
Matahari pagi menyinari wajah seorang wanita, masuk melalui celah gorden di kamar hotel itu. Dress yang sudah terkoyak, pakaian da*lam, sepatu high heels serta tas yang berada di lantai berserakan di samping tempat tidur, bahkan kaus tanpa lengan, celana jeans dan sepatu boots yang berserakan di sepanjang sofa menuju ruang kamar hotel itu. Sepasang sejoli masih di atas kasur di selimuti oleh selimut tebal yang membuat pemiliknya masih tidur dengan nyaman.
Selang tak berapa lama wanita itu terbangun dari tidurnya dan melihat sepasang tangan kekar masih melingkari pinggulnya memeluk tubuhnya erat. Wanita itu menghempaskan tangan kekar itu namun tidak membuat sang pemilik tangan besar itu terusik, malah pria itu membalikkan badannya dan kembali tertidur.
Wanita itu beranjak bangun dan berdiri dari kasur menuju ke kamar mandi, tanpa adanya rasa malu tidak mengenakan barang sehelai benangpun di tubuhnya. Diana melihat pantulan tubuhnya di depan cermin wastafel, beberapa tanda kemerahan memenuhi bagian leher maupun da*danya.
“Lihat bagaimana bagusnya tubuh ini…” Gumam Diana melihat pantulan tubuhnya di cermin dengan sedikit memberikan pose sen*sual di cermin itu.
“Dan lihat, betapa cantiknya wajah ini…” Gumam Diana lagi sambil mendekatkan wajahnya ke depan cermin, memperhatikan seluruh wajahnya dan mengaguminya.
“Tunggu saja, sebentar lagi kau pasti akan melirikku dan menjadi milik ku..” Ucap wanita itu lagi. Kemudian dia beranjak masuk ke dalam bilik transparan untuk membasuh tubuhnya di bawah guyuran air shower.
Setelah selesai mandi wanita itu mengenakan handuk kimononya dan mengeringkan rambutnya dengan hair drayer. Setelah selesai wanita itu pergi keluar dari kamar mandi dan melihat pasangan bercin*tanya sudah membuka matanya dan tidur dengan posisi menyamping sambil memperhatikan dirinya.
“Kau sudah bangun Roxi..” Tanya Diana basa-basi.
“Hemm.. kau sudah wangi pagi-pagi begini cantik. Apakah kau tengah menggoda ku?” Puji Roxi kepada Diana yang melihat wanita itu telah mandi. Pria itu beranjak bangun dari tidur miringnya dan menggeser tubuhnya menjadi bersandar di kepala ranjang.
“Bisakah kita membahas bisnis sekarang?” Tanya Diana malas berbasa-basi lagi.
“Tentu saja sayang.” Ucap Roxi. Diana berjalan menghampiri ranjang dan membungkuk mengambil tasnya yang tergeletak di lantai di samping kasur. Kemudian wanita itu mengeluarkan amplop beserta ponselnya.
“Di dalam sini ada 100juta.. Aku ingin kau menyingkirkan seorang gadis.. Aku akan memberikan 100juta lagi sisanya setelah kau menyelesaikan tugasmu.” Ucap Diana menyerahkan amplop berwarna coklat itu di tangan Roxi.
“Tentu saja. Tapi siapa gadis itu?” Tanya Roxi penasaran. Diana membuka ponselnya dan mencari sebuah foto.
“Ini foto gadis itu.” Ucap Diana memberikan ponselnya dengan gambar tiga orang gadis sedang duduk di meja makan sebuah restotan china. Alice, Namira beserta Jeni di dalam foto itu. Sebelumnya di restoran itu Diana memang mengambil foto ketiga gadis itu tanpa mereka ketahui dengan Alice dan Namira yang berada di pusat foto itu dengan jelas.
“Yang ini.” Ucap Diana menunjuk kearah foto Alice.
__ADS_1
“Ha? Apa?” Ucap Roxi terkejut setelah melihat dengan jelas foto itu.
“Kenapa? Kau mengenalnya?” Tanya Diana bingung, wanita itu khawatir jika pria itu batal melakukan permintaannya.
“Gadis di sampingnya ini adalah orang yang sedang aku cari. Namira, adik dari salah seorang artis yang sedang di cari bos ku.” Ucap Roxi menunjuk foto Namira.
“Dan tunggu sebentar sepertinya wajahnya tidak asing….” Ucap Roxi dan kembali memperhatikan foto itu dengan sejelas-jelasnya dengan memperbesar gambarnya dan kemudian pria itu tertawa .
“Hahaha.. bagus.. bagus sekali.” Ucap pria itu sambil tertawa menyeramkan.
“Ada apa? Kenapa kau senang? Ada apa.” Tanya Diana bingung dengan kelakuan Roxi yang tiba-tiba tertawa.
“Ketua Black Mouse sedang mencari wanita ini juga. Sepertinya orang di balik layar black mouse mengincar gadis ini juga.” Ucap pria itu.
“Mengapa mereka juga mencarinya?” Tanya Diana penasaran.
“Sebaiknya jika kau memang menyayangi nyawamu, lebih baik kau tidak perlu tahu cantik.” Ucap pria itu sinis.
“Tentu saja. Tunggu sebentar.” Ucap pria itu dan mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.
“Halo ketua. Aku menemukan kedua gadis yang sedang kita cari itu. Meski salah satunya terlihat jauh lebih muda, tapi aku yakin itu adalah gadis yang sedang kau cari.” Ucap Roxi kepada orang yang sedang di telponnya.
“Aku akan bergerak nanti malam dan membawa tamu kita ke kandang terpencil.” Ucap Roxi sinis.
“Baik bos.” Ucap pria itu dan kemudian menutup telponnya.
“Kau dengar itu.. Aku akan segera bergerak. Kau tidak perlu khawatir. Aku pasti akan melakukan tugas ku. Sekali dayung dua pulau terlampaui.” Ucap pria itu sinis.
“Hemm baguslah kalau begitu. Tapi bisakah aku ikut juga saat penyekapan itu. Aku ingin menyaksikan wanita itu menghilang dengan mata kepala ku sendiri.” Ucap Diana kejam.
__ADS_1
“Kau sangat kejam Nona.. dan itu membuatku bersemangat.. tentu kau boleh ikut bersenang-senang. Namun sebelum itu bisakah kau memberikan ku sedikit penyemangat untukku?” Ucap pria itu sambil melirik naf*su melihat tubuh Diana yang sedikit terbuka di bagian da*da kimononya.
“Tentu saja.. aku bisa memberikan dua rounde penyemangat untuk mu.” Ucap Diana sen*sual. Mendengar sambutan dari Diana, Roxi langsung menarik tangan wanita itu kedalam pangkuannya. Diana langsung terjatuh di pangkuan paha Roxi dengan posisi mele*barkan kedua pa*hanya, mereka berdua kemudian berciuman panas dan melanjutkan aktifitas pagi yang bergelora.
Sedangkan disisi lain kamar hotel lainnya.
Alice sudah rapih dengan bajunya dan pergi keluar kamar. Gadis itu melihat Anton sedang menyiapkan sarapan.
“kau sudah bangun Alice. Ini masih terlalu pagi, kau bisa beristirahat lagi.” Ucap Anton saat melihat kekasihnya sudah mandi dan rapih.
“Aku harus ke kontrakkan dahulu mengambil seragam ku baru berangkat sekolah.” Ucap Alice.
“Kau tidak izin tidak masuk saja? Kau kan sedang terluka.” Ucap Anton khawatir melihat balutan di telapak tangan Alice.
“Tidak bisa.. aku sudah meninggalkan Namira sendiri di kontrakkan, aku tidak bisa meninggalkan gadis itu sendirian lagi.” Ucap Alice.
“Tapi kau kan terluka sayang.” Ucap Anton bersikeras tidak setuju Alice pergi ke sekolah.
“Ini bukan apa-apa untukku Anton. Kau tenang saja.” Ucap Alice menenangkan kekasihnya itu.
“Baiklah. Tapi sarapan dahulu, dan aku akan mengantarkan mu ke konrakkan mu.” Ucap Anton.
“Tapi..” Belum selesai gadis itu berbicara, Anton memotong ucapan Alice.
“Tidak ada bantahan. Pergi dengan ku atau tidak sama sekali.” Ucap Anton tegas.
“Baiklah..” Ucap Alice mengalah kepada kekasihnya itu.
Anton mengantarkan Alice sampai ke kontrakkan gadis itu dan bahkan mengikuti gadis itu hingga sampai ke sekolahnya Alice dengan membuntuti bus yang di naiki gadis itu. Setelah memastikan kekasihnya masuk ke sekolah dengan aman, Anton kembali ke hotel tempatnya menginap dan mengambil ponsel hitam yang berada di laci nakas di samping tempat tidur.
__ADS_1
Pria itu mengecek beberapa email mengenai pekerjaannya sebagai K maupun email perkembangan penyelidikan Alice itu, namun semuanya masih belum terungkap sehingga dia memutuskan mengambil laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya sebagai pemilik rumah sakit tempatnya bekerja. Dan Antonpun terlarut dalam pekerjaannya itu.
Bersambung....