JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Awal masalah


__ADS_3

“K kau.. berani sekali kau..” Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya, Alice berbicara lagi.


“Meskipun kau meleb*arkan kedua pa*hamu di atas ran*jang tanpa menge*nakan pak*aian barang sehe*lai benangpun, aku sangat yakin 1000% Anton tidak akan pernah melirikmu. Jadi mela*curlah kau di tempat lain.” Ucap Alice telak kemudian memundurkan tubuhnya dan berdiri.


“KAU! KAU benar-benar kurang ajar.” Ucap Diana kesal.


“Jadi pergilah kau dari sini Nona, jika tidak aku akan menyeretmu keluar kamar ini dan membuat keributan di luar sana agar semua tamu penghuni lantai ini keluar dari kamar mereka. Siapa tau salah satu dari mereka ingin mencicipimu atau bahkan semua orang yang berada di lantai ini tergiur oleh tubuhmu itu.” Ucap Alice dengan senyum sinis.


“Kau berani-beraninya!”


“Kau mau aku membuktikan ucapan ku?” Ucap Alice dan mencoba mendekati Diana lagi, namun wanita itu langsung berdiri dengan cepat dan berlari keluar kamar Anton dengan mengetatkan handuk kimono di tubuhnya. Sambil membanting keras pintu kamar.


“Alice.. kau percaya pada ku bukan?” Ucap Anton mendekati Alice dan mengenggam tangan gadis itu setelah melihat wanita pengganggu itu keluar dari kamarnya.


Alice menepiskan tangan Anton kasar dan menatapnya tajam.


“Jangan pernah mencoba menyentuhku.” Ucap Alice ketus.


“Alice sayang. Aku bersumpah demi nyawaku sendiri. Aku tidak melakukan apapun aku tidak tahu dia ada di dalam kamar. Sebelumnya aku keluar kamar ada panggilan dari resepsionis dan saat aku kembali kau sudah datang dan kejadian tadi terjadi.” Ucap Anton jujur.


“Alice aku benar-benar hanya mencintaimu.” Ucap Anton frustasi.


“Pergi bersihkan dirimu, aku tidak sudi di sentuh oleh mu bekas memegang wanita gila itu.” Ucap Alice sedikit luluh.


“Baik. Aku akan segera mandi. Aku juga merasa jijik menyentuh lengannya.” Ucap Anton dan bergegas ke kamar mandi membersihkan dirinya.


Tanpa diduga Diana keluar dari unit kamarnya setelah mengenakan dressnya dan kembali menerobos masuk ke dalam kamar Anton dengan menggenggam sebilah pis*au buah. Wanita itu langsung berlari menghampiri Alice dan menyerang mencoba meni*kam gadis itu dengan pis*au itu.


“Enyahlah kau wanita ja*lang! Dengan kau enyah dari dunia ini, Anton pasti akan melirikku.” Ucap Diana gila sambil menu*sukkan pis*au itu ke tubuh Alice.


Alice yang tidak siap dengan serangan Diana yang tiba-tiba langsung membelalakan matanya kaget.


“Mam*pus kau.” Ucap Diana tersenyum kemenangan dengan mengira Alice sudah terti*kam oleh pis*aunya di bagian perut gadis itu.


Namun ternyata dengan refleksnya Alice yang memang bagus, meskipun tidak sempat menghindar Alice bisa menghadang pis*au itu dengan telapak tangannya sehingga pis*au itu tidak menu*suk ke perutnya. Saat pis*au itu tertahan di tangan kanannya, Alice merebut pis*au itu dan melemparnya jauh ke sudut ruangan itu. Kemudian Alice langsung mengangkat tangan kanannya dan menampar Diana dengan keras sehingga ujung bibir wanita itu sob*ek dan mengeluarkan darah, serta terdapat bercak da*rah di pipi wanita itu adalah darah di telapak tangan Alice. Namun belum selesai hanya sampai di situ saja, Alice menen*dang perut wanita itu hingga beberpa jauh terdorong dan terjerembab jatuh dengan bokongnya mendarat keras di lantai.


Anton yang mendengar keributan dari luar kamar mandi langsung berpakaian dan datang melihat keadaan. Pria itu membelalakan matanya saat melihat tangan kanan Alice yang menetes berlumuran dar*ah.


“Alice sayang kau tidak apa-apa?” Ucap Anton khawatir dan berlari secepatnya menghampiri Alice.


“Aku tidak apa-apa.” Ucap Alice menenangkan Anton.


“Aku akan beri wanita itu pelajaran.” Ucap Anton akan mendekati Diana, namun Alice menghentikan langkah Anton dengan menarik lengan Anton.


“Hentikan itu. Kau hanya akan mengotori tangan mu. Hubungi saja polisi sekarang juga. Biarkan wanita ini merasakan bagaimana berkumpul bersama dengan orang-orang yang berkelakuan sama dengannya.” Ucap Alice datar.


Mendengar ucapan Alice, Diana langsung takut dengan bayangan yang akan dia alami kedepannya. Wanita itu langsung berdiri dan pergi lari keluar dari kamar itu.

__ADS_1


"Aku akan hubungi polisi." Ucap Anton dan mencari ponselnya.


"Kau tidak bisa melakukan itu." Ucap Alice.


"Kenapa? Kau terluka.. Dia akan melakukan penyerangan bahkan jika kau tidak waspada, dia berencana melenyapkanmu. Aku tidak bisa diam saja." Ucap Anton emosi.


"Tidak saat ini. Aku masih dalam misi, aku tidak bisa mengungkap jati diri ku sekarang. Mungkin lain kali saja. Panggil saja petugas hotel untuk membersihkan lantai dan penerobosan saja." Ucap Alice menjelaskan.


"Baiklah aku akan turuti mau mu." Ucap Anton dan beranjak menelpon menggunakan telepon kamar hotel.


Anton menghubungi petugas hotel untuk memberitahukan mereka mengenai kekacawan ini, bahkan dia juga akan meminta penyelidikan mengenai penerobosan Diana kedalam kamarnya.


Anton kemudian melihat luka di tangan Alice cukup dalam dan akan membawanya ke rumah sakit.


“Kita ke rumah sakit saja.” Ucap Anton.


“Tidak perlu ke rumah sakit. Minta mereka membawakan hecting kit (instrument untuk menjahit luka)dari klinik mereka saja.” Ucap Alice menolak di bawa ke rumah sakit.


“Tapii..” Bantah Anton.


“Bukankah di sini sudah ada dokternya.” Ucap Alice sambil memperlihatkan senyumnya kepada kekasihnya itu.


“Baiklah aku akan meminta mereka membawakannya.” Ucap Anton dan menghubungi kembali pihak hotel.


Tak berapa lama petugas kebersihan, keamanan hotel bahkan manajer hotelpun datang ke kamar mereka. Salah seorang dari mereka menyerahkan sebuah tas kecil dan beberapa cairan Nacl, alkohol, spuit dan bahkan sebuah ampul berisi obat anestesi (untuk menghilangkan rasa sakit).


Anton mengambil semua alat itu dan segera menggunakan sarung tangannya,pria itu langsung membersihkan luka Alice dan mulai menyuntikkan obat anestesi dan mulai menjahit luka Alice.


“Tidak. Kau lanjutkan saja.” Ucap Alice, dan Anton kembali fokus menjahit luka gadis itu.


Alice memperhatikan wajah Anton yang sedang fokus dengan tangannya itu.


‘Astaga Pria ini benar-benar terlihat sangat tampan, oleh karena itu bisa membuat si Diana benar-benar tergila-gila pada pria ini. Kau memang titisan malaikat sepertinya.’ Batin Alice sambil tersenyum melamun.


“Sudah selasai.” Ucap Anton membuyarkan lamunan Alice.


“Apakah ada yang tidak nyaman?” Tanya Anton khawatir melihat kekasihnya dari tadi diam saja.


“Tidak aku baik-baik saja.” Ucap Alice.


“Bagaimana, apakah ada yang bisa kami bantu. Apakah kami perlu melaporkannya kepada kepolisian untuk pencarian terhadap penyerangan ini.” Ucap manager hotel itu bertanya.


“Tidak perlu. Kami hanya ingin kamar yang lain. Dan aku ingin informasi siapa yang telah memberikan akses masuk untuk ke kamar ku beserta informasi palsu mengenai mobilku yang di tabrak di basement sebelumnya. Cari tahu sampai dapat.” Ucap Anton tegas.


“Baik Pak kami akan segera menyelidikinya. Mari saya akan antarkan kalian ke kamar lain, nanti akan ada pelayan yang memebereskan pakaian dan barang bawaan anda ke kamar baru anda.” Ucap Manager itu.


Anton mengangguk dan mengikuti manager itu, begitu juga dengan Alice.

__ADS_1


Alice baru ingat sesuatu, bahwa anton tidak bisa menaiki lift.


“Emhh adakah kamar yang kosong di lantai ini. Meski presidential suit juga boleh.” Ucap Alice menghentikan manager yang berjalan di depan mereka.


“Ahh ada.. mari kalau begitu di sebelah sini.” Ucap manager itu dan sedikit berbelok kanan di ujung jalan dekat pintu lift.


“Silahkan masuk. Silahkan duduk.” Ucap manager itu, “Mohon di tunggu sebentar.” Lanjutnya lagi kemudian menggunakan telepon kamar itu untuk menghubungi resepsionis. Setelah selesai bertelepon tak lama seseorang mengetuk pintu.


“Masuk.” Ucap Manger itu.


Dua orang petugas hotel dengan membawa masing-masing sebuah troli dengan tutup saji di troli bagian atasnya dan di bawahnya terlihat botol minuman dan beberapa snack maupun buah-buahan. Mereka meletakkan makanan di atas meja, dan memasukkan snack maupun minuman ringan ke dalam lemari maupun lemari es. Satu troli lagi seorang petugas hotel masuk ke dalam dan menyimpan beberapa kebutuhan perlengkapan menginap di hotel itu, kemudian setelah dia selesai mengerjakan pekerjaannya, pelayan itu menyerahkan dua buah kartu kunci kamar itu kepada manager itu.


“Kalian boleh kembali.” Ucap manager menyuruh para petugas hotel itu meninggalkan ruangan.


“Ini dua kuncinya Tuan, mohon maaf atas ketidak nyamannannya. Saya akan memantau langsung penyelidikan ini.” Ucap pria itu, kemudian pamit pergi meninggalkan Alice dan Anton.


Disisi lain malam itu di sebuah bar terkenal di kota S...


Diana duduk di depan meja bar bartender, wanita itu telah menghabiskan vodka gelas keduanya. Meski sudut bibirnya sedikit robek dan menimbulkan rasa yang perih, namun wanita itu mengabaikannya dan meminta di buatkan gelas ketiganya. Seorang pria tiba-tiba datang mendekatinya dan duduk di sampingnya.


“Wah wah wah, sepertinya kau orang baru ya Nona.” Ucap pria itu.


“Enyahlah kau dari sini.” Ucap Diana ketus.


“Wanita cantik sepertimu duduk sendirian sepertinya sangat sayang sekali. aku akan menemani mu.” Ucap pria itu lagi.


“Aku tidak membutuhkannya. Kubilang .. Enyahlah..” Ucap Diana ketus dan mulai menyesap minumannya lagi yang telah di tuangkan oleh bartender.


“Sepertinya kau sedang ada masalah Nona, katakan saja siapa tahu aku bisa membantumu.” Ucap pria itu dan masih enggan meninggalkan Diana sendirian.


“Aku ingin kau meleny*apkan seseorang. Bisakah kau? Jika tidak bisa, enyahlah kau dari sini.” Sinis Diana lagi.


“Hahaha aku suka gayamu. Aku akan membantumu. Tapi kau tahu bayarannya cukup mahal.” Ucap pria itu langsung.


“Apa maksudmu? Kau serius?” Tanya Diana mulai tertarik dengan pembicaraan ini dan menghadap pria di sampinggnya itu.


Pria itu tinggi besar menggunakan kaus berwarna hitam tanpa lengan dengan tato tikus hitam di sebelah tangan kanannya.


“Tentu saja. Aku adalah wakil ketua genk Black Mouse mafia yang terkenl di kota ini. Aku bisa melakukan apapun yang aku mau.” Ucap pria itu bangga kepada dirinya sendiri.


“Benarkah itu, jika begitu bantu aku menyingkirkan seorang wanita. Berapapun harganya aku akan membayarnya.” Ucap Diana sambil memperlihatkan senyum sinisnya.


“Hahaha aku suka itu, namun selain itu aku juga menginginkan mu. Bisakah kau melakukan itu?” Ucap pria itu sambil memperhatikan tubuh Diana dari atas sampai ke bawah, kemudian pria itu tersenyum miring.


“Tentu saja tidak masalah. Nama ku Diana. Aku suka berbisnis dengamu.” Ucap Diana.


“Aku Roxi.. Jika begitu, mari kita lanjutkan berbicara di tempat yang lebih tenang.” Ucap pria itu bangkit berdiri dan mengulurkan tangannya kepada Diana.

__ADS_1


“Tentu saja.” Ucap Diana dan menyambut uluran tangan Roxi dan mengikuti pria itu menuju lantai atas yang merupakan kamar hotel.


Bersambung....


__ADS_2