JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kenyataan di balik kecelakaan.


__ADS_3

Beberapa mobil tim dari RJP sudah tiba dan berhenti tepat di depan mobil yang terbuka semua pintu dan kaca jendelanya.


"Mengapa mobil mereka ada disini?" Tanya salah seorang anggota RJP yang duduk di belakang kemudi, yang memimpin jalan rombongan mobil itu.


"Biar aku melihat situasinya." Ucap salah satu anggota RJP yang duduk di samping pengemudi dan segera turun dari mobil.


Pria itu berjalan dengan waspada dan mengeluarkan senjata apinya untuk melindunginya. Pria itu berjalan hingga ke arah belakang mobil, dan terlihat tiga tubuh tergeletak di atas aspal yang dingin.


"Apa yang terjadi?" Tanya pria itu monoton kepada dirinya sendiri saat melihat tiga pria tergeletak di jalanan.


Pria itu langsung menghampiri salah satu tubuh yang tergeletak dekat darinya dan membalikkan tubuhnya untuk melihat wajahnya, " Bos Juna!" Pekiknya kaget dan dengan segera mengecek kedua tubuh lainnya. Pria itu tambah kaget saat keduanya adalah bos besarnya yaitu Roy dan juga Galih.


"Komandan darurat! Panggil mobil tim medis kemari segera!" Ucap pria itu pada komunikasi yang tersimpan rapih di telinganya dan di balik rompi yang dia kenakan.


Rombongan mobil yang ada di bagian paling belakang mobil yang pria itu naiki sebelumnya segera melaju mendahului mobil-mobil di depannya dan berhenti tepat di depan tubuh ketiga pria yang tergeletak itu.


"Apa yang terjadi dengan mereka?" Tanya anggota tim medis yang salah satunya sudah turun dari mobil dan sudah siap dengan kotak kecil di tangannya.


"Aku tidak tahu sepertinya mereka keracunan bom gas di dalam mobil, aku baru saja menemukan benda ini dari dalam mobil mereka." Ucap pria itu dan menunjukkan sebuah bom asap yang sudah di cabut pematiknya.


"Masukkan mereka bertiga kedalam mobil, kita akan memeriksanya dan membuat mereka sadar!" Ucap salah satu anggota tim medis yang masih di dalam mobil yang memang merupakan anggota khusus yang memiliki kemampuan medis yang hebat dengan menggunakan snelin putih di tubuhnya.


"Baik dok!" Ucap pria itu dan di bantu beberapa rekannya memasukkan tubuh Roy, Juna dan Galih masuk ke dalam mobil untuk mendapatkan perawatan mereka.


Beberapa saat kemudian Roy tersadar dari pingsannya.


"Sial! Alice! Dimana Alice?" Tanya Roy saat pria itu baru saja sadarkan diri.


"Maaf Direktur! Kami tidak menemukan ibu Alice." Ucap pria itu menyesal.


"Temukan segera titik koordinatnya dari GPS sekarang! segera pergi dan cek lokasi Hampton!" Perintah Roy tegas dan dengam cepat pria itu mencabut jarum infus yang ada di tangannya.


"Baik Pak!" Jawabnya tegas dan segera pergi keluar dari mobil itu untuk memberitahukan anggota lainnya.


"Ugh.. Kepala ku sakit.." Rintih Galih sambil memegang kepalanya aaat tersadar dan kembali teringat dengan Alice. Pria itu langsung bangkit dari tidurnya dan segera duduk tegak.


"Alice dimana?" Ucapnya spontan begitu juga dengan Juna yang baru saja tersadar.


Mereka bertiga berada di dalam mobil besar yang merupakan mobil medis RJP yang sudah di modifikasi.


"Kalian bertiga sungguh kompak.. Saat tersadar menyebutkan hal yang sama. Istirahatlah sebentar kita akan pergi sesuai intruksi mu Roy, tapi jangan kau lepaskan infusmu itu!" Ucap pria dengan kacamata di wajahnya dan tersenyum menyebalkan.


"Ayolah Dr. dr. Arjun banyak hal yang harus aku kerjakan." Kata Roy dan hendak pergi dari brankarnya.


"Kau pasien ku sekarang Roy, tidak ada yang bisa pergi dari ruang kuasa ku. Selesaikan infus mu sampai habis atau setidaknya sampai kita di tempat yang kau tuju. Setuju?" Ujar dokter Arjun bernegosiasi.


"Baiklah deal." Jawab Roy dan duduk kembali di brankarnya dan menerima kembali pemasangan infus di tangan yang lainnya.


"Awhh.. Pelan sedikit dokter Arjun." Keluh Roy saat pemasangan jarum infus itu terasa sangat menyakitkan.


"Ini hukuman dari ku karena kau berani mencabut paksa selang infus yang sudah aku pasang dengan susah payah." Ucap dokter Arjun dingin dengan wajah menyebalkannya.

__ADS_1


"Ohh.. Ayolah.. Aku hanya kalut sesaat, kau tidak perlu mengkorek-korek vena ku bukan." Ucap Roy masih meringis dengan kelakuan dokter Arjun yang mengerjainya.


"Derita mu." Ucapnya singkat dan segera menyelesaikan pekerjaan pemasangan infusnya.


"Ingat! Jika kalian berdua juga melakukan pencabutan infus tanpa intruksi dariku, jangan salahkan aku jika membuat urat vena kalian menjadi lebih lebar saat aku menusukkan jarum infus lagi kepada kalian." Ucapnya sambil menunjukkan senyun kejinya.


"Aihh kau dokter yang sangat kejam." Keluh Roy dan mengusap sedikit tangannya yang terasa nyeri tadi.


"Harus, karena kalian adalah kepala dan ujung tombak perusahaan ku bernaung. Jika kalian mati, bagaimana dengan nasib ratusan orang yang berada di bawah naungan mu dan ratusan ribu orang yang menantikan keadilan." Ucap Arjun serius.


"Baiklah kami mengerti.. Kami akan menjaga diri kami lebih baik lagi." Ucap Roy akhirnya mengerti penyebab kekesalan dokter Arjun.


****


Alice mengerjap-ngerjapkan matanya silau karena cahaya lampu tepat berada tidak jauh dari atas kepalanya.


"Akhirnya kau sudah bangun." Ucap Belinda dengan nada dinginnya.


"Belindaa.." Gumam Alice pelan saat mengenali suara itu dan menundukkan wajahnya karena silau. Alice hanya bisa melihat tubuh hitam di depannya tanpa bisa melihat wajah orang itu karena terlalu silau.


"Ternyata tidak sulit untuk memancing mu keluar." Ucap Belinda dengan senyum liciknya.


Saat Alice bisa menyesuaikan pandangannya, Alice bisa melihat senyuman jahat tersungging di bibir wanita tua itu.


"Tunggu! Bagaimana keadaan teman-teman ku?" Tanya Alice mulai khawatir mengenai kondisi Kak Roy, Kak Juna dan juga Galih.


"Aku tidak tahu dan aku tidak perduli. Yang aku inginkan hanya nyawamu gadis *******." Ucap Belinda kasar sambil menarik rambut Alice kebelakang sehingga gadis itu mendonggak sempurna.


"Karena wajah mu mirip dengan ibumu yang pel*cur itu." Ucap Belinda sambil menampar wajah Alice dengan tangan yang bebas.


"Apa salah ibu ku pada mu sehingga kau sangat membencinya?" Tanya Alice lagi dan menahan rasa sakit di ujung kulit kepalanya dan pedas beserta pedih pada pipi kirinya.


"Apakah kau pikir ibu mu itu pantas untuk menjadi menantu keluarga Baskoro. Dia hanya seorang anak yatim piatu yang tidak di ketahui latar belang keluarganya." Jawab Belinda dan kembaki mencengkram wajah Alice dengan tangan yang bebas.


"Bagaimana bisa dia menjadi menantu asli keluarga Baskoro. Sedangkan aku hanya menantu dari anak angkat mereka, benar-benar tidak bisa di percaya! Aku adalah Belinda Starry, dari keluarga terhormat dan terpandang dan hanya bisa menikahi seorang anak angkat! Kau bercanda?" Ujarnya lagi sambil menghempaskan wajah Alice kasar.


"Itu bukan salah ibu ku atau siapapun, itu adalah jodoh dan takdir mu. Bukankan kakek maupun kakek buyut ku selalu memperkakukan kalian dengan baik?" Ujar Alice membela ibunya dan keluarganya. Mengatakan fakta yang dia ketahui.


"Heh kau bercanda." Dengusnya kesal.


"Aku di perlakukan baik layaknya keluarga pun karena belas kasihan mereka yang masih menganggap Fiktor sebagai bagian dari keluarga. Tapi bisakah kau bayangkan semua perhatian keluarga tertuju kepada mu dan ibu mu. Karena dia bisa melahirkan dan menghadiahi para tua bangka itu seorang cucu wanita untuk mereka. Sedangkan mengapa tuhan tidak adil kepada ku dan bahkan tidak pernah menghadirkan malaikat kecil kepada ku! Masih kurang apa lagi aku? Aku selalu harus erada di bawah bayang-bayang ibu ku dan belas kasihan dari keluarga mu!" Ucap Belinda dengan menghempaskan meja yang penuh debu sehingga terjungkal.


"Bukankah seharusnya kau bersyukur terhadap apa yang kau miliki? Dan mengapa kau malah iri terhadap sesuatu yang tidak perlu kau pusingkan. Kau memiliki suami yang mencintai mu dan keluarga yang menyayangi mu! Mereka tidak pernah menuntut cucu dari mu bukan!" Teriak Alice tidak kalah lantang.


"Heh gadia kecil kau tahu apa? Mereka memang tidak oernah menuntut apapun dari ku. Tapi kau tahu, kehangatan dan keharmonisan keluarga kecil itu yang aku benci! Aku membenci ibu mu! Dia pembawa sial sehingga seharusnya aku yang berada di samping Frans dan melahirkan anak untuk pria itu! Bukan wanita murahan yang tidak tahu asal usulnya seperti ibu mu!" Ucap Belinda dengan senyum sinisnya.


"Sepertinya kau bukan orang jahat.. Namun sepertinya kau hanya wanita yang memiliki gangguan jiwa." Ucap Alice sinis juga.


"Dasar kau anak kurang ajar!"


Plak! Plak!

__ADS_1


Tamparan keras di kedua pipi Alice membuat pipinya memerah.


"Hahahaha.. Aku bahagia bisa melenyapkan kakek tua itu yang selalu sok perhatian pada ku. Di tambah dengan ayah mertua yang selalu bersikap baik dan memberikan ku hadiah. Aku tahu di belakang itu mereka akan mengutuk ku dan merendahkan ku! Aku melenyapkan mereka dengan tangan ku sendiri." Ucap Belinda bangga.


"Kau tahu.. Aku yang menyerahkan langsung teh dengan berisi racun yang tanpa rasa dan tanpa bau setiap harinya. Dan kau tau mereka menerimanya dengan bahagia! Dan mereka tidak menyadari itu." Ucapnya lagi sambil duduk santai di sebuah kursi di sebrang Alice.


Alice meneteskan air matanya tidak percaya bahwa wanita di depannya bukanlah manusia melainkan binatang jahat.


"Kau membalas kebaikan dan kasih sayang orang-orang di sekeliling mu dengan begitu kejam. Kau tidak akan pernah termaafkan!" Ucap Alice yang mulai meronta-ronta di atas kursi yang mengikat tubuhnya.


"Hahahaha tahu kah kau, bahkan aku yang menyuruh seseorang untuk menyabotase mobil yang kalian naiki! Aku mencoba menggoda Frans di ruang kerjanya tanpa sehelai sebenangpun. Namun pria itu terlalu kukuh terhadap istrinya dan hanya mengabaikan ku sendiri di dalam ruangan itu. Padahal tubuh indah ku jauh lebih menarik di banding wanita murahan itu!" Ucap Belinda sambil mengenang masalalunya.


"Itukah sebabnya kau menyabotase mobil kami dan menyebabkan kecelakaan kami bertiga?" Tanya Alice dengan air mata yang membanjiri pipinya dan membuat perih pipinya.


"Ya.. Jika dia tidak bisa menjadi milik ku, untuk apa dia hidup! Lebih baik aku mengirim kalian langsung ke neraka dan membiarkan kalian bersama-sama sekeluarga!" Tawa bahagia Belinda memekakkan telingga.


"Kau benar-benar bukan manusia! Kau menikah dengan paman ku dan masih menggoda ayah ku!" Teriak Alice emosi.


"Heh! Pria bodoh dan seorang anak angkat entah dari mana itu. Pria yang gampang di manipulasi seperti dia tidak pantas bersanding dengan wanita seperti ku! Hanya Frans yang pantas untuk ku. Namun sayangnya pria itu lebih memilih mati ketimbang menjadi milikku." Ucap Belinda sedikit sendu menyayangkan tindakan Frans pada malam-malam dia selalu mencoba untuk menggoda pria itu.


"Kau selalu menuding ibu ku sebagai wanita j*l@ng dan pel@cur, namun tahu kah kau. Panggilan itu sangat pantas untuk diri mu sendiri! Selain sebutan wanita gila tentu saja." Ucap Alice dengan penuh emosi yang memenuhi hatinya.


"Dasar kau anak kurang ajar!" Ucap belinda berang dan mulai memukul dan menyerang tubuh dan wajah Alice secara membabi buta.


Bruk! Alice beserta kursinya jatuh ke lantai akibat perbuatan Belinda yang menyerangnya secara brutal. Dan bahkan Belinda tidak menghentikan serangannya, wanita tua itu menendang dada dan wajah Alice menggunakan sepatu high heelsnya secara kejam untuk melampiaskan kekesalanya.


Tidak hanya itu Belinda juga menyerang kaki dan bahkan menendang perut Alice. Gadis itu meringkuk sekuat tenaga melindungi bagian perutnya dan menahan semia serangan yang di berikan Belinda secara bertubi-tubi.


"Hosh.. Hoshh.. Hoshh.." Suara nafas yang memburu dari Belinda menghentikannya kembali menyerang Alice. Wanita tua itu sudah menumpahkan seluruh kekesalannya sekuat tenaga. Dan kini dia kelelahan dan berhenti memandangi wajah Alice yang sudah babak belur dengan beberapa bercak darah di wajahnya.


Wanita tua itu tersenyum sinis, "Untuk hari ini cukup sampai disini.. Aku akan kembali lagi nanti." Ujar Belinda dan pergi meninggalkan Alice tergeletak tidak berdaya begitu saja.


Blam! Ceklek! Pintu tertutup dan terkunci kemudian.


Alice memandang sekeliling ruangan, "Bukankah kau sudah mendengar semuanya? Untuk apa kau masih bersembunyi? Dia sudah pergi." Ucap Alice bermonolog dan meringis merasakan sakit dan nyeri pada seluruh tubuhnya.


"Inikah wanita yang kau lindungi dan kau sayangi paman? Wanita yang membunuh Ayah angkat mu dan kakek mu dan bahkan membunuh adik beserta adik ipar mu." Ucap Alice lagi sambil meneteskan air matanya.


"Aku yakin kau juga bersekongkol dengannya karena hasutannya." Ucap Alice lagi dan meringis merasakan sakit baik di seluruh tubuhnya maupun di hatinya.


"Itu bukan urusan ku! Mereka memang pantas mendapatkannya! Mereka memang tidak pernah menganggap ku ada!" Bantah suara dari pojok belakang lemari yang tiba-tiba muncul sosok tubuh tinggi dari balik lemari itu.


"Kau bahkan tahu mereka sangat tulus menyayangi mu. Kau yang paling mengetahui mereka seperti apa. Dan di dalam lubuk hati mu yang terdalam kau pasti sudah menyadarinya." Ucap Alice monoton.


"Heh! Kau terlalu banyak berfikir!" Ucap Fiktor datar namun kedua tangannya mengepal dengan keras di kedua sisi tubuhnya.


Fiktor perlahan berjalan melewati Alice dan memanjat ke jendela untuk keluar dari ruangan itu.


"Ku harap kau tidak akan pernah menyesal atas apa yang telah kau perbuat selama ini." Gumam Alice pelan namun dapat Alice pastikan Fiktor masih sempat mendengar ucapannya dan lambat laun kesadaran Alicepun hilang.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2