JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Hari bahagia


__ADS_3

Alice melihat pantulan dirinya di cermin. Gaun berwarna putih bersih melekat indah di tubuh rampingnya. Gaun dengan model sabrina dan mermaid dengan bahu terbuka dan panjang dengan taburan swarovski pada gaun menambah kesan anggun, cantik dan mewah selain lebih memperlihatkan lekukan tubuh Alice yang indah, belum lagi warna kulit Alice yang putih bersih membuatnya semakin terlihat menawan.


Sapuan make up flawles dari tangan-tangan trampil namun tetap nampak memukau mata siapapun yang memandangnya. Untaian rambut yang di buat kepang pada kedua sisi dan kemudian di gerai bergelombang dan di ikat sedemikian rupa di bagian ujungnya dan menambahkan hiasan mutiara di belakang rambutnya. Dan veil yang ada di atas kepalanya dengan sebuah mahkota berlian kecil.


Cermin tinggi besar seukuran tubuhnya itu memantulkan seorang gadis yang tampak cantik, anggun dan menawan. Senyum bahagia yang terpancar di wajah Alice terlihat jelas dari pantulan cermin itu.


"Kau sangat cantik.." Puji Lidia saat melihat menantunya berdiri dan melihat hasil karya para pekerja profesional di bidangnya masing masing membuatnya menangis haru.


"Ibu.. Jangan menangis." Ucap Alice dan menggenggam tangan Lidia menenangkan wanita tua yang sedang terbawa emosi itu.


"Entahlah.. Aku merasa seperti menikahkan anak gadis ku.. Aku yang telah melihat mu tumbuh dari kecil hingga sudah besar seperti saat ini, sedikit membuatku terharu saat aku bisa melihat semuanya dengan mata kepalaku sendiri.." Ucapnya lagi sambil mengusap sudut matanya yang sudah berair.


"Ibu.. Kau terlalu sentimentil.. Kau tidak kehilangan anak gadis mu.. Malah saat ini kau mendapatkan anak gadis yang selalu menjadi impian mu ini bukan." Ucap Amanda yang kini berada di samping Lidia mengusap punggung Lidia lembut menenangkan wanita tua itu.


"Ya.. Kau benar Amanda.. Aku sedikit lupa bahwa dia menikah dengan anak lelaki ku sendiri dan kini anak gadis impian ku ini tidak bisa pergi lagi kemanapun juga." Ujarnya sambil bergurau dan sedikit tersenyum.


"Haish.. Maafkan hati tua ku yang terlalu sensitif dan mata ku yang terlalu mudah menangis.. Ibu bahagia melihat mu bahagia nak.. Doa dan restu ibu selalu menyertai mu.. Berbahagialah selalu bagaimanapun kau adalah putri ku yamg lahir dari hati ku." Ucap Lidia sambil mengusap buliran air mata yang tanpa sengaja keluar dari matanya yang refleks membuat Alice terharu saat mendengar penuturan ibu mertuanya itu.


"Ya.. Bu.. Pasti.. Aku pasti akan selalu bahagia memiliki kalian yang selalu mendampingi ku." Ucap Alice yakin dan memeluk hangat tubuh Lidia yang sedikit bergetar karena terharu.


"Baiklah ini sudah saatnya.. Kami akan ke ruangan terlebih dahulu." Ucap Sisilia mengingatkan kedua orang yang sedang terharu bahagia itu.


"Kami akan menunggu mu di dalam." Ucap Amanda.


Sisilia dan Amanda mendampingi Lidia yang masih terus menitikan air mata kebahagiaan dan kemudian berlalu meninggalkan Alice sendirian di ruangan rias itu.


Alice keluar dari kamar riasnya di bantu seorang penata busana yang membawa gaun bawahnya. Dan saat di depan pintu keluar, sudah ada Fiktor yang berdiri dengan senyum mengembangnya dengan jas berwarna hitam. Pria itu di temani oleh empat pria bertubuh tinggi tegap menggunakan jas formal berwarna hitam.


Wajah Fiktor tampak bahagia meski guratan kesedihan juga nampak di wajahnya. Pria itu jadi sedikit kurus dan tampak lelah. Namun senyumannya yang hangat bisa membuat Alice kembali ikut tersenyum.


"Paman.." Alice kaget melihat kedatangan pria itu dan menggantungkan perkataannya.


"Aku satu-satunya keluarga mu bukan.. Bagaimana mungkin aku tidak hadir melihat kebahagiaan mu.. Maaf atas semua tindakan ku selama ini.. Tanpa aku sadari aku membiarkan keluarga ku sendiri hancur.. Maaf telah membuat kekacauan dalam hidup mu.. Lepaskanlah semua dendam mu.. Raihlah kebahagiaan mu.. Kedua orang tuamu maupun kakek dan kakek buyut mu pun pasti menginginkan kau berbahagia. Lepaskan semuanya dan mulailah mencari kebahagian untuk diri mu sendiri." Ucap Fiktor panjang lebar dengan tangan yang terulur kepada Alice.


Alice menitikkan air matanya saat kata maaf itu terucap langsung dari bibir pamannya, bahkan perkataan pamannya yang memintanya untuk melepaskan semua dendam dan kemelut didalam hatinya membuatnya sedikit tersentuh.


Alice mengangkat tangannya dan meletakkan tangannya di atas telapak tangan Fiktor, " Ya paman.. Aku akan memulai semuanya dari awal, dan aku telah memaafkan semua orang termasuk paman. Terima kasih paman mau hadir dan bersedia menemani ku." Alice kembali berurai air mata.


Fiktor mengangkat tangannya yang bebas dan mengeluarkan sapu tangan dari balik saku celananya untuk mengelap jejak air mata yang berani mengalir di wajah cantik Alice, "Bukankah ini hari bahagia? Mengapa kau suka menangis." Godanya sambil tersenyum dan mengeratkan genggamannya pada tangan Alice.


"Ayo kita pergi.. Pengantin pria pasti sangat tengang saat ini, melihat pengantin wanitanya masih belum datang juga bukan." Godanya lagi sambil berbisik pelan kepada Alice.


"Paman..." Ucap Alice yang tidak tahu harus berkata apa, gadia itu sudah terlanjur malu.


"Maaf paman tidak bisa lama menemani mu.. Setelah mengantarkan mu paman harus kembali ke rumah tahanan di negara X.. Namun paman bahagia dan paman selalu mendoakan dan memberikan restuku kepada mu. Dia pria yang baik. Paman yakin dia bisa memberikan mu kebahagiaan dan warna dalam hidupmu." Gumam Fiktor pelan.


"Sekarang aku akan menutup kerudung mu." Ucap Fiktor dan kemudian mengangkat tangannya untuk menutup wajah Alice dengan kerudung tipis itu. Mereka berdua berjalan berdampingan menuju ruang pemberkatan.

__ADS_1


Keempat pria masih berjalan di belakang Alice dan juga Fiktor dari koridor kamar rias hingga aula pemberkatan. Saat Alice menginjakkan kaki di karpet merah yang terbentang hingga altar gadis itu terpukau dengan ruangan di depannya itu.


Suasana bagaikan mimpi baginya. Fiktor menggandeng tangannya hangat berjalan menuju altar, suara dentingan piano memberikan suasana hatinya yang terharu biru beserta rasa gugup yang menghinggapinya. Di ujung altar terlihat seorang pria tampan dengan mengenakan jas berwarna putih.


Ruangan pesta yang luas dengan dominasi warna putih, gold dan coklat menambah hangat suasana di ruangan itu. Beberapa dekorasi bunga hidup menambah bau harum yang menenangkan indra penciumannya di sepanjang jalanannya menuju altar.


Hati Alice bahagia, meski ada sebagian dirinya merasa sedih saat dimana tangan yang menggenggamnya menuju pria impiannya bukanlah tangan ayahnya yang selama ini menimanganya sewaktu kecil. Namun dia tersadar pamannya jugalah pria kedua yang ada di dalam kehidupnya dulu saat Alice diwaktu kecil.


Pria tampan di ujung karpet merah itu menanti dengan tenang dan sabarnya sang mempelai wanita yang berjalan perlahan dengan didampingi Fiktor. Dengan wajah tersenyum Anton menanti di ujung Altar. Perlahan lahan gadis itu dengan pendampingnya mulai mendekati mempelai pria. Wajahnya sangat tampan semua hal yang membuat Alice sebelumnya sedih dan rapuh seketika hilang dan berubah saat gadis itu bisa melihat wajah bahagia Anton yang akan menjadi tujuan hidupnya, tujuan langkahnya. Menemaninya di kala bahagia dan susah di masa depannya.


Dengan perlahan mereka berhenti tepat di depan Anton. Pria tampan berjas putih itu mengulurkan tangannya. Dan dengan pasti Fiktor menyerahkan tangan Alice keatas telapak tangan Anton.


"Jaga dia dengan baik.. Bahagiakan dia." Pesan Fiktor dan menepuk-nepuk kedua tangan pasangan itu.


Anton dengan pasti berbicara, "Tentu paman.. Aku tidak akan mengecewakan mu." Genggaman tangan Anton menguat menggenggam tangan Alice dan kemudian berjalan kehadapan pendeta.


Dan tibalah saat mengatakan janji suci di hadapan Tuhan, Imam, orang tua, para saksi dan keluarga terderkat mereka.


"Di hadapan Tuhan, Imam orang tua dan para saksi, saya Antonius Hadi Jaya dengan niat yang suci, tulus dan ikhlas hati memilih mu Adeliana Fransisca Baskoro menjadi istri saya. Saya berjanji untuk setia kepada mu dalam untung dan malang, suka dan duka sehat dan sakit dengan segala kekurangan dan kelebihan mu. Saya akan selalu mencintai dan menghormati mu sepanjang hidup saya." Ucap Anton dengan yakin sambil menggenggam tangan Alice erat.


"Adelianan Fransisca Baskoro sekarang silahkan ucapkan janji mu." Dan kini sekarang giliran Alice yang menyatakan janji sucinya.


"Di hadapan Tuhan, Imam orang tua dan para saksi, saya Adeliana Fransisca Baskoro dengan niat yang suci, tulus dan ikhlas hati memilih mu Antonius Hadi Jaya menjadi suami saya. Saya berjanji untuk setia kepada mu dalam untung dan malang, suka dan duka sehat dan sakit dengan segala kekurangan dan kelebihan mu. Saya akan selalu mencintai dan menghormati mu sepanjang hidup saya." Ucap Alice yakin dengan penuh haru.


Kemudian semuanya berlanjut dengan doa dan pengumuman bahwa mereka telah resmi sebagai suami istri di hadapan semua saksi dan tiba saatnya pengantin pria membuka kerudung pengantin wanita dan memberikan kecupan di kening istrinya di hadapan semua orang.


Setelah acara sakral itu, Alice dan Anton mendatangi Lidia dan Bram yang sedang duduk di sudut depan altar. Saat mereka mendekati, keduanya berdiri dan langsung memeluk serta memberikan ribuan doa terbaik untuk pasangan baru itu. Kedua kakak ipar dan abang iparnyapun memeberikan pelukan hangat dan ribuan doa untuk mereka. Beberapa keluarga yang lainpun juga ikut berbahagia dan mendoakan pasangan ini. Tak terkecuali Roy, Galih dan juga Suster Salsa yang telah hadir di acara itu dengan beberapa anak panti yang ikut bersamanya.


"Tentu Ibu.. Aku akan menjaga putri sekaligus menantu mu ini." Ucap Anton yakin.


"Nak.. Jika Anton berani macan-macam pada mu, kamu bisa mendatangi ibu dan kita akan memberinya pelajaran." Ucap Lidia sambil bercanda.


"Astaga ibu.. Aku anak kandung mu loh.." Ucap Anton bergurau.


Alice dan Lidiapun tersenyum dan saling berpelukan.


"Selamat untuk mu adik ku.. Sekarang kau sudah resmi menjadi adik ipar ku.. Berbahagialah selalu. Sama seperti perkataan ibu, jika Anton menyebalkan, kau bisa datang kepada kami dan kami akan membalaskan kekesalan mu." Ucap Amanda dan Sisilia maupun kedua suami merekapun setuju.


Setelah berpelukan dan mendoakan dengan keluarga inti, Alice dan Anton berjalan menuju tamu undangan lainnya. Alice mendatangi kursi suster Sisilia dan para saudaranya di Panti Asuhan.


"Terima kasih Suster sudah bersedia hadir.." Ucap Alice sambil memeluk wanita tua itu sambil terharu.


"Kucing kecil ku, berbahagialah.. Suster bahagia, kau bisa menemukan jati diri mu dan kebahagiaan mu." Ucap Suster Salsa sambil sedikit mengusap sudut matanya.


"Terima kasih banyak suster.. Suster sudah mau bersedia hadir bersama anak anak dan saudara kecil yang lain." Ucap Alice dengan wajah gembira.


"Mereka merindukan mu.. Jadi aku membawa mereka." Ucap Suster Salsa.

__ADS_1


"Aku juga sangat merindukan mereka.." Ucap Alice dan merangkul beberapa saudara selama dia tinggal di panti asuhan.


"Selamat untuk kakak.. Semoga berbahagia selalu." Ucap anak-anak kecil dari panti yang ikut keacara itu.


"Terima kasih sayang.." Ucap Alice ceria.


"Selamat untuk mu Alice kau menemukan pangeran mu." Ucap salah satu teman seumurannya saat di panti asuhan.


"Terima kasih Nuri.. Akubberharao kau juga bisa menemukan pangeran mu sendiri." Ucap Alice dan memeluk tubuh Nuri.


Setelah bercengkrama dan bertukar sapa serta doa, Alice dan Anton pindah menuju kursi lainnya tempat keluarga Sinta berada.


"Om Anwar.. Tante Asih, Viki." Ucap Alice menghampiri kedua orang tua dan adik laki-laki Sinta.


"Alice.. Selamat untuk mu sayang.. Sinta di atas sana pasti sangat bahagia melihat mu bisa bahagia seperti ini. Kau sudah di anggap sebagai adik kandungnya. Dan ibu yakin dia sangat berbahagia untuk mu." Ucap tante Asih dengan senyum yang mengembang namun matanya tampang berair, tanoa terasa air mata wanita tua itu menetes di kedua pipinya.


"Maaf tante terlalu bahagia untuk mu." Tante Asih menggenggam tangan Alice hangat.


"Nak jangalah dia.. Dia berlian kami." Ucap Tante asih kepada lengan Anton dan dengan pasri anton mengangguk.


"Tentu Tante, Om kalian tidak perlu khawatir.. Akunpasti akan membahagiakannya dan menjaganya." Ucap Anton menyakinkan kedua orang tua itu.


"Kalau begitu kami berdua sudah tenang." Ucap Anwar dan Asih bersamaan.


"Kak.. Selamat ya.. Aku tidak beruntung. Padahal aku kira kakak mau menunggu aku sampai aku sukses loh.. Lalu aku akan menjadikan kakak menjadi istri ku." Ucap Viki menggoda sambil melirik kearah wajah Anton.


"Wow anak kecil dia sekarang sudah jadi milik ku.. Jangan berharap kau bisa mengambil dia dari ku." Ucap Anton serius dan itu sukses membuat Anwar, Asih, Viki dan Alice tertawa.


"Aku tahu.. Maka dari itu aku bilang aku tidak beruntung." Ucap Viki akhirnya dan mengulurkan tangannya kepada Anton dan memberi pria itu ucapan selamat.


"Terima kasih.." Ucap Alice dan Anton bersamaan.


Setelah bercengkrama dan bertukar sapa serta doa dengan keluarga Sinta. Alice dan Anton pindah menuju kursi lainnya tempat Galih dan Roy berada.


Anton dengan sabar menemani dan mendampingi Alice berkeliling dan bercengkrama dengan tamu-tamu undangan yang kebanyakan adalah orang-orang terdekat mereka.


"Selamat untuk mu Anton.. Selalu bergandengan tanganlah, jangan saling meninggalkan ataupun mengabaikan. Kebahagiaan akan selalu menyertai kalian." Pesan dari suster Salsa dan setelahnya Alice beranjak mendekati Roy dan juga Galih.


"Al, Anton.. Selamat untuk kalian, berbahagialah.. Jagalah dia selalu, dia sangat berharga bagi kami.." Ucap Roy serius sambil menepuk bahu Anton.


"Tentu.. Aku tidak akan mengecewakan mu." Ucap Anton cepat.


"Terima kasih kak.." Ucap Alice terharu.


"Alice, Anton selamat untuk kalian.. Semoga selalu bahagia.." Ucap Galih tulus dan memeluk Alice, kemudian pria itu menepuk tangan Anton.


"Terima kasih.." Ucap Alice dan Anton bersamaan.

__ADS_1


"Kak hanya kalian berdua? Dimana kak Juna aku belum melihatnya." Tanya Alice heran.


Bersambung....


__ADS_2