JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Syok


__ADS_3

"Alice.. Maaf.. Aku tidak bisa menjaga diri mu dan dirinya.. Maaf atas kelalaian ku." Ujar Anton sambil menggenggam kedua tangan Alice.


"Tidak! Itu pasti tidak benar! Anaku ku pasti baik-baik saja.. Dia anak yang kuat.." Alice menepis genggaman tangan Anton dan mengusap-usap perut ratanya yang kini baru terasa sakit.


"Ishh.." Rintih Alice merasakan kebas di bagian perut dan organ intimnya.


"Maaf.." Lirih Anton.


"Tidak! Tidak!.." Alice histeris sambil masih mengusap-usap perutnya namun lambat laun kesadaran Alice menurun dan gadis itu menjadi lemas dan pingsan.


"Alice! Sayang!" Anton kaget dan mengguncang-guncangkan tubuh Alice. Alice tidak merespon ucapannya bahkan gadis itu tidak bergerak, melihat hal itu Anton panik dan dengan cepat menekan tombol darurat meminta bantuan dari tim medis.


Beberapa perawat segera datang dengan cepat keruangan perawatan Alice.


"Berikan aku stetoskop!" Pinta Anton sambil mengambil stetoskop yang ada di salah satu saku perawat itu.


Anton memeriksakan kondisi Alice dengan seksama. Meski beberapa kali dia harus mengulang kembali pemeriksaannya karena dia sedikit kacau dan tidak mendapatkan hasil pemeriksaan yang tepat dan akurat.


"Biar aku saja.. Kau tampak tidak tenang, kau pasti tidak bisa memeriksanya dengan tepat." Maria tiba di belakang Anton dan menepuk bahu pria itu agar sedikit bergesar dan membiarkannya untuk memeriksa Alice.


"Thanks Maria.. Aku memang sedang kacau.. Aku sama sekali tidak bisa memeriksanya dengan baik. Dia tadi histeris dan kemudian tidak sadarkan diri." Anton bergeser kearah samping dan memberikan ruang untuk dokter Maria untuk melakukan pemeriksaannya.


"Alice tidak apa-apa, dia hanya pingsan karena terlalu syok.. Sebentar lagi dia pasti akan sadar." Maria mlepaskan stetoskop miliknya dari telinganya dan menyimpannya di saku jas snelinya.


"Aku yang terlalu terburu-buru memberitahu berita duka ini sehingga membuatnya syok.. Dia bahkan baru saja sadar dari pengaruh biusnya dan kini malah tidak sadarkan kembali akibat terlalu terguncang." Anton merutuki kebodohannya karena terlalu cepat memberitahukan kebenaran ini kepada Alice.


"Ini bukan salah mu.. Lagi pula cepat atau lambat Alice juga harus menerima kenyataan ini.. Mungkin lebih cepat kau memberitahunya lebih cepat, dengan begitu kalian bisa mendapatkan solusi jalan keluar untuk masalah dan lebih bisa saling menguatkan dan biasa menghadapinya bersama." Ujar Maria memberikan pikiran positifnya untuk Anton.

__ADS_1


"Sekali lagi thanks Maria."


"Okey.. Kalau begitu aku pamit.. Jika ada apa-apa kau hisa memanggil kami." Ujar Maria dan meninggalkan ruang perawatan Alice.


Anton duduk di kursi di samping bed Alice, Anton mengambil kedua tangan Alice dan menggenggam kedua tangan pucat itu.


"Kumohon kuatlah kita hadapi ini bersama ya.." Gumamnya sambil mendekatkan kepalanya dan mencium kedua tangan Alice.


Anton merasa dunianya benar-benar hancur saat melihat orang yang di cintainya terpuruk sedemikian rupa. Baru kali ini dia melihatnya dengan jelas Alice yang kacau dan histeris setelah sekian lama mengenal gadia itu dengan berbagai cobaan dan masalah yang silih berganti mereka hadapi. Namun inibsangat berbeda.. Alice jauh lebih tampak terpuruk dan hancur.


"Maaf.. Maafkan kecerobohan ku saat itu.. Jika saja aku lebih memilih menemani mu di kamar kita.. Jika saja aku datang lebih cepat sebelum mereka menculik mu.. Semua ini pasti tidak akan terjadi.. Maaf.. Maafkan aku.." Ujarnya sambil menggenggam tangan Alice dan mendekatkannya di dahinya, tanpa terasa buliran air mata membasahi kedua pelupuk matanya.


Tiba-tiba ada kedua tangan hangat menyentuh kedua bahu kekar Anton yang kini tampak rapuh, "Ini bukan salah mu ataupun Alice.. Ini adalah jalan hidup kalian.. Ini ujian pertama dalam pernikahan kalian.. Kuatlah Nak.. Dan bantu Alice agar dia bisa kuat dan tegar menghadapinya.. Kau suaminya sekarang hanya kau tujuan hidupnya saat ini.. Bantu dia, kuatkan dia dan bersabar." Lidia merangkul bahu rapuh anak bungsunya itu.


Anton dengan cepat mengusap wajahnya menghilangkan bekas cairan bening yang singgah di wajahnya dengan tangannya, "Bu.."


"Buu.."


"Pulanglah.. Mandi dan istirahatlah sebentar, ganti pakaian mu dan bawakan pakaian ganti Alice juga.. Kau bisa menemaninya nanti malam.. Sekarang kau harus istirahat dan tenangkan diri mu." Lidia mengusap lembut lepala putra bungsunya itu.


"Pergilah Nak.. Turuti perkataan ibu mu.. Kau benar-benar tamoak lelah." Bram yang kini menghampiri kursi duduk Anton dan menepuk punggung anak bungsunya itu.


"Kau tidak perlu khawatir. Ada kami yang menjaganya." Alious menyahut dari arah sofa di belakang tubuh Anton. Axel, Amanda dan Sisiliapun mengangguk setuju saat kepala Anton menengok kearah sofa di belakang tubuhnya, dimana para saudara dan saudari iparnya berada.


"Baiklah aku akan keluar sebentar." Anton beranjak berdiri dari kursinya dan berjalan menuju pintu keluar ruang perawatan kamar Alice itu.


"Tuan.." Tiba-tiba Alex sudah berdiri dna berjalan di belakang tubuh Anton.

__ADS_1


"Dimana ponsel Alice." Tanya Anton.


"Ini tuan.." Alex memberikan ponsel Alice kepada Anton dan pria itu mengambil dan membuka kunci sandi di ponsel itu.


Anton langsungmencari kontak Roy di ponsel Alice dan segera menekan tombol gagang telepon untuk menggubunginya.


Tut.. Tut.. deringan ketiga telepon itu tersambung.


📞 "Al.. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Roy cepat saat panggilan telepon itu tersambung.


📞 "Ini aku Anton.. Alice masih dalam perawatan.. Bagaimana dengan para penculik itu? Sudah di ketahui siap mereka dan ada urusan apa?" Tanya Anton tanpa basa-basi.


📞 "Ini..." Jawab Roy menggantung tidak menyelesaikan kaliamatnya.


📞 "Aku tahu ini adalah kasus kalian.. Tapi ini juga menyangkut nyawa istri ku.. Aku berhak tahu sudah sampai mana kalian mendapat informasi dari mengintrogasi para penjahat itu." Tegas Anton menginginkan kejelasan dengan kasus penculikan Alice ini.


📞 "Haish.. Baiklah.. Kau datang saja langsung ke kantor pusat. Nanti akan ada seseorang yang mengantarkan mu ke ruangan ku." Jawab Roy akhirnya.


📞 "Baik aku akan secepatnya kesana." Ucap Anton dan kemudian mematikan panggilan telepon itu.


"Tuan.." Alex sedikit khawatir dengan tindakan apa yang akan bosnya itu ambil.


"Kita akan ke kantor pusat RJP. Sebelum itu aku harus mandi dan mengganti pakaian dulu, selain itu aku juga harus nenyiapkan pakaian dan keperluan untuk Alice." Ujar Anton dan berjalan menuju pintu keluar rumah sakit.


"Baik Tuan.." Alex patuh dan mengikuti keinginan tuannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2