
Anton di bawa ke ruang UGD kemudian langsung di larikan ke ruang oprasi untuk segera di lakukan tindakkan. Alice menunggu Anton di depan pintu ruang oprasi dengan cemas. Gadis itu tidak berhenti mondar-mandir di depan ruang oprasi dengan wajah kacaunya dan pakaian yang berlumuran d*rah. Gadis itu berdoa tidak henti-hentinya berharap pria itu bisa keluar dari ruang oprasi dengan keadaan baik-baik saja dan dapat kembali kepelukannya.
Brakk
Pintu ruang oprasi terbuka seseorang menggunakan jubbah berwarna hijau tua membawa sesuatu bungkusan di tangannya dan datang menghampiri Alice.
“Keluarga Antonius?” Tanya wanita itu.
“Iya. Saya keluarganya.” Ucap Alice khawatir dan langsung berpikir macam-macam tentang keadaan Anton di kepalanya. Bagaimanapun dia pernah kehilangan Sinta akibat sebuah tembakan, bayang-bayangan itu membuat Alice jadi terlihat sangat gelisah dan khawatir.
“Suss.. bagaimana keadaan dia? Apakah dia baik-baik saja?” Tanya Alice dengan suara sedikit bergetar karena khawatir dan takut.
“Oprasi masih belum selesai dan saya tidak dapat memberitahukan keadaan pasien sekarang, nanti akan ada dokter yang menjelaskannya. Saya kemari ingin memberikan barang pasien berupa satu stel pakaian, ikat pinggang, sepatu dan ponsel milik pasien, dan dari tadi ponselnya berbunyi saya khawatir itu panggilan penting maka dari itu saya menyerahkannya.” Ucap perawat itu sambil menyerahkan bungkusan itu.
“Terima kasih.” Ucap Alice dan menerima bungkusan itu masih dengan tangannya yang bergetar dan berlumuran da*rah yang sudah mulai mengering.
“Sepertinya oprasinya masih akan membutuhkan waktu.. saya sarankan anda coba duduk dahulu atau membersihkan diri. Atau apakah anda terluka juga?” Tanya perawat itu lagi yang melihat wajah Alice yang sedikit pucat.
“Tidak sus.. saya baik-baik saja.” Ucap Alice masih dengan tangan yang gemetar memegang bungkusan di tangannya.
“Jika begitu, istirahatlah dahulu atau bahkan isi perut dahulu.” Ucap perawat itu dan membantu mendudukkan Alice di kursi tunggu depan ruang oprasi itu.
“Saya permisi dahulu ya.” Ucap perawat itu.
“Iya sus terima kasih.” Ucap Alice dan melihat perawat itu pergi meninggalkannya sendiri.
Alice sekuat tenaga mencoba untuk tenang namun bagaimanapun dia mencoba tenang, gadis itu tetap tidak bisa tenang. Gadis itu berpikir seharusnya dia yang menerima muntahan timah panas itu dan gadis itu malah menyalahkan dirinya sendiri karena telah melibatkan Anton dalam masalahnya ini.
“Semua ini salah ku.. Jika saja aku tidak berhubungan dengan mu, masalah ini tidak akan terjadi.. Jika saja aku lebih waspada aku tidak akan membiarkanmu melindungi ku dari tembakkan itu.. Kumohon bertahanlah.. Baik-baik sajalah..” Ucap Alice monoton kepada dirinya sendiri.
Kemudain tak berapa lama perawat itu datang kembali dan berdiri di hadapan Alice yang sedang duduk termenung sambil melihat bungkusan di lengannya itu.
“Sudah saya duga. Anda pasti tidak akan kemana-mana.” Ucap perawat itu.
Alice yang masih termenung dengan dunianya sendiri tidak menyadari kehadiran perawat itu. Perawat itu meletakkan barang yang di bawanya di samping kursi Alice dan kemudian perawat itu memegang kedua bahu Alice dengan kedua tangannya untuk menyadarkan Alice dari lamunannya.
“Anda harus membersihkan diri terlebih dahulu. Ini ada pakaian saya yang saya bawa lebih, kebetulan belum saya pakai. Pakai saja jika anda tidak keberatan.” Ucap perawat itu menyadarkan Alice dari lamunannya dan menyerahkan sebuah pakaian berwarna kuning yang sudah di bungkus dengan sebuah plastik.
“Toiletnya tidak jauh dari sini. Ada di ujung lorong ini belok kiri. Saya akan memberitahu anda jika memang pasien sudah selesai dengan oprasinya.” Ucap perawat itu lagi menyuruh Alice untuk pergi dan membersihkan dirinya. Gadis itu masih diam saja menunduk melihat tangannya dan tidak bergerak kemana-mana.
__ADS_1
“Bukankah anda juga tidak ingin membuat orang yang berada di dalam sana khawatir dengan keadaan anda. Jika dia melihat anda dengan keadaan seperti ini, itu malah akan membuatnya juga khawatir terhadap anda.” Ucap perawat itu yang akhirnya meluluhkan gadis itu dan mau bergerak beranjak pergi dari sana.
Alice membersihkan tangannya di wastafel, gadis itu menggosok-gosok tangannya dengan sabun karena darah di tangannya sudah mengering. Gadis itu juga membasuh wajahnya dan menggosok-gosoknya menghilangkan bercak darah yang mengering di wajahnya, bahkan meski ada luka di sana. Gadis itu tidak meraskan nyeri atau perih lagi di wajahnya karena rasa sakit di wajahnya masih kalah dengan rasa pedih dan nyeri di dalam hatinya akibat kekasih hatinya yang terluka dan entah bagaimana keadaanya saat ini. Gadis itu mencoba untuk membasuh lehernya untuk memberikan kesan segar di wajahnya.
Alice masuk ke dalam bilik toilet dan menggantinya dengan baju pemberian perawat itu. Dress selutut dengan lengan pendek yang cantik dan pas di tubuh Alice. Alice keluar dari bilik itu dan kembali ke depan cermin wastafel dan melihat pantulan dirinya.
“Semua akan baik-baik saja. Dia akan baik-baik saja” Sugesti itu dia ucapkan berkali-kali untuk menguatkan dirinya sendiri.
Alice keluar dari kamar mandi itu dan membuang bajunya yang sudah berlumuran darah itu ke tempat sampah. Gadis itu berjalan menyusuri lorong menuju kursi tunggu ruang oprasi.
“Kau jauh tampak lebih baik.” Ucap perawat itu saat melihat kedatangan Alice kearahnya.
“Ya.. terima kasih banyak, atas bantuanmu.” Ucap Alice sambil duduk di samping perawat itu dan sudah bisa memberikan sedikit senyumnya.
“Ini untuk mu.” Ucap perawat itu menyerahkan minuman isotonic dan sebungkus roti kepada Alice. Alice hanya bengong melihat perawat itu.
“Ambillah. Aku khawatir kau bisa ambruk kapan saja saat ini.” Ucap perawat itu lagi dan menggerakkan minuman isotonic dan roti itu lagi agar di ambil oleh Alice.
“Terima kasih banyak. Aku sudah banyak merepotkanmu.” Ucap Alice.
“Tak masalah. Aku pernah ada di posisimu jadi aku tahu bagaimana rasanya. Aku hanya ingin menemanimu, tak perlu merasa sungkan. Ah ya namaku Nabila dan sepertinya aku lebih tua dari mu.” Ucap perawat itu mengulurkan tangannya.
“Apakah aku mengganggu jadwal kerja mu kak?” Tanya Alice tidak enak hati Nabila mau meluangkan waktu untuk menemaninya.
“Ahh tidak. Jadwalku sudah selesai. Aku akan menemanimu agar kau tidak termenung memikirkan hal-hal buruk di dalam pikiranmu itu.” Ucap Nabila memahami keadaan Alice.
“Sinikan wajahmu.” Ucap Nabila lagi. Alice hanya menuruti keinginan Nabila dan mendekatkan wajahnya kedepan Nabila.
“Jika tidak segera di obati, nanti kau akan memiliki bekas luka. Sayang sekali wajah secantik ini jika memiliki sebuah luka di wajah bukan.” Ucap Nabila dan mengoleskan salep obat dan menutupnya dengan plaster di pipi kanan gadis itu.
“Sudah..”
“Terima kasih.. sungguh aku sangat berterima kasih kepadamu kak.” Ucap Alice melihat wanita di depannya ini sangat pengertian dengannya.
“Tentu.. kau sudah memanggilku kakak, bagaimana mungkin aku mengabaikanmu bukan.” Ucap wanita itu sambil sedikit bergurau.
Kring kring kring ponsel Anton berdering..
“Angkatlah dari tadi ponsel itu berbunyi.” Ucap Nabila.
__ADS_1
Alice menganggukkan kepalanya dan mengangkat panggilan itu dengan ID Ibu.
“Halo Nak.. mengapa kau baru mengangkat ponselnya sekarang.. sedang di mana kamu.. entah mengapa hati ibu sedikit tidak tenang. Apa kau baik-baik saja?” Rentetan pertanyaan itu datang begitu saja sesaat panggilan itu di terima.
“Halo bu.. ini Alice..” Ucap Alice sedikit gugup.
“Alice.. ahh.. kau sedang bersama Anton.. dimana anak itu, mengapa tidak menjawab panggilan ibu.” Ucap wanita itu.
“A a Anton terluka, dan sedang dalam penanganan dokter di ruang oprasi.” Ucap Alice dengan suara bergetar.
“Apa? Bagaimana bisa? Apa yang sebenarnya terjadi.” Ucap wanita itu dengan rentetan pertanyaan.
“Ada apa Buu..” Ucap suara baritone dari sebrang telepon.
“Anton Yah… Anton di rumah sakit.” Ucap Lidia dengan gemetar dan kalut.
“Ibu tenang dahulu. berikan ponselnya biar ayah yang bicara.” Ucap pria itu dan meminta ponsel dari istrinya.
“Halo Nak..” Ucap pria itu.
“Halo Yah..” Ucap Alice dan langsung menangis tersedu saat mendengar suara pria itu.
“Tenangkan dirimu Nak.. bisakah ceritakan apa yang sedang terjadi?” Tanya Bram tenang dan menenangkan Alice.
“Anton hiks.. Anton terluka tembak Yah.. hiks saat ini dia masih dalam penangnan dokter di ruang oprasi.” Ucap Alice yang beberapa kali tersenggal oleh tangisnya sendiri.
“Anak baik.. kau pasti sangat ketakutan sekarang. Tenangkan dirimu.. Kami akan segera kesana. Beritahu di mana rumah sakitnya.” Ucap Bram.
“Baik Yah.. Ini rumah sakit Healthy Centre di pinggir kota S di negara B.” Ucap Alice.
“Anton anak yang kuat dia pasti akan baik-baik saja. Kau harus tenang. Kau juga harus kuat. Kami akan segera kesana, kebetulan rumah sakit itu punya rekan kerja ayah. Kami akan langsung ke sana dengan helicopter kebetulan di sana ada helipad. Kami akan tiba di sana dengan cepat. Kau jaga diri ya nak, kami titip Anton kepadamu.” Ucap Bram dan menenangkan Alice.
“Baik yah..” Ucap Alice dan panggilan itupun di matikan.
“Bagaimana apa semua baik-baik saja?” Tanya Nabila ikut khawatir.
“Mereka akan segera kemari. Semua akan baik-baik saja.” Ucap Alice kepada Nabila dan kepada dirinya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1