
Alice sudah siap dengan pakaian santainya gadis itu memilih menggunakan kaus putih berkerah klasik dengan lengan pendek dan bordiran hitam di dadanya yang memiliki kancing depan, baju itu perpaduan antara kaus dan kemeja. Untuk bawahannya Alice memilih menggunakan celana bahan berwarna hitam.
Tok tok tok.
Suara ketukan pintu di luar ruangan Alice.
"Masuk.." Ucap Alice dam seseorang membuka handle pintu dan tampaklah sosok seorang pria di balik pintu itu.
"Al.. Kau tidak apa-apa?" Ucap pria itu saat sudah masuk ke dalam ruangan Alice.
"Oh.. Hai Gal.. Aku tidak apa-apa tidak perlu cemas hanya luka kecil." Ucap Alice dan memperlihatkan lengannya yang dibalut perban.
"Tidak biasanya kau pulang dengan penuh luka seperti itu." Ucap Galih.
Yaa ternyata pria yang datang ke ruangan Alice adalah Galih. Pria itu khawatir tentang gadis itu. Tadinya dia sudah mau datang menghampiri gadis itu saat Alice baru saja masuk ke dalam kantor. Namun Galih tahu kebiasan Alice, gadis itu pasti membutuhkan waktu dahulu untuk membersihkan dirinya.
"Aku hanya sedikit sial." Ucap Alice menenangkan pria itu.
"Baiklah aku percaya itu." Ucapnya singkat.
"Aku sudah siap.. Yuk aku harus melapor dahulu." Ucap Alice dan diangguki oleh Galih. Pria itu dengan santai mengekor di belakang tubuh Alice.
Saat Alice dan Galih keluar dari ruangannya, mereka tidak sengaja berpapasan dengan Maya dan Juna dari kejauhan. Juna yang tampak berjalan mengekor Maya dan hendak mensejajarkan langkahnya, namun di sana tampak Maya dengan wajah kesalnya mengabaikan Juna.
"Apakah mereka bertengkar?" Tanya Galih heran melihat sikap sahabatnya yang sedikit aneh.
"Entahlah.. Mungkin saja." Ucap Alice santai dan menyapa Maya dan Juna yang tidak melihat kehadiran kedua orang itu.
"Hai Kak Jun, Maya." Ucap gadis itu dan membuat kedua orang itu menoleh sadar bahwa ada seseorang di sana.
"Bu Al.. Pak Galih." Ucap Maya sopan saat melihat ternyata di sana ada Alice dan Galih yang menatapnya.
'Aku harap mereka tidak melihat perdebatan ku. Aishh sungguh memalukan ini semua karena pria menyebalkan ini.' Batin Maya.
__ADS_1
"Hemm.." Jawab Galih santai.
"Yuk kita bersama saja." Ucap Alice mengajak ketiga orang itu untuk pergi bersama menuju ruangan Roy. Juna dan Maya mengangguk setuju dan mereka berjalan bersama menuju ruangan Roy.
Tok tok tok pintu ruangan Roy diketuk dari luar.
"Masuk." Ucap suara dari dalam. Juna membuka pintu itu lebar dan mempersilahkan Alice dan Maya masuk duluan.
Tampak pria itu sedang berdiri dan menempelkan ponsel di telinganya. Dia mengulurkan jari telunjuknya untuk meminta waktu sebentar.
📞"Baiklah Bu.. Kita bicarakan nanti lagi masalah ini.. Aku harus menyelesaikan urusan pekerjaan dahulu. Aku akan menghubunginya jika aku sudah memiliki waktu. Ya.. Ya.. Baik ibu." Ucapnya dan kemudian mematikan telepon itu dan menghela nafas panjang kemudian menyimpan ponselnya di saku celananya.
"Sorry." Ucap pria itu kepada Alice, Maya, Juna dan Galih.
"Ada masalah?" Tanya Alice.
"Tidak ada hanya masalah pribadi yang membuatku pusing. Ohya kau tidak apa-apa Al?" Ucapnya saat melihat gadis itu memiliki beberapa luka di lengan dan telapak tangannya.
"Aku tidak apa-apa kak." Ucap gadis itu.
"Saya baik-baik saja Pak." Ucapnya tegas.
"Baiklah kalau begitu silahkan duduk, mari kita mulai rapatnya." Ucap pria itu dan menyuruh untuk memulai laporan mereka masing-masing.
***
Sedangkan di sisi lain.
"Tuan.. Saya sudah mendapat kabar mengenai nona Alice. Mereka sudah tiba di dermaga kota A saat ini mereka sedang di pusat RJP dan rencananya nona Alice akan pulang ke rumahnya." Ucap Paul yang mendapatkan informasi dari Maya.
"Ah.. Syukurlah.. Apakah cederanya parah?" Tanya Anton lagi.
"Ada tiga luka di tubuhnya. Luka sabetan benda tajamnya pada lengan dan telapak tangannya lumayan dalam dan itu sudah di tangani, sedangkan luka di bagian perutnya tidak terlalu dalam dan sudah di tangani." Jelas Paul.
__ADS_1
"Telapak tangan? Setahu ku hanya luka di lengan dan perutnya saja saat aku meninggalkan gadis itu. Bagaimana bisa di memiliki luka lain. Tidak ada penjahat lain yang muncul di sana. Aku sudah memastikan melumpuhkan mereka semua." Ucap Anton.
"Tuan.. Saya sudah memeriksa rekaman cctv yang berada di koridor itu. Untuk luka di telapak tangannya, dia yang melukai telapak tangannya sendiri." Ucap Paul menjelaskan.
"Apa? Untuk apa dia melukai dirinya sendiri. Berikan pada ku rekaman lengkapnya." Ucap Anton dan Paul dengan segera membuka tablet yang berada di lengannya dan membuka sebuah video cctv lalu menyerahkannya kepada Anton.
Pria itu melihat kejadian saat Alice bertarung dengan beberapa pria sekaligus dan memang gadis itu hanya memiliki luka di lengan dan perutnya saja hingga pria itu melihat video dirinya datang dan menyelamatkan Alice.
Anton juga melihat Alice mengambil pisau lipat miliknya yang di lemparkan kearahnya dan kemudian beranjak pergi dan tertegun sebentar. Barulah tampah tetesan demi tetesan darah keluar dari celah tangan gadis itu. Pria itu masih memperhatikan semua gerak-gerik Alice di video itu sampai gadis itu tidak terlihat lagi dari cctv koridor.
Anton mencoba mengingat-ingat apa yang dia ucapkan kepada gadis itu yang membuatnya melukai telapak tangannya sendiri. Akhirnya pria itu ingat dengan apa yang terjadi.
"Kau benar-benar melukai dirimu sendiri karena aku kah? Apa kau juga sama menderita seperti diri ku yang selalu merindukan mu?" Ucap Anton monoton dan memutar kembali di rekaman itu saat gadis itu menggenggam erat pisau lipatnya. Anton menghentikan video rekaman itu dan hanya memperhatikan wajah dan tubuh Alice.
"Kau jauh tampak lebih menderita dari ku." Ucap pria itu lagi.
"Tuan.." Ucap Paul yang menyadarkan Anton bahwa pria itu tidak sendirian berada di ruangan itu.
"Ah.. Ini." Ucapnya dan menyerahkan tablet kepada Paul.
"Tuan.. Mengapa anda tidak menjelaskannya langsung kepada nona Alice apa yang sebenarnya terjadi? Agar setidaknya dia bisa mengetahui kejadian sebenarnya." Ucap Paul lagi menyarankan.
"Apa gunanya Paul.. Semua itu memang salah ku.. Tidak ada gunanya aku membuat alasan-alasan. Itu memang salah ku dan aku akan mempertanggung jawabkan kesalahan ku itu." Ucap Anton dan menyandarkan kepalanya ke punggung sofa.
"Tuan.. Tapi musuhnya sebenarnya bukanlah anda.. Melainkan.." Ucap Paul hendak menyadarkan Anton agar pria itu mau merubah pola pikirnya.
"Aku tahu.. Maka dari itu aku akan melindungi dirinya meski harus mengorbankan diriku sendiri. Aku hanya ingin dia hidup aman dan bahagia. Biarkan aku yang menghadapi semua musuh musuhnya." Ucap pria itu tenang namun penuh keyakinan.
"Siapkan kapal, kita akan segera ke kota A dan membuat rencana selanjutnya." Ucap Anton singkat.
"Baik Tuan." Ucap Paul dan segera meninggalkan tempat itu.
'Anda benar-benar keras kepala Tuan. Mungkin jika anda memberitahukan kenyataannya, kisah kalian tidak akan berakhir seperti ini.' Batin Paul dan menggelengkan kepalanya samar.
__ADS_1
Bersambung....