JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Awal perpecahan


__ADS_3

Setelah makan siang bersama di ruangan Roy, Alice, Galih dan Juna pergi menuju ruangan kerja masing-masing untuk memberi intruksi kepada divisi mereka masing-masing hasil dari rapat itu. Sedangkan Alice mempersiapkan barang bawaannya untuk di bawa ke kota X.


Setelah mempersiapkan semua barangnya dan memasukkannya ke dalam koler kecilnya, Alice mendorong koper itu keluar dari ruang kerjanya.


"Mau kemana Al?" Tanya Galih saat berpapasan dengan Alice di depan ruang kerja gadis itu.


"Aku mau ke rumah sakit.. Nanti aku akan berangkat dari sana." Ucap Alice dan mendapatkan anggukkan dari Galih.


"Maaf aku tidak bisa mengantar mu ke rumah sakit, aku masih harus mengurus beberapa hal di sini." Pria itu tampak sedikit khawatir jika harus meninggalkan Alice sendirian.


"Kau ikut bersama ku saja.. Aku juga akan ke rumah sakit.. Pekerjaan ku sudah selesai di sini." Ucap Galih yang tiba-tiba muncul di depan mereka.


"Baiklah.." Ucap Alice setuju.


"Yuk.." Ucap Juna dan langsung mendorong koper milik Alice membantu gadis itu membawanya. Alice berjalan mengikuti Juna dari belakang.


"Kau sudah memutuskan kapan berangkat?" Tanya Juna kepada Alice saat mereka masuk ke dalam lift.


"Besok saja bagaimana? Lebih cepat kita pergi lebih cepat juga kita mendapatkan informasi dan melakukan perencanaan ke depannya."


"Kau yakin tidak menunggu beberapa hari kedepan?" Tanya Juna lagi memastikan. Alice mengangguk yakin dengan keputusannya.


"Baiklah kalaiu begitu.. Aku akan memberitahu Galih besok kita akan berangkat ke kota X." Ucap Juna.


Pria itu kembali mendorong koper milik Alice keluar dari lift saat pintu lift sudah terbuka. Beberapa karyawan yang berpapasan dengan mereka membungkuk hormat.


Juna memasukkan koper Alice ke dalam mobilnya dan membantu membukakan pintu samping mobilnya untuk memudahkan Alice duduk di sampingnya.


Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal Juna mengendarai mobilnya membelah jalanan senja yang mulai padat di kelilingi oleh beberpa kendaraan yang hendak pulang kerja.


"Ada yang ingin kau beli dahulu?" Tanya Juna saat mereka sudah memasuki kawasan rumah sakit.


"Tidak kak.." Ucapnya sambil menggeleng.


Alice berjalan bersisian dengan Juna menaiki lift menuju kamar ruang perawatannya. Setelah sampai di lantai tujuan, Juna membawakan koper itu menuju kamar perawatan Alice. Setelah selesai pria itu pamit keluar menuju kamar perawatan Maya yang berada tepat di samping kamar gadis itu.


Alice menyimpan koper itu di dalam lemari dan menguncinya. Setelah merapihkan barangnya, Alice beranjak masuk ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

__ADS_1


"Anda sudah selesai mandi?" Tanya seorang suster saat memasuki kamar rawat Alice yang bertepatan dengan Alice yang menutup pintu kamar mandi.


"Susah sus.." Ucap Alice dan duduk di tepi ranjang.


"Bagaimana keadaan anda? Kita periksa dahulu ya.." Ucap suster itu dan kemudian melakukan pemeriksaan tekanan darah, suhu, nadi serta pernafasan.


"Ada keluhan?" Tanya suster.


"Tidak ada." Jawab Alice ramah.


"Baik.. Ini obatnya.." Ucap suster sambil menyerahkan beberapa bungkusan obat kepadanya.


"Terima kasih sus.." Ucap Alice.


Setelah melakukan pemeriksaan, suster pamit pergi untuk melakukan tugas lainnya dan hanya meninggalkan Alice sendirian di ruangannya.


"Apakah dia merindukan ku?" Gumam Alice dan teringat kekasihnya. Namun ini sudah malam, Anton pasti membutuhkan istirahat. Alice mengurungkan niatnya untuk menjenguk Anton malam itu.


Alice mencoba merebahkan tubuhnya setelah minum obat dan mulai memejamkan matanya. Matanya terasa berat efek dari obat yang di minumnya dan dengan cepat gadis itu mulai terlelap menyambut mimpi.


Sedangkan disisi lain di kota X.


Prang!


Barang-barang kosmetik ternama yang berada di atas nakas berhamburan bertabrakan dengan lantai. Seorang wanita tua yang sedang kesal melampiaskannya dengan menghempaskan semua barangnya ke lantai hingga berhamburan.


"Sial!! Brengse*k! Sudah dua hari dan dia masih belum memberi kabar? Apa yang di lakukan pria bodoh itu? Pekerjaan yang kecil saja masih belum ada kabar!" Belinda mengepalkan tangannya di atas meja rias yang kini bersih dari barang apapun.


"Jangan bilang dia lupa dengan tugasnya dan bersenang-senang dengan para wanita di kota A." Belinda tampak kesal dengan kemungkinan yang terbersit di kepalanya.


"Astaga.. Ada apa ini sayang.. Mengapa sangat berantakan? Mengapa kau tampak kesal?" Tanya Fiktor yang tiba-tiba muncul masuk ke dalam kamar mereka.


"Aku sedang kesal dengan teman arisan ku yang membuat ku kesal. Bukan masalah besar.." Ucap Belinda berbohong.


"Baiklah.. Aku akan menyuruh seseorang untuk merapihkan kekacauan ini." Ucap Fiktor dan keluar dari ruang kamar itu.


Tidak berapa lama dua orang pelayan masuk dan membersihkan semua kekacauan yang di buat Belinda.

__ADS_1


Belinda dengan santainya berjalan di antara pecahan-pecahan kaca itu dengan menggunakan hak tingginya melewati para pelayannya yang sedang menunduk memunguti barang-barang yang dia hempaskan.


"Sayang.." Ucap Belinda manja kepada Fiktor saat pria itu sedang duduk di kursi kebesarannya di ruang kerja pria itu. Disana juga ada sekertaris yang berdiri di sebrang meja kerja Fiktor.


"Nyonya.." Ucap sekertaris hormat dan memberi salam.


Belinda mengabaikan sekertaris itu dan berjalan mendekati Fiktor. Paham maksud tuannya, sekertaris pergi meninggalkan ruangan itu.


"Hmmm.. Ada apa?" Gumam Fiktor.


"Aku akan pergi pertemuan dengan beberapa kolega ku.. Bisakah aku meminjan kartu mu untuk mentraktir mereka?" Tanya Belinda manja dengan tubuh yang menempel kepada suaminya untuk menggoda pria itu.


"Baiklah.. Pakai ini.." Ucap pria itu santai dan menyerahkan kartu hitam kepada Belinda.


"Terima kasih sayang.. Kau memang yang terbaik." Ucapnya manja dan kemudian mencium cepat pria itu.


"Aku pulang agak malam ya.." Ucap wanita itu lagi dan hanya mendapatkan anggukkan dari Fiktor.


Belinda dengan senangnya berjalan keluar dari ruangan itu dan segera menuju mobilnya, wanita itu berencana pergi shoping dan kemudian pergi ke diskotek untuk melepaskan kekesalannya.


"Aku akan meminta beberapa pria muda menemani ku." Gumam wanita itu ceria.


Setelah memastikan nyonyanya sudah pergi meninggalkan mansion itu, sekerteris masuk ke dalam ruangan kerja Fiktor.


"Nyonya sudah meninggalkan mansion tuan." Ucap sang sekertaris memberikan laporannya.


"Bagaimana penyelidikian mu?" Tanya Fiktor.


"Beberapa hari ini nyonya sering pergi ke diskotek dan di temani dengan beberapa pria muda." Jelas sekertarisnya.


"Hemm.. Dia berani mempermainkan ku dengan menggunakan uang ku ternyata." Ucap Fiktor kesal dan mengepalkan tangannya.


Ya.. Beberapa hari yang lalu akibat munculnya foto Alice, beberapa pemegang saham muncul untuk melakukan rapat. Dan dari hal itu dia baru menyadari beberapa saham yang dia miliki atas nama Belinda sudah berpindah tangan kepemilikannya. Namun pria itu tidak bisa berbuat banyak karena masalah di kantor yang sedikit membuatnya banyak kerjaan dan lebih memilih mencari tahu kemana uang yang di gunakan wanita itu.


Sang sekertaris hanya diam menundukkan kepalanya tidak berani menatap pria yang sedang kesal itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2