
💌 Haloo reader semua..
Ini surat cinta pertama Author untuk kalian.. Terima kasih atas dukungannya selama ini. Baik like, rate, komen, vote dan giftnya.
Terima kasih sudah selalu setia menemani Author pemula ini yang hanya remahan rengginang nan halugen.
Selalu menemani ya jangan bosen-bosen untuk mampir dan berikan like, rate, komen, vote, gift beserta jejaknya. Author juga menerima kritik dan saran jika ada kekurangan dalam materi yang di bawakan.
Uhukk.. untuk chapter ini akan sedikit plus plus plus ya.. boleh minggir sedikit jika masih di bawah umur ya..
^^^Tertanda: Author Vi4😗^^^
___Happy Reading♥️___
Alice masuk ke dalam kamar mandi untuk membilas semua lengket air laut beserta keringat di tubuhnya. Setelah itu gadis itu memutuskan. menggunakan pakaian jumsuit pendek yang nyaman.
"Jangan lupa keringkan rambut mu." Ingat Anton saat pria itu akan masuk ke dalam kamar mandi.
Alice mengeringkan rambutnya hingga kering di depan wastafel.
Kemudian gadis itu beranjak menuju ruang tengah. Dia melihat beberapa pajangan dan buku-buku yang ada disana. Alice membawa satu buku yang menurutnya menarik.
Alice kemudian keluar untuk merebahkan tubuhnya menikmati semilir angin laut sore itu. Alice memilih merebahkan dirinya di ayunan yang terbuat dari jaring di samping depan resort.
__ADS_1
Alice mulai membuka buku sampulnya dan membuka halaman depannya. Ternyata buku ini menarik dan membuatnya menikmati me timenya sambil di temani angin sore yang mengibar-ngibarkan rambutnya yang sengaja dia julurkan kearah bawah lautan.
Alice serius membaca buku itu. Bagaimanapun dulunya Alice adalah seorang gadis yang sanagat menyukai membaca di sela-sela waktu senggangnya. Liburan ini benar-benar surga dunia bagi Alice. Sudah lama dia tidak melakukan hal-hal remeh seperti ini.
"Serius sekali membacanya." Ucap Anton yang tiba-tiba muncul di depan Alice. Pria itu memandang Alice takjub dengan hanya diam merebahkan dirinya di atas jaring bagaikan merebahkan dirinya di atas lautan lepas.
"Tunggu diam di sana. Aku akan buat dokumentasi." Ucap Anton dan segera berbalik kedalam mengambil kameranya. Sedangkan Alice hanya memutar bola matanya malas.
"Dasar.. ada-ada saja.. aku jadi tahu kalau dia suka sekali menjadi fotografer." Ucap Alice sambil terkekeh, namun gadis itu kembali fokus melanjutkan bacaannya.
Anton telah kembali dengan kamera di tangannya. Pria itu kemudian memfoto Alice dengan angel lautan di bawahnya. dan beberapa foto angel lainnya. Anton benar benar puas melihat hasil jepretannya.
"Aku baru tahu bahwa kau sangat menyukai dunia perfotoan." Ucap Alice tidak percaya dengan yang baru di ketahuinya ini.
"Hemm aku juga tidak percaya aku sangat menyukai bidang fotografer saat kau yang menjadi objeknya." Ucap pria itu bangga.
"Dasar.. dariboada kau mengambil foto ku sendiri, lebih baik kau ikut kemari dan kita foto berdua saja." Ajak Alice. Gadis itu menepuk tempat di sampingnya.
"Siap.. 1..2..3.." Cekrek..
Anton mengabadikan beberapa foto dirinya dan Alice di sore hari yang nyaman itu.
"Sudah.. ke dalam yuk.. kamu sudah lama di luar terkena angin. Dan bahkan seharian bermain air. Masuklah ke dalam, aku sudah membuatkan teh untuk mu." Ucap Anton.
Alice menuruti pria itu dan beranjak pergi ke dalam menuju kursi makan. Disana sudah terdapat dua gelas teh dan satu toples biscuit sebagai teman minum teh.
"Ohya aku penasaran.. kenapa kita harus pamitan dengan tuan Shing dan Beno? bukankah besok kita masih di sini?" Tanya Alice memastikan.
"...." Anton hanya diam saja, bersikap dia tidak mendengar pertanyaan dari gadis itu.
__ADS_1
"Kenapa hanya diam?" Tanya Alice bingung melihat Anton seperti tidak mendengar pertanyaannya.
"Ohya aku penasaran bagaimana bisa kau mendengar aku berbisik saat kau berada di dalam kamar mandi?" Tanya Anton mengalihkan pembicaraan. Pria itu tidak ingin membahas hal itu.
"Ahh ohh itu.." Ucap Alice dan mulai menceritakan semuanya kepada Anton, gadis itu melupakan pertanyaannya yang belum di jawab oleh Anton.
"Aku tidak tahu penyebab awalnya. Namun saat aku terbangun di depan panti asuhan saat usia ku 10 tahun itu, aku sudah memiliki kemampuan ini. Telingaku jauh lebih sensitif terhadap suara, meski siara itu terdengar samar atau jauh jika aku sedang memfokuskannya. Ini juga yang membantu aku dalam menyelesaikan misi-misi ku selama ini." Ucap Alice.
"Ahh ternyata begitu." Ucap Anton mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Apakah kau menyalahkan ibu ku karena telah menelantarkan mu di depan panti asuhan?" Tanya Anton penasaran dengan jawaban gadis itu.
"Tidak.. malah aku bersyukur. Aku benar tidak mengingat apapun saat itu, coba bayangkan jika aku di tempatkan di situasi rumit keluarga dalam keadaan aku tidak mengerti apapun, jika benar yang di ucapkan oleh ibu mu. Aku bersyukur untuk itu. Di saat aku sedang terpuruk, aku bertemu dengan suster Salsa. Bahkan terima kasih kepada ibu mu, berkatnya aku bisa menemukan keluarga yang sesungguhnya di dalam panti dan mendapatkan kelyarga baeu di RJP." Ucap Alice menjelaskan perasaannya.
"Maaf dahulu aku tidak bisa menemani mu." Ucap Anton sambil menggenggam tangan gadis itu.
"Kau bodoh.. dahulu kan kita memang belum kenal." Ucap Alice dan merasa Anton sangat konyol dengan ucapan pria itu.
"Aku mencintai mu Alice.. Mulai saat ini aku akan selalu menemani mu. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu." Ucap Anton dan menarik pelan tangan gadis itu hingga tubuh Alice tertarik kedepan mendekati wajah Anton. Anton mengecup bibir kecil Alice. Kemudian pria itu melepaskan ciumannya.
Anton mulai bergeser duduknya yang mereka awalnya berhadapan dan di jaraki oleh meja bulat. Anton bergeser kesamping dan mendekati tubuhnya kepada tubuh gadis itu. Anton memegang pipi Alice memgusapnya lembut. Alice memejamkan matanya menikmati sentuhan lembut dan ringan itu.
Anton yang melihat Alice tidak menolaknya mendekatkan kembali bibirnya. Pria itu memberikan kecupam di bibir kecil merah muda itu, kemudian ******* bibir atas dan bibir bawah gadis itu bergantian. Alice dan Anton nafasnya mulai tidak beraturan. Alice mulai berani mengangkat tangannya ke atas dan melingkarkannya di belakang tengkuk Anton.
Anton yang mendaoat lampu hijau memiringkan kepalanya dan menciumi gadis itu lebih dalam. Tangannya tidak diam. Tangannya sudah mengusap punggung gadis itu, memberikannya snetuhan sentuhan ringan di sana. Kemudian Alice dan Anton mulai bernafas semakin berat saat tangan pria itu mulai menyentuh bagian atas tubuh Alice.
Ada getaran seperti tersengat yang di rasakan oleh Alice saat Anton yang menyentuhnya. Beberapa r*em*as*an di salah satu mangga muda milik Alice, membuat gadis itu meloloskan de*s*ah*an kenikmatan atas perbuatan pria itu. Setelah itu Anton melepaskan ciuman bibirnya dan mulai mengatur nafasnya sambil menciumi telinga dan bahkan leher gadis itu namun permainan tangannya tidak dia lepaskan. Anton mendekatkan tubuh gadis itu kepada tubuhnya. Gadis itu sepertinya sudah tidak kuasa melemas dengan segala sentuhan yang telah dia perbuat.
"Ahhh.." Des*ah*an itu lolos lagi dari bibir Alice.
"Alice.." Gumam suara serak dan berat Anton yang menandakan pria itu juga menginginkan hal lainnya. Alice masih menikmati semua hal yang di lakukan Anton kepada tubuhnya. Sehingga pria itu mengangkat tubuh gadis kecil itu dalam dekapannya namun bibirnya tidak berhenti menciumi leher dan belakang telinga gadis itu.
__ADS_1
Anton membawa Alice dalam pelukannya menuju kamar mereka.
Bersambung....