JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kejujuran


__ADS_3

“Maafkan aku Gal, aku tidak bisa menerima…” Belum selesai ucapan Alice, Galih memotong ucapannya.


“Sudahlah Alice, aku tahu ada pria lain yang mengisi hatimu, aku tidak akan mempermasalahkan itu Karen itu adalah hak mu untuk memilih. Kau jangan khawatir aku akan tetap menjadi Galih yang kau kenal. Kau sahabat dekatku, rekan ku berdebat juga.” Ucap Galih sambil tertawa.


‘Kekasih hati ku, wanita yang ku cintai. Urusan perasaan ku, itu urusanku sendiri. Kau akan selalu menjadi orang yang paling berharga dan akan selalu ku lindungi bagaimanapun caranya.’ Lanjut Galih dalam hatinya.


“Jadi bolehkah aku mendapatkan pelukan untuk merayakan kembalinya sahabat baik ku ini.” Ucap Galih sambil merentangkan tangannya.


“Tentu.” Ucap Alice dan menyambut pelukan dari Galih.


Pelukan hangat seorang sahabat baru saja bisa di rasakan kembali oleh Alice lagi. Selama ini gadis itu menghindari Galih karena takut akan kejujuran hatinya dapat melukai hati pria itu. Namun sepertinya semuanya sudah kembali seperti keadaan semula, sehingga membuat gadis itu sedikit lebih tenang.


“Jadi bisakah kau menceritakan sesuatu yang mungkin bisa aku bantu mengenai apa yang terjadi saat misi kemarin.” Tanya Galih.


“Emhh sebenarnya aku juga meragukan itu. Aku hanya berasumsi bahwa K ada di balik penyelamatan ku saat di hotel itu, meski aku tidak memiliki bukti kuat. Namun aku yakin dengan ucapan pria itu terhadap Banyu yang menyatakan aku milik bosnya. Karena hanya dia mafia yang terhubung dengan ku sebelumnya, emh maksudku saat penyekapan ku di pulau memang terjadi sesuatu.” Jelas Alice.


“Jadi ada kemungkinan Black Phanter terlibat dalam kasus ini?” Tanya Galih penasaran. Alice mengerutkan keningnya.


“Katakan menurut persepsi mu.” Ucap Galih.


“Aku juga tidak tahu, apakah Black Phanter terlibat dalam kasus penyekapan dan prostitusi itu, aku tidak memiliki buktinya. Tapi satu hal yang pasti, mereka membantu kita dalam penyergapan hari itu, bahkan memudahkan kita mengamankan lokasi dan mengambil barang bukti. Ada kemungkinan mereka bekerja membantu kita untuk mendapatkan perebutan lahan kekuasaan di sana, itu garis besarnya. Adapun mungkin karena keterlibatan ku dalam kasus sebelumnya. Untuk saat ini mungkin Black Phanter bukan musuh kita. Jadi menurutku kita sudah benar dengan memfokuskan pencarian kita terhadap ‘Bos Besar’ ini. Lalu bagaimana dengan keadaan Bintang?”


“Sebelumnya pengangkatan proyektil peluru yang bersarang di otak kiri Bintang sudah berjalan sukses. Operasinya berlangsung selama tiga jam, setelah koma selama seminggu ini akhirnya dia bisa membuka matanya. Namun menurut dokter kondisinya tidak bisa pulih kembali seperti sedia kala. Ada kemungkinan dia kehilangan memorinya atau bahkan kemampuan motoriknya. Saat ini wanita itu masih membutuhkan banyak perawatan untuk membantunya pulih, dan berharap dia bisa membantu kita melanjutan kasus ini.” Jelas Galih.

__ADS_1


“Syukurlah jika wanita itu sudah sadar, meski membutuhkan waktu untuk membantunya mendapatkan terapi, setidaknya kita masih memiliki sedikit harapan untuk kelanjutan menanganai kasus ini.” Ucap Alice.


“Lalu bagaimana dengan Jessy?” Tanya Alice lagi.


“Wanita itu juga sudah sadar, dia sudah menelpon adiknya menyuruhnya untuk menyewakan kamar utama milik Jessy untuk membantunya membayar biaya sewa rumah dan biaya sehari-hari adiknya itu. Jessy beralasan ada kerjaan di luar kota, untuk itu dia tidak dapat menempati rumah itu beberapa waktu kedepan dan menyuruhnya untuk menyewakannya.” Jelas Galih.


“Baiklah aku akan bersiap-siap merapihkan bawaan ku. Emhh tapi sepertinya aku malah membutuhkan berbelanja dahulu Gal. Kau tahu baju remaja anak jaman sekarang tidak ada di dalam lemari ku.” Ucap Alice sambil meringis.


“Kau saja masih remaja Al, dasar sok tua kamu.” Ucap Galih sambil tertawa.


“Dasar pak tua..” Kesal Alice dengan jawaban Galih.


Alice berlalu meninggalkan ruangan Galih dengan kesal, sedangkan pria itu masih terdengar suara tawanya dari kejauhan.


Namun dia baru mengingat sesuatu yang sangat penting yang sepertinya tertinggal. Gadis itu lupa bagaimana dia harus menjelaskan kepergiannya saat ini apalagi hubungannya dengan Anton yang semakin maju menuju jenjang yang lebih serius. Bisakah dia menjelaskannya atau haruskah dia berbohong lagi untuk kebaikan Anton. Namun gadis itu yakin jika dirinya berbohong saat ini, semakin lama akan semakin banyak kebohongan kebohongan lain yang akan dia katakan untuk menutupi kebohongan kebohongan sebelumnya. Kemudian gadis itu memutuskan untuk bertemu dengan kekasihnya itu. Bagaimanpun dia akan menghilang beberapa waktu dari negara A ini untuk menyelesaikan misi di kota S yang berada di negara B.


Alice mengambil ponselnya dan menghubungi kekasihnya itu. Deringan ke tiga telpon itu tersambung dengan sang pemilik telpon.


“Hai sayang.. merindukan ku?” Ucap Anton yang menjawab panggilan dari keasihnya itu.


“Ya.. ada yang perlu aku bicarakan dengan mu. Kau sedang dimana? Bisakah kita berbicara?” Tanya Alice serius.


“Tentu, aku sedang ada di luar. Kau ingin aku menjemput mu di rumah mu?” Tanya Anton.

__ADS_1


“Tidak perlu, aku sedang ada di luar juga. Kita bertemu di Hotel del Luna di pusat kota A.” Ucap Alice cepat.


“Sayang bukankah ini masih terlalu siang untuk kita bertemu di hotel. Apakah kau sangat merindukan ku?” Goda Anton kepada kekasihnya itu.


“Aku menunggu mu sekarang.” Ucap Alice dan memutuskan panggilan telpon itu.


Setelah memutuskan panggilannya Alice segera keluar dari ruangannya dan bergegas turun menuju lobby. Saat di lobby Alice bertemu dengan seseorang.


“Al kau akan pergi kemana? Kau belum bersiap? Kita akan segera berangkat.” Ucap Galih yang berpapasan dengannya di lobby, pria itu baru saja keluar dari caffe untuk membeli kopi.


“Aku tahu.. aku akan pergi sebentar.. Bisakah kalian menunggu ku, aku janji tidak akan lama.” Ucap Alice dan bergegas keluar kantor menuju mobilnya yang di parkir tak jauh dari sana.


Sepuluh menit perjalanan kemudian mobil Alice berhenti di depan lobby. Alice memberikan kunci mobilnya kepada pelayan valet dan segera masuk ke arah resepsionis untuk memasan sebuah kamar. Alice memesan sebuah kamar executive suite atau di sebut juga dengan master suite. Alice memilih kamar yang di lengkapi ruang tamu yang terpisah dari ruang tidur. Alice mendapatkan no kamar 2001 yang terletak di lantai 20. Alice kemudian mengirimkan pesan kepada Anton.


“Kamar 2001 lantai 20. Aku menitipkan satu kunci pada resepsionist atas nama mu.” Pesan Alice.


Tak berapa lama Anton masuk ke dalam hotel dan menuju resepsionist.


“Ada yang bisa saya bantu?” Tanya sang resepsionist hotel itu.


“Aku ingin mengambil kunci kamar nomor 2001.. atas nama Antonius..” Ucap pria itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2