
Alice, Galih dan Juna tiba di sebuah hotel bintang lima di pusat kota X. Mereka memesan sebuah kamar presidential suite yang memiliki tiga buah kamar di dalamnya, pantry bar dan ruang tamu.
Dua jam penerbangan menuju negara X dan di lanjutkan dengan naik mobil selama 30 menit menuju Hotel Luxe di kota X.
Galih mendorong dua buah koper di tangannya, satu miliknya dan satu lagi milik Alice. Pria itu memasuki ruang tamu kamar hotel dan berbalik menghadap Alice yang berada di belakangnya, "Kamu mau memilih kamar yang mana?"
Alice baru masuk dan melihat sekeliling ruangan-ruangan itu, Alice memilih ruang kamar yang memiliki jendela menghadap ke arah jalanan ibukota, "Aku kamar yang di sana saja."
Galih memasukkan koper milik Alice ke dalam kamar gadis itu dan kemudian memilih kamar yang tepat berada di samping kamar milik Alice dan memasukkan koper miliknya ke dalam kamar itu.
"Kalian sudah menentukan kamar?" Tanya Juna yang baru masuk ke dalam ruang tamu kamar mereka. Sepertinyabpria itu baru saja menyelesaikan beberapa urusan di bawah.
"Sudah.. Itu kamar mu." Galih menunjuk sebuah pintu kamar yang berada di sebrangnya.
Alice beranjak dari duduknya, "Aku akan ke kamar dahulu."
"Al tunggu.." Cegah Juna saat wanita itu akan masuk ke dalam ruang kamarnya.
Alice menghentikan langkahnya dan berbalik memandang Juna, "Ya kak."
"Ingat kamu di sini bukan untuk mengeksekusi misi.. Misi kita kali ini adalah untuk mendapatkan informasi. Jangan lakukan apapun tanpa kami, jika kau akan pergi kemanapun beritahu kami." Juna kembali mengingatkan Alice mengenai tugasnya.
"Baik kak." Alice mengangguk paham dan kembali masuk ke dalam ruang kamarnya.
Alice duduk di tepi kasur dan mengambil ponselnya yang berada di dalam tas di atas koper. Gadis itu menghubungi sebuah nama yang tertera di sana adalah Amanda.
📞 "Halo kak Amanda.."
📞 "Hai Al.. Sudah sampai?" Tanya hangat suara di sebrang sana.
📞 " Baru saja sampai di kamar hotel. Bagaimana dengan keadaan Anton kak?" Tanya Alice lagi sambil memandang dirinya dari pantulan cermin meja rias di depannya.
📞 "Saat tadi kakak sampai, dokter mengatakan sebelumnya detak jantung Anton bekerja lebih cepat."
__ADS_1
📞 "Apa? Apakah itu berbahaya kak? Sebelum aku berangkat layar monitor tanda-tanda vital Anton masih normal tidak ada perubahan apapun saat aku menjenguknya." Ucap Alice dengan nada khawatir.
📞 " Ya.. Perawat dan Dokter juga menjelaskannya. Namun sepertinya dia merespon kepergian mu, dan Dokter mengatakan itu akan baik-baik saja dan merupakan kemajuan yang bagus." Jelas Amanda.
📞 "Kau tidak perlu khawatir aku, Sisilia dan Ibu akan bergantian menjaga Anton. Kamu fokus saja menyelesaikan tugas mu." Lanjut Amanda lagi.
📞 "Baiklah kalau begitu kak.. Terima kasih kak." Ucao Alice tulus.
📞 "Dia adik kami, sudah pasti kami menjaganya.. Dan kamu juga adik kami, jagalah kesehatan mu di sana." Ucap Amanda mengingatkan gadis itu.
📞 "Tentu kak." Ucap Alice dan kemudian mematikan panggilan telepon di ponselnya.
"Aku berharap akmu segera sadar Anton.." Ucapnya bermonolog kepada dirinya sendiri.
Tok tok Seseorang mengetuk pintu kamar Alice dari luar.
"Masuk." Ucap gadis itu.
Galih muncul dari balik pintu dan masuk ke dalam kamar Alice, "Apa yang sedang kau lakukan?" Tanyanya penasaran.
"Kqu belum merapihkan koper mu.. Sini biar aku bantu kau menyusunnya." Galib mendorong koper itu dan me dekatkannya menuju lemari pakaian.
"Ehh.. Tidak perlu." Tolak Alice namun gerakan Galih lebih cepat di banding dengan respon Alice yang baru tersadar dari lamunannya.
Galih membuka koper itu dan meletakkan baju milik Alice di dalam lemari dan mengga tung beberapa baju lainnya.
"Kau tidak perlu melakukan itu, aku masih bisa melakukannya sendiri." Ucap Alice sedikit tidak enak dengan bantuan yang di berikan Galih.
"Jangan banyak protes, jika tangan mu sudah sepenuhnya pulih aku tidak akan membantu mu." Ucap pria itu dan masih terus mengeluarkan barang-barang Alice di tempatnya. Pria itu juga meletakkan alat makeup Alice ke atas meja rias dan sabun cuci muka dan yang lainnya ke dalam kamar mandi. Hingga pria itu menemukan pakaian dalam gadis itu.
"Ehem.. Sudah-sudah tidak perlu di bereskan lagi aku bisa sendiri." Alice sedikit malu dan tidak enak hati saat melihat seorang pria membereskan pakaian dalam miliknya.
"Kenapa kau mesti malu? Ini hanya sebuah pakaian.. Sudah jangan terlalu banyak berpikir dan kau duduk saja di sana." Perintah Galih menunjuk kasur dan kembali memasukkan koper ke dalam lemari itu, pekerjaannya menyusun dan merapihkan baju milik Alice sudah selesai.
__ADS_1
"Ahh.. Emhh.. Terima kasih." Alice gugup dan malu secara bersamaan.
"Baiklah tugas ku sudah selesai, aku akan keluar." Ucap Galih dan segera pergi dari sana.
"Haih sungguh memalukan." Rutuk Alice saat Galih benar-benar sudah keluar dari kamarnya.
Hingga Alice sedikit tertegun saat melihat kotak pembalut wanita di atas meja riasnya. Sepertinya Galih bingung untuk meletakkan benda itu dan memilih meletakkannnya di atas meja rias.
Alice menghitung dengan jemari-jemarinya dan membelalakan matanya. Gadis itu mencoba menghitung sesuatu lagi dan hasilnya masih tetap sama. Dia benar-benar lupa tentang hal ini karena terlalu banyak masalah yang belakangan ini menimpanya sehingga membuatnya melupakan hal seperti ini.
Perlahan gadis itu mulai berhenti menghitung dan menurunkan tangannya menuju perut bawahnya. Gadis itu mengusap-usap perutnya yang rata dan tersenyum bahagia, setetes air mata mengalir di pipinya.
"Mungkinkah?" Ucapnya masih dengan tersenyum dan di iringi oleh air mata yang sudah membasahi kedua pipinya. Dia memiliki harapan baru, tujuan baru dan kekuatan baru.
"Aku harus memastikannya nanti." Ucap gadis itu tegas dan menghapus lelehan air mata di kedua pipinya.
"Al.. Makan siang sudah tiba." Ucap Galih mengetuk pintu Alice memberitahu kepada gadia itu.
Senyumnya terbit dan gadis itu segera beranjak dari kasurnya. Dia harus memastikan nutrisi yang bagus untuk asupannya jika memang dia benar-benar memiliki nyawa lain di dalam tubuhnya.
Alice keluar dari kamarnya menuju meja makan pantry dan duduk manis di sana. Berbagai macam makanan sudah di tata di atas meja itu.
"Makanan cepat saji?" Tanya Alice saat melihat makann di atas meja itu. Di sana ada pizza, burger, spageti, ayam krispy, cola dan kentang goreng.
"Ha? Ada yang salah? Bukannya kau memang oaling suka makanan ini?" Tanya Galih yang jadi bingung dengan tingkah Alice.
"Aihh.. Sekarang tidak lagi.. Lain kali pesan saja makanan sehat." Ucap Alice dan memilih mengambil spageti.
'Tidak apa-apa makan saja dahulu ini, kan masih belum di pastikan.. Jika benar nanti aku harus mengisinya dengan makanan-makanan sehat.' Batin Alice dan tersenyum senang.
"Ha? Tumben.. Baiklah jika itu mau mu. Kau menolak makanan itu tapi senyum mu sangat cerah. Apakah kau sedang sakit?" Ucap Galih bingung namun masih tetap mengikuti keinginan gadis itu.
Alice hanya diam tidak menanggapi ucapan Galih dan hanya menikmati makan siangnya.
__ADS_1
Bersambung....