
“Ahh jeng Aneu.. tadi saya baru akan menghubungi jeng, jeng sudah di sini saja.” Ucap Lidia. Sambil memeluk Aneu temannya itu dan mencium pipi kiri dan pipi kanannya.
“Iya, tadi saya tidak sengaja melihat jeng dan anak jeng masuk. Jadi langsung saja saya menghampiri.” Ucap Aneu. Sambil melihat ke arah Antonius.
“Ini yang namanya Antonius? Tampan sekali.” Tanya Jeung Aneu lagi sambil mengagumi ketampanan Anton.
“Iya jeng dia si bungsu.. wah ini Diana ya putri bungsu jeng Aneu juga?” Tanya Lidia yang melihat sosok wanita di samping Aneu. Wanita itu tampak seumuran dengan anak bungsunya, dengan wajah cantik dan mengenakan pakaian hitam sopan dengan mengenakan dress semi casual dengan rok span selututut dengan belahan risleting di belakangnya.
“Iya tante.” Ucap Diana sopan. Lidia merangkul gadis itu dan mendekatkannya dengan Anton.
“Anton kenalkan ini Diana, putri bungsu Bu Aneu.” Ucap Lidia yang menyuruh Anton berkenalan dengan wanita itu.
“Antonius.” Ucap Anton dan mengulurkan tangannya.
“Diana.” Ucap Diana dan menyambut uluran tangan Anton.
“Buu…” Belum selesai Anton menyelesaikan kalimatnya, Lidia memotong ucapannya.
“Anton, kamu temani Diana mengobrol dulu ya. kasian dia jika bergabung dengan nenek-nenek seperti kami. Ayo jeng kita selesaikan dahulu urusan kita. Biar anak muda berbicara dengan anak muda juga.” Ucap Lidia dan segera mengajak temannya itu pergi dari sana.
“Maaf untuk itu.” Ucap Anton tidak enak hati karena ibunya tidak mendengarkan pendapat keduanya dahulu.
“Tidak masalah. Kita kesana saja.” Ucap Diana sambil menunjuk sebuah kursi kosong yang tidak jauh dari jendela. Yang dapat memperlihatkan pemandangan siang yang ramai di pusat kota itu. Anton dan Diana kemudian duduk di sana.
“Apa yang ingin kau pesan?” Tanya Diana yang memulai percakapan. Wanita itu memanggil pelayan. Pelayan datang menghampiri mereka.
“Ada yang bisa saya bantu.” Tanya pelayan itu.
“Aku pesan Macchiato, sama cake red velvet.” Ucap Diana, kemudian gadis itu memandang Anton.
“Espreso saja.” Ucap Anton cepat.
“Baik. Mohon di tunggu.” Ucap pelayan itu dan meninggalkan mereka.
“Kau bekerja sebagai dokter bukan?” Tanya Diana dan tetap menatap Anton dengan wajah mendamba.
“Ya.” Jawab Anton singkat.
“Sepertinya dokter yang tidak banyak bicara.” Ucap Diana. Anton hanya diam saja.
“Ibu ku yang memberitahu ku. Sepertinya kedua orang itu menginginkan hubungan mereka tidak hanya sebagai rekan bisnis saja. Mereka merencanakan perjodohan untuk kita. Dan aku menyetujuinya. Aku tertarik padamu saat ibu ku memperlihatkan fotomu. Dan aku benar-benar tertarik pada mu, saat aku melihat mu secara langsung.” Ucap wanita itu jujur. Anton terkejut akan ucapan wnaita itu.
__ADS_1
“Sepertinya ibu mu ada kesalah pahaman. Aku sudah akan menikah dengan kekasihku. Buang jauh-jauh pikiran itu.” Ucap Anton yang kesal mendengar penjelasan dari wanita itu.
“Itu tidak mungkin kesalah pahaman. Ibumu yang merencanakan pertemuan hari ini dan meminta ku untuk ikut serta ke acara pertemuan ini.” Ucap Diana menjelaskan situasinya.
“Aku tidak mengerti apa yang kau ucapkan. Apapun pikiranmu atau ibu mu aku tidak perduli. Yang pasti aku tidak tertarik dengan wanita seperti mu. Dan aku akan segera melangsungkan pesta pernikahan dengan kekasihku.. wanita pilihan ku sendiri.” Ucap Anton tegas.
“Sepertinya ibu mu tidak berpikiran demikian.” Sinis Diana. Wajahnya masih menatap wajah Anton yang sudah kesal dengan ucapannya.
“Sepertinya tidak ada yang perlu di bicarakan lagi. Aku permisi.” Ucap Anton kesal dan segera beranjak dari kursi.
“Aku akan menantikan kencan ke dua kita.” Ucap Diana dengan suara lantang.
“Wanita gil*a.” Ucap Anton kesal sambil terus berlalu meninggalkan restoran itu.
Anton masuk ke dalam mobilnya dan mencoba menghubungi ibunya.
“Halo Nak..” Ucap Lidia saat panggilan telpon terhubung.
“Aku pulang, jika ibu ingin pulang ibu bisa meminta supir menjemput ibu atau ibu bisa memilih naik taksi.” Ucap Anton langsung.
“Ada apa nak? Apakah kalian akan pergi makan siang atau menonton bersama?” Tebak Lidia.
“Ibu hanya ingin kau mencoba dahulu dengan Diana, siapa tau kalian cocok.” Ucap Lidia.
“Ibu.. aku memilih Alice. Dan akan menikahinya.” Ucap Anton.
“Kamu berbicara demikian karena sebelumnya belum pernah bertemu dengan wanita yang lainnya nak. Tidak masalah bukan jika kamu mencoba dekat dengan wanita lain. Kalian kan belum bertunangan atau bahkan kalian belum menikah. Sekaranglah saatnya untuk mu mencobanya dan nanti baru memilihnya yang mana yang terbaik untuk mu. Dari pada nanti kau menyesali keputusan mu sendiri.” Jelas Lidia panjang lebar.
“Astaga, aku tidak mengerti apa yang ibu bicarakan. Aku akan menikahi Alice titik. Jangan pernah melakukan trik seperti hal tadi ibu. Atau aku akan benar-benar tidak akan pulang ke rumah utama lagi.” Ucap Anton kesal dan menutup telponnya dan melempar ponselnya ke bangku di sampingnya.
“Astaga apa yang terjadi dengan ibu.. dia melakukan hal ini setelah semalam bertemu dengan Alice. Pasti ada yang tidak beres.” Ucap Anton monoton kepada dirinya sendiri.
Anton mengambil ponsel yang lain di dalam dashboard mobilnya dan menyalakannya, kemudian menelpon seseorang dar ponsel itu.
“Selidiki semua yang berhubungan dengan Lidia Handoko, apakah sebelumnya dia pernah berhubungan dengan Alice Anatasya, atau bahkan bertemu dengannya.” Ucap Anton tegas.
“Baik tuan K..” Ucap suara di ujung sana.
Kemudian Anton menghubungi lagi seseorang melalui ponsel itu.
“Bagai mana?” Tanya Anton.
__ADS_1
“Kami akan melakukan misi di kota S yang merupakan perbatasan antara Negara B dan negara X.” jelas suara di ujung sana.
“Lindungi selalu dia, jangan sampai kesalahan mu terulang kembali.” Ucap Anton memberi perintah tegas.
“Baik bos K.” Ucap suara di ujung sana.
Flashback On
Di café wings beberapa minggu yang lalu..
“Bos ada seorang gadis yang mengikuti kita.” Ucap seorang bawahannya.
“Hemm ya aku tahu.. Paul..” Ucap K memberi intruksi kepada Paul.
“Mengerti.” Ucap Paul dan Alex kompak.
“Kalian masuk saja ke ruangan terlebih dahulu.” Ucap Paul.
“Baik Bos.” Ucap rombongan itu.
Paul dan Alex mengikuti K masuk kedalam sebuah kamar mandi. Dan segera melepaskan jas hitamnya dan di berikan kepada Alex. Alex yang memiliki postur tubuh yang sama dengan K selalu menggantikan posisi Anton jika pria itu akan tertangkap identitas aslinya, atau untuk menipu para musuhnya. Karena yang mengetahui identitas Anton sebagai K hanyalah Paul dan Alex.
“Perintahkan mereka mengawasi Alice. Jangan bergerak jika dia tidak akan kehilangan nyawanya.” Perintah Anton.
“Baik Tuan K.” Ucap Alex yang sudah mengganti bajunya dan mengenakan topeng milik K.
“Paul.. hubungi mata-mata kita. Lindungi Alice dengan nyawanya. Entah mengapa aku memiliki firasat buruk.” Ucap Anton tegas.
“Baik Tuan K.” Ucap Paul.
“Pergilah.” Ucap Anton cepat menyuruh kedua bawahannya itu untuk pergi.
“Baik Tuan K.” Ucap Paul dan Alex dan membungkuk kemudian pergi dari sana.
Flashback Off
***
“Aku tidak mengerti mengapa ibu ku langsung melakukan hal ini setelah baru saja bertemu dengan Alice. Aku yakin pasti ada sesuatu di belakang semua ini.” Ucap Anton monoton kepada dirinya sendiri.
Bersambung....
__ADS_1