
"Kau selalu memiliki kami Al.." Ucap Juna yang ikut menimpali ucapan Roy dan mengusap lembut rambut gadis itu.
Mereka berdua sudah membaca berkas milik Alice dan mereka berdua salut dengan kehidupan Alice yang terlalu berliku namun gadis kecil itu sanggup menjalani semuanya dan bahkan kini dia bisa berdiri di kakinya sendiri.
"Jika kau membutuhkan apapun beritahu aku.. Aku akan membantu mu mengungkapkan semua kebenarannya." Ucap Roy tegas dan di angguki oleh Juna dan Galih bersamaan. Alice yang melihat itu merasa terharu.
Gadis itu tidak sendirian lagi, dia memiliki orang-orang yang mampu untuk membantunya berdiri tegak dan selalu mendukungnya dan mencintainya.
"Terima kasih.." Ucap Alice tulus dan memeluk ketiga pria di depannya itu. Ketiganya tersenyum dan membalas pelukan erat gadis kecil di hadapan mereka.
"Lalu.. Bagaimana dengan tunangan mu itu, apa yang akan kau lakukan dengannya?" Tanya Roy yang sedikit tidak tepat menanyakan situasi Anton saat ini. Roy baru saja membaca bahwa Anton yang merupakan pengemudi mobil sport itu.
"Mobil kami di curangi.. Itu bukan kesalahannya.. Yang akan aku lakukan saat ini adalah mencari bukti dalang kecelakan itu adalah Fiktor atau Belinda.. Namun sepertinya itu akan sedikit sulit, bagaimanapun kejadian itu sudah berlalu cukup lama." Ucap Alice sedikit ragu.
"Kau tidak perlu khawatir kami akan membantu mu.. Lagi pula tujuan orang yang akan kita selidiki sama." Ucap Roy dan mengusap lembut rambut Alice.
"Aku akan meminta orang kita di negara X untuk lebih membuka matanya dengan Fiktor dan Belinda sebagai target kita selanjutnya." Ucap Roy dan Alice mengangguk mengerti.
"Aku akan ikut dalam misi itu.. Aku tahu siapa yang harus aku hubungi dahulu untuk memberikan petunjuk agar kita bisa masuk ke dalam lingkaran mereka." Ucap Alice yakin.
"Apa? Siapa? Tapi kau masih terluka.. Aku tidak akan membiarkan mu pergi dengan luka seperti ini.. Itu akan terlalu beresiko untuk mu apalagi jika harus terlibat dalam perkelahian nantinya." Ucap Roy sedikit tidak setuju dengan keinginan Alice.
"Aku tidak akan berkelahi.. Aku hanya harus datang menemuinya.." Ucap Alice yakin.
"Apa? Siapa dia?" Tanya Juna yang mulai penasaran.
__ADS_1
"Bahar Angkasa.." Ucap Alice yakin.
"Apa? Kau gila Alice.. Kau ingin menemui pria yang sudah mencoba menculik dan membunuh mu dan sekarang kau ingin menemuinya dengan keadaan kau sedang terluka? Itu namanya menggali kuburan mu sendiri Al." Ucap Galih ketus kepada Alice.
"Galih benar Al.. Jangan macam-macam dengan pria itu.." Ucap Roy menimpali.
"Kau tahu dia anggota khusus sebelumnya.. Dia tidak akan membiarkan mu lepas lagi jika kau berani muncul di depan batang hidungnya." Ucap Juna menimpali.
"Itu tidak akan terjadi kak.. Aku yakin itu." Ucap Alice meyakinkan ketiga pria di depannya itu.
"Al.. Hentikan kegilaan mu yang mencari masalah." Ucap Galih yang sudah menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Dia tidak akan melakukan itu kak.. Karena dia adalah sahabat dari kedua orang tua ku." Ucap Alice menjelaskan kepada ketiga orang di depannya itu.
"Dia di manfaatkan oleh Fiktor untuk membunuh ku.. Saat itu kan sedang pesta topeng, dia jadi tidak mengenali ku. Tapi saat topeng ku terbuka dia bisa melihat dengan jelas aku sangat mirip dengan ibu ku, maka dari itu dia melepaskan ku dan mencoba untuk bertemu dengan ku lagi."
"Bisa saja dia berpura-pura mengakui itu untuk kembali mencoba melenyapkan mu di lain waktu kan." Potong Galih saat mendengar penjelasan Alice.
"Tidak.. Kau ingat saat aku menemuinya di Pure Bar di kota X dan dia menjelaskan bahwa dia sahabat dari kedua orang tua ku dan dia juga di manfaatkan oleh Fiktor. Bahkan dia mengakui bahwa dia yang merupakan penembak jitu pada kasus Bintang, dan kasus Diana. Dia di suruh membersihkan hal itu dengan alasan bahwa seseorang mencurangi properti milik Baskoro.." Alice menjeda dan melanjutkan ucapannya lagi.
"Dan Bahar sangat loyal terhadap Frans Baskoro ayah ku.. Dia bahkan rela menghacker badan intelegent yang menaungunya hanya untuk mendapatkan informasi mengenai kebenaran kecelakaan itu. Sehingga dia di pecat secara tidak hormat dari pekerjaannya yang bertahun-tahun dia geluti dengan sepenuh hati. Dia hanya mendapatkan informasi bahwa Anton yang merupakan pengemudi mobil itu, sehingga dia tidak tahu bahwa dalang sebenarnya di balik kecelakaan itu adalah Fiktor dan Belinda." Jelas Alice.
Ketiga pria di depannya menjadi diam dan hening seketika. Mereka bertiga berpikir mengenai resiko yang akan di alami Alice jika menemui pria itu lagi dan besarnya informasi yang akan mereka dapatkan jika mereka menemui pria itu.
"Haih.. Aku kesal jika harus mengingat resiko yang akan terjadi jika itu adalah sebuah jebakan." Ucap Galih saat memikirkan kemungkinan itu.
__ADS_1
"Kalian percaya saja pada ku.. Aku pasti bisa menanganinya dengan baik." Ucap Alice lagi menyakinkan ketiga pria pelindungnya itu.
"Baiklah aku percaya pada ucapan mu. Lakukan apapun yang menurut mu diperlukan. Namun ingat! Keselamatan mu adalah hal yang utama!" Ucap Roy tegas tanpa bisa di tawar menawar lagi.
"Siap Capt.." Ucap Alice tegas.
"Baiklah-baiklah.. Juna kau yang menjadi kepala tim.. Galih pantau dan lindungi Alice selalu.. Kalian bisa pergi merencanakan kapan kalian akan pergi untuk tugas kali ini.. Tapi ingat jangan langsung bergerak.. Misi kalian hanya untuk mencari informasi dari Bahar Angkasa.. Bukan untuk langsung bertindak.. Kalian ingat itu!!" Ucap Roy yang memberi perintah dan mengingatkan ketiga anak buahnya sekaligus sahabat terdekatnya.
"Siap Capt!!" Ucap mereka bertiga kompak.
Roy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya pusing dan berharap keputusan yang di ambilnya merupakan keputusan yang benar. Bagaimanapun dia tidak ingin ketiga orang terdekatnya mendapatkan masalah. Apalagi mereka harus datang dan masuk kedalam sarang musuh.
"Rapat sudah selesai.. Kalian bisa bubar.." Ucap Roy dan dia menyandarkan kepalanya di punggung sofa.
"Kami akan baik-baik saja kak.. Jangan terlalu dicemaskan oke.." Ucap Alice dan mengusap punggung tangan Roy yang berada diatas paha pria itu.
"Astaga.. Belum juga berangkat kau sudah terlihat kesepian.. Kasihan sekali.." Gurau Juna menimpali.
"Dia tidak mencemaskan kita, dia sedang bingung nanti malam akan menggunakan pakaian apa untuk kencannya. Dan dia takut wanita seperti apa yang akan di kenalkan kepadanya kali ini." Ucap Galih menimpali dan ucapannya membuat Roy terduduk cepat dan melemparkan kotak tisu di dapannya.
"Kau memang menyebalkan bocah.." Ucap Roy yang sukses membuat Alice dan Juna menertawakan tingkah kedua orang itu.
Galih memang selalu membuat suasana menjadi hangat dan lebih terasa hidup dengan semua tingkah konyolnya.
Bersambung....
__ADS_1