JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Terkejut


__ADS_3

Alice berjalan melewati Fiktor dengan acuh, gadis itu berjalan masuk menuju ruang tengah. Alice menatap sekeliling rumah itu, menyusuri setiap ruangan megah dengan gaya clasic, dominasi warna emas, coklat dan silver menambah kesan mewah. Seluruh ruangan itu tidak jauh berbeda dari dahulu, hanya beberapa figura yang sudah tidak ada di sana dan di gantikan oleh foto Belinda dan Fiktor.


"Liesda aku akan pergi dahulu. Kau jaga rumah dengan baik, jangan biarkan seseorang mengacaukan rumah." Ucap Fiktor sinis kepada kepala pelayan itu sambil menatap punggung Alice dengan wajah tidak suka.


"Baik tuan." Ucap pelayan itu hormat.


Alice masih bisa mendengar semua interaksi mereka berdua. Namun gadis itu memilih mengabaikannya dan memilih melihat seluruh ruangan itu.


'Ayah, Ibu, Kakek.. Adel pulang..' Batinnya.


Matanya mulai berkabut mengenang dan mengingat kembali moment saat dia kecil dahulu bermain bersama ayah dan ibunya beserta kakeknya di mansion itu.


"Kau tidak apa-apa Alice?" Tanya Roy saat melihat gadis itu termenung dengan mata yang mulai berlinang air mata di kedua pelupuk matanya.


"Ya aku baik-baik saja kak." Jawab Alice tenang dan menguasai emosinya.


Gadis itu mengingat kamarnya dahulu berada di lantai Atas. Alice berjalan menuju anak tangga menuju kamarnya dahulu. Apakah masih sama seperti dahulu kala atau sudah di ganti dengan kamar yang lain.


Alice berjalan menaiki anak tangga dan kemudian berjalan melewati beberapa pintu kamar. Roy, Galih dan Juna masih setia mengikuti Alice dari sampingnya. Alice tiba-tiba berhenti pada sebuah pintu kayu yang letakknya berada di ujung lorong itu.


Alice membuka pintu itu, sebuah ruang kamar dengan berwarna merah muda dan biru tosca mendominasi kamar itu. Bangunannya tidak berubah, hanya isinya yang berubah. Tidak ada meja belajarnya yang berwarna merah muda, tidak ada boneka dan berbagai mainannya yang di susun rapih di sebuah lemari, tidak ada lagi kasur dengan tirai seperti seorang putri. Ruangan itu benar-benar sudah berubah.


Seorang pelayan yang sebelumnya berbicara dengan Fiktor kini berada di dalam kamar itu juga, "Nona.. Kamar ini belum saya rapihkan, bagaimana jika dengan kamar yang lainnya?" Tanya wanita itu dengan sopan.

__ADS_1


"Tidak perlu. Saya ingin di sini saja." Jawab Alice datar.


"Baiklah jika begitu saya akan menyuruh seseorang untuk mengganti seprainya." Ucap pelayan itu lagi.


"Ahh maaf atas ketidak sopanan saya, saya belum memperkenalkan diri. Saya Liesda kepala pelayan di mansion ini. Jika anda perlu sesuatu anda bisa mencari saya." Ucap wanita itu memperkenalkan dirinya. Kepala pelayan itu tahu bahwa Alice adalah pemilik mansion ini juga. Alice hanya mengangguk mengerti.


"Tolong siapkan tiga kamar di sebalah kamar saya." Ucap Alice.


"Baik nona." Jawab kepala pelayan itu dan kemudian meminta ketiga pria itu untuk mengikutinya, "Silahkan tuan mengikuti saya."


Galih, Juna dan Roy meninggalkan Alice sendirian memberikan waktu menyendiri untuk gadis itu. Sementara ketiga pria itu mengikuti kepala pelayan pergi ke kamar sebelah yang berada di samping kamar Alice.


Tidak berapa lama tiga orang berseragam pelayan masuk dan meminta izin untuk merapihkan kamar itu. Alice mangangguk mengerti.


"Langitnya tampak berubah.." Ucap Alice monoton sambil menatap langit gelap dengan bulan yang tertutup awan, " Aku merasa asing di dalam rumah ku sendiri. Apakah ini masih bisa di sebut rumah? Padahal tidak ada kehangatan di dalam sini." Ucapnya lagi sambil mennggenggam pembatas pagar.


"Aku merindukan kalian." Ucap Alice dan beberapa potongan gambar kebersamaan Alice, ayah serta ibunya saat bermain bersama di taman mansion kembali membayanginya, di lanjutkan dengan kehangatan ibu panti saat bermain di taman panti dan kehangatan keluarga besar Anton saat berada di meja makan. Dan di lanjutkan dengan wajah Anton yang muncul dengan janjinya yang akan selalu bersamanya dan ucapan terakhir Anton yang memintanya pergi dari ruang rawatnya.


Air mata Alice kini menetes di kedua pipinya, rasa rindu semakin menguar keluar bersamaan rasa sepinya di dalam rumah itu bersama dengan pilu di hatinya. Tidak ada lagi kehangatan seperti sebelumnya.


"Ehem.. Maaf nona.. kami sudah membereskan kamarnya." Ucap salah satu pelayan menyadarkan Alice dari lamunannya.


Alice segera mengusap kedua pipinya yang di basahi air mata dan menghadap pelayan itu, "Ya terima kasih. Kalian sudah boleh pergi." Ucapnya pelan.

__ADS_1


Ketiga pelayan itu segera pergi dari kamar Alice. Alice memilih ke kamar mandi untuk membasuh wajahnya. Segarnya air bisa menghapus sedikit rasa penat dan pilu di hatinya.


Setelah gadis itu mencuci mukanya, dia baru saja menyadari terdengar suara sesuatu di dalam kamar mandi itu. Seperti suara itu tidak asing di telinganya, namun Alice masih belum menyadari apa itu. Dan lebih memilih mencari di mana suara itu berasal.


Tssst ssss suara desisan pelan.


Alice berkeliling di kamar mandi yang luas itu, gadis itu mendengar suara itu berasal dari dalam kloset. Dengan perlahan Alice mendekati closet duduk yang tertutup dan mencoba untuk membuka dudukan kloset itu pelan.


Saat kloset itu terbuka, tampaklah seekor ular yang sedang melilitkan tubuhnya di dalam koset dan tampak kepalanya berada di tengah tubuhnya dengan lidah yang menjulur keluar. Saat Alice membuka kloset itu ular tampak kaget dan segera terbang kearah Alice mencoba untuk mematuk gadis itu. Namun secepat refleks Alice, gadis itu menghempaskan dudukan kloset beserta tutupnya yang masih dia pegang olehnya dan menghempaskannya keras sebelum kepala ular itu keluar jauh dari kloset dan malah menghantam langsung kepala ular tersebut sehingga ular itu langsung mati seketika.


Blam! Suara hentakan dudukan kloset memekakan telinga dan ularpun tergeletak terjepit di antara dudukan kloset dengan tepi koset dan mengeluarkan darah segar di sela sisi itu.


"Astaga mengagetkan sekali. Untunglah aku memiliki refleks yang cepat." Ucapnya sambil mengelus dadanya kaget karena kehadiran ular itu.


Tiba-tiba ketiga pria langsung berlarian menerobos ke kamar Alice dan dengan cepat membuka pintu kamar mandi gadis itu yang memang tidak terkunci.


"Alice ada apa? Aku mendengar suara gaduh dari kamar sebelah." Ucap Roy yang tiba terlebih dahulu di dalam kamar mandi itu.


"Ha? Kepala ular?" Ucap Juna yang melihat sesuatu berdarah di antara dudukan koset dengan klosetnya yang mengalir darah segar.


"Alice kau tidak apa-apa?" Ucap Galih yang panik saat mengetahui ada ular di sana dan dengan cepat menarik Alice dan memperhatikan kondisi gadia itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2