
"Alice kau tidak apa-apa?" Tanya Galih panik setelah melihat ada ular dan ceceran darah segar yang mengalir di koset itu.
"Aku tidak apa-apa. Untunglah aku memiliki refleks yang cepat sehingga belum sempat ular itu menyentuh kulit ku, aku malah tidak sengaja membunuhnya." Jawab Alice dengan sedikit meringis kasihan kepada ular itu.
"Untunglah kau tidak kenapa-kenapa." Ucap Galih yang sudah mulai tenang.
"Mengapa ular ada di sini?" Tanya Roy bingung.
Juna dengan cepat membuka dudukan kloset dan melihat ular apa yang berada di sana. Saat membuka dudukan kloset itu, mereka bertiga terkejut saat melihat jenis ular itu adalah ular harimau.
"Ular harimau? Ular harimau dikenal dengan sifat agresif dan bisa yang mematikan. Reptil ini bisa tumbuh hingga 2,4 meter. Umumnya, ular harimau adalah binatang pemalu dan tak suka bertarung, tapi mereka akan mendesis keras ketika diprovokasi dan bisa menyerang dengan gigitan yang sangat kuat." Jelas Juna yang melihat ular dengan corak coklat di bagian atas tubuhnya.
"Bisa ular ini bersifat keras dan sangat berbahaya, bisa terjadi Neurotoksin, Koagulan, Hemolisin dan Myotoksin. Dapat melumpuhkan saraf secara total, mengakibatkan pendarahan, sakit di kaki dan leher, serta mengakibatkan kelumpuhan otot. Kau yakin tidak tergigit oleh ular ini?" Tanya Juna memastikan lagi.
"Tidak kak.. Dia tidak sempat mendekati ku. Aku langsung menghemoaskan dudukan kloset yang langsung menimoa kepalanya." Jawab Alice cepat.
"Syukurlah kalau begitu." Ucap Juna sambil masih memperhatikan ular itu dari dalam kloset.
"Tapi ada yang aneh, ular harimau tersebar di wilayah negara A bagian tenggara, wilayah A Selatan bagian tenggara, N South wales bagian selatan dan seluruh wilayah V, serta di seluruh wilayah di Pulau Tasmania. Ular ini hidup di gurun berpasir, Mengapa ular ini bisa ada di kota X?" Tanya Roy yang mulai mengemukakan pendapatnya mengenai habitat ular tersebut.
"Astaga! Apa yang terjadi?" Tanya kepala pelayan yang tiba-tiba masuk ke dalam kamar mandi dan melihat ada ceceran darah beserta ular yang melilit di dalam kloset putih itu.
"Bisakah kau menjelaskan ini?" Tanya Roy dengan sedikit menyelidik.
"Maaf nona dan tuan, saya benar tidak mengerti mengapa ada ular di dalam kamar mandi. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya. Bahkan saya sudah bekerja selama 10 tahunpun tidak pernah ada ular masuk ke dalam area mansion ini." Jelas Liesda kepala pelayan di mansion itu dengan gugup.
"Jika tidak pernah ada bukan berarti tidak akan ada kemungkinan bukan. Ini bukan kota habitatnya, dan dari tubuh atasnya yang tampak kering mengartikan ular ini tidak muncul dari dalam kloset. Bisa kau jelaskan siapa saja yang sudah masuk kedalam kamar ini?" Tanya Roy yang mulai berspekulasi.
"Maaf tuan, hampir semua kamar sudah di bereskan setiap bulannya. Sehingga pasti tidak ada pelayan yang bisa keluar masuk ke dalam kamar jika tidak pada jadwal pembersihan setiap sebulan sekali itu. Dan para pelayan semuanya menempati area belakan paviliun." Jelas Liesda dengan nada yang mulai tenang. Tidak ada keraguan atau ketakutan dalam nada itu, sepertinya wanita tua itu tidak berbohong.
__ADS_1
"Terima kasih atas informasi mu. Suruh seseorang untuk membersihkan kekacauan ini. Kau sudah boleh pergi." Ucap Alice santai dan mengakhiri introgasi Roy.
"Baik nona saya permisi." Kata Liesda dan segera meninggalkan ruang kamar mandi itu.
"Alice, masalahnya belum di temukan penyababnya mengapa kau menyuruh dia pergi?" Tanya Galih yang bingung dan tidak setuju Liesda di suruh pergi begitu saja.
"Tidakkah kau dengar tadi? Para pelayan tidak akan bebas keluar masuk jika tidak pada waktu tertentu untuk membersihkannya. Jadi siapa yang bisa keluar masuk dengan bebas tentu saja pemiliknya bukan." Jawab Alice santai dan membeberkan pemikirannya.
"Ya kau benar. Jika pemiliknya yang keluar masuk kamar lain, tentu saja tidak akan ada yang mencurigainya." Ujar Roy setuju dengan pemikiran Alice.
"Tapi bukankah kita pergi ke mansion ini dadakan? Bagaimana bisa Fiktor atau Belinda tahu kita akan ke sini, dan mempersiapkan semuanya?" Tanya Galih masih tidak percaya jika ini hanya kebetulan semata.
"Aku mengerti.. Bisakah kalian keluar? Saat ini aku sangat lelah, aku membutuhkan istirahat." Ucap Alice menyudahi percakapan ini.
"Baiklah.. Ini sudah larut juga, istirahatlah Al.. Kita ada di sebelah jika kau membutuhkan kami." Ucap Roy dan di angguki oleh Juna. Sedangkan Galih masih belum bisa merelakan pembahasan yang masih belum terselesaikan.
Alice menghembuskan nafasnya kasar. Sepertinya ini sudah di rencakan Belinda, karena wanita itu pasti tahu Alice akan pergi ke mansion untuk menemui wanita itu dan dia menyiapkan ular untuk menjebak Alice.
"Aku tidak akan membiarkan mu kembali berhasil menjebak ku." Ucap Alice dingin dan mengepalkan kedua tangannya yang berada di samping tubuhnya.
***
Ini sudah tiga hari Anton melakukan rawat jalan fisiotherapy untuk mengembalikan fungsi anggota geraknya. Dan saat ini pria itu sudah bisa bergerak seperti sebelumnya, bahkan kini dia sudah melakukan patihan kick boxing bersama Alex anak buahnya.
"Tuan, sepertinya kemampuan bertarung tuan sudah kembali. Sebelumnya saya khawatir tuan terlalu memforsir semuanya agar bisa cepat pulih. Namun melihat tuan pulih dengan cepat saya merasa tenang." Ucap Alex sambil melepaskan sarung tinju di tangannya.
"Alex bagaimana kondisi di kota X?" Tanya Anton khawatir.
"Seperti yang telah tuan ketahui, Paul membantu nona Alice dari belakang layar untuk mendapatkan kembali kendali perusahaan orang tuanya." Ucap Alex singkat.
__ADS_1
"Kalau begitu kita pergi sekarang ke negara X." Ujar Anton dan melemparkan kesembarang arah sarung tinju miliknya.
"Tapi bukankah tuan harus melakukan kintrol terakhir?" Bantah Alex mengenai jadwal mereka.
"Kau tidak lihat aku sudah tidak sakit lagi, untuk apa aku kembali kesana?" Tanya Anton yang langsung membuat Alex terdiam.
"Baiklah tuan." Ucap Alex akhirnya mengalah.
Anton mempersiapkan semua perlengkapan untuk pergi kenegara X. Entah mengapa dia memiliki perasaan yang tidak tenang saat dia tidak bisa melihat langsung kekasihnya itu.
Masih bisa di sebut kekasihkah? Atau hanya dia saja yang menganggap Alice masih miliknya.
Alex memesankan tiket ke negara X untuk mereka malam ini, dan Alex sudah tiba di rumah Anton saat sore hari.
"Tuan, semuanya sudah siap." Ujar Alex saat menghampiri Anton yang sibuk memandangi layar ponselnya.
"Ayo berangkat." Ucap Anton datar dan dengan sigap Alex mendorong koper milik Anton dan segera membawanya turun menuju basement apartement itu.
***
Drrt drrt drrt, Alice terbangun dari tidurnya saat mendengar notifikasi pesan di ponselnya. Alice membuka kunci layarnya dan membaca isi pesan itu.
✉ Jika kau ingin mengetahui di mana ibumu dimakamkan, datanglah ke jalan Hampton sendirian.
Isi pesan itu dari nomor tidak di kenal, namum Alice tahu itu adalah pesan dari Belinda.
"Apakah aku harus pergi? Atau haruskah aku beritahu kepada mereka? Aku tahu ini bisa saja perangkap yang lainnya, namun apa yang harus aku lakukan?" Tanya Alice bingung kepada dirinya sendiri apa yang harus dia lakukan.
Bersambung....
__ADS_1