
Matahari pagi yang lembut menyinari kota S dan Juna sudah siap dengan pakaian kemeja berwarna oranye dengan vest warna coklat pudar, hari ini pria itu berpakaian semi kasual dengan celana bahan berwarna hitam.
Hari ini rencananya pria itu akan melihat ke tempat kejadian perkara dan menyisir serta meninjau kembali barang dan bukti bersama anggota keamanan dari Negara B. Bagaimanapun juga kejadian ini terjadi di negara itu, mau tidak mau mereka harus membagikan informasi yang mereka miliki dari masing-masing negara itu dan membantu saling bekerja sama untuk menangkap segera dalang pelaku kejadiaan di pinggiran kota S itu.
Tok tok Juna mengetuk pintu kamar Maya karena wanita itu belum keluar dari kamarnya padahal mereka akan segera berangkat.
“Kau sudah siapkah Maya? Kita akan berangkat sekarang.” Ucap Juna dari luar kamar wanita itu.
Tidak ada sahutan dari dalam kamar, namun suara langkah kaki terdengar dari arah dalam yang mendekati ke arah pintu. Suara kunci di buka dan hendle pintu yang di bukapun terdengar, beberapa saat kemudian Maya keluar dengan kemeja lengan panjang garis-garis hitam putih dengan ikatan pita yang menjuntai seperti dasi pita dan celana bahan high waist berwarna hitam, wanita itu berpakaian formal.
“Ah ternyata kau sudah siap. Aku kira kau kesiangan. Yuk kita jalan sekarang.” Ucap Juna saat melihat wanita itu sudah muncul. Maya hanya mengganggukkan kepalanya dan berjalan di belakang Juna mengikuti pria itu.
“Kita akan bertemu kapten dan kepala tim keamanan di kota S. Semua berkas dan hal lainnya sudah kau siapkan bukan?” Tanya Juna.
“Sudah Pak. Apakah saya akan ikut rapat juga? Apakah prosedurnya akan rumit? Sepertinya anda sedikit kesal.” Ucap Maya penasaran dengan raut wajah yang sedikit di tekuk oleh pria yang berdiri di depannya itu.
“Baiklah, sebenarnya ini tidak akan serumit itu jika kejadiannya bukan di negara tetangga. Jika kejadiannya hanya di negara kita dan tidak melibatkan negara tetangga, kasus ini sudah bisa langsung berlanjut ke misi yang lainnya. Aku sedikit membenci prosedur formal seperti ini, terlalu ribet dengan berkas-berkas. Aku lebih suka terjun lansung menghadapi musuh. Iya kau harus ikut rapat nanti, harusnya ini merupakan tugas Roy dan sekertarisnya tapi karena dia memiliki tugas yang lain, jadi aku dan kau yang harus menyelesaikannya.” Jelas Juna.
“Baik Pak.” Ucap Maya singkat.
Mereka tiba di depan lobby hotel Transilvenia dan melihat mobil hitam menanti mereka. Juna duduk di kursi belakang sedangkan Maya akan duduk di kursi depan penumpang bersama dengan seorang supir.
“Kita akan kemana dahulu?” Tanya Sang supir.
“Kita kepinggiran kota S dahulu.” Ucap Juna kepada supir itu.
“Baik Pak.” Ucap sang supir dan melajukan mobilnya menuju pinggiran kota S yang merupakan tempat Alice di sekap itu.
Selama perjalanan mereka hanya diam, sungguh perjalanan yang kaku dan membosankan. Jika bukan karena ini adalah tugasnya, dia enggan sekali untuk pergi dengan gadis dinggin itu.
“Kita sudah sampai pak.” Ucap sang supir saat mobil mereka berhenti di antara mobil tugas dinas RJP dan mobil tim keamanan dari kota S.
__ADS_1
Juna dan Maya keluar dari sana dan menghampiri kepala tim investigasi TKP dari RJP dan kepolisian kota S. Mereka memberikan bebapa bukti dan laporan baru. Setelah beberapa saat berbincang-bincang, kemudian mereka semua pergi menuju pusat kota S dan mendatangi markas mafia Black Mouse. Mereka melihat semuanya bukti lanjutan dan berkas-berkas yang ada di TKP sudah di amankan oleh tim investigasi RJP serta tim Investigasi kota B. Setelah itu Juna dan Maya pergi ke tempat pertemuan dengan kepala tim keamanan di negara B yang berada di pusat kota B.
Mereka tiba di ruang pertemuan di kota B, Juna dan Maya melakukan pertemuan dan melakukan pertukaran informasi yang mereka dapatkan dengan kepala tim keamanan di negara B. Mereka menyelesaikan rapat itu hingga malam hari. Saat akan pulang menuju kota S, Maya yang di buat bingung oleh Juna, pasalnya pria itu tiba-tiba menghilang saat dirinya sedang menunggu mobil mereka di depan lobby.
“Astaga pria itu malah pergi kemana?” Ucap Maya bingung tidak menemukan Juna di ruang lobby itu.
Tin tin suara klakson dari mobil berwarna hitam yang mereka naiki sebelumnya, terdengar di depan pintu lobby itu. Maya yang belum menemukan Juna, hendak mendekati sang supir dan memintanya untuk menepi dan menunggu bos nya yang belum terlihat itu.
Maya mendekati mobil hitam itu dan mengetuk kaca samping depan penumpang dan berkata, “Pak.. bisa menunggu sebentar bos belum…” Belum selesai wanita itu menyelesaikan kalimatnya, kaca mobil samping penumpang itu terbuka dan memperlihatkan Juna yang duduk di kursi depan pengemudi.
“Juna…” Ucap Maya tanpa sengaja dengan tidak memanggilnya dengan sebutan ‘Pak’.
Dengan dahi mengkerut, gadis itu juga sangat terkejut dan bingung melihat pria itu telah duduk di dalam mobil dan bahkan pria itu sendiri yang mengendarai mobil itu.
“Masuklah cepat.” Perintah Juna agar Maya segera masuk ke dalam mobil itu.
Wanita itu menuruti Juna dan masuk kedalam mobil dan duduk di kursi samping pengemudi dan mengenakan seat beltnya. Tidak lama kemudian mobil berjalan membelah kota B tersebut menuju kota S hotel tempat tinggal sementara mereka di kota itu.
“Mengapa aku yang membawa mobil maksud mu? Supirnya ada keperluan mendadak tadi sore, aku sudah mengizinkannya pulang lebih awal, lagi pula aku tidak tahu kita tadi akan selesai sampai kapan. Jadi aku membebas tugaskannya hari ini.” Ucap Juna tanpa mendengar pertanyaan Maya lebih lanjut.
“Ahh begitu ternyata.” Ucap Maya dan kemudian terdiam kembali.
“Bolehkah aku menyalakan lagu?” Tanya Maya canggung. Dia merasa sedikit canggung dan tidak enak hanya berduaan saja di dalam mobil setelah kejadian kemarin siang itu.
“Tentu..” Ucap Juna sambil sedikit melirik ke samping kursinya melihat Maya yang sedang sibuk memilih lagu di dalam mp3 itu.
Lagu romance My Valentine - Martina McBride mengalun kemudian.. Pria itu sedikit tersenyum dengan pilihan lagu yang di mainkan oleh audio itu.
“Kenapa kau tersenyum?” Tanya Maya yang tidak sengaja melihat wajah Juna yang sedikit tersenyum itu.
“Tidak ada.. hanya merasa tidak menyangka saja lagu pilihan mu yang seperti ini.” Ucap pria itu dengan sedikit tersenyum lagi.
__ADS_1
“Astaga kau bisa melihatnya sendiri di dalam sana hanya ada dua lagu saja, A thousand Years dan yang tadi, tidak ada lagu yang lainnya. Nah kau dengarkan. Lagunya lagu-lagu lama saja.” Ucap Maya kesal.
“Ohh ahh jika begitu kenapa tidak menyalakan radio saja?” Saran Juna.
“Sudah ku coba, namun sepertinya pemancar di radio mobilnya sedang rusak. Tidak ada sinyal.” Ucap Maya kemudian.
“Hemm baiklah sepertinya kita hanya akan di temani lagu ini selama dua jam kedepan..” Ucap Juna.
“Hemm ya.. aku hanya berharap kau tidak mengantuk dan tidak sengaja menekan pedal gas dan menabrakkan diri saja.” Ucap Maya dengan sedikit kekehan.
“Apa kau mengkhawatirkan aku atau mengkhawatirkan dirimu sendiri?” Tanya Juna iseng, penasaran dengan jawaban wanita itu.
“Tentu saja mengkhawatirkan diri ku sendiri. Misi ku belum selesai dan aku tidak ingin mati sia-sia bersama mu.” Ucap maya keceplosan.
“Ahh ternyata jika dengan ku kau merasa akan mati sia-sia. Baiklah kau bawahan yang sedikit kurang ajar sepertinya.” Ucap Juna pura-pura sedikit tersinggung.
“Memang begitulah. Aku tidak akan meminta maaf telah mengucapkan itu.” Ucap Maya tegas.
“Baiklah-baiklah..” Ucap Juna akhirnya menyerah mengajak gadis itu bercanda.
Pria itu kembali melihat kedepan dan menjalankan mobil dengan tenang. Sesekali pria itu melihat kesamping dan melihat Maya yang mulai melawan kantuknya dan beberapa kali gadis itu terkejut dan mencoba membuka matanya paksa saat matanya sudah menutup untuk beberapa menit. Juna yang melihat itu mencoba memelankan laju mobilnya dan mengusap pundak Maya.
“Tidurlah jika kau memang mengantuk. Perjalanan kita masih panjang.” Ucap Juna kepada wanita itu.
“Ehem.. ahh tidak.. aku tidak mengantuk.” Ucap Maya dan menegakkan duduknya kembali dan sedikit menggosok matanya agar sedikit segar.
“Wanita keras kepala..” Gumam Juna pelan.
“Kau mengatakan sesuatu?” Tanya Maya penasaran mendengar suara bisikan.
“Tidak ada. Mungkin hanya perasaan mu saja.” Ucap Juna dan kembali fokus dengan kemudinya itu.
__ADS_1
Bersambung....