JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Revenge3


__ADS_3

Keesokan paginya..


“Bangun.. bangun.. bangun.. semuanya bangun..” Suara dengan baritone dan gebrakan di pintu yang kasar membangunkan sekaligus membuat kaget seisi ruang kamar itu.


“Okey jadwal hari ini 020 nanti malam kau bersiap-siap. Buat dirimu semenarik mungkin. kau akan tau apa akibatnya jika kau mengecewakan kami. Ajari juga para pendatang baru itu.” Ucap Bima ketus.


“Dan kau pendatang baru, kau harus bersiap-siap juga nanti malam. Ah ya namamu Monic kan sekarang nama sandi mu 038. Jadwalmu akan penuh setiap malam selama satu bulan kedepan. Kau juga pasti sudah tahu apa konsekwensi jika kau membuat masalah disini.”


“Dan kau Sinta, nama sandi mu 039. Hari ini kau belum ada pesanaan.”


“Dan Kau Angel, nama sandi mu 040. Malam ini kau ada pesanan juga. Ingat, kalian harus mengingat nama sandi kalian disini. Baiklah persiapkan diri kalian, petang nanti aku akan mengantarkan kalian ketempat kalian masing-masing.” Jelasnya lagi dan kemudian pergi meninggalkan tempat itu.


“Astaga aku tidak ingin melakukan hal ini.” Ucap gadis yang ada di ujung sana, dengan sebutan 020.


“Ana, kita semua tidak ada yang menginginkannya. Tapi jika kita mencoba kabur apalagi bun*uh diri, itu malah akan menjadi siksaan yang lebih berat.” Ucap Jessy dan mencoba menguatkan gadis itu dengan menepuk pundaknya.


“Aku tahu.. maka dari itu aku membenci ketidak berdayaan ini.” Ucap gadis itu dengan berlinangan air matanya tak lama air matanya menetes menuruni pipinya dan kemudian dia menghapus lelehan air matanya itu dengan kasar menggunakan punggung tangannya.


“Sudahlah tidak ada gunanya aku menangis juga. Kalian berdua ikut aku.” Ucap gadis itu lagi dan menuntun jalan menuju kesuatu tempat.


Ana menuntun mereka ke sebuah lemari besar yang menuju kamar mandi itu, gadis itu membuka lemari itu dan mengambil tiga buah tas transparan, di dalamnya terdapat beberapa lulur, bubble bath serta peralatan mandi yang lainnya. Kemudian gadis itu menyerahkannya satu-satu kepada Alice dan Maya.


Kemudian gadis itu bergeser ke sebelah lemari lain dan mengambil tiga buah handuk kimono dan handuk kecil, dan menyerahkannya juga kepada Alice dan Maya. Setelah itu gadis itu berjalan menuju sebuah ruangan yang berbeda dengan ruangan mandi yang kemarin gadis itu lihat. Mereka memasuki sebuah ruangan dengan beberapa bathtub berjajar rapih dan teratur tanpa sekat.

__ADS_1


“Tidak adakah ruangan yang lebih privasi?” Tanya Alice dengan sedikit khawatir dia memperhatikan seluruh ruangan itu. Dan di atas sana terdapat sebuah cctv yang menyala di sudut ruangan.


“Tidak ada, semuanya terbuka kecuali emhh toilet sepertinya. Ada di ujung sana, itu memiliki bilik di tiap-tiap toiletnya namun masih terpantau oleh cctv.” Jelas Ana.


Mendengar itu Alice mencoba ke ujung ruangan yang di tunjukkan Ana dan masuk ke dalam ruangan itu, dia memperhatikan sebentar sudut dari cctv itu agar tidak tampak mencurigakan dan kemudian dia masuk ke sebuah bilik toilet.


‘Ini sedikit membuat titik buntu jangkauan pandang cctv.’ Batin gadis itu sambil melirik dengan ujung matanya keberadaan cctv itu.


Dan dengan cepat dia mengeluarkan toolkit, pen dan lipstick yang dia sembunyikan di dalam pakaiannya bersamaan saat dia berpura-pura menaikkan rok dan menurunkan cel*ananya kemudian  duduk di closet dan merekatkan ketiga alatnya bersamaan menggunakan alat yang ada di dalam toolkit, kemudian dia menempelkannya pada sedikit ruang di belakang kloset itu berpura-pura menyalakan bidet atau pancuran air pada closet.


Semua dia lakukan dengan cepat dan tersembunyi dari jangkauan cctv. Setelah melakukan semuanya dia merapihkan kembali celana maupun dress yang dia kenakan, kemudian segera keluar dari sana. Dia tidak ingin para penjaga mencurigai sesuatu.


Alice kemudian mendekati Ana dan Maya yang sudah berendam di dalam bathubnya masing-masing.


“Ya, kau benar. Bahkan di toiletpun mereka memiliki mata.” Ucap Alice dan langsung merapihkan rambutnya, mengikatnya membuat sebuah gelungan di atas kepalanya.


Kemudian memasuki bathub dengan bubble bath yang banyak di samping baththub yang di gunakan Maya. Setelah terendam oleh busa yang melimpah itu, gadis itu baru menanggalkan pakaiannya dari dalam air. Kemudian mengeluarkan pakaian basah itu dari dalam air dan meletakkannya di samping bathtubnya.


“Apakah kau akan mandi menggunakan kalung itu? Kau tidak berniat melepasnya?” Tanya Ana.


“Ahh ya, ini adalah kalung yang paling berharga yang ku miliki. Aku tidak bisa melepasnya, aku tidak ingin sampai terlupa atau tertinggal. Aku orang yang sedikit ceroboh.” Guraunya.


Dan Alice baru menyadari dia belum mematikan rekamannya. Kemudian gadis itu sedikit menekan pada gantungan kalung itu. Dia tidak rela mata yang lain yang harus melihatnya dan rekannya berada di dalam bathroom itu.

__ADS_1


“Lalu apa rencana mu selanjutnya?” Tanya Maya.


“Hanya duduk dan menikmati pesta.” Ucap Alice dan Maya mengerti maksud ucapan gadis itu. Sedangkan Ana bingung dengan pembicaraan mereka berdua.


“Kalian berdua terlalu tenang untuk menghadapi masalah seperti ini, aku kagum sekaligus bingung kepada kalian berdua.” Ucap Ana akhirnya menggeluarkan suaranya.


“Ahh bukankah semalam sudah di jelaskan oleh Jessy, tidak ada gunanya melawan jika hanya akan menyakiti diri sendiri.” Ucap Alice agar tidak terlalu di curigai.


“Baiklah setelah ini kita akan pergi melakukan perawatan lain. Apakah kalian sudah selesai berendamnya?” Tanya Ana setelah beberapa waktu mereka berendam dan berbincang.


“Ya kami sudah selesai.” Ucap Maya dan Alice bersamaan dan mengambil handuk kimono yang tergeletak di samping mereka masing-masing dan berdiri sambil memakaikan handuk itu di tubuh mereka dengan membelakangi kamera dengan gerakan yang cepat.


Ketiganya pergi meninggalkan tempat itu dan berjalan memasuki sebuah ruangan lain, di sana terdapat beberapa kursi pijat serta peralatan  manicure dan pedicure serta nail drayer.


“Disini tidak menyediakan pelayan tentu saja. Kalian harus merawat diri kalian sendiri jika kalian tidak ingin mendapatkan masalah.” Ucap Ana.


Dan Ana bergerak menuju kursi yang di depannya terdapat beberapa set alat perawatan kuku yang ada di atas meja. Dan membuka laci di bawah meja itu, dia mengeluarkan cairan antiseptic untuk mensterilkan jari kuku tangan dan kaki, cairan pelunak kutikula agar mudah di bersihkan, gunting kutikula untuk menggunting jaringan kutikula, kuas untuk membersihkan potongan kutikula, buffer untuk meratakan permukaan kuku jika permukaannya tidak rata, stick untuk membersihkan kotoran kuku bagian dalam, nail remover pembersih permukaan kuku.


Dari dalam lemari kecil di bawah meja, Ana juga mengambil satu kotak besar berisi beberapa warna kuteks dengan berbagai merek, dan mengambil kotak lainnya yang berisi beberapa gliter maupun kebutuhan nail art lainnya seperti aksesoris permata, kuku palsu ataupun stiker kuku lainnya.


Mereka bertiga menghabiskan waktu merawat diri dan mengobrol banyak hal, mencoba untuk melupakan apa yang akan terjadi nanti pada saat malam hari.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2