
Malam itu Alice mengambil penerbangan terakhir menuju kota A di Negara A setelah pergi dari rumah sakit. Gadis itu tidak dapat tidur bahkan di dalam perjalanan darat selama 45 menit dari hotel Transilvenia menuju bandara kota S dan penerbangan di pesawat selama kurang lebih empat jam penerbangan dari kota S menuju kota B dan di lanjutkan penerbangan menuju kota A di Negara A itu tidak membuatnya lelah sama sekali. Gadis itu hanya terbengong menatap keluar jendela pesawat melihat kepekatan malam di luar sana.
Alice tiba di bandara kota A negara A pukul 04.00AM dan melanjutkan perjalanan darat menuju ke panti asuhan yang memakan waktu satu jam perjalanan. Alice tiba di depan gerbang panti asuhan Cahaya Hati tepat pukul 05.00AM. Para penghuni panti semuanya pasti sudah melakukan aktifitas mereka masing-masing.
Alice menerobos masuk melewati pintu utama panti dan akan masuk ke dalam ruang makan di panti itu. Semua orang sudah berkumpul di meja makan dan siap melakukan doa bersama yang di ketuai oleh suster Salsa. Namun saat melihat kedatangan Alice wanita itu berdiri dan tersenyum melihat kearah gadis itu.
“Sepertinya kita kedatangan tamu yang sudah lama sekali tidak berkunjung. Kalian pasti sudah sangat merindukannya.” Ucap suster Salsa saat melihat Alice di ambang pintu ruang makan itu, sehingga semua orang yang hadir di sana menatap ke arah pintu dan tersenyum menatap gadis di ambang pintu itu.
“Kak Alice….” Sapa mereka semua dengan riang gembira. Beberapa anak yang duduk di dekat pintu berhambur memeluk Alice senang.
“Baiklah-baiklah, nanti bisa kita lanjutkan lagi. Duduklah kalian di tempat kalian, biarkan Alice juga makan bersama kita. Alice mari disini.” Ucap suster Salsa memberikan kursi kosong di sampingnya untuk Alice duduk dan ikut makan bersama mereka. Beberapa staf dapur membawa makanan dan menyajikannya di atas meja di depan Alice.
“Terimakasih Bu Rosa.” Ucap Alice kepada salah satu staf dapur yang menyajikannya makanan untuknya.
“Kau benar-benar kucing kecil ku.” Ucap Suster Salsa melihat kehadiran Alice selalu saja berada di dalam ruang makan.
“Yaa.. aku kan kucing yang manis.” Ucap Alice kepada suster Salsa yang juga ikut tersenyum.
“Baiklah, kita mulai berdoa.. berdoa di mulai…selesai.. mari kita makan.” Ucap suster Salsa.
***
“Bagaimana keadaan mu Nak?” Tanya suster Salsa saat makan pagi telah selesai dan mereka membantu staf dapur untuk merapihkan kembali semua peralatan dan ruang makan itu.
“Baik Sus..” Ucap Alice singkat.
“Apakah ada sesuatu yang mengganggu mu?” Tanya suster Salsa.
“Yaa, sedikit..” Ucap Alice.
__ADS_1
“Baiklah ikut keruangan ku, biar kita bicarakan semua di sana.” Ucap suster Salsa dan beranjak pergi dari sana.
“Baik Sus..” Ucap Alice dan mengikuti langkah suster Salsa keluar ruang makan itu dan masuk menuju ruangan kerjanya.
“Duduklah.. apa yang mengganggu pikiranmu Nak?” Tanya suster Salsa saat dirinya dan Alice sudah duduk di sofa di ruang kerjanya.
“Suster… apakah benar ibu Lidia Handoko adalah donator tetap untuk ku selama ini?” Tanya Alice ragu.
“Darimana kamu tahu Nak?” Tanya suster Salsa.
“Aku mendegarnya dari anaknya yang juga merupakan donator dan pendiri panti ini.” Ucap Alice.
“Hemm ya itu benar Nak..” Ucap suster Salsa.
“Apakah dia juga yang selalu memberikan ku hadiah saat aku menjadi juara kelas atau di septiap lomba-lomba yang ku ikuti, bahkan merayakan setiap ulang tahun ku dan memberikan surat-surat selama ini?” Tanya Alice lagi.
“Iya Nak.. semua itu benar.” Ucap suster Salsa lagi memberikan pembenarannya.
“Suster tidak tahu akan hal itu. Namun dia membantu mu saat kamu beberapa hari sudah tinggal di sini. Dia melakukannya karena dia merasa sayang kepadamu.” Jelas suster Salsa.
“Sus.. haruskah aku mencari tahu dimana orang tua kandung ku berada? Atau harus kah aku mengabaikannya saja, karena mereka memang tidak menginginkan ku..” Ucap Alice sendu.
“Apapun itu, itu adalah pilihan mu Nak.. Namun satu hal yang harus kamu ingat.. apapun kenyataan nantinya kamu memiliki keluarga di sini. Kamu juga memiliki orang-orang yang menyayangi mu dan menginginkanmu di sini. Jika kamu ingin mengetahui kebenaran tentang siapa dirimu dan keluarga kandung mu maka lakukanlah. Namun jika ternyata mereka mengecewakan mu, maka selalu ingatlah apa yang ibu ucapkan sebelumnya. Kamu tidak akan pernah kehilangan kasih sayang dan cinta kami di sini. Kamu berharga dan akan selalu berharga di mata kami.
"Terima kasih sus.” Ucap Alice dan memeluk tubuh suster salsa.
***
Setelah mendapatkan pembenaran mengenai Lidia dari suster Salsa, Alice memutuskan untuk pergi ke kantor RJP dan menuju ruangan Roy.
__ADS_1
“Woww Alice, aku kira kau masih di kota S, tapi kau tiba-tiba muncul disini. Kau tidak apa-apa?” Ucap Roy bingung saat mendapati gadis itu sudah muncul di hadapannya dan memeluk tubuhnya erat dengan wajah yang kusut.
“Kak.. hiks hiks..” Ucap gadis itu dan langsung menangis tersedu-sedu di dada bidang pria itu.
“Woa woa woa.. ada apa Alice? Kenapa kau menangis? Ada yang menjahilimu? Emhh tapi sepertinya itu tidak mungkin.. kau pasti akan membantingnya langsung jika dia melakukannya.” Tanya Roy pada dirinya sendiri dan menjawabnya sendiri.
“Hiks hiks hiks…” Alice tidak menanggapi ucapan Roy gadis itu hanya menangis saja di dada bidang pria itu.
“Alice.. apa yang terjadi… apakah semuanya baik-baik saja?” Tanya Roy khawatir dan mulai serius.
“Hiks… hiks.. hiks…” Alice masih nangis sesegukan dan tidak mau menjelaskan apapun.
“Baiklah- baiklah, lakukan saja apa mau mu.. aku akan meminjamkan dada dan bahu ku.. lakukan saja apa mau mu.. jika memang kamu tidak mau membicarakannya.” Ucap Roy akhirnya dan dia beranjak duduk di sofa dengan Alice yang masih saja menempel layaknya anak kera yang di gendong di dadanya itu.
Setelah satu jam lamanya gadis itu menangis dengan posisi menelungkupkan wajahnya di dada bidang Roy, Alice duduk tegak meluruskan tulang punggungnya dan bersandar pada bahu Roy dan melanjutkan kembali drama menangisnya itu..
“Hiks hiks hiks…” Air matanya mengalir kembali dan membasahi bahu Roy dan lelehan dari hidungnya gadis itu. Lambat laun suara tangisan itu sudah tidak terdengar lagi dan di gantikan dengan dengkuran halus Alice yang ternyata gadis itu telah tertidur bersandar di bahunya itu.
“Hemmm… untunglah hanya ada satu wanita di dalam tim utama RJP..” Gumam Roy dan melihat baju kemeja biru mudanya itu yang basah pada bagian dada dan bahu kirinya yang telah basah oleh lelehan air mata dan lelehan cairan kental dari hidung gadis kecil itu. Roy kemudian mengambil ponselnya yang berada di saku celana kanannya dan membuka aplikasi chat di sana.
Roy mengambil foto selfie dirinya dan Alice yang memperlihatkan baju kemeja dan bahunya yang basah dan Alice yang masih bersandar di bahunya kemudian mengirimkannya kepada Galih dengan pesan teks.
‘Bisakah kau kemari menemani bocah ini? aku tidak bisa meninggalkannya sendirian, namun aku ada rapat penting siang nanti yang tidak bisa aku tinggalkan. Aku khawatir jika harus meninggalkan bocah ini sendirian.’ Isi pesan itu.
Lalu tak lama ada balasan pesan dari Galih, ‘Aku berangkat sekarang.’
Roy menghela nafasnya dan kembali menyandarkan tubuhnya di sofa itu tanpa membuat banyak gerakan yang dapat mengganggu tidur nyenyak sang putri tidur itu.
“Sepertinya kau tidak tidur semalaman ya? kau terlihat sangat kelelahan. Hemmm baiklah aku akan menemanimu tidur.. lumayan beberapa jam juga sebelum melakukan rapat yang membuat tensi naik.” Ucap Roy dan juga mulai tertidur di sofa itu bersama dengan Alice di bahunya yang telah tidur terlelap nyenyak.
__ADS_1
Bersambung...