
Alice, Roy, Galih dan Juna akan menempati ruangan kamar yang bersisian. Roy meminta itu langsung dari Imanuel. Entahlah mungkin untuk berjaga-jaga agar gadis itu tetap dalam pantauan mereka, Roy sangat ketat mengenai hal ini. Sedangkan untuk ke sembilan pengawal mereka, Juna sudah memerintahkan mereka untuk menginap di salah satu hotel paling terdekat dari mansion itu.
"Aku tidak mempersiapkan diri untuk menginap, bolehkah kita pergi membeli sesuatu dahulu." Ucap Alice saat gadis itu berjalan bersisian dengan ketiga pria penjaganya dan seorang kepala pelayan yang sedang menunjukkan jalan menuju kamar mereka masing-masing.
"Tentu." Jawab Roy dan mengusap lembut rambut Alice.
"Maaf.. Apa nona membutuhkan sesuatu?" Tanya Xin pelayan tua itu.
"Aku tidak mempersiapkan pakaian atau apapun pak Xin, sepertinya kami harus keluar." Ujar Alice kepada kepala pelayan itu.
"Maaf nona, untuk saat ini tuan Imanuel berpesan agar anda tidak keluar untuk sementara waktu. Untuk pakaian dan hal lainnya saya akan segera mempersiapkan untuk kalian berempat. Selain itu ada yang anda inginkan lagi nona?" Tanya pelayan Xin sopan.
"Huft.. Baiklah aku akan di rumah saja.. Tidak aku tidak membutuhkan apa-apa lagi." Ucap Alice sedikit murung.
Ya Imanuel berpesan agar Alice tidak keluar dari mansion itu sementara waktu, agar tidak dapat memberikan kesempatan untuk orang-orang yang berniat menyakitinya. Bagaimanapun juga ini adalah waktu yang berbahaya untuk keselamatan Alice. Karena tuan Imanuel sudah mengirimkan sampel darah Alice dan milik ke dua orang tuanya kepada rumah sakit pusat.
Meski keamanan data dan informasi klien sangat baik di dalam rumah sakit itu, namun untuk menghindari kecurangan ataupun hal-hal yang tidak di inginkan setelah data keluar, Imanuel menempatkan empat pengawal yang berjaga di rumah sakit itu.
"Aku tidak boleh memberikan kesempatan kepada mereka untuk mencelakai Adel, bahkan hanya seujung kukupun. Dahulu yang bisa ku lakukan hanyalah menjauhkan Adel dari semua kekacauan ini, namun sekarang dia sudah kembali dan aku sudah cukup kuat untuk melindunginya." Ucap Imanuel monoton dengan wajah yang menghitam.
Pria itu sudah kehilangan kedua sahabat sekaligus tuannya dan hampir kehilangan Adeliana. Saat ini dia akan berusaha benar-benar melindumgi gadis itu sedemikian rupa. Inilah janjinya kepada kedua orang tua Alice yaitu Frans Baskoro dan Amelia Putri.
Sore itu Imanuel sudah kembali dengan membawakan cake stowberi yang terkenal dari kota itu. Pria itu masuk ke dalam mansionnya.
"Dimana Adel? Ehh maksudnya Alice." Ucap Imanuel kepada Xin kepala pelayan kepercayaannya.
__ADS_1
"Nona Alice berada di kamarnya tuan, begitu juga dengan ketiga tamu lainnya." Jawab Xin hormat.
"Ahh begitu, apakah mereka sudah makan siang tadi?" Tanya Imanuel santai.
"Sudah tuan.. Setelah anda pergi, saya membawa mereka untuk makan siang dan setelah selesai makan siang saya mengantarkan mereka ke kamar mereka masing-masing. Saya juga sudah memberika. beberapa kebutuhan pakaian dan yang lainnya untuk keempat tamu anda." Jawab Xin hormat.
"Bagus Xin, kau memang paling bisa aku andalkan. Ohya aku membawa kue kesukaan gadis itu saat kecil, suruh dia ke teras dekat kolam renang untuk minum teh dengan ku." Ujar Imanuel dan Xin hormat menunduk dan membawa kotak kardus kue itu.
Imanuel pergi ke kamarnya dan mengganti pakaian santainya kemudian pergi ke teras samping kolam renang. Tidak lama Alice datang dan duduk di kursi santai di samping Imanuel.
"Kau tidak keberatan bukan menemani pria tua ini berbincang." Ucap Imanuel santai.
"Tentu Pak." Jawab Alice sopan.
"Baik paman."
Tidak lama kemudian pelayan wanita datang dengan nampannya yang berisi dua piring kecil berisi cake stowberi dan dua gelas teh hangat dan di letakkan di atas meja di tengah-tengah mereka.
"Aku membelinya saat melewati toko kue. Tapi aku tidak tahu apakah ini akan sesuai dengan selera mu." Ucap Imanuel santai dan mengangkat piring kecil berisi kue itu dan memberikannya ke tangan Alice.
"Ini kesukaan ku..Terima kasih paman." Jawab Alice dan mengambil piring di tangan Imanuel.
"Sepertinya mereka sangat perduli kepada mu." Ucap Imanuel saat pria itu memandang ke dalam rumah dan di sana ada ketiga pria yang duduk di ruang tengah yang memandang ke arah teras tempat Alice dan Imamuel berada.
Alice sedikit tidak enak hati kepada pria di sampingnya itu, namun bagaimanapun ketiga pria pelindungnya itu tidak bisa di ajak kompromi mengenai menjaga Alice dari dekat demi meninimalisir masalah apapun, "Maaf paman jika itu menyinggung anda. Mereka hanya terlalu khawatir dengan saya."
__ADS_1
"Tidak, paman tidak masalah dengan itu. Malah sebaliknya, paman bisa tenang kau memiliki beberpa teman yang bisa melindungi mu." Ucap Imanuel dan menyeruput tehnya.
"Makanlah kuenya." Perintah Imanuel dan Alice mulai menyendok cake dan memasukkannya kedalam mulutnya.
"Wahh.. Inj sangat enak paman." Ucap Alice dengan raut wajah yang bahagia.
"Syukurlah jika kau senang, berarti paman tidak sia-sia membawa kue itu pulang." Ucap Imanuel tenang.
"Kuenya sangat lembut, manis dan asam.. Aku sangat menyukainya paman." Ucap Alice bahagia. Imanuel juga mengambil piring kecilnya dan mulai menyendok kue kedalam mulutnya.
Imanuel tersenyum saat melihat wajah ceria Alice. Alice juga melirik kearah dalam rumah dan melihat Galih dan Juna yang juga sedang menikmati cake nya. Sedangkan Roy hanya menyesap sesuatu di cangkirnya. Alice tersenyum hangat kearah ketiga pria itu.
"Apakah kau kesepian selama ini?" Tanya Imanuel tiba-tiba.
"Tidak paman, aku sangat bahagia bisa bertemu dengan ketiga pria yang menjadi sabahat sekaligus keluarga baru ku. Mereka sangat baik dan menganggap ku sebagai keluarga mereka. Selain itu di panti juga banyak orang dan kepala panti juga sangat perhatian dan menyayangi ku. Aku tidak pernah merasa kesepian sama sekali." Jelas Alice dengan raut wajah bahagia.
"Syukurlah.. Maafkan paman ya yang langsung mengasingkan mu dari kota ini.. Paman hanya berharap kamu bisa hidup aman dan bahagia dengan menjauh dari kedua orang itu." Ucap Imanuel sedikit sendu.
"Alice mengerti dengan pilihan paman yang menitipkan Alice kepada bu Lidia. Namun Alice tidak mengerti mengapa paman mau menghilangkan semua bukti kecelakaan itu dan menggantinya dengan kecelakaan tunggal?" Tanya Alice penasaran.
"Itu semua paman lakukan untuk melindungi mu. Selain itu paman sudah memeriksa mobil sport yang pria itu kemudikan. Mobilnya tidak dalam keadaan baik, sepertinya dia juga seorang korban. Jadi paman berinisiatif membantunya sekaligus memanfaatkan mereka untuk membantumu keluar dari negara ini." Jelas Imanuel panjang lebar.
'Berarti semua bukti-bukti yang di dapatkan Galih benar adanya.' Batin Alice dan gadis itu jadi jauh lebih tenang.
Bersambung....
__ADS_1