JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kesedihan Alice


__ADS_3

"Aku akan menempatkan bodyguard di sisi mu." Ucap Anton tegas.


"Jangan bercanda.. aku sendiri seorang bodyguard dan bahkan agen mata-mata, kau menginginkan aku memakai bodyguard? Hentikan pikiran konyol mu itu Anton." Ucap Alice dan mulai tertawa konyol dengan pikiran Anton.


"Tapi kau bisa dalam bahaya Alice." Ucap Anton yang bersikukuh dengan pikirannya.


"Buktinya aku baik-baik saja bukan. Bagaimanapun aku adalah agen terlatih Anton." Ucap Alice tidak kalah tegas.


"Baiklah kita akan membicarakan hal ini nanti." Ucap Anton. Namun di hantinya dia akan tetap menaruh bodyguard untuk melindungi Alice.


"Ohya bagaimana dengan informasi mengenai keluarga ku." Ucap Alice saat dia sudah selesai dengan makannya.


"Kita ke ruang tamu saja." Ucap Anton.


Saat ini pria itu juga telah selesai dengan makannya. Alice mengikuti keinginan Anton dan duduk manis di sofa ruang tengah itu. Anton masuk ke ruang kamarnya dan beberapa saat kemudian keluar dengan membawa beberapa berkas di tangannya.


Anton duduk di sofa di samping Alice, dan menyerahkan berkas kertas-kertas itu, bahkan ada beberapa potongan artikel dari sebuah berita.


"Bisa jelaskan ini?" Tanya Alice sebelum dia berani membaca berkas di kertas-kertas itu.


"Seperti yang aku duga.. kau sepertinya berada di keluarga besar yang berpengaruh. Kemungkinan namamu adalah Adeliana Fransisca Baskoro. Ayah mu bernama Frans Baskoro dan ibu mu adalah Amelia Putri." Ucap Anton dan menjeda ucapannya.


Deg!! jantung Alice merasa seperti di remas lagi saat mendengar nama-nama itu. Tunggu! bukankah itu nama yang di sebutkan oleh Bahar.


"Ada apa Alice, kau terlihat pucat." Tanya Anton saat melihat raut wajah kekasih hatinya diam dan wajahnya itu pucat seketika.


"Tidak ada." Ucap Alice datar.

__ADS_1


'Mengapa Bahar pria itu tahu nama wanita itu, apakah benar pria itu mengetahui mengenai masalalunya yang dia lupakan?' Tanya Alice kepada dirinya sendiri. Entah mengapa gadis itu jadi tidak berani mengatakan bahwa Bahar mengajaknya bertemu di Pure Bar.


Gadis itu ingin lebih mencaritahu dahulu apa yang di ketahui oleh Bahar, dan apa yang pria itu inginkan.


Alice kemudian membaca berkas medis yang memiliki dua nama berbeda, dia sedikit mengerutkan keningnya.


"Ya.. itu kedua berkas mu saat kecil satu berkas saat di rumah sakit pusat di kota X dan satunga lagi di pinggiran kota S. Aku masih menyelidikinya mengapa bisa terjadi hal itu. Namun aku menduga ibuku yang membawa mu dari pusat kota X menuju pinggiran kota S. Dan aku masih mendalami pencarian informasi mengapa di satu berkas itu mengatakan bahwa pasien itu meninggal padahal pasien yang sama di pindahkan ke rumah sakit pinggiran kota S." Jelas Anton mengenai situasi yang dia pahami.


"Dan untuk mengenai kecelakaan itu, aku masih meminta paman Aldo menyelidikinya." Ucap Anton cepat.


"Apa yang terjadi kepada kedua orang tua anak ini." Ucap Alice saat melihat sebuah berita terjadinya kecelakaan namun tidak memberitahukan kepastian keadaan korbannya itu.


"..." Anton diam sesaat kemudian pria itu mulai berbicara lembut kepada Alice.


"Kedua orang tua gadis kecil itu meninggal dunia di tempat." Ucap Anton dengan menggenggam kedua tangan Alice.


"Ya.. jika kau adalah Adeliana putri mereka, maka Frans dan Amelia kedua orang tuamu telah meninggal dunia." Ucap Anton mengiyakan prediksinya.


Alice yang mendengar itu meneteskan air matanya deras, gadis itu tidak menyangka akan hal ini, awalnya dia hanya menyangka mungkin dirinya di tinggalkan atau bahkan tidak di inginkan. Tapi kenyataannya ternyata kedua orang tuanya tidak mencarinya selama ini adalah karena mereka telah tiada sehingga Alice hidup sendirian sejak saat dia masih kecil.


Anton memeluk erat tubuh Alice yang bergetar, wajah gadis cantiknya itu nanar dengan air mata yang memenuhi wajahnya. Anton yang melihat itu tidak kuasa melihat pemandangan kehancuran kekasih hatinya itu. Pria itu terus memeluk erat Alice dan menusap punggung serta rambut gadis itu. Agar Alice bisa menumpahkan semua kesakitannya selama ini dan membuat gadis itu agar sedikit tenang dan percaya bahwa dirinya akan selalu ada untuk menopang tubuh rentan gadis kecilnya itu.


"Apapun yang terjadi aku ada di sini di samping mu.. aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Ucap Anton menenangkan Alice dan terus mengusap-ngusap lembut kepala gadis itu.


Beberapa saat kemudian saat Alice mulai tenang gadis itu duduk tegak air matanya kini sudah tidak keluar lagi hanya menyisakan seberkas sisa dari cairan yang sudah hampir mengering itu.


Anton mengambil tisu dan mengelap beberapa cairan di wajah gadis itu. Alice mengambil tisu di tangan Anton dan mulai membersihkan cairan di hidungnya.

__ADS_1


"Srottttt.." Alice membersihkan hidungnya kemudian membersihkannya dengan tisu. Anton kembali memberikan beberapa tisu bersih kepada Alice dan tanpa rasa jijik mengambil tisu yang sudah di gunakan Alice dan menyimpannya di atas meja itu.


"Sudah lebih baik?" Tanya Anton.


Alice mengangguk lemah. Anton beranjak dari sofa dan menuju pantry mengambil segelas air hangat dan kemudian menyodorkannya kepada Alice.


"Minumlah ini, agar sedikit membuat mu tenang." Ucap Anton dan Alice mengambil gelas itu dan mulai meminum air hangat itu.


Setelah meminumnya, Alice menyimpan gelas itu di atas meja dan dia memberanikan dirinya membaca beberapa berkas itu kembali. Bagaimanapun dia harus tau apa yang sebenarnya terjadi kepadanya dan kepada kedua orang tuanya.


"Aku sedang mencari informasi mengenai kecelakaan itu, sepertinya ada beberapa pihak yang sengaja menutupinya dan berita itu begitu simpang siur sehingga aku benar-benar meminta paman Aldo menyelidikinya dengan divisi lamanya." Ucap Anton yang mengerti mengapa Alice bingung dengan beberapa berkas dari surat kabar di tangannya yang sepertinya tidak singkron itu.


"Aku akan segera memberitahu mu jika aku sudah mendapatkan informasi pastinya. Ada informasi yang mengatakan mereka kecelakaan tunggal dan ada juga yang mengatakan bahwa itu tabrakan yang tidak di sengaja, bahkan ada yang menyebutkan itu kecelakaan yang sudah di rancang. Apapun itu, aku akan mencari tahunya dengan pasti." Ucap Anton yakin.


"Terima kasih.." Hanya ucapan itu yang keluar dari mulut Alice dengan suara paraunya, dia tidak tahu harus berkata apa lagi dalam kondisi seperti ini.


Melihat kekasihnya begitu terpuruk dan lemah, Anton kembali memeluk Alice untuk menguatkan gadis itu.


"Aku akan mencari tahu semuanya. Aku akan menemukan siapapun yang berani menyakiti mu." Ucap Anton yakin.


"Aku percaya kepada mu." Ucap Alice akhirnya dan membalas memeluk tubuh Anton erat. Setelah lama hanya berdiam diri dan saling memeluk dan menguatkan, akhirnya Alice mulai bersuara lagi.


"Aku harus kembali ke apartemen, dan memberitahu yang lain mengenai kondisi ku. Aku yakin mereka pasti sangat mengkhawatirkan kondisi ku." Ucap Alice lagi. Anton mulai melepaskan pelukan gadis itu dan mengangguk mengerti.


"Aku akan mengantarkan mu." Ucap Anton dan Alice hanya mengangguk setuju.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2