JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kota B


__ADS_3

Roy, Galih, Juna dan Alice masuk ke dalam mobil Range Rover Vogue mobil jenis SUV yang berwarna hitam dengan kemampuan menahan peluru panas, menahan granat tangan dan bahkan masih bisa berjalan meski dalam kondisi ban pecah.


Dibelakang mobil yang mereka tumpangi diikuti oleh mobil Chevrolet Suburban yang tahan akan peluru, dengan 8 orang pengawal di dalamnya.


Mereka mengemudi selama tiga jam perjalanan darat dan kini mereka sudah sampai di pusat kota B. Mereka berhenti tepat di sebuah gerbang mewah dengan pagar tinggi dan dijaga oleh dua orang pria bertubuh kekar.


Supir yang mengendarai mobil yang berisi Alice dan yang lainnya membuka kaca sampingnya, "Permisi.. Kami ingin menemui pak Imanuel." Ucap supir yang merupakan salah satu pengawal RJP.


"Kalian sudah membuat janji?" Tanya pengawal gerbang dengan tidak ramah. Pengemudi memandang ke arah sampingnya yang duduk di sana adalah Juna, pria itu menggeleng pelan.


"Belum." Jawab pengemudi mereka.


"Jika belum silahkan anda datang lain kali setelah membuat janji.. Kalian tidak di terima saat ini. Silahkan kalian pergi." Ucap penjaga gerbang itu tegas.


Dengan sigap Alice menurunkan kaca di sampingnya dan kemudian berbicara kepada penjaga gerbang itu, "Anda bisa memberitahu kepada pak Imanuel, putri dari Amelia Putri ingin bertemu."


"Heh! Memangnya kau siapa berani-beraninya menyuruh ku! Cepat kalian pergi dari sini!" Ucapnya mencemooh dengan kasar.


"Silahkan kau beritahu saja dahulu, kita lihat aku boleh masuk atau tidak. Tidak ada salahnya bukan kau melapor ke dalam. Jangan sampai kau akan mendapatkan masalah karena telah menolak kami masuk." Ucap Alice dengan nada penekanan yang dingin.


Kedua penjaga gerbang itu saling memandang, entah bagaimana mereka merasa takut dan tertekan dengan ucapan Alice. Mereka takut jika kedatangan orang-orang ini adalah tamu penting bosnya.


"Kau informasikan saja ke dalam." Saran salah satu penjaga, dan dengan sigap penjaga itu mengangguk dan menghubungi pelayan bagian dalam mansion dengan menggunakan telepon gerbang yang menempel di dinding.


Beberapa saat mereka menunggu dan kemudian penjaga itu datang mendekati mobil Alice dengan wajah pucat, "Maaf nona atas kesalahan saya, silahkan anda masuk." Ucap penjaga itu takut-takut.


"Hmm.. Mobil belakang ikut bersama kami juga." Ucap Alice datar.


"Baik nona, silahkan masuk." Ucap penjaga gerbang itu dan dengan sigap keduanya membuka gerbang untuk mobil Alice dan mobil penjaga di belakangnya.


Halaman luas dengan berbagai pohon dan rumput ditata sedemikian rupa sehingga menimbulkan seni yang indah. Sebuah mansion mewah berdiri tegak di tengah-tengah dengan nuansa eropa.


Roy, Galih, Juna dan Alice turun dari mobil.


"Kalian tunggu saja di sini." Perintah Juna kepada para pengawal mereka yamg menunggu perintah.


"Baik Pak.." Jawab mereka kompak.

__ADS_1


Alice dan yang lainnya masuk kedalam mansion itu di sambut oleh kedua orang pria berpakaian hitam rapih.


"Selamat siang nona, saya Xin kepala pelayan mansion ini. Anda sudah si tunggu silahkan ikuti saya." Ucap pria paruh baya itu sopan.


"Baik." Jawab Alice dan mengikuti pria itu masuk ke dalam mansion yang luas dan mewah itu.


Berbagai lukisan dan perabotan seperti karya seni berada di setiap sudut ruangan itu. Rumah dengan nuansa warna gold dan merah membuat rumah ini terkesan hidup dan kuat.


Pelayan itu tiba-tiba berhenti di sebuah ruang tamu, "Untuk ketiga pria di samping anda, mereka bisa menunggu di sini." Ujar kepala pelayan itu.


"Maaf kami bersama dengannya." Jawab Roy dingin. Pria itu tentu saja tidak akan membiarkan Alice masuk sendirian saja ke dalam sana. Mereka masih belum tahu bagaimana orang yang akan mereka kunjungi ini, meskipun tidak ada data dia adalah seorang penjahat, namun berjaga-jaga tidaklah salah bukan.


"Tapi.." Ucap kepala pelayan itu sedikit ragu.


"Tidak apa-apa mereka bersama ku." Ucap Alice tegas.


"Baiklah jika begitu, mari ikuti saya." Jawab Pelayan itu dan kembali menunjukkan jalan untuk Alice dan ketiga pria di belakangnya.


Tok tok suara di ketuk dari luar ruangan dengan besi khusus yang di tempel di pintu besar dengan ukiran yang indah.


Pelayan itu membuka pintu dengan lebar untuk Alice dan tiga pria pendamping Alice. Alice melihat tubuh seorang pria bertubuh tegap dengan beberapa rambut yang memutih dan keriput di beberapa sisi wajahnya. Namun raut tampan masih tersisa di usianya yang sudah tidak muda lagi itu.


Pria itu membelelakan matanya saat melihat wajah Alice, saat gadia itu berjalan masuk ke dalam ruangan itu.


"Wajah mu benar-benar sangat mirip dengan Amelia Putri." Gumam pria itu pelan.


"Apakah anda tuan Imanuel Brees?" Tanya Alice langsung tanpa basa-basi.


"Dan kau seperti ayah mu saat muda tidak bisa berbasa-basi." Jawaban itu yang keluar dari mulut pria tua di depan Alice.


"Sepertinya anda orang yang saya cari." Ujar Alicw singkat.


"Ya benar, saya adalah Imanuel Bress orang yang anda cari." Jawba pria tua itu, "Duduklah dahulu." Ucapnya lagi.


Alice dan ketiga penjaga tampan di belakangnya menurut dan duduk di sofa yang tersedia di sana. Ruangan kerja dengan berbagai buku kesehatan berjajar di rak kayu berwarna hitam.


Ruangan ini berbeda dengan warna ruangan sebelumnya. Jika sebelumnya nuansa di luar adalah merah dan gold, sedangkan di ruangan ini di dominasi dengan warna hitam dan putih.

__ADS_1


"Bagaimana kau bisa menemukan ku." Tanya pria itu penasaran.


"Bagas Angkasa." Jawab Alice singkat.


Ya benar, mereka mengetahui dimana keberadaan dokter William dari data yang ada di dalam memory card yang diselipkan Bagas di pisau lipat milik Alice.


"Ahh teman lama.. Jadi merindukan masa dahulu." Gumam pria itu sambil memandang jauh kedepan, terlarut mengenang masa lalu.


'Sepertinya dia seorang pria yang baik.' Batin Alice.


"Ehem.. Saya sedikit membutuhkan bantuan anda dokter Imanuel." Ucap Alice menyatakan tujuan kedatangannya. Gadis itu menyerahkan kalung dengan liontin batu semerah darah ke atas meja yang memisahkan dirinya dengan Imanuel.


"Saya tahu suatu saat kau pasti akan datang." Ucap pria itu dan mengambil liontin merah darah itu. Pria itu berdiri dan berjalan menuju kursi kerjanya dan mengambil sesuatu dari dalam laci meja kerjanya.


Setelahnya pria itu membawa kotak hitam kecil dan duduk kembali ke hadapan Alice. Imanuel mengeluarkan sesuatu dari dalam kotak hitam itu serupa dengan sebuah kunci dan melepaskan gantungan dengan batu merah itu. Lalu dengan sekejap mata di sana terlihatlah dua buah tabung kecil transparan yang berwarna merah.


"Apa itu?" Tanya Alice heran.


"DNA kedua orang tuamu.. Dengan ini kau bisa mengembalikan identitas mu. Bukankah ini yang membawa mu kemari." Ucap Imanuel singkat.


"Tapi bukankah akan rusak jika di simpan disana?" Tanya Alice melihat wana merah di kedua tabung kecil itu.


"Kau tenang saja, alat ini bukan alat biasa. Dia bisa tetap menjaga seperti baru saja di ambil. Aku akan segera melakukan pengambilan sampel milik mu." Ujar Imanuel dan mengambil sebuah supit di dalam kotak hitam miliknya dan meminta izin mengambil sampel darah milik Alice.


Alice mengulurkan tangannya dengan sigap dokter imanuel mengambil sampel darah Alice dan memasukkannya ke dalam tabung khusus. Alice sedikit takut dan bingung terhadap keputusan yang akan dia ambil, namun bagaimanapun dia ingin membalaskan perbuatan kedua orang yang telah menyakiti kedua orang tuanya itu.


"Aku tahu kau bingung dengan selanjutnya." Ucap Imanuel santai.


"Kalian istirahatlah di mansion ini sementara. Lusa kita pergi ke kota X dan mulai mengadakan konfrensi pers untuk mengumunkan kemunculan mu di muka umum." Ucap Imanuel lagi.


"Apakah perlu?" Tanya Alice mengerutkan keningnya.


"Tentu saja. Jika kau hanya menyerahkan laporan hasil DNA ini ke hadapan Frans aku yakin saat kau keluar dari ruangan pria itu, kau akan langsung di lenyapkan. Jadi lebih aman memberitahunya ke hadapan masyarakat umum, dengan singkat semua orang akan memantau dan memperhatian gerak gerik mu. Dilain sisi Frans tidak akan gegabah untuk melenyapkan mu. Kau pasti sudah paham bukan sebelum kau memikirkan akan datang kesini." Ujar Imanuel panjang lebar.


Alice mengangguk mengerti, "Aku sudah sedikit membayangkan ini akan terjadi." Ucap Alice jujur.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2