JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Joging


__ADS_3

Sedangkan di pagi hari di kediaman Alice.


Alice keluar dari kamarnya surah siap dengan mengenakan baju dan celana olah raga. Gadis itu memilih menggunakan stelan berwarna pink yang menyelimuti tubuh putihnya.


"Ah.. Kau masih di sini Gal. Aku pikir semalam kau pulang ke tempat mu." Ucap Alice yang kaget saat melihat pria itu sudah duduk di tepi sofa. Sepertinya pria itu baru saja terbangun dari tidurnya.


"Ya.. Aku menginap semalam, aku kelelahan tidak bisa mengendarai mobil." Ucap Galih asal.


"Ahh.. Kalau kau masih lelah istirahat lagi lah." Ucap Alice menyarankan kepada pria itu.


"Hem? Kau sudah rapih.. Kau mau kemana?" Tanya Galih penasaran.


"Aku mau cari sarapan." Ucap Alice cepat.


Gadis itu mengambil sesuatu di rak sepatunya kemudian duduk di samping pria itu dan memakai sepatu ketsnya.


"Bukankah kau biasa pesan antar saja." Ucap Galih heran.


"Sekalian joging saja. Badan ku terasa sedikit tidak enak, otot-otot ku terasa kaku beberapa minggu ini tidak berlatih. Lebih baik aku berolahraga saja untuk membuatnya sedikit rileks." Ucap Alice.


"Ahh.. Kalau begitu aku ikut." Galih tidak ingin meninggalkan Alice sendirian.


"Ha? Tidak salah?" Alice memperhatikan penampilan Galih dari atas kebawah. Pria itu mengenakan kemeja dan celana bahan berwarna biru dongker sedangkan jasnya yang berwarna senada di taruh di kepala sofa.


"Ah.. Emhh aku akan mengambil baju ganti ku dahulu di mobil. Kau tunggu sebentar ya." Galih segera membuka kunci pintu dan berlari menuruni anak tangga untuk mengambil baju dan sepatunya yang berada di dalam bagasi depan mobilnya.


Pria itu juga tidak lupa membawa alat mandi pribadinya.


Bagaimanapun mobilnya adalah rumah lainnya selain kantor RJP dan sofa ruang tamu Alice. Sedangkan untuk rumah utama keluarganya ataupun apartemennya jarang sekali dia datangi.


"Beri aku waktu 10 menit." Galih kembali ke hadapan Alice dan segera berlari masuk ke dalam kamar mandi luar milik gadis itu.


Alice menunggu pria itu sambil melakukan gerakan peregangan otot dan pemanasan. Bagaimanapun dia benar-benar lalai berlatih dan berolah raga akhir-akhir ini dan itu membuat tubuhnya terasa sangat lelah saat ini.


Ceklek..


"Maaf sedikit lama.. Yuk aku sudah siap." Galih keluar dari kamar mandi menggunakan setelan baju olah raga berwarna hitam yang pas tubuhnya. Sehingga memperlihatkan otot-otot tangan dan betisnya.

__ADS_1


"Ya sudah sekarang kita jalan. Nanti keburu panas." Alice turun ke bawah dan di ikuti oleh Galih.


Mereka mengawali olahraga dengan berjalan kaki kemudian di lanjutkan dengan berlari jarak dan durasi pendek dan lama kelamaan di tingkatkan dan berlari menuju stadion yang tidak jauh dari rumah gadis itu.


"Kita istirahat dahulu." Ucap Alice saat dia melihat sesuatu dari pandangannya.


"Ahh baiklah." Galih menyetujui dan beralih jadi berjalan mengikuti gadis itu.


"Aku lapar." Ucap Alice saat dia melirik kearah gerobak bubur ayam yang dikelilingi beberapa orang yang sedang beristirahat, bahkan ada yang sedang makan ada juga yang hanya meluruskan kakinya di sana.


"Ha? Bubur ayam? Serius? Bukankah kau tidak terlalu suka bubur ayam."


"Aku sudah terlanjur lapar.. Cepatlah.." Alice berlari kecil dan segera mendekati tukang bubur itu.


"Mang dua mangkuk ya satu tidak pakai daun bawang ya." Alice memberitahukan kepada tukang bubur ayam itu.


"Kau bagaimana lengkap?" Tanya Alice kepada Galih yang sudah berada disampingnya.


"Hem.." Galih hanya bergumam dan kemudian memilih duduk di kursi kayu itu.


"Ahh baik non.. Tunggu sebentar ya." Tukang bubur ayam itupun segera mengambil dua mangkuk kosong dan mempersiapkan bubur pesanan Alice dan Galih.


Alice kemudian duduk di samping Galih dan mulai meluruskan kakinya di kolong meja kayu itu.


"Kau memang hebat dalam bertarung dan segala hal. Kelemahan mu adalah perut mu." Galih berucap sambil terkekeh geli mengingat Alice sama sekali tidak bisa menahan lapar.


"Itu juga kehebatan ku dong." Ucap Alice bangga.


"Syukurlah ***** makan mu kembali lagi. Bukankah sebelumnya kau tampak kurang ***** makan." Ucap Galih lagi.


"Hem.. Aku lapar sekarang, jangan kau banyak bicara dan membuat ***** makan ku hilang." Alice mengerutkan bibirnya kesal.


"Baik-baik aku tidak akan berkomentar." Galih mengalah untuk tidak membuat gadis di sampingnya itu jengkel lagi.


Tukang bubur itupun tiba di depan Alice dan Galih dan menyodorkan masing-masing mangkok di depan mereka. "Silahkan non, den.."


Setelah meletakkan mangkuk bubur, tukang bubur itu segera pergi dari sana dan mengambilkan dua gelas teh hambar hangat dan mangkuk sambal beserta kecap botol.

__ADS_1


"Ini sambal, kecap dan minumnya." Ucap pria tua itu lagi dan meletakkannya di atas meja di depan Alice dan Galih.


"Terima kasih mang." Alice segera mengambil sambal beberapa sendok dan sedikit menambahkan kecap dan kemudian mengaduknya menjadi satu.


"Tidakkah itu terlalu pedas?" Galih yang melihat itu sedikit mengerutkan keningnya.


"Lebih enak pedas jadi ***** makannya." Alice mulai memasukkan campuran bubur itu kedalam mulutnya dan mengunyah dan kemudian menelannya.


"Masih kurang pedas." Ucapnya dan kemudian mengambil beberapa sendok sambal lagi.


"Hei sudah.. Nanti perut mu sakit.. Ini masih terlalu pagi untuk memakan makanan pedas." Galih mengambil mangkuk sambal itu dan meletakkannya jauh dari jangkauan Alice.


"Aku biasa makan pedas Gal, kau terlalu khawatir. Kembalikan sambalnya. Aku butuh sedikit lagi." Ucap Alice dan memohon sambil meronta-ronta meminta mangkuk sambalnya.


"Alice.. Tidak.. Itu sudah sangat terlihat merah hampir hitam karena saking banyaknya cabai. Sudah itu saja kau makan." Galih masih bersikeras tidak memberikan sambalnya.


"Kau menyebalkan Gal." Ucap Alice menggerutu dan kemudian mengaduk kembali buburnya dan kemudian memasukkannya kedalam mulutnya.


'Rasanya masih kurang.. Ah.. Galih sedang tidak memperhatikan dan dia sedang fokus pada makannya. Ini kesempatan ku.' Batin Alice dan gadis itu segera mengambil mangkuk sambal dan dengan cepat menuangkan beberapa sendok sambal lagi kedalam mangkuk buburnya.


"Alice!!" Ucap Galih yang tidak menyangka gadis itu begitu nekat sambil secepat kilat mengambil mangkuk sambal itu Galih hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya heran dengan tingkah Alice saat ini.


"Emhh rasanya enak.." Ucapnya saat telah mengaduk kembali sambal dengan buburnya.


"Haihh.. Itu bukan bubur ayam tapi bubur cabai.. Hati-hati kau akan sakit perut." Ucap Galih lagi mengingatkan namun gadis yang di ingatkan tengah asik dengan buburnya dan mengabaikan ucapannya.


"Baiklah-baiklah nikmati saja sarapan mu." Ucapnya akhirnya mengalah dan memilih melanjutkan juga sarapannya.


"Mang satu mangkuk lagi.. Tidak pakai daun bawang ya." Alice memberitahukan kepada tukang bubur ayam untuk memberikannya satu mangkuk lagi saat di mangkuknya hanya tersisa beberapa suap lagi.


Galih tersenyum saat melihat Alice yang mulai kembali ceria meski saat ini sedikit konyol.


"Si tukang makan kembali." Gumam Galih pelan seperti bisikan namun Alice dapat mendengar hal itu.


"Aku bisa mendengar mu." Ucapnya dan menyingkirkan mangkuk kosongnya dan tidak berapa lama di ganti dengan mangkuk yang penuh kembali dengan bubur yang masih mengepul di hadapannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2