JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kebenaran Maya


__ADS_3

Disisi lain di siang hari itu di kota S Negara B..


Juna akan pergi mengambil air minum di pantry, namun dia tidak sengaja mendengar percakapan antara Maya dengan seseorang di telepon di dalam ruang pantry. Namun saat Juna akan beranjak pergi dari sana, pria itu mendengar Maya menyebut-nyebutkan nama Alice beberapa kali dalam percakapannya. Dan Juna mengurungkan niatnya untuk beranjak pergi dari sana. Pria itu malah lebih memilih merapatkan dirinya ke dinding untuk mendengarkan semua yang gadis itu katakan tanpa ketahuan. Dalam percakapan itu Juna mendengar Maya memberitahukan informasi mengenai keberadaan Alice yang tidak di ketahui saat ini kepada orang itu.


"Saya akan memberi tahu anda Tuan jika saya memiliki informasi lain." Ucap Maya dan mengakhiri teleponnya.


'Astaga gadis itu sudah selesai. Aku harus bergerak agar tidak di curigai.' Batin Juna. Pria itu bergerak dari tempat persembunyiannya dan berjalan masuk ke ruang pantry dengan mengeluarkan suara jalan yang terdengar agak keras agar gadis itu tidak curiga.


"Ehemm.. astaga siang ini sangat panas kerongkongan ku jadi kering.. ehh kau di sini Maya." Ucap Juna basa-basi sambil berjalan kemudian pura-pura terkejut melihat Maya.


"Iya Pak." Ucap Maya dan sedikit gugup khawatir pria itu mendengarkan pembicaraannya tadi di telepon.


"Apa yang anda butuhkan Pak?" Tanya Maya untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Aku membutuhkan air lemon dingin sepertinya untuk menyejukkan kerongkongan ku.


"Biar saya buatkan Pak." Ucap Maya sopan dan mengambil sebuah lemon dan memotongnya dan kemudian meletakkannya di dalam gelas dan memberinya air dingin.


"Apakah anda tidak keberatan dengan ini?" Tanya Maya dan menyodorkan segelas air itu.


"Tentu..Terima kasih Maya." Ucap Juna dan mengambil gelas itu dan mulai meminumnya. Pria itu enggan pergi dari sana, dia malah memilih duduk di kursi bar pantry dan mengajak ngobrol Maya.

__ADS_1


"Apakah kau melihat Galih Maya?" Tanya Juna tidak melihat batang hidung rekan kerja sekaligus sahabatnya itu.


"Sepertinya tadi pagi beliau pergi terburu-buru ke suatu tempat, dan beliau bilang akan off beberapa hari." Ucap Maya menjelaskan. Pagi tadi dia memang berpapasan dengan Galih saat pria itu hendak pergi meninggalkan hotel.


"Ishh.. main off aja gak bilang-bilang.. emang dia pikir kerjaan di sini sudah selesai apa. dasar bocah itu.. ah ya apa kau lihat Alice juga? dia semalam tidak pulang ke sini kan? padahal misinya kan sudah selesai." Ucap Juna bingung kenapa Alice belum juga kembali ke hotel itu.


"Benar Pak, Bu Alice sepertinya pergi ke suatu tempat juga dan tidak kembali ke sini dan mengambil izin off juga." Ucap Maya menjelaskan.


"Astaga.. kedua bocah itu.. benar-benar deh.. Kalau begitu aku akan membutuhkan bantuan mu untuk menyelesaikan masalah di sini." Ucap Juna, 'Sekalian aku akan memantau gerak-gerik mu dan mengungkap siapa bos di belakang mu yang kau maksud.' Lanjut Juna dalam hati.


"Baik Pak." Jawab Maya.


"Sudah jangan panggil Pak pak pak terus.. Panggil Juna saja jika bukan di kantor atau di hadapan publik .. Aku jadi terdengar benar-benar seperti bapak-bapak." Ucap Juna kesal.


"Ga ada tapi-tapian.. lagian kita tidak dalam keadaan kerja formal..santai saja Maya." Ucap Juna tak mau di bantah.


"Maya sebelumnya kau tinggal di mana?" Ucap Juna mencoba menggali informasi dari mulut Maya.


"Saya tinggal di kota M Pak, emh maksud saya Juna." Ralat Maya cepat.


"Sebelum kerja di RJP kau kerja di mana dan apa yang kau lakukan?" Pancing Juna lagi.

__ADS_1


" Sepertinya pertanyaan itu tidak perlu anda ajukan, karena semua sudah tertera di dalam CV (Curriculum Vitae/Resume/Daftar Riwayat Hidup) saya. Anda mencurigai sesuatu bukan? Katakan dengan langsung saja." Ucap Maya menantang. gadis itu paling tidak suka jika terlalu berbelit-belit.


"Baiklah.. aku akan bicara langsung. Aku mendengarkan pembicaraan mu di telepon dengan seseorang. kau seorang mata-mata bukan. Apa kau di utus oleh bos besar untuk mencelakakan Alice?" Ucap Juna menuduh Maya.


"Tidak.. saya tidak akan mencelakai nona Alice. Dan saya tidak bekerja kepada 'Bos Besar' terserah anda percaya atau tidak, yang pasti saya ada untuk melindungi nona Alice. Jika anda mencurigai saya, lebih baik anda menunjukkan buktinya agar anda bisa mendepak saya kemudian." Ucap Maya dengan berani dan beranjak pergi dari sana.


'Sebelumnya kami memang mencurigai identitas asli Maya, karena gadis itu terlalu bersih. Semuanya serasa di buat-buat agar terlihat natural. Sepertinya dugaan ku benar.. tapi siapa bos nya. Bodohnya aku.. seharusnya aku tidak usah terpancing tadi, dan diam-diam saja mengamatinya.' Gerutu Juna dalam hatinya menyesali kebodohannya.


"Ahh ya.. saya akan tetap melakukan semua tugas yang di berikan kepada saya dari RJP termasuk bekerja sama dengan bapak. Baik bapak suka atau tidak suka itu bukan urusan saya." Ucap Maya lagi dan benar-benar pergi dari pantry dan masuk ke dalam kamarnya.


"Nah kan.. ini malah akan membuat kerjasama tim yang buruk.. astaga aku terlalu terburu-buru belum mendapatkan bukti sudah berkoar duluan.. Jadilah masalahnya akan sedikit sulit mulai sekarang. Haruskah aku meminta maaf? Tetapi dia memang bekerja kepada seseorang di luar RJP, aku tidak salah bukan jika aku mencurigai dia bekerjasama dengan musuh." Ucap Juna monoton kepada dirinya sendiri dengan frustasi.


Pria itu kemudian mengambil keputusan untuk pergi ke ruang kamar Maya untuk meminta maaf. Bagaimanapun dia tidak memiliki bukti jelas keterlibatan antara Maya dan Bos Besar. Dia harus menyelesaikan kesalah pahaman ini sekarang juga, jika tidak besok saat menyelesaikan tugas pasti akan terjadi masalah jika kerja sama timnya terganggu.


Tok tok tok ketukan pintu di terdengar dari luar kamar Maya. Maya berjalan mendekati pintu dan membuka pintunya.


"Ada apa?" Ucapnya Ketus, tak ada lagi topeng yang dia gunakan. Saat ini dia bersikap seperti dia yang sebenarnya. Toh penyamaran dia selama ini sudah di ketahui. Jika mereka ingin memecatnya mereka perlu melakukannya sesuai prosedur. Lagi pula tidak ada satupun kasus bos besar yang ada sangkut pautnya dengannya jadi gadis itu tidak merasakan takut apapun jika ketahuan oleh orang lain. Mereka tidak bisa menginterogasi seseorang tanpa adanya barang bukti.


"Aku minta maaf atas ucapan ku tadi. aku memang mendengar percakapan mu di telepon dengan tuan mu, tapi aku tidak bisa memastikan itu ada hubungannya dengan bos besar. Dan aku terlalu terburu-buru menyimpulkannya. Maaf untuk itu." Ucap Juna akhirnya.


"Tak ada yang perlu ku maafkan atau kau meminta maaf. aku memang seorang mata-mata yang di kirim oleh seseorang. Namun tujuan ku adalah melindungi Alice. Anggap saja aku sebagai bodyguardnya dalam misi-misinya. Aku tidak akan mengganggu misinya atau menggagalkan misinya. Karena perintah Tuan ku hanya satu, lindungi Alice." Ucap Maya jujur kepada Juna dan kemudian menutup pintu kamar itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2