
Alice, Laristha dan Anton tiba di lokasi dimana Juna mengalami kecelakaan.
"Bagaimana situasinya?" Tanya Alice kepada salah satu anggota dari tim RJP.
"Lapor Bu.. Pak Juna tidak di temukan di dalam mobil, sepertinya beliau terpelanting keluar dari mobil mengingat pintu mobil pengemudi hancur terbuka." Ucap pria itu memberikan laporan.
"Lalu bagaimana situasi di sekitar apakah Juna sudah di temukan?" Tanyq Alice lagi.
"Kami masih menyisir lokasi dan Pak Juna masih belum di temukan. Medannya sedikit terjal dan curam, belum lagi banyak sekali pepohonan yang rimbun dan ada danau di rawa itu Bu.. Kami masih berusaha mencarinya dengan peralatan seadanya." Ucap pria itu lagi menjelaskan situasi yang terjadi.
"Baiklah kalau begitu lanjutkan pencarian, saya akan ikut membantu juga." Ucap Alice tegas.
"Siap laksanakan!" Balas pria itu tegas.
Semua tim pemadam kebakaran maupun tim dari RJP dan juga tim dari mafia The Black Panther masih setia mencari dimana sosok pria yang hilang itu berada. Pasalnya tubuh Juna yang tidak di temukan di dalam mobil dan beberapa lokasi kemungkinan pria itu terpental juga masih belum di temukan.
Siang sudah berubah menjadi malam.. Pencarian itu semakin menyulitkan karena hanya dengan pencahayaan lampu senter yang di gunakan di kepala maupun di pegang oleh tangan.
"Sepertinya kita harus menyerah untuk pencarian hari ini, ini terlalu berbahaya belum lagi pasti masih ada binatang liar di daerah sini.." Bisik salah satu orang pencari namun tidak terlihat jelas oleh Alice siapa yang mengatakan hal itu.
"Kak Jun.. Aku mohon.. Bertahanlah.. Kami pasti akan menemukan mu.." Bisik Alice dan tidak memperdulikan bisikan-bisikan yang sudah lelah dengan pencarian itu.
Laristha sama frustasinya dengan Alice.. Wanita itu tampak kalut setelah melewati beberapa jam yang melelahkan untuk pencarian namun masih belum di temukan juga keberadaan dari Juna.
Alice termenung dan bersandar pada salah satu pohon besar, gadis itu menatap langit yang disinari bintang yang terhalang oleh rindangnya pepohonan di rawa itu.
"Kak... Aku berharap kau baik-baik saja.. Aku benar-benar berharap kau masih selamat.." Ucapnya sambil memandangi salah satu bintang yang terlihat lebih terang itu.
__ADS_1
"Kau tenang saja.. Juna pasti akan baik-baik saja.. Kita akan menemukannya sampai ketemu." Ucap Alice menenangkan istrinya.
"Ya.. Aku tahu.. Kak Juna pasti tidak apa-apa." Ujar Alice lebih kepada menyakinkan dirinya sendiri.
Beberapa saat berlalu tiba-tiba terdengar seseorang berteriak.
"Aku menemukan sesuatu!" Teriak salah seorang dari arah kejauhan namun Alice masih bisa menangkap ucapan pria itu.
Gadis itu langsung menegakkan tubuhnya dan berlari secepat yang dia bisa meski beberapa tumbuhan dan rumput-rumput liar yang menghalangi jalannya.
Anton yang khawatir akan keselamatan istrinya setia mengikuti langkah Alice dan melindungi gadis itu dari beberapa dahan pohon dan rumput, bahkan tidak jarang membantu membuka jalan agar istrinya tidak mengenai dan melukai tubuh Alice dari tanaman-tanaman itu.
"Dimana ! Dimana!" Teriak Alice saat melihat seorang pria yang sepertinya tampak kesusahan melakukan sesuatu agar yang mengapung di air danau rawa itu bisa menepi dan mencoba untuk meraihnya.
Tubuh seorang pria tampak mengapung di dalam air dengan punggung baju yang sudah terkoyak dan menampakkan beberapa luka yang memperlihatkan bekas darah yang mengering dari sorotan lampu senter.
Alice menutup mulutnya dengan kedua tangannya gadis itu meneteskan air matanya saat melihat sosok itu mengapung di air dengan posisi tertelungkup.
"Bagaimana ini.." Ucap Alice dengan suara bergetar dan pikiran negatif yang menghinggapinya.
Tiba-tiba Laristha muncul di samping Alice yang langsung roboh terduduk di semak-semak belukar begitu saja saat melihat sosok yang mengapung di atas danau.
"Tidak.. Tidak.. Tidak mungkin! Juna pasti selamat.. Dia pasti akan baik-baik saja." Gumam Larista yang suara tercekat dan air mata yang mengalir deras di pipinya.
Anton yang berenang ke tengah mendekati tubuh pria yang mengambang tertulungkup itu dan mencoba memegang nadi yang ada di leher pria itu. Ternyata tubuh pria itu tertelungkup di atas sebuah batang pohon dengan posisi tubuh yang tersangkut dengan beberapa batu sehingga tidak terbawa arus air.
"Untunglah.." Gumam Anton saat tubuh yang tertelungkup di atas batang pohon yang kokoh dengan posisi tubuh yang tersangkut dengan beberapa batu dan batang kayu lainnya.
__ADS_1
"Ini adalah Juna!" Teriak Anton saat dirinya sudah memastikan identitas pria itu dan wajah pria yang ada di depannya itu adalah Juna.
"Denyut nadinya masih terasa! Namun hampir seluruh tangan dan kakinya dingin!" Teriak Anton lagi melaporkan keadaan Juna.
"Cepat panggil tim medis bawa tandu darurat! Dan berikan pertolongan pertama." Perintah Alice yang melihat tubuh yang tidak dalam kondisi baik itu dari kejauhan.
Beberapa orang segera muncul dan memberikan pencahayaan yang lebih terang dari beberapa lampu senter kepala dan beberapa lampu darurat. Tim medispun segera datang untuk memeriksa kondisi Juna nantinya.
Beberapa orang masuk kedalam air membantu Anton berenang membawa tubuh yang mengambang dengan bantuan kayu itu dan kemudian dengan perlahan dan hati-hati mengangkat tubuh itu kedaratan.
"Segera periksa tanda-tanda vitalnya dan ganti pakaiannya agar terhindar dari hipotermi!" Perintah Anton dan dengan cekatan para tim medis itu bekerja dengan cepat dan akurat untuk memeriksa kondisi Juna dan sebagian lagi menggunting baju dan celana Juna yang sudah terkoyak dengan handuk dan selimut tebal yang menutupi tubuhnya agar terhindar dari kedinginan.
Beberapa perdarahan di tangan pria itu juga di hentikan sementara dan beberapa luka lainnya di obati dengan cepat dan akurat.
"Segera bawa ke tandu darurat dan segera bawa ke rumah sakit terdekat!" Perintah Anton lagi dan beberapa orang segera membantu mengangkut tandu yang berisi Juna yang sedang pingsan itu.
"Aku akan bersamanya.." Ucap Laristha kepada Alice dan juga Anton.
Larista langsung berjalan di samping tandu dan menggenggam tangan Juna yang terluka sambis sesekali mengusap beliran bening yang membasahi pipinya, "Syukurlah.. Syukurlah aku masih bisa bertemu dengan mu." Gumamnya sambil terus berjalan mengikuti irama langkah para anggota penolong itu.
"Terima kasih.." Ucap Alice cepat sambil mengusap sedikit buliran air mata di pipinya dan kemudian memberikan selimut tebal kepada suaminya itu agar Anton tidak kedinginan.
"Dia juga sudah menjadi teman ku.. Kau tidak perlu berterima kasih sayang." Ucap Anton sambil memeluk istrinya dari balik selimut.
"Ayoo kita segera menyusul mereka.." Ucap Anton dan mengajak Alice untuk pergi dari rawa itu.
Bersambung....
__ADS_1