JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Menanti


__ADS_3

-Author POV-


Alice tersenyum sepanjang hari.. Meski jadwalnya sedikit padat gadis itu tidak tampak kelelahan ataupun mengeluh. Semua persiapan untuk acara pesta nanti malam sudah selesai. Dekorasi, catering dan stand makanan sudah siap semua.


Alice baru saja memanjakan dirinya bersama kedua kakak iparnya dan juga ibu mertuanya setelah mereka selesai hunting ketempat acara pesta dan melihat persiapan pesta untuk nanti malam.


Sebenarnya konsepnya adalah makan malam keluarga, tidak ada panggung pelaminan di dalam sana. Alice dan Anton memutuskan agar lebih dekat dengan keluarga untuk mengobrol dan bercengkrama mereka akan berkeliling dan menemui meja-meja para tamu undangan.


Meski sebelumnya Anton sedikit menentang hal ini karena takut Alice kelelahan, namun gadis itu sepertinya sangat tertarik dengan konsepnya dan tidak ingin melewatkan kesempatan itu. Anton pun mengalah dan menuruti keinginan istri kecilnya.


"Al.. Semua undangan sudah kamu sebarkan? Jangan sampai ada yang tertinggal." Sisil mengingatkan Alice kembali.


"Sudah kak, sebelumnya Anton sudah mengingatkan aku dan aku sudah mengeceknya lagi kemarin." Ucap Alice dengan wajah berbinarnya.


"Kau sangat tampak gembira.. Aku suka itu." Sisil mengelus rambut adik iparnya.


"Ya.. Aku sangat bahagia bisa menjadi bagian dari keluarga ini.. Aku memilkki dua kakak yang cantik dan baik, dua abang yang tampan dan pengertian serta ayah dan ibu yang mencintai ku.. Apa lagi yang harus aku keluhkan aku pasti wanita yang sangat beruntung bisa di cintai dan di terima oleh kalian semua." Ujar Alice sambil memeluk kedua kakak iparnya dan juga Lidia.


"Aihh bermulut manis.." Ujar Lidia sambil mencomot bibir Alice gemas.


Alice, Sisilia dan Amanda tertawa melihat itu. Kekompakan dam keakraban mereka memang sangat baik. Alice benar benar di terima di dalam keluarga bahkan keluarga ini sangat menyayangi Alice dengan sepenuh hati. Mereka semua antusias menanti acara nanti malam.


***


Juna memasuki mansion utama keluarga Aguera. Pria itu berjalan gontai memasuki ruang keluarga.


"Juna tumben kau pulang siang hari begini.. Tapi tunggu mengapa wajah mu di tekuk seperti itu?" Tanya Nesrine dengan wajah khawatir melihat anak sulungnya yang tidak bersemangat.


"Kau sakit Nak?" Tanya Nesrine lagi dan menghampiri tubuh tinggi besar Juna.


"Tidak Bu aku baik.. Aku hanya memiliki sedikit masalah dan itu sedikit membuat ku tidak senang saja." Jawab Juna jujur.


"Masalah kerjaan atau wanita?" Tanya Nesrine penasaran namun tidak ada respon dari Juna, pria itu malah lebih menekukkan wajahnya dalam diam.


"Sepertinya maslaah wanita." Jawab Nesrine yang mengenai sasarannya.


"Apa kau dan Maya bertengkar?" Tanya Nesrine lagi dengan wajah penasaran.


"Tidak Bu.. Bahkan aku saja tidak tahu dia berada di mana, bagaimana kami bisa bertengkar." Hembusan nafas berat dan panjang Juna benar-benar lelah dan bingung tidak tahu harus mencari wanita itu kemana lagi.


"Jadi wanita itu pergi meninggalkan mu.. Hemm berikanlah dia waktu untuk menenangkan hati dan pikirannya. Kau juga tenangkan hati dan pikiran mu, setelah itu buat keputusan apa yang ingin kau lakukan kepadanya nanti jika kalian bertemu. Ibu yakin kalian pasti akan bertemu lagi. Kau dan dia tampak memiliki perasaan yang sama." Nesrine menjelaskan pandangannya.


"Baik Bu.. Ohya di mana bocah kecil itu?" Tanya Juna lagi mengalihkan topik yang membuat hatinya sedikit nyeri itu.


"Naira.. Ara sepertinya ada di kamarnya. Ada apa?" Tanya Nesrine penasaran .


"Nanti malam ada pernikahan teman kerja ku sekaligus sudah aku anggap sebagai adik, aku tidak ingin pergi sendiri aku akan mengajak bocah itu sekalian mengenalkannya juga padanya." Jelas Juna dengan tujuannya mencari adiknya.


"Ohh begitu, Ara ada di kamarnya kau temuilah.. Beberapa hari ini dia juga termenung terus di kamarnya tidak mau keluar-keluar. Ajaklah dia keluar sesekali untuk mengubah suasana hatinya." Nesrine memberitahu dimana anak bungsunya berada.


"Ya.. Bu.. Kalau begitu aku sekalian istirahat ke kamar dulu ya Bu.. Nanti malam tidak perlu menyiapkan makan malam.. Aku akan pergi ke perjamuan dengan Ara."


"Ya sudah sana pergi dan istirahatlah." Nersine mengusap pundak anak sulungnya dan membiarkannya pergi menemui anak bungsunya.


"Ohya apa ibu mau ikut juga?" Tawar Juna sebelum dia beranjak pergi.

__ADS_1


"Tidak Juna.. Ibu memiliki janji arisan sama teman-teman ibu.. Bilang Ara jika dia tidak mau menemani mu, dia harus menemani ibu pergi. Dia benar-benar mengurung dirinya berhari-hari. Jika dia tidak mau keluar kamar lagi mungkin kamarnya akan lumutan." Omel Nesrine kesal.


"Baik Bu nanti Juna sampaikan." Juna pergi meninggalkan Nesrine dan menaiki anak tangga menuju kamar adiknya berada.


"Haish.. Ada apa dengan kedua bocah itu.. Yang sulung sendu karena di tinggal pujaan hati, yang satunya mengurung diri di kamar entah karena apa. Haih.. Lama-lama aku jadi lebih cepat tua dan kriput melihat kedua putra dan putriku." Keluh Nesrine sambil menggelengkan kepalanya heran.


Juna mengetuk pintu di depan pintu kamar Ara.


Tok tok.. Tidak ada sahutan dari dalam.


Tok tok..


"Ara.. Ini abang Ra.." Ucap Juna sambil mengetuk pintunya lagi.


Masih tidak ada sahutan dari dalam, "Apa bocah itu tidur? Tapi ini sudah siang tidak mungkin dia masih tidur." Gumam Juna dan kembali mengetuk pintu lagi.


Tok tok..


"Ara.. Kalau pintunya tidak di buka abang ambil kunci cadangan ya sama bu Mae dan buka pintu kamu dengan paksa." Ancam Juna dengan sedikit berteriak.


Juna hendak pergi menemui Ibu Mae untuk meminta kunci cadangan untuk kamar Naira. Namun belum sempat beranjak dari tempat berdirinya, dari dalam kamar terdengar suara kunci pintu di buka dan pintu itu tiba-tiba terbuka lebar dan memunculkan sosok gadia cantik di balik pintu itu.


"Aish.. Pulang-pulang abang nyebelin." Keluh Naira dengan wajah kesalnya.


"Ada apa? Ibu bilang kamu tidak keluar-keluar kamar mu beberapa hari ini dan malah bersemedi di dalam kamar. Apa kau bertelur?" Goda Juna dan dengan cepat mendapatkan cubitan semut rangrang di tangannya


"Awh.. Sakit de.." Keluh Juna sambil mengusap-usap tangannya yang terasa sakit dan pedih.


"Rasain iseng sih.. Ada apa?" Tanya Naira yang sudah meluapkan kekesalannya dan jadi jauh merasa lebih baik.


"Gak mau.. Pasti tua tua semua tamunya.. Ga mau ah." Tolak Naira cepat.


"Ya sudah kalau kamu gak mau temani kakak ke acara pesta pernikahan, ibu menyuruh kamu ikut dengannya ke acara arisan teman-teman ibu." Jelas Juna lagi dengan senyum jahilnya.


"Aihh itu malah tidak mau lagi.. Teman-teman ibu pasti nanti akan jahil menanyakan kapan aku nikah padahal sudah dewasa, si anu udah nikah, si ini udah punya anak, si ono udah punya cucu, bla bla bla.. Gak mah ahh yang ada buka refresing yang ada malah bikin setres dan gatel kuping." Tolak Naira dengan bergidik ngeri.


"Ya sudah kalau begitu ikut abang saja." Saran Juna dan tersenyum melihat tingkah adiknya.


"Haishh memang ga boleh apa aku di kamar aja?" Tawar Naira.


"Boleh.. Tapi nanti langsung di seret ibu dan di bawa langsung ke acara seminarnya." Jawab Juna santai.


"Aihhh kalau begitu kenapa abang tanya lagi.. Naira ikut abang aja.." Ucap Naira dengan pasti.


"Tapi kenapa abang ajak Ara dan tidak ajak pacar abang? Bukannya kata bunda abangbudah punya pacar? Lagi pula bukannya stok pacar abang banyak?" Tanya Naira heran.


"Pacar abang lagi marah.. Kalau abang bawa wanita lain ke sana bukankah akan lebih marah lagi.. Ya mending bawa kamu aja dek.."


"Ya sudah aku mau ikut abang.. Tapi bayarin dressnya ya." Tawar Naira dengan menaik turunkan alisnya.


"Haishh ya sudah ayoo kita beli dressnya." Juna mengalah dengan permintaan adiknya.


"Tidak perlu pergi sekarang, Ara ada dress yang baru di beli belum di pake." Ucap Naira cepat.


"Lalu mengapa minta abang yang bayarin dresnya dek kalau udah punya. Kan tinggal pakai saja." Ujar Juna heran.

__ADS_1


"Gak mau.. Itukan rencananya dress buat wisuda nanti, tapi karena mau di pakai buat ke pesta abang jadi abang bayari dressnya itu. Biar Naira nanti beli dress baru buat acara wisuda lagi." Tolak Naira lagi.


"Hadehh ya sudah terserah kamu sajalah dek.. Pusing abang jadinya.. Nanti uangnya abang kirim ke rekening kamu." Juna mengalah dan pergi meninggalkan Naira yang tersenyum dengan kemenangan di wajahnya.


"Abang memang yang terbaik." Teriak Naira sebelum Juna benar-benar menghilang dari pandangannya.


Juna memasuki kamarnya, memang sudah beberapa waktu dirinya tidak pulang dan tidur dirumah utama. Dia lebih sering tidur di kantor atau di apartemennya. Namun kamarnya akan selalu di bersihkan setiap hari sehingga tidak berdebu begitu juga dengan seprainya.


Juna menghempaskan tubuhnya di atas kasur, wajahnya menengadah ke atas menatap langit-langit kamarnya yang berwarna biru tosca. Mencari sesuatu di sana namun tidak ada apa-apa di sana hanya ada lampu gantung di langit-langit luas itu.


"Aku merindukan mu.." Gumamnya sambil menekuk sikunya dan menutup matanya.


"Aku harus mencari mu kemana? Nama mu saja aku tidak tahu. Kenapa kah pergi dengan tiba-tiba." Gumamnya lagi dan kini Juna merubah posisinya menjadi menelungkup dan mulai memejamkan matanya.


Rasa lelah seharian kemarin mencari wanita itu di tambah penerbangan dan perjalanannya dan bahkan informasi yang dia terima membuat pria itu tidak bisa memejamkan matanya sedetikpun karena memikirkan itu semua.


Kini tubuh lelahnya bisa beristirahat melupakan sejenak segala kemelut yang ada di dalam hati dan pikirannya. Menyambut mimpi dan mengistirahatkan sejenak tubuh lelahnya.


***


Sedangkan di kota X.


"Tuan... Ini tidak baik tuan.. Jika seperti ini terus perusahaan keluarga Stary pasti akan bangkrut bahkan hancur dan menghilang." Ucap pria berumur yang berdiri di depan seorang pria tua yang sedang duduk di kursi kerjanya. Raut wajah pria tua itu tampak memerah dan menahan amarah yang bergejolak di dalam dadanya


"Tuan.." Belum selesai pria itu menyelesaikan kalimatnya, Pria yang duduk di depannya kini tiba-tiba bangkit berdiri dan menghempaskan semua benda yang ada di atas mejanya.


"Br€ngs€k! Semua ini gara gara anak sialan itu.. Akibat kasusnya para investor menarik semua dana mereka dan membuat perusahaan ini yang dibangun puluhan tahun lalu menjadi kacau seperti ini! Dasar anak tidak tahu di untung!" Maki pria itu dnegan penuh emosi.


"Tuan Markus.. Mohon redakan emosi anda, jika seperti ini terus tidak baik untuk tekanan darah anda." Minta pria tua yang masih berdiri dengan sopan itu.


"Huhh semua karena anak b*doh itu! Kenapa bisa sampai tertangkap oleh bocah ingusan seperti itu! Semuanya jadi membuat sulit kita." Umpat pria tua itu masih dengan emosi.


"Tuan.. Meskipun nona Belinda sudah membuat kekacauan ini, namun kekacauan ini juga bisa di redakan atau bahkan dihilangkan jika kita bisa membantu nona Belinda keluar dari sana dan menyelesaikan pembagian harta Baskoro untuknya." Saran pria tua itu masih dengan wajah menunduk sopan.


"Apakah itu pantas? Biaya mengeluarkan dia pasti tidak sedikit apalagi mengenai kasus pencobaan pembunuhan dan pembunuhan jika dia keluar dari Rumah Sakit Jiwa, dia pasti akan langsung di masukkan ke dlama penjara! Apakah kau tidak tahu itu! Lalu bagimana cara menyeleaaikannya." Ucap Markus emosi.


"Tuan.. Lebih baik kita tanyakan saja langsung kepada nona Belinda. Dia sanhat licik dan pintar dia pasti tahu sesuatu untuk di lakukan." Saran pria tua itu lagi.


"Baiklah kalau begitu kau akan datang lagi kesana menemuinya di rumah sakit. Kau persiapkan semuanya. Aku tidak ingin pergi kesana, aku tidak mau jika ada seseorang yang mengenali ku. Kau saja yang atur semuanya." Ucao Markus acuh dan tidak ingin di ganggu.


"Baik tuan.. Saya akan membereskan semuanya." Ucap pria itu hormat dan kemudian keluar dari ruang kerja Markus.


"Billy bagaimana hasilnya? Apa markus akan mencoba untuk mengekuarkan Belinda?" Tanya seorang wanita tua yang mendekati pria itu.


"Ya Nyonya Marina.. Tuan Markus bersedia membantu mengeluarkan nona Belinda namun nona Belinda harus menyerahkan warisan Baskoro kepada Tuan Markus jika ingin di bebaskan nantinya." Jelas Billy asisten Markus ayah Belinda.


"Tidak masalah tidak masalah.. Yang terpenting anak itu keluar dahulu dari rumah sakit jiwa.. Aku tidak tahu bagaimana nasibnya meski hanya membayangkan dia berada di sana dalam satu jam saja.. Sungguh malang nasib anak ku." Ucap wanita tua itu tersedu karena menangis.


"Nyonya tenang saja, saya pasti akan membantu nona Belinda keluar san mendapatkan hak waris itu bagaimanapun caranya." Ucap Billy yakin.


"Billy kau memang orang yang bisa aku andalkan.. Terima kasih Billy.. Terima kasih.." Ucap Marina dengan rasa bersyukur.


"Tidak perlu berterima kasih nyonya itu adalah pekerjaan ku.. Nyonya saya pamit untuk menemui nona Belinda.." Ucap Billy hormat dan pergi dari koridor perusahaan itu menuju lift berada.


"Nak.. Bersabarlah kau akan segera bebas.. Billy pasti akan melakukan pekerjaannya dengan baik.. Sebentar lagi kau pasti akan terbebas dan bisa membalaskan dendam mu terhadap orang yang telah mejerumuskan mu masuk kedalam rumah sakit jiwa itu." Ujar Marina dengan kedua tangan yang terkepal erat menanti pembalasan dendam untuk penderitaan anaknya selama ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2