhenti tepat di depan mansion. Belinda masuk ke dalan mansion dan membuat para pelayan menunduk takut akan kedatangan wanita itu.
Pasalnya suaminya sedang bersama wanuta lain yang dengan berani-beraninya menempati kamar utama mereka.
Belinda tetap berjalan keatas menuju ruang kamarnya hingga dia tertegun tepat di depan pintu ruang kamarnya bersama Fiktor.
"Arggh sayang.. Lebih cepat." Suara seorang wanita yang menggoda namun terdengar menggelikan di telinga Belinda.
"Bajing@n kau Fiktor! Kau berani membawa wanita murahan itu ke atas ranjang ku! Breng$ek kau! Semua penghinaan ini karena wanita sialan itu! Adeliana! Aku pasti akan membunuh mu dengan tangan ku sendiri! Dan kau wanita j@lang, jangan senang dahulu karena kau sudah bisa naik ke atas ranjang ku! Kau juga akan menemani Adeliana mati di tangan ku!" Ucap Belinda kesal sambil mengepalkan kedua tangannya dan mengurungkan niatnya masuk kedalam kamar dan memilih kembali menuju mobilnya pergi kesuatu tempat.
Bersambung....
__ADS_1