JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Prasangka


__ADS_3

"Aku pikir kau akan melarikan diri." Ucap Alice ketus menghadap pria yang sedang duduk itu.


"Aku tidak perlu melarikan diri, lagi pula ada sesuatu hal yang harus aku pastikan." Ucap pria itu tidak kalah dingin.


"Baiklah.. aku juga ada banyak hal yang ingin aku tanyakan kepada mu." Ucap Alice serius.


"Dari mana kau mengenal Amelia Putri, bahkan kau menyebutkan nama itu saat melihat ku di gudang tua itu." Ucap Alice menyelidiki.


"Aku akan menjawab semua pertanyaan mu.. tapi sebelum itu jelaskan maksud mu bos besar mengincar nyawamu dan membunuh orang yang memiliki wajah mirip seperti mu." Ucap Bahar ingin mengetahui hal itu lebih jelas.


"Bukankah aku yang dahulu bertanya." Ucap Alice kesal, namun Bahar tidak bergeming bertanda bahwa pria itu akan menjelaskan jika Alice mau menjelaskannya terlebih dahulu.


"Baiklah.. aku akan memberitahu mu." Ucap Alice akhirnya.


"Salah satu anak buah Bos Besar bilang bahwa dia dan bosnya sudah beberapa kali melenyapkan beberapa wanita yg memiliki wajah yang mirip seperti diri ku. Bahkan sejak 10tahun yang lalu, tapi kami tidak bisa mengintrogasinya lebih lanjut mengapa dia melakukan hal itu, karena seorang sniper sudah melenyapkan dirinya beserta bosnya itu." Jelas Alice.


"Siapa dia?" Tanya Bahar garang. Alice paham maksud dari pertanyaan Bahar. Adalah siapa pria penjahat itu.


"Dia dari geng Mafia Black Mouse." Ucap Alice santai.


"Sialan!!! Brengsek!!! jangan bilang pria busuk itu menggunakan tangan ku untuk menghancurkan bukti-bukti mengenai kebusukannya." Ucap Bahar penuh amarah.


"Apa maksud mu? ahh jangan bilang.." Ucap Alice menggantung dan kemudian melanjutkan ucapannya. "Jadi apakah benar kau adalah sniper yang membunuh seluruh anggota Black Mouse itu?" Tanya Alice lagi memastikan.


"Ya.." Ucap Bahar singkat. Sepertinya pria itu sedang memikirkan sesuatu.

__ADS_1


"Kau belum menjawab pertanyaan ku." Ucap Alice mengingatkan pria itu lagi.


"Aku mengetahuinya karena aku mengenal mereka. Tapi mengapa wajah mu sangat mirip mereka berdua? dan yang lebih aneh mengapa bos besar melakukan hal itu?" Tanya Bahar bingung.


"Apa maksud ucapan mu itu." Ucap Alice dan memperhatikan pria itu lekat bingung dengan apa yang di pikirkannya saat ini.


"Kau sangat mirip dengan Amelia Putri, tapi mata mu sama persis seperti Frans Baskoro.." Ucap pria itu kemudian menggantungkan ucapannya. "Tapi itu tidak mungkin.. Adeliana sudah meninggal 10 tahun yang lalu." Lanjut pria itu lagi masih berbicara pada dirinya sendiri.


"Siapa kau sebenarnya? lalu mengapa kau bisa bersama dengan pria bertopeng itu di pesta." Tanya pria itu lagi bingung dengan kenyataan dan apa yang sedang terjadi sebenarnya. Sebelum Alice akan membuka suaranya tiba-tiba Bahar menyadari sesuatu.


"Tunggu!!!" Ucap pria itu beranjak dari sofanya berdiri dan mendekati Alice saat dia melihat rantai kalung yang tidak asing di matanya. Pria itu langsung memegang rantai itu dan menarik keluar memperlihatkan gandulan liontin batu merah yang berwarna semerah darah. Bahar membulatkan matanya tidak percaya.


"Dari mana kau dapatkan benda ini!!" Tanya pria itu marah saat melihat benda itu.


"Bukan urusan mu!" Ketus Alice sengit dan menepis lengan pria itu dari kalung yang dia pakai.


"Ini barang milik ku!! aku tidak mencurinya dari siapapun." Ucap Alice akhirnya. Bagaimanapun dia penasaran ada seseorang yang mengenali kalung miliknya itu.


"Apakah kau Adeliana? putri dari Frans dan Amelia?" Ucap Bahar pelan namun masih bisa di dengar oleh gadis itu.


"Kau mengenali batu ini? dan mereka? Jelaskan pada ku." Ucap Alice akhirnya.


"Kau bahkan tidak tahu mengenai mereka?" Tanya Bahar bingung.


"Arghh sial!!! ada apa ini sebenarnya.. Jika kau adalah Adeliana lalu mengapa ku bersama pria itu di pesta? dan mayat siapa yang aku kuburkan saat itu." Tanya pria itu mulai gusar.

__ADS_1


"Tunggu apa maksud mu? apa hubungannya semua ini dengan Anton!" Ucap Alice sama sekali tidak mengerti arah ucapan pria itu.


"Pria yang bersama mu di pesta adalah musuh ku.. karena dia adalah pembunuh sahabat ku yang bernama Frans Baskoro dan Amelia Putri istrinya serta anak tunggal mereka yang bernama Adeliana Fransisca Baskoro." Ucap Bahar frustasi dengan kebingungan yang terjadi di sini.


"Aku tidak mengerti ucapan mu.. yang pasti Anton bukanlah seorang pembunuh.. dan kau pasti salah sangka.. itu tidak mungkin.." Ucap Alice mulai bingung dengan ucapan pria itu, yang dia tahu jika itu adalah keluarganya, mereka kecelakaan dan meninggal di tempat akibat kecelakaan tunggal.


"Tunggu.. lihat ini.." Ucap Bahar melihat ponselnya dan membuka beberapa galeri lamanya dan kemudian menunjukkan kepada Alice keempat orang di dalam foto itu. Foto seorang wanita cantik yang sama persis seperti dirinya, seorang pria tampan dan matanya sama seperti mata miliknya, dan seorang gadis kecil mengenakan jepit strowberi di rambutnya yang di ikat kuncir dua.


"Ini adalah aku dan sahabat ku beserta anak dan istrinya. Dan ini kalung yang aku buatkan untuk putrinya atas permintaannya." Ucap Bahar memperlihatkan kalung yang di gunakan gadis kecil itu.


Alice tiba-tiba tanpa sadar meneteskan air mata saat melihat foto itu. Gadis itu tahu betul gadis kecil di foto itu adalah gadis yang sama dengan yang di foto saat dia di temukan di panti asuhan. Dan dia yakin itu adalah dirinya.


"Apakah benar kau Adeliana? tapi mengapa Fiktor Baskoro ingin melenyapkan mu. Bukankah dia paman tiri mu. Dan mengapa pria yang membunuh kedua orang tua mu malah bersama mu?" Ucap Bahar lagi mulai merangkai dan mengingat sesuatu di dalam pikirannya.


"Apa maksud mu?" Tanya Alice mengerutkan keningnya. Sungguh otaknya tidak mengerti dengan kemelut semua ini.


"Aku akan memberi tahu mu kebenaran kecelakaan itu. Kecelakaan yang menimpa Baskoro sekeluarga adalah sebuah tabrakan mobil. Sebuah mobil sport menabrakkan dirinya ke arah mobil yang mereka tumpangi. Namun setelah kejadian itu, beberapa media mengubah topik itu menjadi kecelakaan tunggal dan bahkan setelahnya tidak ada yang membahas mengenai kecelakaan itu lagi." Ucap Bahar mengenang masa lalu.


Alice mengerutkan dahinya tidak mungkin, jika Anton yang melakukannya mengapa dia masih mau mencari tahu kenyataan itu, bahkan membantu ku untuk mencari tahu jati diri ku.


"Kau pasti pembohong!! kau pasti di suruh oleh bos besar untuk menjebak ku masuk ke dalam sekenario kalian. Aku tidak bodoh!! aku tidak akan mepercayai mu!!" Ucap Alice emosi dan membanting pintu itu. Keluar dengan mata yang mulai menggembun akibat berita yang konyol itu.


"Aku harus menemui Anton.. aku harus menanyakan hal ini kepadanya." Ucap Alice berlari dan menghentikan taksi yang baru saja menurunkan penumpang.


Galih yang baru saja melihat Alice keluar dari ruangan itu dengan berlari kencang kemudian menghentikan sebuah taksi. Membuat pria itu juga langsung mengambil mobilnya dan membuntuti kemana Alice akan pergi.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2