
-Galih POV-
"Aishh terserahlah.. Cepat rasanya sakit." Ucap gadis itu lagi dan mengikuti ku dan masuk ke dalam mobil ku.
"Apakah rasanya sakit sekali?" Tanya ku sambil mengemudikan mobil menuju klinik namun beberapa klinik tampak tutup.
"Sakit sekali." Ucapnya lagi sambil sedikit meringis.
"Emhh kliniknya tidak ada yang buka yang terdekat adalah klinik di kantor ku kau tidak keberatan kan?" Tanya ku lagi sambil mengemudikan mobil menuju RJP.
"Terserah.. Sakit.." Ucap gadis itu dengan air mata yang mulai menggenang di pelupuk matanya.
Aihh sepertinya aku terlalu emosional dan tanpa sengaja membutnya cidera.
Beberapa saat kemudian aku berhenti di depan kantor pusat RJP dan membawa gadis itu masuk ke dalam kantor menuju lantai 5 dimana petugas medis berada.
Tok tok aku membuka handle pintu ruangan itu dan seorang dokter menghampiri ku.
"Ohh kau Galih.. Ada yang bisa aku bantu?" Ucap seorang wanita mengenakan sneli warna putih.
"Hai dokter Jeni, aku membutuhkan bantuan mu." Ucap ku sambil menggaruk pelipisku yang tidak gatal.
"Tentu ada apa?" Tanya Jeni heran.
"Hei gadis kecil masuklah." Ucapku dan tidak lama seorang gadis masuk keruangan itu dengan wajah akan menangis.
"Kau menangisi anak orang Galih?" Tanya dokter Jeni mengintrogasi ku.
"Ehem.. Hanya sebuah kesalah pahaman dok." Ucap ku membela diri dan menarik kedua bahu gadis itu menghadap dokter Jeni.
"Aku serahkan dia padamu." Ucap ku dan segera pergi keluar dari ruangan itu.
"Haishh kebodohan ku yang ingin bersenang-senang dan menenangkan diri malah membuat ku balik kesini." Gerutuku sambil bersandar pada pintu klinik itu.
Aku memutuskan kembali keruangan ku dan mencuci muka serta mengganti pakaian ku.
"Haish aku harus mengantarkan gadis kecil itu pulang." Ucap ku kepada diri sendiri dan berjalan menuju ruang klinik lagi.
Tok tok ku ketuk pintu dan kemudian membuka hendle pintu lagi.
"Bagaimana keadaan dia dok?" Tanya ku saat melihat Jeni duduk di kursi jaganya.
"Dia mengalami pergelangan tangan yang terkilir untunglah tidak sampai mematahkan pergelangan tangan gadis itu. Apa yang terjadi Galih? Tidak biasanya kau ceroboh." Tanya Jeni penasaran.
"Hanya salah paham saja dok.. Dimana dia sekarang?" Tanya ku yang celingak celinguk mencari keberadaan gadis kecil itu.
"Loh aku kira kau sudah pergi dengannya. Sudah 10 menit yang lalu dia keluar dari ruangan ini." Ucap dokter Jeni yang bingung.
"Ohh sial! Terima kasih banyak dok atas bantuan mu. Aku harus pergi dahulu." Ucap ku terburu-buru dan pergi meninggalkan ruangan itu.
Aku masih sempat melihat dokter Jeni yang menggeleng-gelengkan kepalanya heran melihat tingkah ku.
Aku berlari menyusuri lorong dan segera masuk ke dalam lift yang membawa ku turun di lantai dasar. Aku berlari menju lobby dan mencari keberadaan gadis itu.
Sial! Gadis itu masih terluka dan aku tidak mengantarnya pulang? Bahkan aku belum minta maaf secara baik-baik padanya. Laki-laki macam apa aku!
'Ohh ayolah kau kemana gadis kecil?' Batin ku sambil masih berlari dan memperhatikan ke kanan dan ke kiri kemungginan gadis itu pergi. Namun tidak ada satupun bayangan gadis itu.
"Ohh sial! Aku benar-benar kehilangan jajak gadis itu." Ucap ku kesal sudah lelah modar mandir tidak tentu arah dan tetap tidak bisa menemukan dia.
"Sudahlah aku lelah! Aku cari melalui cctv saja." Umpat ku kesal dan bergegas masuk kembali kedalam ruang kerja ku dan berkutat dengan papan ketikku dan berseluncur di dunia maya.
***
__ADS_1
-Author POV-
Sedangkan di sisi lain..
"Awh.. Sakit.." Ringis seorang gadis saat turun dari taksi online yang dia pesan dan menutup pintu mobil itu yang berhenti tepat di depan pagar mansion mewah.
Tangan kiri gadis yang di bebat itu tidak sengaja tersenggol pintu mobil saat hendak menutup pintu mobil tadi.
"Mudah-mudahan ayah dan ibu sudah tidur." Gumam gadis itu pelan dan berjalan mendekati pagar tinggi rumah mewah itu.
"Malam non Nay?" Ucap penjaga dari dalam gerbang itu sopan.
"Stt.. Jangan berisik. Bukakan saja pagarnya dengan cepat dan tidak perlu melapor ke dalam!" Ucap gadis cantik itu memerintah.
"Tapi non.." Ucap sang penjaga ragu-ragu untuk membukakan pintunya.
"Cepat bukakan saja pagar pintunya dan diam atau aku akan membuat mu bermain dengan 'kucing hitam' ku seharian." Ancam gadis itu kesal.
Penjaga yang takut dengan 'kucing hitam' yang di sebutkan oleh nonanya langsung bergidik hanya dengan membayangkannya saja dan penjaga itu lebih memilih membukakan pagarnya untuk nona kecilnya itu.
Ya 'Kucing Hitam' yang di maksud oleh gadis itu bukanlah seekor kucing berwarna hitam biasa, namun adalah seekor macan kumbang berwarna hitam yang di pelihara di dalam rumah itu.
"Terima kasih." Ucap gadis itu riang dan berlari masuk ke dalaman halaman rumah mewah itu, atau yang bisa di sebuh sebuah mansion.
Mansion bergaya eropa tampak menawan dengan warna gold dan coklat. Gadis cantik itu diam mematung dan sedikit bingung di depan pintu besar mansion itu, bagaimana caranya dia masuk kedalam rumah tanpa harus membangunkan kedua orang tuanya.
Tiba-tiba.. Ceklek.. Pintu besar itu terbuka dan tidak lama memunculkan sesosok pria paruh baya mengenakan pakaian kemeja dan vest hitamnya.
"Astaga! Mengagetkan ku saja pak Yoyok.. Nay kira ayah atau ibu." Ucap Gadis itu yang terkejut sambil mengusap-usap dadanya cepat.
"Nona dari luar? Baru pulang?" Selidik pak Yoyok yang merupakan kepala pelayan di rumah ini.
"Stt.. Jangan keras-keras takut ketahuan ayah atau ibu nanti.. Terima kasih pak Yoyok membukakan pintunya untuk Naira.. Nay masuk ya.. Selamat malam pak." Ucapnya sopan dan bergegas masuk ke dalam rumah.
Sedangkan pak Yoyok yang merupakan kepala pelayan di dalam rumah itu hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah anak bungsu tuannya itu dan kembali mengunci pintu mansion mewah itu dan kemudian bergegas menuju salah satu paviliun kecil di belakang mansion yang merupakan tempat tinggalnya bersama istri dan putra tunggalnya.
"Awh.." Keluh gadis itu karena matanya tiba-tiba silau oleh cahaya yang tiba-tiba terang itu.
"Bagus ya.. Mengendap-ngendap kayak maling di rumah sendiri." Ucap suara wanita yang terdengar dingin.
"Ehh ibuu.. Ibu belum tidur." Ucap gadis itu sambil menampilkan jajaran giginya yang rapih dan bersih. Dan gadis itu berjalan menghampiri ibunya yang berdiri di bawah anak tangga sambil tangannya masih memegang saklar lampu.
"Kalau ibu sudah tidur, ibu pasti tidak akan menemukan kucing yang mengendap-endap ternyata baru pulang padahal ini sudah larut malam." Ucap suara wanita itu lebih dingin.
"Ibuu.. Aku tadi mengalami sedikit kendala jadi pulangnya sedikit telat.. Maaf ya bu.. Ibu jangan marah lagi, nanti cantiknya luntur loh." Ucap gadis itu mencoba mengambil hati ibunya dengan bergelayut manja di tangan ibunya.
"Naira kamu tuh anak gadis! Masa tengah malam begini baru pulang! Kamu abis pergi kemana? Jika terjadi sesuatu pada kamu bagaimana?" Ucap sang ibu terlihat sangat khawatir.
"Ibbbuuu.. Nay tadi sedikit mengalami insiden, lihat tangan Nay sakit dan berobat dahulu baru abis itu pulang. Nay tidak pergi ke tempat yang aneh-aneh kok." Ucap gadis itu cepat agar tidak di salahkan oleh ibunya dan menunjukkan bebat di tangannya.
"Apa? Kamu kenapa Naira?" Tanya sang ibu tambah khawatir melihat tangan anak gadisnya di bebat.
"Hanya terkilir saja kok bu.." Ucap Naira menenangkan ibunya dan sedikit menyesali telah membuat ibunya khawatir.
"Haishh.. Punya anak gadis satu sulit di kendalikan dan punya anak sulung laki-laki yang tidak kunjung pulang. Sungguh malangnya nasib ku ini." Ucap Nesrine dengan mendramatisir situasi.
"Ibuu.. Nay kan anak yang baik dan penurut kok.." Ucapnya manja sambil bergelayut manja pada Nesrine ibunya.
"Haishh ya sudahlah sana kau masuk kedalam kamar mu dan istirahat." Ucap Nesrine yang sebenarnya kesal namun tidak tega melihat tangan anaknya yang di bebat dan memilih mengakhiri perdebatan ini.
"Baik bu.." Ucap Naira dan kembali menaiki tangga untuk naik kedalm kamarnya.
Namun baru beberapa langkah gadis itu berhenti dan membalikan tubuhnya.
__ADS_1
"Bu.. Kakak kerja dimana ya bu?" Tanya Naira penasaran sepertinya dia pernah mendengarnya namun lupa akan hal itu.
"Aihh kakak mu sudah kerja bertahun-tahun dan kau lupa di mana tempat kakak mu bekerja? Kau sungguh keterlaluan! Kakak mu kerja di Roy Jaya Putra company." Jawab Nesrine cepat.
"Ada apa?" Tanya Nesrine lagi penasaran mengapa anak bungsunya menayakan hal itu.
"Aah tidak apa-apa bu.. Aku pergi ke kamar dulu mau istirahat." Jawab Naira cepat dan segera pergi dari sana.
"Ohh sial! Aku berharap dia bukan teman kerja kakak ku! Kalau tidak jika dia tahu dan melaporkan bertemu dengan aku di tempat itu pada tengah malam, bisa habis aku dimarahi." Gumam gadis itu sambil bergidik ngeri membayangkannya.
***
Di tempat yang berbeda.
Ceklek..
"Woah.. Aku kira kau akan bersenang-senang dan ternyata kau malah diam duduk di depan layar tercintamu." Ucap Juna asal dan masuk kedalam ruangan itu.
Galih dengan refleks yang cepat menutup layar laptop di depannya dan berjalan menghampiri Juna dan duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Kenapa kau tahu aku ada di dalam?" Tanya Galih heran mengapa pria itu bisa berada di ruangannya.
"Aku baru saja memberikan surat penangkapan Fiktor kepada Alice agar besok pagi dia bisa pergi melakukan tugasnya. Aku baru saja balik dari rumah sakit dan mengunjunginya." Jeda Juna kemudian melanjutkannya, "Lalu aku melihat lampu di ruangan mu menyala, aku mengira ada maling atau sesuatu hal yang lain soalnya kau bilang kau mau cuti.. Tidak tahunya kau memang masih ada di sini." Ujar Juna lagi dan menyandarkan punggunngnya di sofa.
"Ya aku dari luar tadi, kemudian ada sesuatu hal yang sedang aku selidiki dan jadinya aku balik lagi kesini." Jelas Galih singkat.
"Kerjaan penting kah? Mau aku bantu?" Tanya Juna langsung.
"Ehh Ah.. Tidak perlu bukan kerjaan kok.. Masalah pribadi." Jawab Galih cepat.
Yaa.. Pria itu sedang menyelidiki kemana gadis kecil itu pergi dan melihat seluruh rekaman CCTV di gedung RJP dan ternyata gadis itu sudah pergi dan memanggil taksi online untuk mengantarnya pulang. Pantas saja dia sudah menyusuri seluruh jalan yang mungkin bisa di lewati tapi tidak melihat gadis itu, ternyata gadis itu sudah pergi dengan taksi panggilannya.
"Lalu apakah sudah kelar?" Tanya Juna lagi.
"Ya sudah ketemu dan masalahnya sudah selesai." Jawab Galih cepat dengan sedikit berbohong.
'Yaa sudah selesai satu masalah saat gadis itu sudah pulang dengan taksi online menuju rumahnya dengan selamat. Namun satu masalah lagi yang belum selesai, karena aku belum meminta maaf kepada gadis itu.' Batin Galih.
"Ohh baiklah kalau begitu. Aku akan keruangan ku, menyiapkan berkas untuk besok." Ucap Juna dan bangkit dari sofa dan meninggalkan Galih sendirian di ruangannya.
"Okey." Jawab Galih sebelum Juna benar-benar pergi menghilang dari pandangannya.
"Hemm lebih baik aku selidiki siapa gadis kecil itu. Aku harus meminta maaf kepadanya bukan." Gumam Galih dan beranjak dari sofa menuju kursi kerja kebesarannya.
"Astaga bodohnya aku!" Pekik pria itu saat teringat pada sesuatu saat melihat ponsel di atas meja kerjanya.
"Bukankah aku memiliki nomor ponselnya." Ucap pria itu dan mengetuk samping kepalanya pelan.
Galih dengan cepat mengambil ponsel di samping laptopnya dan segera mencari panggilan tak terjawab sebelumnya.
Pria itu segera menggeser tombol hijau dan dengan sabar menanti panggilannya terhubung.
📞"Halo.." Suara wanita saat panggilan tersambung setelah beberapa deringan nada menunggu.
📞"Ehem.. Halo.. Maaf saya orang yang tidak sengaja melukai mu. Kau sudah sampai di rumah mu bocah?" Tanya Galih cepat dan menanyakan keberadaan gadis itu.
📞"Ishh paman yang mabuk dan melukai ku! Aku sudah sampai di rumah! Mau apa kau tanya-tanya!" Jawab gadis itu ketus.
📞"Hei bocah bisa tidak kita ketemuan? Ada sesuatu hal yang ingin aku sampaikan." Ucap Galih tidak enak. Pria itu ingin meminta maaf secara langsung kepada gadis cantik itu.
📞"Tidak ada! Tidak perlu! Jangan menghubungi aku lagi! Anggap saja tadi tidak terjadi hal apapun! Sampai jumpa!" Ucap gadis itu ketus dan langsung menutup panggilan telepon itu.
"Wah.. Ada apa dengan gadis itu? Mengapa dia sangat galak sekali? Padahal sebelumnya dia melihat ku saja ketakutan. Apakah perbuatan ku sangat menyakitinya sampai dia enggan bertemu dengan ku?" Ucap Galih monoton dan hanya memandangi layar ponselnya yang hitam.
__ADS_1
"Ya sudahlah jika dia tidak mau bertemu.. Ahh sudah larut malam lebih baik malam ini aku tidur saja di sini. Besok baru pulang kerumah orang tuaku." Ucap Galih lagi dan mematikan perangkat laptopnya dan menghentikan pencariannya kepada gadis itu. Meskipun ada sedikit rasa penasaran dengan gadis yang di temuinya itu namun dia menghempaskan semuanya dan berjalan ke ruangan kamar tidurnya yang ada di dalam ruang kantornya itu.
Bersambung....