JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Pesta pertunangan


__ADS_3

Malam hari itu Alice nampak cantik, gaun berwarna biru itu kontras dengan kulitnya yang berwarna putih mulus memberikan kesan yang sangat anggun dan cantik. Senyum indah tampak tak lepas dari wajah Alice, gadis itu merasa sangat bahagia hari ini.


“Kalian sudah siap?” Suara baritone Anton terdengar dari pintu kamar hotel yang terbuka disana tampak Anton berjanan bersama dengan Widi.


“Woahh… you look amazing..” Puji Widi saat melihat Alice di hadapannya. Dan menyenggol lengan Anton yang hanya diam terpana melihat kecantikan Alice.


“Broo you must have something to say..” Bisik Widi sambil menyenggol lagi pria itu. Dia merasa Anton seperti orang bodoh yang hanya diam terpana melihat Alice.


“Ahh.. you..” Ucap Anton yang sadar dari lamunannya.


“Kenapa kalian kemari?” Tanya Lidia memotong ucapan Anton dan tersenyum sebelum anaknya itu sempat mengatakan sesuatu lagi.


“Ayah mencari ibu, dia bilang tamu sudah berdatangan semua dan menunggu kita.” Ucap Anton akhirnya, namun matanya masih saja melirik ke arah Alice.


“Ahh okey. Ibu akan ke bawah. Kalian jangan lama-lama sebentar lagi acara akan di mulai.” Ucap Lidia mengingatkan.


“Baik ibu.” Ucap Alice sambil tersenyum. Lidia meninggalkan ruangan kamar itu, begitu juga dengan Widi yang mengikuti Lidia keluar dari ruangan itu.


Sekarang hanya Anton dan Alice berdua yang berada di ruang kamar VVIP itu.


“Kau sangat sempurna.. aku tidak bisa mengalihkan pandangan ku dari mu..” Puji Anton akhirnya.


“Kau juga sangat tampan.” Puji Alice dengan wajah yang tersipu malu.


“Bolehkah aku mencium mu?” Tanya Anton bodoh.


“Tidak boleh, nanti dandanan ku luntur..” Ucap Alice menggoda kekasihnya itu sambil tersenyum jahil.


“Ohh ayolah.. aku tidak akan merusak make up mu.” Ucap Anton dan kemudian tidak sabar menarik lengan Alice ke arahnya.


Gadis itu menabrak dada bidang Anton dan tubuh mereka berdekatan tanpa banyak membuat jarak. Anton kemudian mengangkat dagu Alice dengan ibu jari dan telunjuknya kemudian mendekatkan bibir mereka. Kecupan kecupan kecil di berikan oleh Anton. Kemudian Anton memiringkan wajahnya dan membuka mulutnya ******* bibir kecil gadis itu. Alice pun menikmati ciuman mereka, tangannya terangkat ke atas melingkari di tengkuk Anton. Tangan anton bergrilya di belakang punggung Alice yang terbuka. Ciuman yang manis yang selalu memabukkan untuk mereka berdua. Hingga Alice menghentikan ciuman mereka dan sedikit mendorong tubuh pria kekar itu.


“Hentikan.. kita sudah di tunggu.. dan kau menghancurkan lipstick dan pakaian ku.” Ujar Alice tersipu namun nafasnya masih sedikit memburu.

__ADS_1


“Ohh god.. aku hampir lupa.. baiklah kita harus segera keluar dari sini, karena jika tidak aku benar-benar tidak tahu apa yang akan aku lakukan kepada mu.” Ucap Anton masih dengan nafas yang memburu namun dengan cepat segera menahan gejolak yang ada di dalam dirinya.


“Tunggu sebentar..” Ucap Alice dan pergi meninggalkan Anton menuju meja rias dan melihat pantulan dirinya di cermin. Lipstiknya masih aman, dan dia sedikit merapihkan dresnya yang sedikit berantakan oleh tangan pria itu.


“Sudah.. ayo berangkat.. aku tidak enak ayah dan ibu pasti sudah menunggu kita.” Ucap Alice cepat dan mendekat kearah Anton.


“Aku jadi tidak rela memperlihatkan mu kepada semua orang.” Ucap Anton sambil sedikit mengerutkan dahinya.


“Jangan konyol Anton. Kita pergi sekarang.” Perintah Alice.


“Baiklah..” Ucap Anton dan mengulurkan siku lengannya untuk di gandeng oleh Alice. Alice menyambutnya dengan megulurkan kedua tangannya yang memegang lengan pria itu.


Mereka berjalan bersisian keluar dari kamar itu. mereka menyusuri lorong hotel itu menuju pintu lift berada.


“Loh.. bukannya pintu tangga darurat ada di sebelah sana? Kenapa kita menuju lift?” Tanya Alice bingung.


“Tidak masalah. Phobia ku tidak seburuk itu. Lagi pula aku sudah sembuh sayang, namun hanya kebiasaan saja aku selalu menuju pintu darurat.” Ucap Anton dan sudah tiba di depan pintu lift itu dan menekan tombol naik menuju ke lantai atas di mana ballroom berada.


“Ohh baiklah..” Ucap Alice dan mengikuti Anton masuk ke dalam lift yang sudah terbuka itu. Anton menekan tombol 12 yang berada di dinding kotak besi itu. Lift berjalan naik ke atas kemudian tidak lama lift berhenti tepat di lantai 12.


Ting… pintu lift terbuka dan mereka keluar dari dalam lift.


“Aku baik-baik saja.” Ucap Anton simple.


“Benarkah, lalu kenapa kau terlalu diam? Apa yang sedang kau pikirkan? Apa kau tidak enak badan karena naik lift tadi?” Tanya Alice mulai khawatir dengan keadaan kekasihnya itu. Padalnya selama naik lift pria itu hanya diam termenung saja.


“Aku tidak apa-apa.” Jawabnya cepat.


“Anton, jawab dengan jujur, kamu tidak apa-apa?” Tanya Alice lagi dan menghentikan jalan mereka menuju ruang ballroom.


“Aku tidak apa-apa..” Ucap Anton namun pria itu melanjutkan ucapannya karena melihat tatapan mata dari kekasihnya itu yang


menyudutkannya, gadis itu tidak membiarkannya berbohong begitu saja.

__ADS_1


“Baiklah aku akan jujur kepadamu.” Anton menjeda ucapannya. “Bisakah kita batalkan menghadiri acara pestanya?” Tanya Anton serius.


“Ha? Kenapa? Kau tidak ingin kita mengadakan pesta pertunangan di depan umum? Atau kau ingin kita membatalkannya?” Tanya Alice mulai khawatir.


“Aishh bukan itu sayang. Aku ingin mengadakan pesta itu, namun aku lebih ingin berdua saja dengan mu dan melanjutkan hal yang tadi.” Ucap Anton konyol.


“Anton kau sangat konyol.” Ucap Alice mendengus kesal.


“Sayang kau tahu, berat sekali loh menahan rindu pada mu ini. Baiklah baiklah.. cepat kita selesaikan acara intinya, nanti kita kabur saja saat acara pesta minumnya.” Usul Anton gila.


“Astaga kau bear-benar aneh.. hentikan ucapan aneh mu itu, yuk cepat ayah dan ibu sedang menunggu.” Ucap Alice dan menyeret tangan kekasih menyebalkannya itu.


Anton berjalan mengikuti langkah Alice, kemudian saat mereka tiba di pintu ballroom, para pelayan membantu mereka membukakan pintu ruangan itu dengan lebar. Semua orang memandang ke arah mereka. Mereka berjalan bergandengan tangan menyusuri para tamu yang sedang duduk di kursi meja masing-masing. Bram tampak sedang berbicara di atas panggung itu.


“Ahh ternyata tamu utamanya sudah tiba. Mari Nak kalian naik ke atas panggung.” Ucap Bram mempersilahkan kedua orang itu untuk naik keatas panggung. Alice dan Anton naik menghampiri Bram dan berdiri disisinya.


“Ini adalah putra bungsu saya Antonius Hadi Jaya. Saat ini selain mengadakan pesta ulang tahun perusahaan, saya juga akan mengumumkan pesta pertunangan putra bungsu saya dengan Alice Anatasya.” Ucap Bram menjelaskan maksudnya membawa Anton dan Alice keatas panggung dan menepuk bahu putra bungsunya itu.


Tiba-tiba Lidia dan Amanda naik ke atas panggung. Amanda memengang sebuah baki kecil yang di atasnya terdapat kota beludru berwarna hitam menawan. Lidia berdiri di samping suaminya. Dan Amanda berdiri di samping Lidia.


“Baiklah ini sebagai simbolis silahkan kalian saling tukar cincin.” Ucap Bram.


Amanda maju mendekatkan baki itu ke arah Lidia. Lidia mengambil cincin kecil bertahtakan berlian dengan permata berwana biru kemudian menyerahkannya kepada Anton. Anton mengambil cincin itu dari tangan ibunya kemudian memasangkannya di jari manis tangan kiri Alice. Kemudian Lidia mengambil satu cincin berukuran besar dan di berikan kepada Alice. Alice mengambil cincin itu dari tagan Lidia dan kemudian memasangkannya di jari manis tangan kiri Anton. Setelah itu semua tamu bertepuk tangan dengan meriah. Menyambut kebahagiaan dua pasangan baru itu.


Anton mencium kening gadis itu di depan semua orang, Alice tersipu malu. Lidia memeluk tubuh putra bungsunya memberinya ucapan selamat, setelah itu Lidia kemudian memeluk tubuh Alice dan memberikannya ciuman pipi kiri dan pipi kanan gadis itu sambil membisikkan sesuatu di telinganya “Kebahagiaan itu bisa di gapai dengan cara berusaha, maka berusahalah agar kalian selalu di berkahi kebahagiaan.” Setelah mengucapkan itu, Bram juga merangkul tubuh Anton dan juga tubuh Alice memberi mereka berdua ucapan selamat.


Amanda turun ke bawah sedangkan keempat orang itu berfoto dengan Alice dan Anton yang berdiri di tengan-tengah memperlihatkan jari manis tangan kiri mereka, untuk acara dokumentasi malam itu. Anton merangkul pinggang Alice mesra. Di sebelahnya adalah Lidia ibunya, sedangkan di sebelah Alice adalah Bram ayahnya. Setelah foto berempat selesai, Bram dan Lidia turun membiarkan Anton dan Alice berfoto berdua. Setelah mereka foto berdua, Anton dan Alice turun dari panggung dan pembawa acara melanjutkan membawa acara menghangatkan ruangan itu kembali.


Acara selanjutnya adalah acara makan dan minum yang di selingi berbincang , setelah itu acara berikutnya adalah acara beramah tamah dan beberpa orang datang menghampiri Alice dan Anton yang sedang berkeliling mendekati para rekan kerja senior ayahnya yang dia kenal.


“Selamat untuk mu Antonius, akhirnya ayah mu tidak perlu khawatir lagi.” Ucap salah seorang senior teman ayahnya.


“Terimakasih paman chen.” Ucap Anton sopan. Tanpa mereka ketahui seseorang yang hadir di sana melihat kemesraan dua pasangan baru itu dengan tatapan mata yang tajam menghunuskan kebenciannya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2