
Sedangkan di sisi lain di dalam ruang perawatan Juna..
"Emh.." Juna bergumam kemudian menggerakkan jari-jari tangannya yang terasa kebas. Kemudian tidak lama pria itu mengerjap-ngerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam indra penglihatannya.
"Kau sudah bangun Jun.." Tanya Laristha saat pria itubseoenuhnya sudah membuka matanya.
Juna refleks menoleh kearah sumber suara yang ternyata sedang duduk tepat di samping tempat tidurnya.
Juna sedikit linglung, pria itu heran mengapa semua ruang di sini di dominasi dengan warna putih dan juga bau menyengat dari alkohol dan juga cairan desinfektan beserta beberapa.
"Kau ada di rumah sakit sayang.." Ucap Laristha lembut.
Juna semakin mengerutkan dahinya saat mendengar ucapan Laristha yang mengucapkan kata Sa****yang kepadanya.
'Apakah aku masih bermimpi?' Batin Juna heran.
Sedangkan disisi lain Laristha khawatir melihat Juna yang mengerutkan dahinya dan termenung sesaat itu.
"Kenapa sayang? Ada yang sakit? Ahh ya benar aku harus panggil dokter." Ujar Laristha heboh dan repot sendiri yang mana sukses membuat Juna baru saja mengetahui tingkah lain dari wanita itu. Laristha menekan tombol memanggil perawat dan memberitahukannya lewat speaker itu bahwa Juna telah sadar.
Sedangkan Juna yang masih melihat tingkah Larista yang lain dari biasanya bergumam pelan, "Sepertinya benar ini sebuah mimpi.." Bisik Juna pelan sambil sedikit menggelengkan kepalanya. Namun saat itu terjadi dia baru menyadari bahwa kepalanya sangat terasa sakit dan pusing.
Tidak lama perawat dan dokter datang menghampiri Juna yang sedang terbaring di atas ranjang.
"Syukurlah anda sudah sadar Tuan Juna, apa ada keluhan yang anda rasakan?" Tanya dokter pria yang menangani Juna.
"Hanya sedikit pusing karena menggelengkan kepala dan bahu sebelah kanan saya terasa mati rasa." Jawab Juna memberitahukan apa yang sedang dia rasakan.
"Ahh begitu.. Anda baru saja sadar, seharusnya jangan terlalu banyak bergerak, dan sepertinya sebelumnya kepala anda terbentur meski tidak mengeluarkan darah namun ada bekas benjolan dan tidak berbahaya belakang kepala anda. Selain itu tangan kanan anda mengalami patah tulang, dan mungkin akan terasa sedikit ngilu dan kebas beberapa waktu, namun kami nanti akan memberikan obat untuk meringankan gejalanya." Jelas dokter itu lagi.
"Apa saya di oprasi dokter?" Tanya Juna yang baru tersadar bahwa lengannya sedangdi bebat oleh sesuatu.
"Tidak semua patah tulang harus di oprasi.. Ada beberapa jenis tipe patah tulang baik yang patah tulang terbuka maupun patah tulang tertutup. Namun beruntungnya anda tidak memerlukan oprasi dan hanya memerlukan penggunaan gips untuk beberapa waktu dan mengurangi aktifitas berat kepada tangan yang terluka." Jelas dokter lagi.
"Syukurlah kalau begitu.. Terima kasih banyak dok." Ucap Juna dan mengucapkan rasa terima kasihnya yang tulus atas pengobatan yang telah di berikan kepadanya.
"Tidak perlu berterima kasih.. Itu sudah tugas saya.. Baiklah ini sudah larut malam.. Jika ada keluhan atau hal yang lainnya anda bisa menghubungi perawat dan nanti perawat akan menghubungi saya. Baiklah kalau begitu saya pamit dahulu Tuan Juna dna nona.. Selamat beristirahat." Ujar dokter itu dan kemudian pamit dari ruang perawatan Juna.
"Baik dok.. Terima kasih.." Ucap Juna dan juga Laristha secara bersamaan.
"Kau benar baik-baik saja? Tidak ada yang sakit lagi?" Tanya Laristha kembali menanyakan bagaimana kondisi pria itu.
"Iya tidak apa-apa.." Jawab Juna jujur.
"Tapi, tadi kenapa kau tampak seperti kesakitan dan bahkan kau tampak melamun. Aku pikir kau kehilangan memori seperti yang di film-film atau novel novel romantis yang hilang ingatan karena benturan." Ujar Laristha panjang lebar.
__ADS_1
Juna terkekeh dan menggelengkan kepalanya pelan, "Kau terlalu banyak menonton telenovela.." Cibir Juna dan kemudian menggenggam tangan Laristha yang berada di tepi ranjang tidak jauh dari pergelangan tangan kirinya yang sedang di infus.
"Kau jangan menggerakkan tangan mu.. Tangan mu sedang di infus.. Nanti darahnya naik dan membuat cairan infusnya macet." Laristha dengan hebohnya melarang pria di sampingnya itu untuk melakukan banyak pergerakan di tangan yang sedang di infus itu.
"Tapi aku ingin menggenggam tangan mu.. Aku sangat merindukan mu tapi bahkan aku tidak bisa untuk memeluk tubuh mu.." Bantah Juna dan masih menggenggam tangan Laristha.
"Biarkan aku yang menggenggam tangan mu saja.. Kamu diam saja.." Ujar Lairstha lagi dan menaruh tangan Juna agar posisi tertelungkup kemudian menggenggam jari jemari itu lembut.
"Aku juga merindukan mu.. Sangat merindukan mu.. Tapi pemulihan mu nomor satu.. Kau jangan banyak bergerak dan membuat semua pengobatannya jadi berantakan.. Kau dian dan tenang saja di sana.. Jika sudah sembuh kau bisa memeluk ku atau menggenggam tangan ku sepuas mu." Ucap Laristha lagi sambil wajahnya yang sudah berubah menjadi bersemu merah.
"Kau harus menepati janji mu.." Ujar Juna sambil menatap wajah kekasihnya yang sedang malu itu.
"Iya.. Aku janji.." Ujar Laristha sambil memberikan janjinya.
"Baiklah.. Ini sudah larut malam, kita seharusnya beristirahat bukan.. Besok kau masih harus melakukan beberapa pemeriksaan, sekarang istirahatlah.." Perintah Laristha.
"Tapi aku tidak mengantuk.. Aku baru saja terbangun.. Bagaimana mungkin aku bisa tertidur lagi. Apalagi aku sedang memandangi seseorang yang selama ini hadir di dalam mimpi ku.. Lebih baik aku terjaga bukan, agar aku bisa melihatnya sesuka hati ku." Kata Juna dengan beberapa godaan yang menggelitik hati Laristha.
"Sudah hentikan gombalan mu itu dan tidurlah.. Kau sudah di berikan obat, sebentar lagi kau pasti akan tertidur.. Tidur juga merupakan obat agar tubuh mu bisa segera memulihkan sistemnya kembali.. Sudah sana jangan banyak berfikir, pejamkan saja mata mu." Ucap Laristha lagi memaksa kekasihnya itu.
"Baiklah, baiklah aku menyerah.. Aku akan tidur.. Kau juga istirahatlah.. Aku tahu kau juga pasti lelah bukan.." Ucap Juna sambil memperlihatkan senyum hangatnya.
"Iya.. Selamat malam sayang.." Bisik Laristha pelan dan kemudian mengecup kening Juna.
"Meskipun ini adalah mimpi, aku tidak berencana untuk bangun.." Gumam Juna pelan sambil tersenyum hangat saat melihat Laristah memunggunginya saat wanita itu sedang menyiapkan tempat tidurnya.
"Kau berkata sesuatu?" Tanya Larista yang membalik tubuhnya saat mendengar gumaman itu.
"Tidak ada.. Mungkin hanya perasaan mu saja." Jawab Juna berbohong untuk menutupi ucapannya.
"Baiklah istirahatlah.. Perlukah aku mematikan lampu utama?" Tanya Laristha lagi saat dia sudah duduk di tepi ranjang milik penunggu pasien untuk dia gunakan.
"Tidak perlu.. Kau langsung saja beristirahat." Ucap Juna santai sambil memandangi wajah cantik kekasihnya itu.
"Tapi.." Ucap Laristha menggantung.
"Sudah tidak ada tapi-tapian.. Cepatlah kau juga istirahat agar aku juga bisa segera istirahat.." Kata Juna agar ucapannya tidak di bantah lagi.
"Baiklah selamat malam sayang.." Ucap Alice dan mencoba untuk berbalik memunggungi Juna.
"Tunggu.. Jangan menghadap sana.. Hadap ke arahku saja." Kata Juna cepat agar Laristha mau mengarahkan tubuhnya menghadap wajahnya.
"Tapi..." Ucap Laristha kembali menggantung.
"Sudah lakukan saja.. Ini demi aku agar bisa cepat tidur.. Sudah cepat lakukan." Perintah Juna lagi.
__ADS_1
"Haish.. Masih sakit saja sudah banyak maunya.." Bisik Laristha pelan.
"Aku bisa mendengar mu loh.." Goda Juna dan itu sukses membuat Laristha kesal.
"Baiklah.. Aku akan menuruti mu.." Ujar Laristha dan membalik tubuhnya jadi menghadap Juna.
"Nah kan begini lebih baik.. Selamat malam kekasih ku.." Ucap Juna manis dan Laristha tersenyum lembut.
Lambat laun wanita itu terlelap dan menjemput mimpinya.. Ya, tubuh dan pikirannya lelah seharian ini dan wanita itu dengan mudahnya tertidur begitu saja. Sedangkan Juna yang baru saja bangun dari pengaruh obat bius merasa tidak mengantuk dan memilih untuk terus memandangi wajah wanita yang berada di seberang tempat tidurnya itu.
Sedangkan disisi lain ruangan perawatan rumah sakit kepolisian kota X..
Dua orang petugas keamanan sedang berjaga tepat di depan pintu ruangan Jhon Markus.
"Hoam.. Aku sedikit mengantuk, kau mau kopi?" Tanya salah satu petugas yang berjaga kepada rekannya.
"Boleh.." Jawab salah satunya lagi cepat.
Namun belum sempat salah satu dari mereka untuk pergi ke pantry, salah seorang wanita menggunakan pakaian perawat menenteng cerek kecil berwarna hitam pekat dan beberapa cup gelas yang terbuat dari kertas.
"Permisi pak.. Ini ada satu cangkir kopi yang kebetulan berlebih di ruangan jika kalian mau, kalian bisa mengambilnya. Kebetulan saja juga akan berkeliling ke ruangan lain." Ucap wanita berseragam perawat itu ramah.
Salah satu dari mereka yang melihat itu mengangguk, "Wahh kebetulan sekali.. Boleh saya minta?" Tanya petugas itu.
"Tentu pak.. Ini silahkan.." Ucap perawat itu sambil menyerahkan sebuah cup gelas kertas dan menuangkan cairan hitam pekat itu dan kemudian menyerahkannya kepada petugas itu, sang petugas menerimanya dengan baik dan menyesapnya perlahan.
"Wahh ini enak.. Terima kasih Sus.. Kau tidak mau?" Tanya petugas itu kepada rekannya.
"Ehemm.. Maaf saya satu juga." Ucap petugas lainnya meminta dengan sopan kepada perawat itu.
"Tentu pak.." Jawab perawat itu sopan dan kemudian kembali mengambil gelas cup kertas itu dan menuangkan cairan kopi itu kemudian menyerahkannya kepada petugas yang lainnya.
"Terima kasih.." Ucap petugas itu saat menerima cangkir yang berisi air hitam itu.
"Kalau begitu saya permisi, mau menawarkan rekan yang lainnya." Ucap perawat wanita itu sopan dan kemudian dengan cepat meninggalkan lorong ruang perawatan itu.
Namun tanpa dua orang itu sadari, wanita perawat itu malah bersembunyi di salah satu tembok yang ada tidak jauh dari sana. Wanita itu bahkan sudah membuang teko yang berisi cairan hitam itu beserta cup gelas kosong yang belum terpakai kedalam tempat sampah itu. Dan dengan sabar menanti sesuatu di sana.
"Hoaamm.. Mengapa setelah meminum kopi ngantuknya tetap tidak hilang ya?" Tanya salah seorang pria yang semakin menguap saat kopinya sudah habis tidak bersisa.
"Hoam... Entah mengapa aku juga merasa sangat mengantuk.." Ucap rekannya itu dan menguap membuka mulutnya lebar kemudian tidak berapa lama kedua tubuh pria yang memiliki postur tubuh tinggi tegap itu keduanya meluruh dilantai dan tidak sadarkan diri.
Wanita yang sebelumnya berada di balik tembok itu tersenyum puas dan kemudian menghampiri kedua penjaga itu dan menggerakkan telapak tangannya tepat di wajah kedua penjaga itu.
Bersambung.....
__ADS_1