JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Basa-basi


__ADS_3

Author PoV..


Maya hendak pergi saat melihat Widi sudah keluar dari restoran itu. Saat gadis itu melewati sekat setangah badan, dia sedikit terkejut saat melihat ternyata ada seseorang yang dia kenal berada di sana.


"Pak Juna." Ucap Maya tidak menyangka pria itu adalah Juna.


"Ehem Maya.. kau makan siang di sini?" Tanya Juna basa-basi.


"Iya tadi saya bersama teman saja." Ucap Maya singkat.


"Baiklah kalau begitu saya permisi duluan pak." Ucap Maya dan hendak pergi dari sana. Juna segera bangkit dari kursinya.


"Tunggu." Ucap Juna sambil menarik lengan Maya, menghentikan gadis itu yang hendak pergi meninggalkannya.


"Kau belum makan bukan? Makanlah bersama ku." Ucap Juna dan menggeser kursi yang berada di depan pria itu.


"Tudak perlu mengganggu anda pak. Saya bisa makan di jalan." Ucap gadis itu menolak Juna.


"Ini sudah sore dan kau masih belum makan siang. Jika sampai kau sakit kau akan membuat sulit rencana kita kedepannya nanti." Ucap Juna dan langsung merutuki mulutnya yang langsung bicara tanpa di cerna itu. Padahal pria itu ingin makan bersama Maya namun mulutnya malah berbicara seperti itu.


"Tidak perlu p..." Belum selesai Maya menyelesaikan kalimatnya Juna sudah memotong ucapan gadis itu.


"Saya memaksa." Ucap Juna dan memegang kedua bahu Maya menarik serta mendudukkan Maya di kursi itu.


"Duduk dan temani saya makan." Ucap pria itu akhirnya. Maya hanya diam dan menuruti perintah atasannya itu. Kemudian Juna memberikan kode kepada seorang pelayan untuk memesankan beberapa menu lainnya.


"Kau mau apa?" Tanya Juna sambil menyodorkan buku menu itu.


"Spagheti bolognese saja dan ice lemon tea." Ucapnya singkat. Kemudian pelayan itu mencatat pesanannya dan segera pergi dari sana.


"Apa yang anda lakukan di sini pak?" Tanya Maya yang mengeluarkan unek-unek di hatinya, tidak mungkinkan pria ini membuntutinya.


"Ahh abis ketemu teman." Ucapnya singkat dan langsung menyeruput minumnya menghilangkan rasa gugupnya.


"Kau sendiri mana teman mu?" Tanya Juna pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Baru saja pergi. Dia memikiki urusan lain." Ucap Maya singkat. Kemudian tidak berapa lama pelayan datang dengan nampan berisi pesanan Maya dan meletakkannya di atas meja.


"Pesanannya sudah lengkap ya.. Silahkan menikmati.." Ucap pelayan itu dan beranjak oergi meninggalkan kedua orang yang diam karena canggung itu.


Sebenarnya Juna mendengar sedikit perkataan yang bilang bahwa wanita ini ingin bersama dengan Widi itu, namun entah mengapa Widi itu malah ada urusan lain. Dia semakin bingung. Jika saja dia bisa dengan jelas melihat raut wajah kedua orang tadi saat berbicara mungkin dia dapat memahami situasi yang sebenarnya terjadi.


"Apakah kau tertarik dengan pria bernama Widi itu?" Tanya Juna tiba-tiba saat Maya sedang meminum ice lemon teanya. Wanita itu dengan tidak sengaja menyemburkan minuman yang baru saja dia seruput itu dan tersedak juga.


"Uhukk uhukk uhukk.. Maaf Baju anda jadi kotor Pak." Ucap Maya di sela batuknya dan wanita itu mulai mengambil tisu dan mengelap cipratan yang mengenai tangan dan kemeja lengan panjang milik Juna.


"Tak apa.. Ini minumlah dahulu." Ucap Juna dan menyodorkan segelas air putih di depan Maya.


"Terima kasih." Ucap Maya dan kemudian meminum air itu pelan-pelan.


"Maaf untuk tadi Pak." Ucap Maya lagi saat dia telah selesai dengan minumnya.


"Itu salah saya juga karena telah tiba-tiba menyinggung kehidupan pribadi mu." Ucap Juna sedikit tidak enak.


"Jika begitu bolehkah saya tidak menjawabnya?"


"Baiklah saya tidak akan menjawab." Ucap Maya datar. Bagaimanapun Juna sungguh tidak menyangka Maya akan benar-benar tidak menjelaskan apapun benar-benar gadis yang dingin.


"Baiklah lanjutkan saja makannya." Ucap Juna akhirnya dan dia pun juga memulai makannya lagi dengan sedikit murung karena entah mengapa ada sesuatu hal yang masih mengganjal di hatinya.


Mereka berdua makan dengan tenang. Dan tidak berapa lama makan merekapun selesai. Juna memanggil pelayan dan meminta bill untuk menyelesaikan pembayaran.


Saat akan melakukan pembayaran, pria itu merogor-rogoh saku di dadanya dan saku di celananya. Namun di manapun itu nihil. Dia tidak dapat menemukan di mana dompetnya berada.


"Astaga!!" Juna penepuk keningnya saat mengingat sesuatu. Dia lupa bahwa dia meninggalkan dompetnya di ruang kerja Roy.


"Ada apa?" Tanya Maya yang bingung melihat tingkah bosnya itu.


"Tidak ada.. sepertinya aku lupa membawa dompet." Ucap Juna berbisik.


"Ohh.. ya sudah biar aku saja yang menyelesaikan tagihannya." Ucap Maya dan membuka dompetnya.

__ADS_1


"Tunggu!" Tolak Juna. Bagaimanapun dia yang mengajak Maya makan siang bersamanya, bagaimana mungkin wanita itu yang membayarinya.


"Mbak bisakah membayar menggunakan e-money?" Tanya Juna lagi. Dia baru menyadari dirinyakan memiliki saldo uang elektronik.


"Tentu bisa Pak. Namun bapak harus ke kasir." Ucap pelayan itu.


"Ahh baiklah.. ayo.." Ucap Juna. Dan pelayan itu menunjukkan jalan menuju kasir kepada Juna.


"Kenapa dia sekaku itu.. padahal aku yang bayarkan juga tidak apa-apakan." Gerutu Maya.


Setelah menyelesaikan pembayarannya, Juna dan Maya berjalan beriringan menuju lift dan kemudian turun menuju lantai dasar.


"Terima kasih untuk makan siangnya pak." Ucap Maya sopan. " Saya permisi dahulu." Ucap Maya dan hendak pergi meninggalkan Juna.


"Tunggu kau mau ke RJP?" Tanya Juna.


"Tidak pak.. saya akan kembali ke kostan saya." Ucap Maya menjawab pertanyaan pria itu.


"Biar saya antar." Ucap Juna lagi.


"Tidak perlu pak saya bisa sendiri." Ucap Maya menolak pria itu yang mau mengantarnya.


"Saya memaksa. Ayo.." Ucap Juna saat pria itu melihat mobilnya sudah di bawakan oleh petugas parkir valet.


"Tapi...."


"Ikut saja, saya sekalian ada kerjaan." Ucap pria itu membungkam penolakan dari Maya lagi.


"Baiklah.. maaf merepitkan anda." Ucap wanita itu dan segera masuk ke dalam mobil saat Juna sudah membantunya membukakan pintu penumpang di samping kursi pengemudi.


Juna kemudian berlari kecil melewati mobilnya menuju kursi pengemudi. Pria itu tersenyum mengembang saat dia berhasil menyuruh wanita keras kepala ini masuk kedalam mobilnya. Entah mengapa dia merasa puas saat dia bisa makan siang dan juga akan mengantar wanita keras kepala ini pulang. Meski awalnya dia juga kesal dia tidak bisa mengetahui apakah Maya sedang mengincar Widi pria tampan dan menarik itu. Sungguh hal yang membuat kesal. Namun entah alasan apa dia bisa sampai kesal.


Setelah ini, dia akan benar-benar mengambil cutinya untuk merefresingkan otaknya yang beberapa minggu ini hanya memikirkan Maya, karena hanya wanita itulah yang berada di sekitarnya. Mungkin nanti saat dia menemui banyak wanita seperti biasanya, dia pasti akan bisa melupakan wanita keras kepala di sampingnya ini.


Mobil melaju membelah jalanan sore yang mulai padat.. Juna dan Maya hanya diam dan mendengarkan radio untuk membuat suasana tidak canggung selama perjalanan yang menguras emosi itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2