
Setelah selesai makan malam berdua, dan berkeliling mencari beberapa barang, Galih mengantarkan Alice pulang ke rumah gadis itu.
"Kau tidak pulang untuk beristirahat?" Tanya Alice saat gadis itu duduk di ujung sofa menemani Galih menonton setelah dia selesai mandi.
"Tidak.. Aku akan menginap di sini." Ucap pria itu santai dan kemudian menggeser posisinya ke tenggah sisi sofa dan merebahkan tubuhnya dan menjadikan paha Alice sebagai bantalannya.
"Pinjam sebentar.. Kepala ku sakit tidur tanpa bantal." Ucapnya santai dan kembali menonton televisi.
"Hei.. Kau sudah menumpang tidur di sini dan mengganggu ku. Kau masih mengeluh tentang bantal? Hemm seharusnya aku meminta mu membayar sewa sofa ku. Kau terlalu sering tidur di sini dari pada tidur di apartement mu sendiri." Keluh Alice.
Galih yang mendengar omelan Alice hanya terkekeh geli.
"Kau perhitungan sekali.. Aku malas di apartemen sendirian.. Lagi pula bukankah bagus aku ada di sini? Aku bisa sekalian melindungi mu jika ada sesuatu." Ucap pria itu tenang.
"Ya.. Ya.. Lakukan apapun mau mu.. Ahh ya tumben kak Juna belum kelihatan batang hidungnya. Biasanya di situ ada Juna di situ ada Galih." Ucap Alice penasaran.
"Hei.. Apa maksud perkataan mu? Kau pikir aku Galih dan Ratna.. Mengapa harus Galih dan Juna?" Ucapnya kesal.
"Hahaha tidak tidak.." Gadis itu terus tertawa jika membayangkan itu.
"Baiklah pikirkan apapun mau mu yang penting kau bisa tersenyum bahagia." Ucap Galih santai dan kembali menonton televisi.
Ceklek.. Pintu luar terdengar terbuka dan kemudian tertutup.
"Hai semua.. Ada yang merindukan ku?" Tanya Juna yang tiba-tiba muncul di ruang tamu Alice dan membawa sebuah papper bag dan meletakkannya di atas meja.
"Tidak.." Ucap Galih cuek.
"Aku tidak bicara padamu, aku bertanya pada Alice." Ucap Juna dan menggeser kaki Galih yang membuat pria itu jadi duduk di tengah antara Alice dan Juna.
"Hmm.. Baru saja aku bertanya kau kemana kak karena belum muncul." Ucap Alice menimpali ucapan Galih.
__ADS_1
"Aku dari kantor.. Si bocah satu ini seenaknya saja meninggalkan kantor tanpa bilang dan ponselnya tidak aktif. Aku kewalahan mengurus beberapa stafnya." Gerutu Juna sambil memukul kepala Galih tanpa ampun.
"Awh.. Ahh.. Aku lupa aku sedang mengisi daya dan mematikan ponselnya." Ucap Galih yang teringat kemudian mendekati ponselnya yang sudah terisi penuh.
"Apakah terjadi sesuatu?" Tanya Galih penasaran dan mulai menyalakan ponselnya. Karena para staf bawahannya tidak akan menghubunginya jika tidak ada sesuatu yang perlu di laporkan.
Juna membuka bungkusan papper bagnya yang ternyata isinya makanan cepat saji. Dan memakan kentang goreng dan meminum minuman berkarbonasi itu.
"Hmm.. Wajah Alice ada di seluruh pelosok di negara X. Setelah foto itu beredar, di lanjutkan dengan edaran potongan saat kau peragaan busana di setiap billboard mall yang menjual produk pakaian yang kau tampilkan." Ucap Juna dan menggelengkan kepalanya tidak percaya.
"Ha? Apa? Bagaimana bisa?" Tanya Alice bingung. Setahunya fotoshoot yang di ambil hanyalah untuk sebuah majalah. Juna kembali meminum dan memakan kentangnya.
"Hmm itulah yang terjadi.. Untunglah dari pihak agensi mu sudah tahu dan meminta untuk menarik beberapa yang tidak sesuai dengan kontrak.. Semuanya sedang antusias mengenai identitas mu. Kita sudah mencoba meredam semuanya namun karena sebagian sudah tersebar tidak bisa kita tarik." Jelas Juna di sela makan dan minumnya.
"Gara-gara bocah ini aku jadi kelaparan karena belum makan malam." Ucap Juna dan mengambil burger dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Aku akan memeriksanya lagi." Ucap Galih dan kemudian pria itu fokus kepada ponselnya.
"Baiknya misi kita sudah selesai saat ini dan kita sudah mendapatkan informasi yang kita butuhkan." Ucap Juna menenagkan Alice.
"Hmm.. Mungkin aku harus mengambil cuti." Ucap Alice dan mulai mencairkan situasi.
"Hemm.. Ide yang bagus." Galih setuju dengan usulan Alice.
"Hei.. Jangan berharap kau bisa mendapatkan cuti juga Gal." Juna mengingatkan pria itu.
"Jun.. Tak bisakah kau biarkan aku mendapatkan kebahagiaan ku." Ucap Galih memelas dan berpura-pura menyedihkan.
"Jangan bersikap menjijikan.. Aku tidak akan terpengaruh." Ucap Juna santai di sela makan burgernya.
"Sudah-sudah.. Mungkin sementara waktu aku tidak akan ikut misi jika ada misi berada di negara X. Di luar dari itu aku mungkin masih bisa membantu." Ucap Alice menjelaskan.
__ADS_1
"Hmm boleh juga." Ucap Juna.
"Di mana kak Roy." Tanya Alice.
"Hmm dia sepertinya memiliki masalahnya sendiri." Ucap Juna ambigu.
"Ha? Kenapa?" Tanya Alice bingung. Beberapa minggu ini dia memang tidak bertemu langsung dengan Roy.
"Dia sedang di cerca ibunya untuk segera menikah dan mengenalkannya dengan beberapa anak temannya. Kurasa dia sedang frustasi karena setiap malam harus selalu mengikuti rancangan kencan buta oleh ibunya itu." Juna terkekeh geli.
Ceklek.. Pintu rumah Alice terbuka dan kemudian menutup.. Tiba-tiba muncul Roy di sana.
"Malam dik.. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Roy dan Alice langsung berdiri dan menghampiri pria itu dan memeluknya hangat.
"Baik kak.. Bagaimana kencan mu?" Goda Alice.
"Melelahkan.." Ucapnya suntuk dan duduk di sofa yang sebelumnya di duduki Alice.
"Bukankah seharusnya kau senang mendapatkan teman makan malam yang berbeda. Lalu kenapa kau terlihat sangat tidak bahagia?" Tanya Alice heran.
"Itu sedikit menyebalkan jika kau harus mengulang kembali semuanya setiap malam. Haihh berkenalan lagi berbasa basi lagi dan menjawab hal yang sama lagi berulang-ulang." Ucap pria itu frustasi dan merebahkan kepalanya di sandaran sofa.
"Hahaha kau harusnya bersyukur bro.. Di cerca segera menikah dan di carikan kandidatnya.. Dari pada Galih yang cerca ibunya menikah, tapi tidak di carikan gadisnya lahh dia jadi kelimpungan mau cari dimana, jadilah dia tidak berani untuk pulang kerumah ibunya sendiri.." Ucap Juna menggoda Galih.
"Hei!! Kenapa harus bawa-bawa aku.. Kau pun sama saja tidak ada bedanya." Ketus Juna merasa kesal. "Lagi pula aku tidak pulang karena aku banyak pekerjaan." Elak Galih lagi.
"Banyak kerjaan tapi kau menginap di sini. Alasan mu sungguh luar biasa." Ucap Juna lagi.
"Tapi aku kan di sini sebagai pelindung juga.. Aku menjaga Alice dari gangguan nyamuk." Ucap Galih protes.
Dan terjadilah perdebatan ramai antara ketiga pria itu. Alice hanya melihat perdebatan itu dan menggeleng-gelengkan kepalanya dan memilih pergi ke dapur menyiapkan teh baby krisan untuk teman malam mereka. Kehangatan ini selalu membuatnya bahagia dan melupakan kesedihan hatinya.
__ADS_1
Bersambung....